
Bu Ratih menuju ruang tamu, dia melihat Veronika yang tengah menangis seraya menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya.
Bu Ratih mendekati Veronika dengan perasaan khawatir.
"Ada apa Vero, kenapa kamu menangis, lalu dimana Amar?" tanya Bu Ratih tampak bingung.
Veronika tak menjawab pertanyaan dari Bu Ratih, dirinya malah langsung memeluk Bu Ratih meminta simpati.
"Apa yang sebenarnya terjadi Vero?" tanya Bu Ratih kembali.
"Tante, Amar menyukai perempuan lain" jawab Veronika seraya melepaskan pelukannya.
"Apa maksud kamu Vero, Tante tidak mengerti" kata Bu Ratih.
"Tan, saya mencintai Amar, tapi Amar malah mencintai perempuan lain" jelas Veronika.
"Kalau masalah itu Tante tidak ingin terlalu ikut campur, semua Tante serahkan kepada Amar" kata Bu Ratih.
"Tapi Tan, Tante harus tau perempuan seperti apa yang Amar suka. Perempuan itu sangat tidak pantas untuk Amar Tante, dia hanya mengincar harta Amar saja" jelas Veronika.
"Tante memang belum pernah bertemu perempuan seperti apa yang Amar suka. Tapi Tante yakin pilihan Amar pasti yang terbaik.
Vero, kamu tidak usah sedih ataupun marah, jodoh itu sudah ada yang mengatur, yakinlah jika memang Amar berjodoh denganmu maka dia akan kembali padamu. Tapi jika kalian tidak berjodoh maka kamu harus menerimanya dengan ikhlas" jelas Bu Ratih seraya mengusap pundak Veronika.
"Tidak Tante, Amar itu milik aku, pasti aku dan Amar akan berjodoh" seru Veronika.
__ADS_1
"Vero, sepertinya kamu terlalu capek. Pulanglah dan istirahatlah" kata Bu Ratih.
"Tapi Tan" ucap Vero.
"Lain kali kita lanjutin ngobrolnya ya" kata Bu Ratih.
"Baiklah Tan, saya permisi pulang"kata Veronika. Lalu beranjak pergi.
Bu Ratih melihat kepergian Veronika dengan menggeleng-gelengkan kepalanya. Tak menyangka jika Veronika begitu keras dalam mengutarakan keinginannya. Berbeda sekali dengan ibunya yang lembut dan rendah hati. Kebetulan Bu Ratih dan ibunya Veronika adalah teman arisannya, jadi dia mengenal betul sosok dan sifat dari ibunya Veronika.
Setelah dirasa Veronika benar-benar pergi. Bu Ratih menuju ke kamar Amar. Terlihat Amar tengah tertidur, sehingga Bu Ratih mengurungkan niatnya untuk menanyakkan permasalahannya dengan Veronika.
Dalam perjalanan pulang. Veronika terlihat masih marah, dan merasa tak terima dengan perlakuan Amar. Veronika menambah kecepatan mobilnya, dirinya terus memaki Marlina yang dianggapnya telah merebut Amar.
"Kamu kenapa sayang, kenapa baru datang marah-marah?" tanya Bu Lusi yang tengah membaca majalah.
"Amar ma, aku benci sama semua orang!" seru Veronika lalu melempar tubuhnya di atas Shofa.
"Ada apa dengan Amar?" tanya Bu Lusi penasaran.
"Dia menolak aku ma, dan lebih memilih perempuan lain" jelas Veronika.
"Sayang, laki-laki di dunia ini tidak hanya Amar, kamu bisa cari dan dapatkan yang lebih baik" jelas Bu Ratih.
"Enggak ma, aku maunya Amar, dan Amar harus jadi milik aku" seru Veronika.
__ADS_1
"Jangan egois seperti itu nak. Kamu tidak bisa memaksakan perasaan orang lain untuk membalas perasaan kamu. Kamu masih muda, masa depan kamu masih panjang, masih banyak rencana yang harus kamu kejar Vero. Jangan buat diri kamu seperti ini hanya karena satu laki-laki" jelas Bu Lusi.
"Masa depan aku itu Amar ma. Tolong ma, bantu aku buat dapetin Amar. Tolong mama bicara sama Tante Ratih, agar Tante Ratih mau membujuk Amar" pinta Veronika menatap mamanya.
"Mama tidak bisa lakukan itu sayang. Karena itu masalah perasaan" kata Bu Lusi.
"Mama udah gak sayang sama aku. Mama pengen lihat aku bahagia kan" kata Veronika.
"Sudah pasti mama ingin kamu selalu bahagia nak, tapi tidak dengan memaksa orang lain" jelas Bu Lusi.
"Kalau mama pengen aku bahagia, jadi tolong ma bicara sama Tante Ratih. Please ma, aku mohon" pinta Veronika kembali.
"Oke, mama akan coba" ucap Bu Lusi.
"Makasih ma, aku ke kamar dulu" kata Veronika, lalu beranjak naik ke atas menuju kamarnya.
Bu Lusi sebenarnya lelah dengan sikap dan juga sifat Veronika. Entah dengan cara apa lagi Bu Lusi bisa merubah anak semata wayangnya menjadi orang yang lebih baik lagi.
Bu Lusi sudah 10 tahun lamanya menjadi single parent bagi Veronika, sejak kepergian suaminya karena meninggal dunia, dirinya harus bekerja keras membangun dan mempertahankan bisnis peninggalan suaminya, hingga saat ini bisa mencapai kesuksesan. Hingga dirinya tak pernah ada waktu untuk bisa dekat dengan pria lain sampai saat ini. Dalam pikirannya hanya ada kerja, kerja dan kerja. Semua itu ia lakukan hanya untuk Veronika. Bu Lusi tidak mau sampai anaknya kekurangan dan hidup susah,
Bu Lusi berharap agar Veronika bisa menjadi pribadi yang jauh lebih baik lagi...
jika teman-teman suka dengan novel ini jangan lupa like dan komen ya...... terimakasih
😊😊😊
__ADS_1