
Hari berganti hari, bulan berganti bulan, dan tahun berganti tahun. Kini usia Naura sudah menginjak usia 5 tahun. Naura tumbuh menjadi gadis yang cantik dan penurut. Meskipun masih terbilang cukup kecil Naura sering kali membantu mamanya membersihkan rumah.
Kini Naura sudah masuk TK kecil.
Keadaan Rendra pun tidak ada kemajuan sama sekali, malah kondisinya semakin menurun. Segala cara dan usaha sudah Anisa lakukan, namun Rendra seperti tidak ada lagi semangat untuk hidup.
Kepergian keluarganya dulu sudah benar-benar membuatnya depresi. Anisa kini hanya bisa pasrah dan menerima semua apa yang sudah ditakdirkan oleh Tuhan.
Untuk menyambung kehidupannya Anisa kini berjualan gorengan di pasar. Tak ada pekerjaan lain yang bisa ia lakukan, sebab dia juga harus menjaga suami dan anaknya.
Yahh, kehidupan Anisa kembali seperti semula sebelum dulu dia menikah dengan Rendra. Anisa sudah terbiasa dengan kehidupan yang sederhana seperti ini.
Mungkin hanya sekejap Anisa bisa merasakan menjadi orang kaya. Namun roda kehidupan terus berputar, yang dulunya ada diatas kini berada dibawah.
Allah kapan saja bisa mengambil apapun yang kita miliki didunia ini dalam sekejap. Tak ada yang mustahil bagi sang Pencipta.
Sesudah anaknya berangkat sekolah dan mengurus suaminya, Anisa langsung bergegas menuju ke pasar untuk berjualan. Sudah 3 tahun lebih Anisa berjualan gorengan, hasilnya memang tidak seberapa, namun dari hasil jualan gorengan itulah Anisa dan keluarganya bisa makan dan mencukupi kebutuhan sehari-hari.
Seperti biasa, pagi ini Anisa menjual beberapa jenis gorengan.
Ada tempe, tahu, pisang dan ketela.
Belum sampai 2 jam berjualan, gorengan Anisa sudah habis. Menurut pelanggannya gorengan Anisa enak, sehingga jualannya selalu habis setiap hari.
Setelah berbelanja, Anisa langsung pulang ke rumah. Sesampainya di rumah Anisa memasak yang sudah dibelinya tadi.
"Ibu, Naura udah pulang!" seru Naura dari depan.
"Eh udah pulang yaa... gimana tadi sayang sekolahnya?" tanya Anisa.
"Tadi di sekolah Naura belajar mewarnai bu, baguss banget" jawab Naura dengan polosnya.
"Wahh, pinternya anak ibu. Yaudah sekarang Naura ganti baju dulu ya, ibu mau lanjutin masak" kata Anisa.
"Iya bu, nanti habis ganti baju Naura bantu masak ya" kata Naura.
Anisa tersenyum seraya menganggukkan kepalanya. Dia begitu bahagia dan bangga memiliki anak seperti Naura. Namun Anisa juga merasa sedih, sebab suaminya tidak bisa menyadari pertumbuhan dan perkembangan anaknya. Seandainya suaminya menyadari mungkin dia juga akan merasa bangga sama seperti apa yang dirasakannya sekarang ini.
"Kita ke kamar ayah yuk, suapin ayah makan siang" ajak Anisa kepada Naura.
"Ayuk bu" jawab Naura.
Sesampainya di kamar....
__ADS_1
"Sini bu biar Naura yang suapin ayah" pinta Naura.
"Boleh, ini sedikit-sedikit aja ya sayang" kata Anisa, seraya menyerahkan piring yang dibawanya.
"Ayah, cepet sembuh ya, maem yang banyak. Naura pengen main dan jalan-jalan sama ayah, Naura juga pengen ngrasain di gendong ayah. Naura sayang banget sama ayah" kata Naura seraya menyuapi ayahnya.
Anisa yang mendengar penuturan anaknya menangis terharu. Tak mampu dia berkata apa-apa, terasa sakit dihatinya. Anisa berharap ada sebuah keajaiban untuk suaminya. Dia ingin suaminya sembuh, kembali seperti dulu kala.
"Nau... raa" ucap Rendra lirih dan terdengar serak.
"Mas Rendra!" seru Anisa tak percaya.
"Ayah, ayah bisa ngomong" kata Naura.
"Alhamdulillah ya Allah, akhirnya kamu mau bicara mas, aku bahagia banget" kata Anisa menangis terharu.
"Bu, ayah bisa ngomong... Naura seneng" kata Naura bahagia.
"Iya sayang. kita harus do'ain ayah terus ya" kata Anisa.
Setelah selesai menyuapi ayahnya, Naura kembali ke kamar untuk tidur siang ditemani ibunya. Setelah tertidur Anisa berniat belanja keperluan untuk jualan besok.
Seperti biasa Anisa belanja di warung sembako dekat rumahnya.
"Iya mbak Nisa, tunggu sebentar ya" ucap pemilik warung.
"Ini mbak, sama apalagi?" tanya pemilik warung seraya menyerahkan barang yang dibeli.
"Sudah bu, itu saja, jadi berapa?" tanya Anisa.
"50 ribu mbak. Oh ya mbak gimana kabar suaminya?" tanya ibu pemilik warung.
"alhamdulillah bu semakin membaik" jawab Anisa, seraya menyerahkan uang 50 ribuan.
"Alhamdulillah kalau begitu mbak. Saya Terima ya uangnya" kata Pemilik warung.
"Terimakasih bu, kalau begitu saya permisi" ucap Anisa.
Keesokan paginya, seperti biasa sebelum berangkat berjualan Anisa membantu Naura bersiap untuk sekolah dan memenuhi kebutuhan suaminya.
"Mas, aku berangkat jualan dulu ya.. do'ain ya mas semoga hari ini jualannya habis lagi" kata Anisa berpamitan kepada suaminya.
Entah kenapa perasaan Anisa sedikit tidak enak untuk meninggalkan suaminya sendiri dirumah. Tidak seperti biasanya. Namun mau tidak mau dia harus tetap berangkat untuk berjualan.
__ADS_1
Saat di pasar, hatinya semakin tak enak. Entah kenapa dia sendiri pun bingung. Dalam fikirannya hanyalah suaminya.
Saat jualannya masih tersisa beberapa biji, Anisa terpaksa membawanya pulang, sebab dia merasa khawatir dengan suaminya.
Setelah sampai di rumah, Anisa langsung bergegas menuju kamar. Terlihat suaminya memejamkan mata. Anisa mengira suaminya sedang tidur. Anisa lalu mendekati suaminya, memegang tangannya. Betapa kagetnya saat tangan suaminya terasa begitu dingin.
"Ya Allah, mas Rendra...mas... bangun, mas Rendra!" seru Anisa panik.
Namun tak ada pergerakan sama sekali dari tubuh Rendra.
Anisa mencoba mendengar detak jantungnya, namun dia tidak mendengar apa-apa.
Anisa semakin panik dan menangis.
"Tolooongg, tolong suami saya" teriak Anisa meminta tolong.
Mendengar teriakan, para tetangga pun berdatangan ke rumah Anisa.
"Ada apa mbak?" tanya bu Nur tetangga Anisa.
"Bu, tolong suami saya, tolong" kata Anisa sambil terus menangis.
"Suaminya kenapa mbak?" tanya tetangga yang lain.
Lalu salah satu tetangga mendekati tubuh Rendra, kemudian melihat kondisinya.
"Innalillahi wainailaihi rajiun" ucap pak Arif suami dari ibu Nur.
Semua orang yang berada di tempat tersebut merasa sangat kaget mendengar ucapan dari pak Arif. Tak terkecuali Anisa. Dia langsung memeluk tubuh suaminya dengan tangisan yang semakin pecah.
"Sabar mbak Anisa. Mungkin ini sudah jalan dari Allah. Ikhlaskan, mas Rendra mungkin akan jauh lebih bahagia disana" kata bu Nur, menenangkan Anisa.
"Mas Rendra, bangun mas. Kenapa kamu ninggalin aku dan Naura. Kami masih membutuhkanmu, ayo bangun mas, bangunn!" kata Anisa.
Hari ini adalah hari dimana Rendra pergi menyusul keluarganya. Setelah beberapa tahun berjuang dan bertahan akhirnya Rendra menyerah.
Kini tinggalah Anisa seorang diri membesarkan anaknya dan dia juga harus tetap berjuang untuk anaknya...
***Untuk semua teman-teman yang masih setia membaca Jodoh Si Gadis Miskin saya ucapkan terimakasih banyak yaa... kalian sangat luar biasa karena sudah mendukung saya sampai saat ini...
Dan untuk teman-teman yang sekarang tidak suka dengan alur cerita yang saya buat, saya mohon maaf. Saya disini sebagai autor hanya menulis dan mengarang cerita sesuai dengan pikiran saya. Yang tidak suka boleh ditinggalkan...
Terimakasihh🙏🙏
__ADS_1
TERIMAKASIH SUDAH MEMBACA☺🙏***