
Sesampainya di rumah Anisa membawa suaminya menuju kamar dibantu oleh sopirnya. Terlihat Rendra masih tidak sadarkan diri. Sangat jelas sekali Rendra belum bisa menerima kenyataan ini. Dalam sekejap dia kehilangan kedua orang tua dan adiknya dalam waktu yang bersamaan. Orang-orang yang sangat Rendra sayangi dan cintai.
"Mas Rendra bangun, kamu harus kuat, kamu masih punya aku dan Naura, bangun mas" tangis Anisa.
Anisa masih terlihat menangis disamping tubuh suaminya. Dia berusaha membangunkan suaminya, namun Rendra masih saja menutup matanya.
"Papa, mama, Aira... " lirih Rendra setelah sadarkan diri.
"Alhamdulillah, mas, akhirnya kamu sadar" kata Anisa agak lega.
"Dimana papa mama dan Aira, aku ingin bertemu dengan mereka" lirih Rendra.
"Mas, minum dulu ya biar kamu tenang" kata Anisa seraya memberikan minum kepada Rendra.
"Dimana mereka, aku ingin bertemu mereka sekarang" kata Rendra setelah meminum sedikit air yang diberikan istrinya.
"Mas Rendra dengerin aku. Papa mama dan Aira sudah tenang dan bahagia disana. Mereka tidak akan bisa kembali lagi bersama kita. Ikhlaskan mereka mas, ini semua sudah menjadi jalan terbaik untuk mereka. Allah lebih sayang kepada mereka" jelas Anisa.
"Tapi belum pasti mereka semua meninggal. aku yakin pasti mereka selamat. Kamu jangan asal mengambil kesimpulan sendiri" seru Rendra. Emosinya menjadi tak terkendali.
"Mas Rendra harus kuat demi aku demi Naura anak kita. Tadi pihak kepolisian telah menghubungi kelurga kita mas, mereka bilang bahwa semua para penumpang di pesawat itu tidak ada yang selamat" kata Anisa berderai air mata.
"Enggak, gak mungkin, kamu pasti bohong kan. Mama papa dan Aira pasti mereka selamat, mereka pasti masih hidup" kata Rendra. Dirinya masih saja belum bisa menerima kenyataan pahit ini. Rendra tidak percaya bahwa kedua orang tua dan adiknya telah meninggal.
"Istighfar mas. Memang ini kenyataannya" kata Anisa.
"Enggak mungkin, ini hanya mimpi kan, gak mungkin mereka semua meninggal. Aku akan cari mereka sampai ketemu, aku yakin mereka masih hidup" kata Rendra, lalu beranjak berdiri dan ingin pergi untuk mencari mereka.
__ADS_1
"Mas Rendra, kamu mau kemana, sadar mas, istighfar, tidak ada gunanya kamu mencari mereka karena mereka tidak ada yang ditemukan" cegah Anisa, menahan tubuh suaminya.
"Minggir kamu, jangan halangi aku. Minggir!" Seru Rendra membentak Anisa.
"Pak, tolong pak bantu saya!" seru Anisa memanggil satpam dan sopirnya.
Mendengar teriakan dari dalam kamar majikannya, mereka pun langsung beranjak menghampiri Anisa dan Rendra.
Mereka mencoba menahan tubuh Rendra yang sedang meronta-ronta seperti orang kesurupan.
Anisa pun langsung menghubungi seorang dokter untuk memeriksa suaminya. Anisa takut jika terjadi apa-apa, sebab baru pertama kali ini suaminya mengamuk seperti itu.
Anisa dan kedua asistennya masih menahan tubuh Rendra sambil menunggu kedatangan dokter. Anisa masih terus membimbing suaminya untuk istigfar.
Tak lama dokter pun datang. Dokter tersebut langsung memeriksa Rendra dan menyuntikkan obat penenang agar Rendra bisa tidur.
"Suami ibu mengalami tekanan yang hebat. Sehingga membuatnya hilang kesadaran dan tidak bisa mengontrol emosinya seperti tadi. Suami ibu merasa begitu kehilangan keluarganya. Dia masih belum bisa menerima semuanya" jelas dokter tersebut.
"Astaghfirullah mas Rendra. kenapa kamu jadi seperti ini. Lalu bagaimana dok, apa yang harus saya lakukan, apa suami saya bisa disembuhkan?" tanya Anisa.
"Tergantung pada pak Rendra nya sendiri buk.. jika pak Rendra punya kemauan untuk bangkit dan menerima semuanya, InsyaAllah pak Rendra akan sembuh. Tetap dampingi dia buk, karena itu juga salah satu obat agar pak Rendra kembali ke kehidupan normal" jelas dokter kembali.
"Ya Allah mas... tolong suami saya dok" lirih Anisa, tak mampu menahan tangis.
"Kita serahkan semuanya kepada sang Pencipta ya buk... kita manusia hanya bisa berusaha tapi Allah yang menentukan segalanya. Sabar bu Anisa, yakinlah bahwa suami ibu akan baik-baik saja.
Saya permisi buk" kata dokter tersebut, lalu beranjak pergi dari kamar mereka.
__ADS_1
Anisa mendekati suaminya yang tengah tertidur pulas. Hatinya begitu sakit dan hancur. Cobaan yang begitu berat yang harus ia tanggung. Baru saja kehilangan mertua beserta adik iparnya dan kini ditambah lagi keadaan suaminya yang membuat dirinya menjadi bingung dan entah harus bagaimana. Sekarang yang dia punya hanya suami dan anaknya. Dia tidak mau kehilangan untuk yang kesekian kalinya. Terasa begitu sesak di dadanya.
Hari berganti hari, bulan berganti bulan, 6 bulan sudah berlalu sejak kepergian Sari, Andra dan Aira. Keadaan Rendra saat ini pun tidak ada kemajuan. Setiap harinya Rendra hanya duduk diatas tempat tidurnya dengan tatapan yang kosong. Sampai saat ini Rendra masih belum bisa menerima apa yang telah terjadi terhadap keluarganya.
Selama keadaan Rendra seperti itu, tidak ada yang mengurus perusahaan dan bisnis lainnya. Semuanya berjalan tanpa pimpinan, tanpa kendali. Hingga perusahaan menjadi bangkrut, bisnis pun gulung tikar. Uang yang tersisa sudah untuk membayar hutang dan membayar gaji sekaligus pesangon bagi para karyawan dan pegawai.
Anisa sendiri pun tidak bisa melakukan apa-apa. Setiap harinya dia mengurus anak dan suaminya sendiri, tak ada lagi pembantu, satpam ataupun sopir.
Kini mereka telah pindah rumah. Rumah yang jauh lebih kecil dan sangat sederhana. Rumah mewah yang dulu pernah mereka tempati kini telah menjadi milik orang lain, karena untuk membayar hutang.
"Mas Rendra, maafin Anisa ya, kini kita harus pindah ke rumah. Anisa berharap mas Rendra senang tinggal ditempat seperti ini. Meskipun hanya tempat tinggal sederhana Anisa janji akan selalu membuat mas Rendra dan Naura nyaman dan bahagia" kata Anisa, dengan air mata yang sudah menetes.
Rendra tidak menunjukkan ekspresi apa-apa, tatapannya kosong. Tak pernah sekalipun Rendra mengeluarkan kata-kata, seakan-akan kesadarannya telah hilang sebagian.
Namun Anisa selalu merawat suaminya tanpa pernah mengeluh dan kenal lelah.
Tak ada niat di dalam hatinya untuk meninggalkan suaminya. Apapun yang terjadi, apapun keadaan suaminya, dia akan tetap berada disamping suaminya bersama dengan anaknya.
Sore harinya Anisa terlihat sedang menyuapi Naura. Sekarang usia Naura sudah 10 bulan. Semakin cantik dan pintar. Anisa bangga sekali kepada Naura. Selama ini Naura lah yang menjadi kekuatan dan semangatnya untuk melalui semua cobaan ini.
Setelah menyuapi Naura, Anisa berganti untuk menyuapi suaminya. Begitulah setiap harinya yang dilakukan Anisa. Anisa seperti merawat 2 orang anak kecil.
Malam harinya setelah Naura tidur dan suaminya beristirahat, Anisa baru bisa makan. Hari ini hanya lauk sederhana yang dapat dia nikmati, hanya tempe dan sayur bayam saja. Anisa harus bisa mengatur keuangan dan menghemat nya sampai dia bisa bekerja.
Anisa adalah seorang wanita yang kuat, sabar dan tangguh. Cobaan yang bertubi-tubi datang, dia hadapi sendiri. Demi anak dan suaminya Anisa akan terus tetap bertahan dan berjuang. Karena Anisa yakin saat ini Allah masih sedang mengujinya, hingga nanti kebahagiaan akan datang menghampirinya...
TERIMAKASIH SUDAH MEMBACA🙏☺
__ADS_1