
Seminggu telah berlalu.. dan tepat pada hari minggu Sari harus kembali ke kota untuk bekerja. Jam menunjukkan pukul 7 pagi, Sari sudah bersiap untuk berangkat. Berat rasanya Sari harus kembali jauh dari kedua orang tuanya. Tapi mau tidak mau dia harus tetap bekerja demi kedua orang tuanya juga.
"Pak, bu Sari berangkat kerja yaa... Nanti kalau Sari udah gajian lagi , Sari bakalan pulang" Kata Sari.
"Iya nak, kamu yang hati hati ya, jaga kesehatan, dan jangan pernah tinggalkan sholat" kata Bu Siti yang seakan berat melepas anaknya pergi.
"Iya bu, bapak dan ibu juga harus selalu jaga kesehatan" kata Sari kembali.
"Dan ini sisa uang kemarin, ibu sudah mengembalikan hutang kamu kepada bu Indah!" kata Bu Siti seraya menyerah beberapa lembar uang 100 ribuan.
"Ibu bawa aja, Sari cuma butuh ongkos aja buat kesana. Disana masalah makan Sari gak pernah beli bu, semua udah ditanggung majikan Sari. Ibu simpan yaa, buat keperluan ibu dan bapak sehari hari!" Jelas Sari, kemudian hanya mengambil selembar uang 100 ribu.
"Tapi nak, kamu pasti juga akan membutuhkan uang ini!" kata Pak Pardi.
"Enggak pak, bapak dan ibu tenang saja.. Sari sudah cukup kok bawa uang ini.
Kalau gitu Sari berangkat sekarang ya pak ,bu!" kata Sari beranjak dari duduknya, dan diikuti oleh orang tuanya.
"Hati hati yaa Sar, jaga diri baik baik" kata Bu Siti.
"Iya, Sari pamit ya pak, bu.. " kata Sari seraya menyalami dan memeluk orang tuanya bergantian.
"Iya nak,semoga kamu selalu dalam lindungan Allah" kata pak Pardi.
"Amin, assalamualaikum.."
"Waalaikumsalam" jawab pak pardi dan bu Siti bersamaan.
Pak pardi dan Bu Siti sebenarnya merasa berat melepas kepergian anak mereka satu satunya. Tapi mereka juga tidak bisa menahan ataupun melarangnya. Hanya doa yang terus mereka panjatkan untuk sang putri. Mereka masih terus melihat Sari berjalan menjauh hingga Sari sudah tidak kelihatan lagi. Raut muka sedih yang menghiasi wajah mereka, seminggu bagi mereka terasa begitu singkat.
"Rasanya ibu berat pak melepas Sari pergi lagi!" Resah bu Siti.
"Bapak juga sama bu, tapi kita tidak bisa melarangnya bu. Biarkan Sari meraih impiannya, kita doakan saja semoga apa yang di cita citakannya bisa terkabul!" kata pak Pardi mencoba menenangkan hati istrinya.
"Iya pak" ucap bu Siti singkat.
__ADS_1
Sari berjalan menyusuri desa untuk menuju jalan depan. Setelah Sampai dia menaiki ojek untuk menuju keterminal bus.
Tak berapa lama, Sari sampai diterminal,kemudian langsung mencari bus yang menuju ke jakarta.
"Bismillah, semoga selamat sampai tujuan" kata Sari pelan, kemudian langsung menaiki bus nya. Setelah mendapat tempat duduk yang nyaman, Sari menunggu bus melaju untuk mengantarkannya ke jakarta.
**** JAKARTA, dirumah Rendra****
Hari ini keluarga Rendra sedang libur, bu Lestari dan pak Yudi seperti biasa sedang menyeduh teh di taman rumah, sedangkan Rendra baru selesai mandi. Dia bingung harus melakukan apa. Akhirnya dia menyusul orang tuanya di taman, bergabung untuk menyeduh teh bersama.
"Bukannya hari ini Sari pulang dari kampungnya ma?" tanya Rendra yang sudah duduk bersama pak Yudi dan bu Lestari.
"Harusnya iya Rend, karna udah seminggu..mungkin hari ini dia dateng. Kenapa memangnya, tumben kamu nanyain masalah pembantu?" tanya bu Lestari balik.
"Yaa nanya aja ma, katanya Rendra suruh minta maaf karna masalah waktu itu dengan Sherly!" kata Rendra memberi alasan.
"Maaf atau ada hal lain Rend?" ucap pak Yudi meyelidik.
"ya maaf pa, memangnya apa lagi!" jawab Rendra dengan sedikit bingung.
"Heran apa sih ma... Rendra kan cuma sekedar nanyain aja kok!" ucap Rendra.
Pak yudi lebih tau sifat Rendra dari pada istrinya. Dan pak Yudi mengetahui bahwa ada yang beda dengan Rendra kepada Sari.
"Kamu menyukai Sari Rend?" tanya pak Yudi blak blakan yang membuat Rendra dan bu Lestari terkejut.
"Apaan sih papa ini. Ko jadi mengarah ke situ!" kata Rendra salah tingkah.
"Iya nih papa... kebiasaan papa deh kalau ngomong suka ngasal" kata bu Lestari.
"Papa kan cuma nebak aja... Lagian Sari itu anak yang baik, lembut dan penuh sopan santun!" kata pak Yudi memuji Sari.
"Ya memang baik pa orangnya. Terus kenapa pa kalau dia baik... jangan jangan papa yaa yang suka?" kata Rendra meledek papanya.
"Anak sama bapak sama aja deh, suka ngomongnya pada ngasal. Yang bener itu mama yang suka sama Sari!" seru bu Lestari.
__ADS_1
"Coba jujur sama papa Rend, jangan ada yang kamu tutupin, papa tau seperti apa kamu, jangan takut dan malu, masalah pribadi itu hak kamu, dan kami sebagai orang tua hanya bisa mendukung selama itu dalam hal kebaikan!" kata pak Yudi, dengan wajah serius.
Bu Lestari langsung menatap Rendra. Dia tau bahwa suaminya berbicara serius.
"Kok jadi serius gini sih pa" kata Rendra yang mulai sedikit takut.
"jawab aja Rend, mama juga pengen tau" kata bu Lestari yang mulai penasaran.
"Oke Rendra akan jujur. Rendra sendiri juga gak tau dengan perasaan Rendra sendiri, tapi terkadang di fikiran Rendra muncul Sari pa,ma. Dan saat Rendra dekat atau lagi memikirkan dia, rasanya jantung Rendra berdetak lebih kencang. Rendra bingung sama perasaan ini.. apa mungkin Rendra menyukai Sari!" jelas Rendra panjang lebar.
"Astaga Rend, benar apa yang kamu katakan barusan?" tanya mamanya terkejut.
"Yaa, seperti itu ma yang Rendra rasakan" jawab Rendra.
"Itu namanya kamu suka atau malah cinta sama Sari Rend.. masak gitu aja gak ngerti sih!" kata Pak Yudi seraya tertawa menertawakan anaknya.
"Kok papa malah ketawa sih... terus ini gimana pa, masak iya anak kita suka sama pembantu!" kata bu Lestari bingung.
"Ya sudah ma biarkan saja, mau pembantu, orang kaya,orang miskin kita tidak boleh merendahkan siapapun ma. Jika memang Rendra menyukai Sari kita tidak bisa melarangnya, itu masalah perasaan ma.
Biarkan Rendra memilih pilihannya sendiri.
Gimana Rend?" jelas pak Yudi.
"Rendra masih belum tau pa... mungkin memang benar kalau Rendra memang menyukai Sari, tapi Rendra masih ragu dengan perasaan ini!" resah Rendra.
"Lama kelamaan pasti kamu akan mengetahui perasaan kamu yang sebenarnya kepada Sari!" ucap pak Yudi.
"Mama nurut aja deh, yang terpenting buat mama, anak mama yang ganteng ini bahagia!" kata bu Lestari seraya mencubit pipi anaknya dengan gemas.
Mereka kemudian tertawa bersama.
Perasaan Rendra terasa lebih lega, karna bisa menceritakan tentang perasaan yang dia rasakan selama ini. Perasaan yang sebenarnya belum dia mengerti. Tapi dia yakin dengan hatinya, kalau perasaannya tak akan salah, hanya butuh waktu untuk menyakinkannya....
TERIMAKASIH SUDAH MEMBACA....😊🙏
__ADS_1