
Sesampainya di rumah. Amar langsung berpamitan untuk pulang kepada Marlina dan ibunya.
" Kalau begitu saya langsung permisi pulang ya Bu, Lin" pamit Amar.
"Tidak mampir dulu nak Amar?" tanya Bu Harti.
"Tidak Bu, terimakasih, kapan-kapan saja saya akan mampir, assalamualaikum" kata Amar.
"Waalaikumsalam" balas Bu Harti dan Marlina serempak.
Setelah kepergian Amar, Bu Harti dan Marlina masuk ke dalam rumah. Bu Harti penasaran dengan pakaian sang anak, sebab sudah berganti dengan celana jins dan kaos panjang.
"Lin, kenapa kamu ganti baju, lalu dres yang kamu pakai tadi kemana?" tanya Bu Harti penasaran.
"Oh, itu Bu, tadi waktu di pesta gak sengaja ketumpanan minuman, jadi aku ganti, ini aku pinjam dari temen aku Bu. Dan dres nya ini aku bawa pulang" jelas Marlina berbohong seraya menunjukkan paper bag yang dia tenteng.
"Ya sudah kalau gitu. Kamu belum sholat isya kan, sekarang kamu sholat dulu" kata Bu Harti.
"Iya Bu" ucap Marlina, lalu berjalan menuju kamarnya.
Marlina merasa sangat bersalah pada sang ibu. Terpaksa dirinya harus berkata bohong. Marlina tidak mau membuat ibunya sedih jika tau apa yang sebenarnya terjadi.
Apapun yang dialami Marlina, dirinya tidak pernah ingin menceritakan pada ibunya, kecuali hal yang membahagiakan.
Marlina segera mengambil air wudhu untuk menunaikan sholat isya. Setelah selesai Marlina baru teringat dengan pesanan nasi uduk yang dipesan Amar kepadanya. Marlina benar-benar lupa untuk memberi tahu ibunya.
Marlina pun beranjak menemui ibunya.
"Bu, aku lupa memberi tahu ibu kalau besok ada pesanan nasi uduk 100 bungkus, dan ini uangnya" kata Marlina.
"Banyak sekali nak uangnya" kata Bu Harti melihat uang 800 ribu yang diberikan Marlina.
"Iya Bu, itu juga hasil dari nasi uduk tadi pagi. Dan itu selebihnya uang orang yang pesan Bu, kak Amar" jelas Marlina.
"Jadi yang pesan nak Amar yang tadi kesini?" tanya Bu Harti.
"Iya Bu" ucap Marlina.
"Ya sudah besok pagi-pagi sekali ibu akan belanja bahan-bahannya. Ini sisa uangnya buat kamu" kata Bu Harti seraya menyerahkan uang 400 ribu kepada Marlina."
"Tidak usah Bu, ibu bawa saja. Aku juga lagi tidak membutuhkan apa-apa kok. ibu tabung saja, nanti kalau uangnya sudah terkumpul bisa buat bayar uang kuliah Bu" kata Marlina.
__ADS_1
"Oh ya bukankah harusnya kamu bulan lalu harus bayar uang kuliah nak?" tanya Bu Harti.
"Iya Bu, tapi ibu tidak usah terlalu mikirin itu. Nanti kalau sudah ada uang baru kita bayar ya" jelas Marlina.
"Yasudah aku ke kamar dulu ya Bu" tambah Marlina.
Bu Harti menganggukkan kepalanya seraya tersenyum pada sang anak.
Di dalam kamar Marlina belum bisa tidur, sebab dirinya memikirkan uang kuliah yang 2 bulan ini belum dibayarnya. Marlina bingung harus bagaimana. Baginya uang 6 juta bukan uang yang sedikit. Apa lagi akhir-akhir ini pendapatan dari berjualan nasi uduk tidak seberapa, terkadang habis untuk membayar keperluan yang lain.
Marlina sempat berpikir untuk berhenti kuliah. Dirinya tidak ingin merepotkan ibunya.
Mungkin dengan berhenti kuliah dirinya bisa mencari pekerjaan, pikirnya.
Setelah lelah berfikir akhirnya Marlina pun terlelap....
***
Keesokan harinya setelah selesai sholat subuh, Marlina membantu ibunya memasak nasi uduk. Hari ini mereka membuat nasi uduk lumayan banyak.
Satu jam berlalu, nasi uduk pun sudah siap untuk dijual. Marlina membawa nasi uduk ke kampus 150 bungkus, sedangkan Bu Harti 50 bungkus untuk dijual ke pasar.
"Semoga hari ini laris manis ya Bu" kata Marlina.
Terdengar suara klakson mobil dari depan rumah. Bu Harti bergegas ke depan untuk melihat siapa yang datang.
"Nak Amar" ucap Bu Harti.
"Assalamualaikum Bu, maaf Bu pagi-pagi saya kesini. Kedatangan saya kesini untuk menjemput Marlina, apa Marlina nya masih ada di rumah?" tanya Amar.
"Waalaikumsalam..Masih nak, dia baru mandi.. mari silahkan masuk dulu" kata Bu Harti.
"Terimakasih Bu, oh iya, ini ada sedikit oleh-oleh untuk ibu dan Marlina" kata Amar seraya menyerahkan bingkisan buah kepada Bu Harti.
"Ya ampun nak Amar, tidak perlu repot-repot seperti ini" kata Bu Harti.
"Tidak repot kok Bu" ucap Amar dengan tersenyum.
"Terimakasih ya kalau begitu. Duduk dulu nak Amar, ibu tinggal ke belakang sebentar ya" kata Bu Harti.
"Iya Bu" ucap Amar.
__ADS_1
Bu Harti menghampiri Marlina yang tengah mandi untuk memberitahu kedatangan Amar.
"Lin, itu ada nak Amar di depan, kamu mandinya jangan lama-lama, kasihan nak Amar menunggu" kata Bu Harti di depan pintu kamar mandi.
"Kak Amar Bu? ada apa Bu dia kesini?" tanya Marlina terkejut.
"Katanya mau jemput kamu" jawab Bu Harti.
"Iya Bu, aku udah mau selesai kok mandinya" kata Marlina.
Marlina bingung dengan kedatangan Amar. Sebab sebelumnya tak ada janji diantara mereka. Dan baru kali ini Amar menjemputnya untuk berangkat kuliah bersama.
"Silahkan diminum dulu nak, maaf ya adanya cuma teh" kata Bu Harti datang dengan membawa secangkir teh hangat untuk Amar.
"Tidak apa-apa Bu, lagian ibu tidak perlu repot-repot seperti ini" kata Amar.
"Tidak repot kok nak, sekedar teh saja" ucap Bu Harti.
Amar menyeduh tehnya. Nikmat, batin Amar...
Bu Harti berfikir bahwa Amar adalah anak orang kaya, sebab semalam dan hari ini dia membawa mobil yang berbeda. Namun Bu Harti tidak berani menanyakan itu.
Tak lama Marlina datang dengan tas keranjang nasi uduk di tangannya.
"Maaf kak menunggu lama, karena aku tidak tau kalau kakak mau kesini" kata Marlina.
"Tidak apa-apa kok Lin, maaf juga karena aku gak bilang sebelumnya kalau mau jemput kamu" kata Amar.
"Iya kak... yaudah kak kita berangkat sekarang" ajak Marlina.
"Ayuk, tapi tunggu sebentar aku habisin tehnya dulu" kata Amar, lalu menyeduh tehnya sampai habis.
"Kami pamit ya Bu, terimakasih tehnya sangat enak Bu" kata Amar tersenyum.
"Iya, sama-sama... kalian hati-hati ya" kata Bu Harti.
"Assalamualaikum" ucap Marlina dan Amar bersamaan.
"Waalaikumsalam" balas Bu Harti.
Amar melajukan mobilnya menuju kampus.
__ADS_1
Hati Marlina bahagia sekali sebab dia merasa akhir-akhir ini Amar sangat memperhatikannya. Hal itu membuat dirinya semakin sayang pada Amar,....
😊😊😊