Jodoh Si Gadis Miskin

Jodoh Si Gadis Miskin
part 156 (MARLINA)


__ADS_3

Keesokan harinya, seperti biasa setelah menunaikan ibadah sholat subuh, Marlina bergegas membantu sang ibu menyiapkan nasi uduk untuk dijual ke pasar.


Hari ini mereka tidak membawa terlalu banyak nasi uduk, sebab nasi uduk yang mereka jual kemarin masih tersisa lumayan banyak.


"Semoga hari ini nasi uduk kita laku semua ya bu" kata Marlina


"Amin, kita berdoa saja nak" kata bu Hari


"kalau begitu aku mandi dulu yaa bu, nasinya udah aku taruh didalam keranjang" kata Marlina


"Iya lin, sekalian ibu juga mau beresin ini dulu, setelah itu kita berangkat ke pasar" kata bu Harti, seraya mengumpulkan wadah yang kotor untuk dicuci.


Setelah semua selesai, Marlina dan bu Harti bergegas pergi ke pasar. Jam masih menunjukkan pukul 6 pagi. Marlina dan ibunya berjalan menuju pasar yang berjarak sekitar 1 km dari rumah.


Sesampainya di pasar, Marlina langsung mengeluarkan bungkusan semua bungkusan nasi uduk dari dalam keranjang, kemudian merapikannya di atas meja kayu yang sudah bu Harti siapkan.


Pagi ini mereka hanya membawa 30 bungkus nasi uduk, dan berharap semuanya habis terjual.


Jam sudah menunjukkan pukul 9 WIB.


Namun nasi uduk mereka belum juga habis, masih tersisa 15 bungkus.


"Semakin hari, dagangan kita semakin sepi saja bu" kata Marlina dengan raut wajah sedih.


"Iya Lin, mungkin rejeki kita segini, tetap disyukuri berapapun itu" kata bu Harti mencoba menghibur anaknya.


"iya bu" ucap Marlina.


"Ya sudah kita pulang saja, hari juga sudah semakin siang, lagi pula pasar sudah mulai sepi" ajak bu Harti.


"iya bu, biar aku saja yang beresin semuanya" kata Marlina, lalu bergegas memasukkan nasi uduk yang masih tersisa ke dalam keranjang.


 


DI KAMPUS


 


"Mon, Lina beneran udah gak ngampus lagi ya?" tanya Ria.

__ADS_1


"Sepertinya beneran deh Ri, lagian kemarin kita udah dateng ke rumahnya dan denger sendiri dari Lina kalo dia berhenti kuliah" jawab Mona menjelaskan.


"Iya gue tau, tapi kenapa tiba-tiba si Lina berhenti kuliah tanpa ada alasan yang jelas" kata Ria.


"Gue sendiri juga gak ngerti, bingung juga, pasti ada alasannya yang dia sembunyiin dari kita" tebak Mona.


"Akhirnya ketemu juga!" seru Amar yang tiba-tiba datang menghampiri mereka dengan nafas yang tergesa-gesa.


"Kak Amar?? kenapa kak kok sampe ngos-ngosan kayak gitu, abis lomba lari ya?" ledek Ria


"Iya nih, kakak kenapa?" tanya Mona penasaran.


"Kalian lihat Marlina enggak?" tanya Amar.


"Kak Amar lupa, Marlina kan udah berhenti kuliah, kakak juga udah lupa apa kalo kemarin kita sama-sama samperin Marlina ke rumahnya dan denger jawabannya dari dia sendiri" jelas Mona.


"Jadi Marlina serius dengan kata-kata nya kemarin?" tanya Amar kembali yang merasa belum percaya.


"Buktinya sekarang dia enggak berangkat kak, jadi serius lah" jawab Ria.


"Eh kak, kak Amar tau enggak alasan kenapa Marlina berhenti kuliah?" tanya Mona.


"Tunggu-tunggu, bukannya kemarin Marlina keluar dari ruang administrasi yaa, kalian juga lihat kan. terus besoknya Marlina dia langsung bilang berhenti kuliah. Menurut kalian ada hubungannya gak sih?" tanya Mona yang teringat saat Marlina keluar dari ruang administrasi.


"Yaa ampun Mon, mana ada hubungannya sih ruang administrasi sama Marlina berhenti kuliah, ada-ada aja kamu" jawab Ria, ketika kambuh keloadingannya.


"Oke gue tau sekarang, gue cabut dulu, thanks" kata Amar, lalu bergegas pergi dari hadapan Mona dan Ria.


"Eh kak mau kemana.... makin aneh aja itu kak Amar" seru Ria.


"Elo itu yang aneh, mendingan elo itu diem aja lebih berguna" kata Mona.


"Apaan sih elo Mon, emang kalo gue ngomong gak ada gunanya gitu maksud lo" gerutu Ria.


"Mau cari minum gue, haus" kata Mona, lalu bergegas pergi tanpa menghiraukan Ria yang tengah merajuk.


"Mona, tunggu, gue belum selesai ngomong.. nyebelin bangett sih kamu Mon!" seru Ria, kemudian mengejar sahabatnya tersebut.


Tanpa pikir panjang Amar langsung menuju ruang administrasi.

__ADS_1


Setelah mengetuk pintu dan dipersilahkan masuk, tanpa basa-basi Amar langsung menanyakan perihal Marlina berhenti kuliah.


"Maaf bu, kedatangan saya kesini ingin menanyakan perihal Marlina yang berhenti kuliah secara tiba-tiba apa ada hubungannya dengan masalah administrasi?" tanya Amar serius.


"Oh tentang Marlina, iya.. kemarin dengan sangat terpaksa kami harus mengeluarkannya dari kampus ini karena sudah 2 bukan Marlina belum melunasi pembayaran kuliahnya" jelas bu Sukma.


"Apa... jadi karena Marlina belum melunasi uang kuliahnya dia dikeluarkan dari kampus ini" kata Amar terkejut.


"Iya Amar, ibu disini hanya menjalankan tugas saja, dan itu semua sudah menjadi peraturan kampus ini, ibu tidak bisa berbuat apa-apa, maaf" jelas bu Sukma.


"Iya bu, saya mengerti. kalau begitu saya permisi, terimakasih untuk informasinya" kata Amar, lalu beranjak dari tempat duduknya dan keluar dari ruangan tersebut.


Raut wajah Amar terlihat kecewa, ternyata Marlina berhenti kuliah bukan karena keinginannya sendiri melainkan dikeluarkan dari kampus.


Amar tidak menyangka, kenapa Marlina bisa merahasiakan hal seperti ini darinya dan dari teman-temannya. Hati Amar langsung merasa tidak tenang. Tanpa pikir panjang Amar berniat akan ke rumah Marlina dan ingin mendengar penjelasan Marlina secara langsung.


Dari kejauhan Veronika memperhatikan Amar yang terlihat tergesa-gesa menuju mobilnya.


"Itu kenapa si Amar kayak buru_buru banget mau pergi, bukannya hari ini dia ada kelas" batin Veronika.


"Woii, ver, bengong aja, ngelihatin siapa sih" seru Sarah yang tiba-tiba datang.


"Eh lihat deh si Amar buru-buru banget mau pergi, Kira-kira ada apa ya Sar?" tanya Veronika penasaran.


"Yaa mana gue tau, tapi gue tadi sempet lihat Amar keluar dari ruang dari ruang administrasi" jawab Sarah.


"Haa, apa lo bilang, ruang administrasi.... ngapain dia dari ruang administrasi, gak mungkin kan kalo dia ada masalah soal biaya kuliah" kata Veronika yang semakin penasaran.


"Gak mungkinlah, Amar kn anak orang kaya raya, buat tujuh keturunan juga gak bakalan abis itu duitnya meskipun gak kerja. mungkin aja ada urusan lain" jelas Sarah.


"eh Ver makan yukk, laper nih" imbuh Sarah.


"Makan aja sendiri, gue harus cari tau tentang ini semua" seru Veronika, lalu pergi meninggalkan Sarah.


"Dasar bucin, bisa-bisa jadi gila gue ngikutin elo, mending gue makan sendiri" ujar Sarah sewot, kemudian pergi menuju kantin.


\*Sesampainya di rumah Marlina, Amar langsung dipersilahkan masuk oleh sang empunya rumah.


...................

__ADS_1


__ADS_2