
Ruby dan Felix bermain tanpa mengunci pintu. Hingga Thomas kembali mereka masih saja sibuk sendiri dan mengabaikan kehadiran Thomas. Ruby dan Felix sedikit mabuk,mereka berdua menghabiskan waktu bersama sambil meminum alkohol.
"Baik aku menyuruh kalian mengintai tapi kalian malah melakukan reproduksi," ujar Thomas yang kemudian mengunci pintu kamar.
Tanpa beban ia duduk di sofa melihat aksi sepasang kekasih di hadapannya.
"Apa sebaiknya aku bergabung?" Thomas menanggalkan pakaiannya satu per satu,kemudian menutup mata Ruby dan Thomas dengan kain penutup mata yang ada di lemari.
"Argh," Ruby merintih kesakitan karena Thomas tidak bisa menahan diri,mereka bertiha larut dalam permainan selama berjam-jam.
Thomas terus menyuguhi Felix dan Ruby dengan alkohol hingga akhirnya Felix tidak kuat lagi. Ia mengeluarkan semuanya dan tertidur di samping Ruby.
Kini Ruby kembali menjadi milik Thomas sepenuhnya. Dalam keadaan mabuk berat,ia bermain-main dengan Ruby sesuka hatinya. Tubuh Ruby lebam-lebam akibat ulah Thomas,karena ia bermain dengan sedikit kasar. Rintihan yang Ruby keluarkan merupakan kepuasan tersendiri bagi Thomas.
**
Ruby terbangun dari tidurnya. Entah dimana ia berada,Ruby sendiri pun tak tau. Felix tidak ada di sampingnya begitu juga Thomas. Dan yang lebih mengerikannya lagi,Ruby terbangun dalam keadaan hanya menggunakan pakaian dalam.
"Dimana aku? Kenapa tanganku terikat? Tolong!" Ruby berteriak.
Bayangan seseorang terlihat mendekat. Lampu minyak yang redup samar-samar memunculkan bayangan seorang pria.
"Thomas? Tolong aku," ujar Ruby.
"Aku akan menolongmu,tapi aku akan menikmatimu terlebih dulu," jawab pria itu. Ternyata yang muncul ialah Edsen.
"Apa maksudmu? Aku tidak mau melakukannya bersamamu," Ruby menolak.
__ADS_1
"Inilah yang aku tunggu. Jika kau menolak aku justru menjadi lebih bergairah," Edsen mulai melepaskan pakaiannya satu per satu.
"Tolong!" Ruby terus berteriak.
Sementara itu,Edsen melepas semua ikatan tangan dan kaki Ruby.
Ruby sejenak terdiam karena mengira Edsen akan membebaskannya,namun dugaan Ruby salah.
"Aku lebih suka melihatmu memberontak," bisik Edsen.
"Kau gila? Aku tidak mau," Ruby terus memberontak.
"Aku akan melepaskan pakaian dalam mu dan kau tidak akan bisa melawan," Edsen mulai sedikit kasar.
"Aku tidak mau melakukan hal seperti ini," Ruby memelas berusaha agar Edsen melepaskannya.
"Apa maksudmu? Aku sudah punya pacar," Ruby menjawab.
"Ta.. Tapi. Bagaimana kau bebas? Bukankah kau di penjara?"
"Ruby. Bodoh!"
Ruby membuka mata,Felix dan Thomas mengamati Ruby.
"Kau mimpi apa?" tanya Thomas.
Ruby melihat kebawah selimut,ia mengenakan pakaian lengkap.
__ADS_1
"Astaga aku bermimpi diperkosa," jawab Ruby.
"Wanita gila," sahut Thomas.
"Hanya aku yang bisa melakukan itu," Felix menyengir.
"Apa maksudmu? Aku juga bisa melakukannya," sahut Thomas.
"Apa yang kalian bicarakan. Seakan-akan kalian menganggap ku wanita murahan," Ruby marah.
"Bukan begitu sayang. Aku kekasihmu jadi kau pasti paham," Felix menenangkan.
"Bisa-bisanya kau tidur disaat aku menyuruh kalian mengawasi," kini Thomas mengomel.
"Aku sangat lelah," jawab Ruby.
"Lalu bagaimana sekarang?" Felix tidak tau harus melakukan apa.
"Aku sudah merekamnya. Besok kita akan pergi," jawab Thomas.
"Kemana lagi? Aku tidak mau dijebak lagi," Ruby protes.
"Pacarmu itu akan ikut mana bisa aku menjebak mu lagi," Thomas menjawab.
"Tenang saja dia tidak akan berbuat yang tidak-tidak sampai urusan dengan sekte itu selesai. Kami telah membuat kesepakatan," Felix berusaha menenangkan Ruby.
"Setelah selesai baru kami akan bersaing," timpal Thomas.
__ADS_1
"Terserah kalian saja," Ruby tidak ingin ikut campur urusan lelaki.