
Perkenalkan namanya Marlina. Usianya sekarang sudah 20 tahun. Marlina terlahir dari keluarga sederhana, sangat sederhana.
Marlina tinggal berdua hanya dengan ibunya di gubuk sederhana peninggalan bapaknya yang sudah lama meninggal sejak usianya 10 tahun.
Semenjak kepergian bapaknya, ibunya harus bekerja membanting tulang sebagai penjual nasi uduk di pasar untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari dan biaya kuliah Marlina.
Hasil yang diperoleh dari berjualan nasi uduk pun tidak seberapa, hanya cukup untuk makan, dan jika ada lebihnya disimpan untuk biaya
kuliah.
Di tengah keterbatasan ekonomi keluarganya tidak membuat Marlina berputus asa ataupun bermalas-malasan. Marlina selalu membantu ibunya bekerja tapi juga tidak melupakan kewajibannya sebagai seorang mahasiswi.
Marlina adalah seorang gadis yang pintar dan cerdas, namun kesempatan untuk mendapatkan beasiswa tidak berpihak padanya. Namun itu tidak membuatnya mengurungkan cita-citanya menjadi orang sukses untuk membahagiakan ibunya. Marlina tidak peduli dengan omongan orang-orang tentangnya, yang menghinanya, mencaci makinya karena Marlina hanyalah anak orang miskin dengan cita-cita yang terlalu tinggi.
Tidak ada rasa malu pada diri Marlina karena keadaannya sekarang. Selama apa yang dia lakukan baik dan benar, Marlina akan terus melakukannya.
***
Pagi ini Marlina sudah bersiap untuk berangkat kuliah. Tak lupa dia membawa bungkusan nasi uduk untuk dia titipkan di kantin kampus.
Dari hasil berjualan tersebut Marlina bisa sedikit membantu ibunya menambah penghasilan.
"Bu aku berangkat ke kampus dulu ya" kata Marlina seraya mencium tangan sang ibu.
"Iya nak, hati-hati, ibu tadi bawakan kamu 50 bungkus nasi uduk" kata Bu Harti, ibu Marlina.
"Iya Bu, semoga aja nanti habis, temen-temen kampus aku banyak yang suka Bu, mereka bilang nasi uduknya enak banget" kata Marlina.
"Alhamdulillah, syukurlah kalau temen-temen kamu pada suka, ibu seneng dengernya" kata Bu Harti tersenyum bahagia.
"Ya udah kalau gitu aku berangkat sekarang Bu, ibu juga hati-hati kalau berangkat ke pasar, assalamualaikum" kata Marlina.
"Waalaikumsalam" balas Bu Harti.
Untuk sampai ke kampusnya, Marlina harus naik angkutan umum terlebih dahulu. Sebab jarak rumah menuju kampus membutuhkan waktu sekitar 20 menit.
Sesampainya di kampus Marlina langsung menuju kantin untuk menitipkan nasi uduk yang dia bawa.
"Selamat pagi Bu Inah" sapa Marlina pada ibu kantin.
"Selamat pagi juga Lina, kamu bawa berapa nasi uduknya?" tanya Bu Inah.
"Saya bawa 50 bungkus Bu..ini" jawab Marlina seraya mengangkat keranjang yang ada di tangannya.
__ADS_1
"Sip, banyak yang suka loh sama nasi uduk kamu, enak banget rasanya pas" kata Bu Inah.
"Terimakasih Bu, semoga nanti semua habis" kata Marlina.
"Pasti habis" ucap Bu Inah.
"Kalau begitu saya permisi dulu ya Bu, terimakasih" kata Marlina.
"Iya Lin, sama-sama" ucap Bu Inah.
Di kampus Marlina mempunyai 2 orang sahabat yang sangat baik, namanya Mona dan Ria. Mereka berdua mempunyai hati yang tulus dan tidak pernah membeda-bedakan teman. Ketika salah satu diantara mereka ada masalah, maka mereka akan saling membantu.
Namun ada juga beberapa orang yang tidak menyukai Marlina. Salah satunya adalah Veronika, dia sangat tidak suka dengan Marlina. Veronika adalah anak orang kaya, sehingga membuat Veronika menjadi gadis yang sombong dan tidak tau diri.
Di saat Merlina mendapat perhatian dari orang-orang sekitar, Veronika pasti akan marah dan tidak membiarkan itu terjadi.
Namun semua itu sudah menjadi hal yang biasa bagi Marlina. Hinaan, cacian sudah biasa Marlina terima. Sebab Marlina sadar diri, dirinya hanyalah orang biasa.
Di mata orang lain dan sahabat-sahabatnya, Marlina adalah gadis yang cantik, baik, lembut, dan pintar. Banyak lelaki yang ingin mendekatinya dan menjadikannya sebagai kekasih, namun Marlina tidak ingin memberikan harapan yang lebih kepada mereka, semuanya Merlina anggap sebagai teman.
Sebenarnya ada satu lelaki yang Marlina sukai. Namanya Amar, dia adalah lelaki tampan, baik dan juga anak orang yang kaya raya. Banyak para wanita yang jatuh hati padanya, termasuk Veronika.
Dan Merlina hanya bisa menyimpan perasaannya sendiri tanpa ada niat untuk mengungkapkannya.
"Marlina!" seru Mona dan Ria. berlari menghampiri Marlina.
"Hai, kalian baru Dateng ya?" tanya Marlina.
"Iya, kami udah Dateng dari ya" jawab Ria.
"Udah sekitar 15 menit yang lalu" jawab Marlina.
"Eh Lin kamu bawa nasi uduk gak, aku mau dong?" tanya Mona.
"Iya nih aku juga, ketagihan banget deh sama nasi uduk buatan kamu" tambah Mona.
"Aku tadi bawa kok, sekarang udah akubtitipin di kantinnya Bu Inah" kata Merlina.
"Kalau gitu ke kantin Bu Inah yuk, nanti keburu habis nasi uduknya" ajak Mona.
"Yaudah aku temenin kalian" kata Marlina.
Lalu mereka bertiga pergi menuju kantin Bu Inah.
__ADS_1
Sesampainya di kantin, terlihat kerumunan mahasiswa merubungi kantin Bu Inah. Ternyata mereka sedang berebut nasi uduk.
"Tuh kan bener udah banyak yang beli, yuk Mon keburu habis nanti" kata Ria panik, lalu menarik tangan Mona untuk segera mengambil nasi uduknya.
Beberapa saat kemudian..
"Akhirnya dapet juga, hampir aja kehabisan" kata Mona.
Merlina menemani mereka makan terlebih dahulu sebelum masuk kelas.
"Lina, kebetulan kamu ada disini" kata Bu Inah memanggil.
"Iya Bu, ada apa ya?" tanya Marlina.
"Ini uang hasil dari nasi uduk kamu, langsung ludes nasinya" kata Bu Inah seraya menyerahkan beberapa lembar uang kepada Marlina.
"Alhamdulillah, terimakasih ya Bu, ini sudah dipotong buat Bu Inah belum?" tanya Marlina menerima uang tersebut.
"Sudah kok, besok bawa lebih banyak lagi ya nasi uduknya" kata Bu Inah.
" iya Bu, Insyaallah" ucap Marlina.
Setelah selesai makan. Mereka bertiga bergegas masuk kelas, karena ada kelas pagi. Kebetulan mereka bertiga satu kelas dan satu jurusan.
"Akhirnya selesai juga kelasnya" kata Ria seraya menghembuskan nafasnya dengan kasar.
Mereka bertiga berjalan ke arah gerbang kampus. Terdengar suara lelaki memanggil nama Marlina. Ternyata dia adalah Amar.
"View, dipanggil tuh sama pangerannya" goda Mona yang membuat Marlina malu.
"Apaan sih Mon, jangan bilang seperti itu lagi, nanti kalau ada yang dengar bisa jadi salah paham" kata Marlina.
"Hai Lina, udah mau balik ya?" tanya Amar.
"Iya kak, kelas juga udah selesai. Kak Amar sendiri?" tanya Marlina balik.
"Kebetulan aku juga udah selesai, mau pulang bareng gak?" ajak Amar.
"Emm maaf kak, aku gak bisa soalnya aku udah mau balik sama Mona dan Ria.
"Ya ampun Lin, santai aja lagi , kamu balik aja bareng kak Amar, lagian kan kita berdua" kata Mona.
"Tapi aku hari ini pengen balik bareng kalian aja. gak papa kan kak Amar?" tanya Marlina pada Amar.
__ADS_1
Sebenarnya Marlina tidak enak menolak ajakan Amar, tapi di sisi lain Marlina ingin pulang dengan Mona dan Ria......