Jodoh Si Gadis Miskin

Jodoh Si Gadis Miskin
Bab 113


__ADS_3

Pagi hari nya Andra maupun Anisa sudah bersiap akan pergi ke rumah sakit untuk berkonsultasi ke pada seorang dokter tentang rencana mereka untuk mencoba program bayi tabung.


"Udah siap sayang?," Tanya Andra menatap istrinya yang sedang berdandan di depan cermin.


"Udah Mas, yuk berangkat sekarang," Anisa menggandeng lengan suaminya. Dan mereka pun berangkat menuju rumah sakit yang berjarak lumayan jauh dari rumah mereka.


Di dalam mobil pikiran Anisa menerawang ke mana-mana. Ia takut kalau program bayi tabungnya tidak berjalan sesuai harapannya. Rasa kecemasan pun datang menghantuinya.


"Mas, kok aku jadi cemas gini ya," Anisa menatap ke arah suaminya yang sedang fokus menyetir.


"Cemas kenapa sih sayang?," Tanya Andra melihat sekilas ke arah Anisa.


"Cemas aja Mas, takut kalau nggak sesuai yang kita harapkan," Tutur Anisa dengan mimik muka yang sedih.


"Udah, jangan berpikir macam-macam. Kamu harus yakin pasti akan ada jalan buat kita," Kata Andra. Tangan kirinya menggenggam tangan Anisa erat untuk memberikannya semangat.


Anisa hanya tersenyum getir mendengar perkataan suaminya. Ia ingin meyakinkan dirinya sendiri kalau semua pasti akan berjalan lancar. Namun jauh dari dalam hatinya, ia merasakan kecemasan yang begitu besar.


Anisa takut, jika rencana ini gagal maka apa yang harus ia perbuat.


Sekitar 45 menit perjalanan,mereka pun sampai di sebuah rumah sakit. Karena semalam Andra sudah lebih dulu membuat janji ke pada dokter yang akan menangani program bayi tabungnya, maka ia tidak perlu lagi menunggu atau mengantri.


Andra dan Anisa pun langsung di persilahkan masuk ke dalam sebuah ruangan untuk bertemu dengan dokter yang bernama Revina.

__ADS_1


"Selamat pagi dokter Revina. Perkenalkan saya Andra dan ini istri saya Anisa. Saya semalam yang menghubungi dokter untuk konsultasi program bayi tabung," Sapa Andra memperkenalkan diri.


"Selamat pagi juga Pak Andra Dan Ibu Anisa. Silahkan duduk," Dokter Revina menyunggingkan senyum ramah,lalu mempersilahkan Andra dan juga Anisa duduk.


"Terimakasih dok. Jadi kedatangan kami berdua kesini, karena kami ingin konsultasi terlebih dahulu mengenai program bayi tabung," Ujar Andra.


"Sebelum saya menjelaskan lebih lanjut. Saya ingin mengetahui kondisi Pak Andra dan juga Bu Anisa terlebih dahulu. Silahkan ikut saya," Dokter Revina berdiri lalu berjalan menuju ruang pemeriksaan diikuti Anisa dari belakang.


Dokter Revina melakukan beberapa pemeriksaan ke pada Anisa.


Di bantu oleh seorang suster dokter Revina mulai melakukan pemeriksaan. Dokter Revina sangat cermat dan hati-hati melakukan proses bayi tabung untuk pasiennya. Maka dari itu, sebelum ia menjelaskan prosedurnya seperti apa, dokter Revina akan terlebih dulu memeriksa kondisi dari ke dua pasangan.


20 menit berlalu, Setelah ke dua nya selesai di periksa, Andra dan Anisa kembali di persilahkan duduk.


Dokter Revina membaca hasil pemeriksaan yang di berikan oleh susternya dengan teliti.


Dokter Revina memandang ke arah pasangan suami istri tersebut dengan pandangan datar.


"Begini Pak Andra dan Bu Anisa, dari hasil pemeriksaan yang saya lakukan tadi mengatakan bahwa sebenarnya tidak ada masalah antara Pak Andra dan Bu Anisa. Tingkat kesuburan kalian sangat baik. Kenapa harus melakukan program bayi tabung?," Tanya dokter Revina dengan mimik muka serius.


"Sebelumnya,memang kami sudah pernah periksa dok. Memang tidak ada masalah,namun istri saya sudah sangat ingin segera memiliki buah hati," Jawab Andra.


"Kalau saya boleh tau, sudah berapa lama Bapak dan Ibu menikah?," Tanya Dokter Revina.

__ADS_1


"Sudah 5 tahun dok," Jawab Andra.


"Bapak dan Ibu sabar dulu saja. Sejauh ini tidak ada masalah. Jadi pasti Bu Anisa akan bisa segera hamil," Kata dokter Revina dengan menyunggingkan senyum ramah di wajahnya.


"Tapi dok, saya ingin segera cepat hamil. Saya sudah tidak bisa menunggu lagi. Saya mohon , bantu kami dok," Seru Anisa memohon.


"Maaf Bu Anisa. Saya sangat paham perasaan anda. Tapi program bayi tabung juga memiliki resiko," Kata Dokter Revina.


"Resiko bagaimana dok?," Andra mengerutkan keningnya mendengar perkataan dokter Revina. Selama ini ia berpikir kalau program bayi tabung tidak memiliki resiko apapun.


"Resiko seperti saat pengambilan sel telur bisa saja terjadi adanya infeksi atau bahkan pendarahan yang bisa menyebabkan kerusakan usus dan organ tubuh lain. Dan masih banyak lagi resiko lainnya," Ujar dokter Revina.


"Resiko lainnya seperti apa dok?tolong jelaskan ke pada kami?," Andra ingin mengetahui nya lebih detail. Karena ia takut nanti akan mengakibatkan istrinya kenapa-napa. Andra tidak mau itu terjadi.


"Selama proses bayi tabung di lakukan,pasti tidak akan lepas dari obat-obatan dan itu bisa mengakibatkan terjadinya sindrom hiperstimulasi ovarium. Memang tidak selalu terjadi pada pasien. Tapi itu masuk ke dalam resikonya Pak.


Resiko keguguran pun juga bisa saja terjadi. Dan juga kehamilan ektopik atau di sebut juga kehamilan di luar rahim. Maka dari itu saya menyarankan Bapak dan Ibu untuk lebih sabar menunggu. Karena kondisi Bapak dan Ibu sangatlah sehat dan subur. Saya yakin Ibu Anisa akan bisa hamil tanpa bantuan medis," Ucap Dokter Revina memberikan penjelasan mengenai resiko bayi tabung.


Anisa mendengarkan dengan seksama penjelasan dari dokter. Hatinya merasa ciut untuk melanjutkan program bayi tabungnya. Akan tetapi mau sampai kapan ia akan menunggu untuk bisa hamil.


Anisa juga yakin, pasti suaminya tidak akan mau melanjutkan ke tahap selanjutnya.


"Baik dokter,terimakasih atas penjelasannya.Saya akan memikirkan nya lagi dengan istri saya," Andra beranjak dari tempat duduknya dengan menggandeng tangan Anisa.

__ADS_1


"Sama-sama Pak. Semoga Bu Anisa segera bisa hamil,"


Setelah saling berjabat tangan Andra pun langsung mengajak Anisa untuk pulang. Ia sudah tidak tertarik dan tidak akan mau melakukan program bayi tabung. Andra tidak mau istrinya kenapa-napa.


__ADS_2