
Wajah Ruby pucat. Keringat dingin mengucur dari dahi nya. Bahkan kerah kemejanya basah oleh keringat.
"Benar," jawab Penelope.
"APAAA?!" Ruby berteriak.
Penelope kembali tertawa cekikikan ditengah mood Ruby yang hancur berantakan. Ava menyadari apa yang terjadi pada Ruby. Ava seperti memiliki pemikiran yang sama dengan Ruby.
Mata Ruby mulai berkaca-kaca.
"Kenapa?" tanya Penelope.
Ruby diam. Lauren menoleh pada Ava. Ava memberi isyarat untuk diam.
"Kau menyukai Reno?" tanya Penelope.
"Hah? Reno? Tidak!" kata Ruby.
Seketika Ruby merasa lega. Ava tampak menahan tawanya.
"Sangat tidak jelas," kata Lauren.
Ava dan Ruby tertawa terbahak-bahak. Lauren dan Penelope tidak paham dengan situasi ini.
"Lalu bagaimana? Apa Reno merespon mu?" tanya Ruby.
"Kami hanya chat biasa" jawab Penelope sambil menunjukkan chat nya dengan Reno.
"Sepertinya akan ada banyak pasangan di kelas kita," kata Ava.
"Banyak? Siapa lagi?" tanya Penelope.
"Ah. Iya,aku baru ingat," Lauren melirik Ruby dengan tatapan tajam sambil tersenyum.
"Apa?" tanya Lauren.
"Ruby dan Thomas," mereka kemudian menatap Ruby.
"Jadi kau mengira aku menyukai Thomas tadi sehingga kau terlihat marah?"
Penelope dan yang lainnya kemudian mentertawakan kesalahpahaman yang baru saja terjadi.
"Doakan aku agar bisa bersama dia," kata Penelope.
"Kau benar-benar menyukainya ya?" tanya Ava.
"Dia berbeda. Dia sangat sesuai dengan kriteria pria idamanku," jawab Penelope.
"Memang seperti apa kriteriamu?" tanya Ruby.
"Ada deh," Penelope mengambil tas nya lalu pergi setelah berpamitan dengan ketiga temannya.
"Kenapa buru-buru?" tanya Ava.
"Aku dan Lauren harus pergi ke sekretariat," jawab Penelope.
Mereka kemudian pergi dan tersisa Ava dan Ruby berdua di kantin.
"Lalu kau bagaimana?" tanya Ava.
"Apanya?"
"Thomas," Ava sangat ingin tau dengan kehidupan Ruby.
"Kami masih dekat tapi dia belum menyatakan cintanya. Maksudku,dia belum meresmikan hubungan kami."
"Kenapa tidak kau saja yang meresmikannya?" Ava berusaha menggoda.
"Aku takut. Aku takut Thomas hanya menganggap ku pelampiasan setelah Evelyn memilih pria lain," jawab Ruby.
"Baiklah tunggu saja sampai dia meresmikan hubungan kalian," kata Ava yang tidak tau harus menjawab apa.
***
Sore itu hujan deras. Ruby hanya bermalas-malasan di kamarnya. Tiba-tiba ada notifikasi masuk,undangan masuk ke sebuah grup. Ternyata grup yang dibuat oleh Lauren.
"Welcome to the gang," kata Lauren.
"Apa ini?" tanya Ruby.
"Hanya grup untuk sharing," jawab Lauren.
Mereka sedang membicarakan Penelope dan setiap beberapa menit mengirim screenshoot foto chat pribadinya dengan Reno.
__ADS_1
"Sepertinya kalian sebentar lagi akan pacaran," kata Ava.
Thomas menelepon Ruby,tapi belum sempat Ruby mengangkatnya Thomas sudah mematikan teleponnya.
"Ada apa Thomas?" Ruby mengirim pesan pada Thomas ditengah keseruannya bercerita dengan teman-temannya.
Mereka chat seperti biasa,saling berkabar dan membahas hal-hal tidak penting. Isu Penelope menyukai Reno ternyata sudah terdengar sampai ke telinga Thomas.
"Ruby,hari Jumat apa kau ada waktu?" tanya Thomas.
"Sepertinya ada," balas Ruby.
"Aku ingin mengajakmu ke rumahku," kata Thomas.
Ruby sangat terkejut. Pikirannya menerka-nerka apa yang sebenarnya diinginkan Thomas darinya. Tiba-tiba kenangan Ruby akan kejadian dengan Sam terlintas di pikirannya.
"Aku malu," jawab Ruby.
"Kenapa?"
"Bertemu keluargamu," Ruby menjawab.
"Mereka tidak di rumah. Hanya ada kita berdua dan adikku," Thomas berusaha meyakinkan.
"Apa tidak masalah aku ke rumahmu? Sebaiknya kamu meminta izin pada orang tuamu," saran Ruby.
"Pasti. Pasti aku meminta izin pada mereka."
"Baiklah. Aku mau ke rumahmu," Ruby menyetujui ajakan Thomas untuk pergi ke rumahnya.
"Aku akan menjemputmu," Thomas dan Ruby kemudian membuat janji jam berapa mereka akan pergi.
***
Jam dinding sudah menunjukkan pukul 11 siang. Seperti biasa,Ruby berangkat ke kampus. Mulai hari ini ia berangkat ke kampus bersama Ava. Ava dan Ruby sudah sangat dekat,kemana-mana mereka pergi bersama-sama. Bahkan mereka dijuluki anak kembar di kelas karena sama-sama memiliki tubuh yang kurus dan selalu pergi bersama. Bahkan di kampus mereka tak terpisahkan,mereka selalu berada dalam satu kelompok yang sama ketika mendapatkan tugas berkelompok. Jika mereka terpisah,Ruby dan Ava akan menyusun strategi bagaimanapun caranya agar mereka bisa terus bersama.
Akhirnya mereka tiba di kampus. Ujian tengah semester terakhir dilaksanakan hari ini. Seluruh mahasiswa bersemangat karena sebentar lagi adalah hari "kebebasan" mereka.
"Ingat ya nanti berbagi jawaban," kata salah seorang anak yang duduk di bangku belakang.
"Thomas pelit," kata Reno.
Thomas hanya melirik dan diam. Ia tampak murung,begitu juga Ruby.
"Tidak ada," jawab Ruby.
"Sepertinya ada drama Korea," Ava meledek Ruby.
"Tidak Ava. Kami baik-baik saja," Ruby berusaha meyakinkan.
"Bukankah kita teman?"
Pertanyaan Ava membuat Ruby merasa tidak enak. Ia kemudian berencana menceritakan apa yang sebenarnya terjadi sore nanti karena mereka akan pergi bersama nanti.
Dosen pengawas masuk kelas,ujian tengah semester hari terakhir dimulai...
**
"Akhirnya kita bebas!" teriak Reno sambil mengambil tas nya.
"Ayo berfoto bersama," ajak Evelyn.
Sekelas langsung setuju. Kecuali Ruby yang memang tidak suka berfoto. Ruby menyuruh Ava untuk ikut tapi Ava lebih memilih untuk menemani Ruby.
"Baiklah jika kalian tidak ikut berfoto,setidaknya ikutlah ke tempat kami akan melakukan foto," ajak Evelyn.
Ava dan Ruby saling bertatapan. Ruby memberi kode untuk mengikuti teman-temannya.
Mereka berfoto di lantai satu. Ruby dan Ava menunggu mereka di pinggir kolam ikan. Ruby merasa mood nya mulai tidak bagus.
"Sepertinya aku ingin pulang saja," kata Ruby pada Ava.
"Kenapa?" tanya Ava.
"Hanya ingin," Ruby menjawab dengan singkat.
"Ah aku tau. Kamu teringat saat Thomas dan Evelyn.." belum selesai Ava mengatakan apa yang ia pikirkan,Ruby sudah memotong pembicaraannya.
"Sudahlah. Aku saja yang terlalu sensitif," potong Ruby.
"Tidak. Jika aku ada di posisimu juga aku pasti sedih. Thomas juga merasa bersalah kan?" ungkap Ava.
Ruby hanya terdiam menunggu teman-teman mereka.
__ADS_1
"Sekarang adalah kesempatan kita untuk mengawasi mereka dan memastikan keseriusan Thomas," Ava menyarankan Ruby tetap menunggu hingga mereka selesai berfoto.
"Baiklah," jawab Ruby.
Thomas yang sedang berfoto sesekali melirik kearah Ruby.
"Lihat Thomas. Dia melirik mu," Ava berusaha menggoda Ruby agar Ruby tersenyum.
Ruby memang memiliki raut wajah yang terkesan tidak ramah tapi sebenarnya ia sangat ramah,hanya saja ia memang jarang tersenyum.
"Tidak. Dia melihat kearah lain," jawab Ruby padahal ia jelas-jelas tau bahwa Thomas memang meliriknya.
Entah mengapa mereka malah jadi saling melirik,kemudian Ruby tersenyum.
"Mood mu sangat mudah berubah ya," kata Ava yang sedari tadi memperhatikan gelagat Ruby.
"Bagaimana aku tidak bahagia melihat orang yang aku suka tersenyum padaku," kata Ruby.
Mereka akhirnya menyelesaikan acara foto-foto nya kemudian mereka pulang.
Ruby dan Ava pergi bersama ke toko buku untuk membeli buku yang akan mereka jadikan referensi dalam membuat makalah. Banyak tugas yang diberikan oleh dosen dan harus dikumpulkan minggu depan setelah ujian tengah semester usai.
"Apa yang terjadi diantara kalian?" Ava mulai bertanya karena Ruby tidak kunjung menceritakan apa yang terjadi antara dirinya dengan Thomas.
"Kau ingat saat aku menceritakan padamu kemarin bahwa Thomas mengajakku ke rumahnya?"
"Tentu saja ingat. Baru kemarin kau bercerita," jawab Ava.
"Aku membatalkan rencana itu karena besok ada acara keluarga mendadak," Ruby mengatakan inti permasalahannya.
"Lalu?" Ava masih belum paham apa yang terjadi.
"Sepertinya Thomas marah. Atau kecewa? Atau ngambek? Aku tidak tau,yang jelas mood nya tidak baik gara-gara aku dan itu membuatku sedikit frustasi," cerita Ruby.
"Tapi tadi dia melirik mu sambil tersenyum," kata Ava.
"Aku belum menghubunginya sepulang kampus tadi. Kira-kira apa dia masih marah?" Ruby bertanya pada Ava.
"Menurutku tidak. Ambil ponselmu dan kabari dia," usul Ava.
Ruby kemudian mengambil ponselnya yang sedari siang belum ia sentuh sama sekali.
Sudah ada 10 notifikasi pesan dari Thomas.
Ruby sangat terkejut dan segera membuka pesan yang dikirimkan oleh Thomas. Ava yang memang selalu ingin tau urusan Ruby sedikit mengintip.
Ternyata Thomas khawatir karena Ruby tidak menjawab pesannya. Ditambah tadi siang Ruby tidak ikut berfoto,Thomas mengira bahwa Ruby marah.
Ruby kemudian menjelaskan bahwa ia memang tidak suka berfoto. Dan ia mengatakan bahwa ia sedang ke toko buku bersama Ava.
"Kenapa tidak bilang padaku?" tanya Thomas melalui voice note.
"Aku tidak sempat mengambil ponselku tadi. Aku mengira kau tidak akan menanyakan kabar," jawab Ruby.
"Lain kali katakan padaku jika kau mau pergi," kata Thomas.
Ava yang sedari tadi memperhatikan hanya tersenyum-senyum sendiri.
"Kalian belum pacaran tapi sudah seperti orang sedang berpacaran. Segera resmikan," kata Ava.
"Doakan yang terbaik untuk kami," jawab Ruby.
Mereka melanjutkan melihat-lihat buku. Setelah mendapatkan buku yang mereka cari,kemudian mereka pulang.
***
Malam tiba. Hujan deras disertai angin kencang terjadi malam itu. Ruby di rumah seorang diri karena ia memiliki keluarga yang sangat sibuk,jadi ia sudah biasa untuk tinggal sendiri di rumah.
"Ruby sebenarnya aku mengajakmu ke rumahku karena aku ingin menyatakan perasaanku secara langsung padamu," kata Thomas lewat telepon.
Ruby tertegun sekaligus bahagia. Ia sangat tidak sabar hubungan mereka diresmikan menjadi sepasang kekasih.
"Kenapa tidak sekarang?" tanya Ruby.
"Ya karena aku ingin mengatakannya di hadapanmu secara langsung."
"Tapi aku sudah bilang bahwa besok aku tidak bisa pergi," Ruby berusaha agar Thomas segera meresmikan hubungan mereka.
Mereka malah berdebat ditengah hujan dan malam yang semakin larut. Entah mengapa Ruby merasa tidak sabar segera meresmikan hubungan mereka. Sementara Thomas tetap pada pendiriannya untuk menyatakan cinta secara langsung di hadapan Ruby. Ruby senang dengan sikap Thomas yang berani menyatakan cinta dengan bertemu langsung tapi karena besok dia tidak bisa dan hari sabtu mereka belum tentu bisa pergi,Ruby merasa pernyataan cinta itu akan lama tertunda.
"Baiklah Thomas jika itu yang kau mau. Tunggulah sampai kita benar-benar ada waktu untuk bertemu tapi aku tidak bisa memastikan kapan waktunya," kata Ruby yang berusaha mengakhiri perdebatan.
Thomas menutup teleponnya. Kemudian sebuah notifikasi masuk dari Thomas.
__ADS_1
Jantung Ruby berdetak kencang,matanya berkaca-kaca. Bahkan air matanya menetes...