Journeys End

Journeys End
i'm a tree now


__ADS_3

"Kenapa dari tadi kau hanya diam? Coba baca artikel yang baru saja dipublikasikan oleh Anton," suruh Felix.


"Kali ini tentang apa?" Ruby terlihat tidak tertarik.


"Mulai membahas jalan rahasia tapi belum sampai membongkar jalan rahasia itu,hanya membahas sumur yang berisikan jalan pintas," jawab Felix.


Kepercayaan publik semakin besar untuk Ruby,banyak yang meyakini bahwa Ruby memang benar akan dijadikan korban ditambah rekaman suara yang juga sudah tersebar. Namun tetap saja,tidak semua orang percaya begitu saja dengan apa yang Ruby katakan.


"Komentarnya menarik," ujar Felix.


"Tolong bacakan untukku," sahut Ruby sambil berbaring.


"Bagaimana mungkin bukti sebanyak ini dan orang-orang masih percaya gadis malang itu berbohong?"


"Apa yang mereka pikirkan? Sekte itu harus dibubarkan!"


"Sebenarnya dulu aku tidak percaya dengan sekte seperti itu tapi setelah melihat artikel ini.."


Ruby bangun dan duduk dengan baik di samping Felix.


"Apa yang membuat mereka berkomentar seperti itu? Bukti apa?" Ruby penasaran dan memutuskan untuk melihat artikel yang Anton terbitkan. Tidak seperti biasanya,kali ini Anton tidak berkonsultasi dengan Ruby terlebih dahulu sebelum menerbitkan artikel.


Ruby mengambil alih ponsel Felix,ia membaca artikel itu dari awal.


Kening Ruby berkerut,menandakan ada sesuatu yang tidak ia pahami.


"Apa maksudnya? Ada orang dalam sekte yang memberikan informasi secara rahasia? Aku tidak percaya ini,siapa orang itu?" Ruby bertanya-tanya.


"Nanti juga kau akan tau sendiri," Felix menjawab dengan wajah datar.


"Jangan bilang kau sudah tau siapa yang dimaksud sebagai informan rahasia ini," Ruby merasa curiga. Ia memelototi Felix yang tengah duduk di sampingnya dan tidak menatap mata Ruby ketika berbicara.


"Sudah aku duga,kalian menyembunyikan sesuatu dariku," Ruby berusaha memojokkan Felix agar Felix memberitahu nya tentang siapa yang artikel itu maksud sebagai orang dalam yang memberikan informasi rahasia.


"Aku tidak tau sayang," Felix mengelak.


Ruby terus mencurigai Felix namun kini ia berhenti memojokkan Felix. Ruby memilih untuk mencari tau sendiri nanti.


"Oh iya,aku akan pergi hari ini," Ruby memberitahukan rencananya pada Felix.


"Kemana?" tanya Felix penasaran.


"Jalan-jalan saja," jawab Ruby tanpa memberitahukan lokasi yang akan ia kunjungi secara spesifik.


"Aku akan menemanimu pergi," Felix menawarkan diri untuk menemani Ruby jalan-jalan.


"Tidak. Aku harus pergi sendiri," Ruby menolak.


Felix merasa curiga karena biasanya jika Ruby pergi sendirian pasti ada sesuatu yang harus ia kerjakan. Dan hal itu biasanya Ruby rahasiakan dari siapapun kecuali orang yang terlibat dalam masalah yang Ruby tangani.


"Apa kepergian mu ini ada hubungannya dengan sekte itu?" Felix curiga.


"Aku hanya ingin refreshing,menghirup udara segar di pegunungan," Ruby yang mengenakan baju kaos dan celana legging panjang pergi meninggalkan Felix sendirian di kamar Ruby.

__ADS_1


Felix tidak bisa memaksa harus menemani Ruby karena sepertinya memang ada sesuatu yang penting sehingga Ruby merahasiakan tempat yang akan ia kunjungi.


Suara tawa anak-anak memenuhi ruangan. Felix lebih memilih fokus untuk menjaga Any dan Andrew sementara Kylie dan ibu Amy pergi entah kemana.


"Bukankah kemarin dia mengatakan bahwa ayahnya pulang? Sekarang mereka malah meninggalkan anak ini hidup bersama Ruby yang belum berpengalaman mengurus anak," celoteh Felix dengan pelan.


"Paman,ayo ke taman," ajak Andy.


"Panggil aku kakak bukan paman," Felix protes.


"Ayolah! Ke taman,ke taman," rengek Andy.


Felix memutuskan mengajak dua anak itu pergi ke taman menggunakan mobil Ruby,karena Ruby pergi mengendarai sepeda motor.


"Aku akan bersiap-siap," Andy berlari ke kamar dan mengambil banyak barang untuk dibawa ke taman.


"Astaga ini terlalu banyak,apa kita akan pindah rumah?" tanya Amy.


*


Ruby mengendarai sepeda motornya dengan santai. Ia menyusuri jalan yang sepi di pinggiran kota,pepohonan yang lebat dan semakin lebat ketika Ruby terus lurus berjalan membuat suasana hati Ruby lebih baik dari sebelumnya,karena ia memang sangat menyukai alam bebas.


Sebuah pemakaman di pinggir hutan menjadi lokasi yang Ruby tuju. Pemakaman yang sangat indah dihiasi patung-patung dewa Yunani membuat pemakaman itu sama sekali tidak menyeramkan bagu Ruby,ia justru berfoto di sana.


"Baiklah,aku akan melakukan apa yang bi Ellen suruh," Ruby mulai berjalan menyusuri makam itu satu per satu.


Sebuah makam di ujung pemakaman masih terlihat baru,Ruby berjalan menuju makam itu.


Ruby diam melamun,ia termenung menatap makam itu dengan mata berkaca-kaca. Sebuah buket bunga yang ia beli sebelum berangkat menuju pemakaman ia letakkan diatas makam Miranda. Ruby tidak mengeluarkan sepatah katapun. Ia hanya tertunduk dan diam ditemani suara burung yang terbang di atas pemakaman itu.


Tiba-tiba cuaca mendung. Kabut tebal yang entah darimana datang membuat Ruby kesulitan dalam mencari jalan.


"Aku akan pergi sekarang," Ruby berbicara dengan makam Miranda,kemudian ia bergegas keluar dari pemakaman menuju tempat ia memarkir motor.


Kabut semakin lama semakin tebal ditambah makam itu ada di area pegunungan. Cuaca yang tadinya panas kini berubah dingin,Ruby memacu motornya dengan kecepatan tinggi hingga akhirnya ia menemui jalan menurun yang tajam. Ruby mengerem motornya dengan mendadak karena tidak melihat bahwa di depannya ada jalan menurun,semuanya tertutup kabut.


Gedubrak..


Ruby terjatuh karena sebuah mobil di belakang Ruby menabraknya. Memang salah Ruby yang mengerem mendadak.


Ruby jatuh tersungkur ke aspal sementara si penabrak segera keluar dan membantu Ruby.


Tanpa berbicara sepatah kata pun,seseorang yang sepertinya adalah pria dewasa mengulurkan tangan dan membantu Ruby bangun.


"Terimakasih Pak. Maaf aku mengerem mendadak," Ruby meminta maaf.


Orang itu masuk kembali kedalam mobilnya tanpa menjawab ucapan terimakasih ataupun permintaan maaf dari Ruby.


Ruby yang sudah berhasil bangun kini kembali menaiki motornya dan bergegas pulang dengan hati-hati di tengah kabut yang sangat tebal.


"Sialan aku tidak bisa melihat jalan dengan baik," umpat Ruby.


Dengan sangat hati-hati,Ruby mengendarai motornya menyusuri jalan yang tadi ia lewati ketika pergi ke pemakaman. Ponsel Ruby terus berdering sejak Ruby terjatuh dari motonya tadi namun ia mengabaikan panggilan masuk itu. Namun,panggilan masuk ke ponsel Ruby tidak kunjung berhenti,Ruby memutuskan untuk menepi sejenak di pinggir jalan.

__ADS_1


"Halo," jawab Ruby.


"Kau dimana? Di rumah tiba-tiba saja ada kabut menyelimuti kota," Felix memberikan informasi pada Ruby terkait situasi di rumah Ruby.


"Anak-anak bagaimana?" tanya Ruby.


"Mereka aman,baru habis mandi dan sekarang sedang bermain," Felix menjawab pertanyaan Ruby. Ruby tidak mau membuat Felix cemas jadi ia tidak menceritakan bahwa dirinya terjebak dalam kabut tebal dan jatuh dari motor tadi.


"Aku akan segera pulang. Kau jangan keluar rumah ya," Ruby mematikan ponselnya.


Untung saja Felix mengajak anak-anak pulang setelah melihat kabut dari kejauhan sehingga sampai di rumah dengan selamat. Sementara itu,Ruby harus mencari jalan menuju rumahnya karena tadi ia melewati jalan bercabang. Ruby memberanikan diri menerobos kabut tebal. Tidak ada suara motor ataupun mobil lain di dekat Ruby yang membuatnya sedikit khawatir jika terjadi sesuatu tidak akan ada yang menolongnya.


Cuaca semakin dingin dan Ruby mulai tidak tahan lagi dengan dinginnya suhu hari itu. Terdengar suara keramaian namun Ruby tidak peduli. Ia semakin cepat memacu motornya. Semakin jauh Ruby pergi dari pemakaman,suara itu terdengar semakin jelas.


"Apa itu? Kenapa suaranya semakin mendekat?" Ruby kini mulai ketakutan.


Sumber suara yang ia kira ada di belakangnya ternyata ada di depannya,berlawanan arah dengan Ruby.


Kalimat yang Ruby tidak pahami ia dengar semakin jelas. Ruby menepi dan turun dari motornya. Gerombolan manusia berjubah terlihat berjalan. Sebuah gerobak didorong oleh dua orang berjalan paling depan. Mereka berseru-seru kalimat aneh yang belum pernah Ruby dengar. Kini Ruby bersembunyi di balik pohon,ia masuk semakin dalam ke hutan untuk menghindari gerombolan itu. Ruby menelepon Felix namun tidak berbicara,ia hanya berharap Felix mendengar suara-suara aneh itu dan mengetahui Ruby dalam bahaya.


"Lihat ada motor," seseorang menunjuk motor Ruby. Untung saja Ruby sudah melepas kamera yang ia pasang di motornya tadi.


"Bapa mengatakan gadis itu di pemakaman," sahut seseorang.


"Kenapa kau baru memberitahu?" bentak seorang wanita tua dengan suara lirihnya.


"Aku tadi menguping dan dia diperintahkan merahasiakan keberadaan gadis itu oleh bapa," dia menunjuk salah seorang temannya yang sedang mendorong gerobak.


"Apa yang sebenarnya ia rencanakan. Apakah ia memberontak karena wanita yang ia cintai sudah terbunuh bersama anak yang ia kandung?" tanya wanita itu. Tidak seorang pun dari kumpulan manusia berjubah yang menjawab.


Ruby terdiam dan menahan napas agar tidak ketahuan. Ia cukup terkejut mendengar wanita tua itu menyebutkan tentang wanita yang tewas bersama bayi yang dikandungnya,mirip seperti apa yang Ellen ceritakan.


"Yang paling penting,cari gadis itu dan jangan sampai bapa tau," perintah wanita tua itu namun tidak satupun dari gerombolan orang berjubah yang menuruti perkataanya.


"Dimana kamera ku yang satu lagi astaga hilang. Baru saja aku membelinya," Ruby mencari-cari di sekitar tempatnya berdiri sebuah kamera kecil yang ia pasang di belakang motor. Tadi sebelum berangkat,Ruby sudah memasang dua buah kamera kecil di depan dan di belakang motornya. Meskipun orang-orang menatapnya dengan aneh karena memasang kamera di belakang motor dengan cara yang tak biasa,Ruby tidak peduli. Dan sekarang kamera itu hilang.


"Apa tadi aku belum mengambil kamera itu dari motorku? Semoga masih di motor," Ruby berharap-harap cemas.


Ruby sesaat lupa bahwa ia sedang bersembunyi,namun setelah mendengar suara parau berteriak,kini Ruby kembali menahan napas dan menempelkan dirinya pada pohon selekat mungkin agar tidak ada yang mengetahui keberadaanya.


"Kenapa kalian tidak menjalankan perintahku? Kalian mau bernasib sama dengan orang dalam gerobak itu?" wanita tua tadi marah-marah namun tetap tidak ada yang menuruti perintahnya.


Wanita tua berjalan mendekati gerobak,kemudian ia membuang daun-daun yang menutupi gerobak itu namun yang terlihat setelah daun disingkirkan adalah batang pohon pisang.


"Dimana mayat itu?" wanita tua yang mengerikan kembali marah.


Semuanya hanya diam dan saling bertatapan satu sama lain.


"Mayat? Jadi yang seharusnya mereka bawa adalah mayat?" Kenapa bisa berubah menjadi batang pisang?" Ruby berbicara dengan pohon yang ada di hadapannya.


Aaaaa..


Semua orang yang ada disana berteriak kemudian bersujud secara bersamaan. Ruby terdiam,kakinya lemas. Kini ia menangis ketakutan sambil menyamar menjadi sebatang pohon.

__ADS_1


__ADS_2