
Pagi yang cerah menghampiri mereka. Dedaunan yang semalam terkena hujan masih meneteskan sisa-sisa air hujan. Burung-burung bertengger di dahan pohon,beberapa saat kemudian terbang menjauh ketika Thomas membuka pintu gubuk tua itu.
"Ah,pagi yang cerah," kata Thomas.
"Aku akan memasak untukmu," kata Ruby.
Ruby mengambil tas kain hitam yang diberikan oleh entah siapa tersebut ke luar gubuk.
"Aku akan menemanimu," Thomas mengambil tas itu dari Ruby kemudian menggandeng tangan Ruby berjalan ke samping gubuk. Tampak sebuah gubuk kecil namun terbuka,disana terdapat tungku,kayu bakar,minyak tanah serta korek api. Ada juga wajan,panci,dan berbagai peralatan memasak lainnya.
"Seperti sudah disiapkan oleh seseorang," kata Ruby heran melihat pemandangan itu.
"Ya,siapa juga yang mau tinggal di tengah hutan seperti ini dan meninggalkan peralatan dapur yang terlihat agak mahal," jawab Thomas.
Mereka membongkar isi tas hitam itu,kemudian Thomas mengeluarkan telur,daun bawang,sayuran dan bumbu.
"Bahkan ada sayuran juga. Jika tidak segera dimasak aku takut semua ini akan membusuk karena tidak ada kulkas disini," kata Ruby sambil mulai mengambil mangkuk.
"Iya sayang. Kau masaklah apa saja sesukamu. Aku akan menghidupkan api," kata Thomas dan mulai mengambil kayu bakar.
"Sayang," Ruby mencium Thomas dengan manja.
Thomas hanya tertawa dan mencium kembali pipi Ruby.
Ruby memotong daun bawang,jamur,wortel dan mengocok telur yang sudah diberi irisan bawang bombay,bawang putih,cabai. Ia memasukkan garam dan lada serta sedikit kecap asin kedalam telurnya,kemudian memasukkan sayuran.
"Sayang,ada nasi instan," Thomas baru menyadari ada bingkisan lain di dapur.
"Dan ponsel kita," Ruby berjingkrak kegirangan.
"Selesaikan dulu semua ini baru ambil ponselmu," Thomas menaruh kembali ponsel mereka di dekat tumpukan kayu bakar.
"Kalau begitu kita buat nasi goreng saja," kata Ruby.
Thomas setuju kemudian memanaskan nasi instan mereka.
Sambil menunggu nasi masak,Ruby berjalan di sekitar gubuk.
"Tetap di dekatku," seru Thomas.
Thomas terlihat lebih protektif akhir-akhir ini. Tentu saja hal itu karena ia sangat mencintai kekasihnya,Ruby.
"Aku hanya berjalan di sekitar sini,sayang," kata Ruby.
"Tidak. Kau tidak bisa pergi tanpa aku," Thomas bangun dari tempat duduknya dan menghampiri Ruby yang keras kepala.
Ruby menurut pada perkataan Thomas dan berjongkok di depan tungku untuk menghangatkan tubuhnya.
"Makan siang kau mau aku buatkan apa?" tanya Ruby pada kekasihnya.
"Apapun yang kau masak selalu enak,jadi terserah kau saja," jawab Thomas.
Ruby kembali melihat isi tas kain dan memutuskan memasak tumis sayuran dan nugget.
"Kenapa banyak sekali makanan ini. Dan semuanya makanan enak,mahal tentunya," kata Ruby.
"Mungkin ada maksud terselubung dari semua ini. Tapi aku tetap tidak paham bahaya apa yang mengintai kita sehingga kita ditempatkan di pedalaman seperti ini," Thomas masih bertanya-tanya.
"Apa habis ini kita kabur saja?" kata Ruby.
"Entah kenapa aku merasa ragu untuk meninggalkan tempat ini. Bagaimana jika memang benar ada bahaya yang mengintai kita?" Thomas ragu dengan saran Ruby.
"Tapi bagaimana justru orang yang terlihat baik pada kita ini memiliki niat jahat? Kita bahkan tidak tau siapa yang menculik kita," kata Ruby.
"Nasinya matang,lanjutkan nanti saja pembicaraan ini," Thomas mengangkat panci dari tungku dan mengeluarkan nasi instan mereka.
"Made in Korea," Ruby membaca kemasan nasi instan tersebut.
__ADS_1
Ruby memanaskan minyak di wajan lalu memasukkan bumbu yang sudah ia potong-potong. Selanjutnya Ruby memasukkan 2 butir telur,sayuran,dan terakhir nasi beserta bumbu-bumbu.
"Istriku memang pandai," kata Thomas sambil memperhatikan Ruby yang sedang memasak.
"Istri?" Ruby tertawa terbahak-bahak.
"Oh. Kau tidak mau menjadi istriku? Baiklah," Thomas tampak sedikit kesal.
"Sayang,bukan begitu. Tentu saja aku mau. Aku hanya sedikit terkejut dengan sikapmu akhir-akhir ini. Biasanya kau cuek tapi akhir-akhir ini sedikit romantis," kata Ruby sambil terus mengaduk nasinya.
"Tidak semuanya harus diumbar di depan publik,kan?" Thomas memang tidak terlalu suka memperlihatkan hubungan mereka di depan publik. Bahkan setelah berpacaran dengan Ruby,Thomas tampak cuek saja dengan Ruby di kampus seakan-akan mereka tidak memiliki hubungan apapun. Teman-teman mereka sampai meragukan bahwa mereka memiliki hubungan spesial karena sikap Thomas yang dingin.
"Iya," jawab Ruby.
"Haha ada apa sayang?" Thomas memeluk Ruby kemudian menciumi pipinya.
"Awas wajan ini panas," Ruby melepaskan pelukan Thomas kemudian mengambil dua buah piring dan sendok yang sedari awal memang sudah ada di gubuk itu.
"Ada apa?" Thomas memegang tangan Ruby yang akan menyajikan nasi gorengnya.
"Apa? Aku mau menggoreng telur," Ruby melepaskan tangan Thomas.
Setelah nasi goreng disajikan,Ruby menggoreng telur yang sudah ia campur dengan sayuran tadi.
Thomas diam dan memperhatikan Ruby menyelesaikan pekerjaannya.
"Selesai,makanlah," Ruby menyodorkan piring berisi nasi goreng dan telur kepada Thomas.
"Ada apa sayang,katakan padaku," kata Thomas.
"Selesaikan dulu sarapan mu. Aku akan mencuci semua ini di sungai," Ruby bangun dan membereskan alat-alat yang ia gunakan untuk memasak tadi.
"Aku akan membantu," Thomas ikut membereskan semua peralatan memasak itu.
"Makan sayang," Ruby bangun dan berbicara tanpa menatap Thomas.
Pagi itu arus sungai cukup deras. Mungkin karena tadi malam hujan yang membuat aliran sungai menjadi deras. Airnya dingin tapi jernih. Tampaknya sungai itu tidak terlalu sering dikunjungi manusia. Ikan-ikan bebas berenang di sungai,menandakan sungai itu masih asri dan bersih.
Ruby mulai mencuci peralatan memasaknya dengan menggunakan sabut kelapa dan tanpa menggunakan sabun.
Thomas memeluk Ruby dari belakang,menempelkan kepalanya di punggung Ruby.
"Sebenarnya aku tau kau tidak suka caraku memperlakukanmu," kata Thomas.
"Apa maksudmu?" Ruby pura-pura tidak mengerti.
"Sayang,hari ini aku tidak mau ada rahasia apapun diantara kita," kata Thomas.
"Aku tidak pernah merahasiakan apapun darimu," jawab Ruby.
"Tapi.." perkataan Thomas terpotong setelah Ruby menyelesaikan pekerjaannya mencuci peralatan memasak. Ruby bangun dan kembali ke gubuk untuk menaruh peralatan memasak itu.
Thomas membuntuti Ruby kemanapun ia pergi. Ruby mengambil ponselnya dan kembali ke gubuk tempat mereka tidur.
"Sayang," Thomas memanggil Ruby setelah ia mengambil ponselnya.
Ruby yang sedang berbaring menjawab Thomas.
"Iya sayang. Kemarilah," jawab Ruby.
Thomas ikut berbaring di sebelah Ruby.
"Aku akan berbicara lebih dulu," kata Thomas.
"Silahkan," Ruby menjawab dan menaruh ponselnya.
Mereka saling menatap satu sama lain. Mata Ruby yang berbinar dan tajam membuat Thomas betah berlama-lama menatap mata kekasihnya itu.
__ADS_1
"Tadi malam ketika kamu tidur,aku pergi ke gubuk di luar untuk mengecek ponselmu," kata Thomas.
"Mengecek ponselku? Apa maksudmu?" Ruby tidak paham dengan maksud Thomas mengecek ponselnya.
"Ya,mungkin kau tau akhir-akhir ini aku lebih protektif. Itu semua karena aku merasa ada yang salah dengan diriku," kata Thomas menyambung perkataannya.
"Aku tidak merasa ada yang salah," sahut Ruby.
"Aku tau kau wanita yang ingin diberi kasih sayang lebih. Di kampus kau berusaha menunjukkan itu tapi sikapku terlalu dingin. Sebenarnya aku bukan tipe pria yang suka mengumbar hubungan," jelas Thomas.
"Sebenarnya,Thomas,aku juga tidak suka terlalu mengumbar hubungan. Tapi sikapmu padaku ketika kita berada di tempat umum membuatku sedikit kesal karena kau seolah-olah tidak mengenalku. Bukankah sikapmu itu keterlaluan?" Ruby menanyakan pendapat Thomas.
"Aku memang tipe pria seperti ini," jawab Thomas singkat.
Mereka sedikit berdebat pagi itu. Thomas keras kepala dengan pernyataannya bahwa ia tipe pria yang dingin,namun Ruby tetap berusaha menjelaskan apa yang ia inginkan dan tentunya itu semua untuk kebaikan hubungan mereka.
"Aku paham kau tidak suka mengumbar hubungan. Aku tidak masalah akan hal itu. Tapi kau hanya diam padaku saat kita berada di kelas. Kau bersikap cuek dan tidak peduli padaku ketika sedang bersama dengan teman-teman. Menurutku itu sudah keterlaluan," Ruby berusaha menjelaskan isi hatinya.
"Lalu kau maunya bagaimana?" Thomas tampak mulai emosi.
"Aku hanya ingin,kau berbicaralah padaku saat sedang berada di kampus. Kenapa kita harus bicara diam-diam? Bukankah kita sudah menjadi kekasih sekarang?" Ruby berbicara dengan pelan.
"Aku berkali-kali sudah menjelaskan bahwa aku tidak suka mengumbar hubungan!" bentak Thomas.
"Kenapa kau marah? Kenapa kau membentak ku? Bukankah kau yang mengajakku untuk tidak merahasiakan apapun? Aku hanya mengungkapkan isi hatiku,apa itu salah? Aku hanya tidak ingin menyembunyikan apapun darimu. Aku hanya ingin terbuka padamu,masalah apapun kita bicarakan baik-baik. Lagipula aku tidak memintamu mengumbar hubungan,aku hanya memintamu berbicaralah padaku ketika berada di depan teman-teman. Jangan hanya diam seolah-olah kau tidak mengenalku. Kau malu berpacaran denganku? Sudahi saja sampai disini!" sambil menangis Ruby pergi meninggalkan Thomas dengan membawa ponselnya.
Thomas diam terpaku mendengar perkataan Ruby. Ia menyesal membentak kekasihnya itu padahal Ruby tidak melakukan kesalahan. Ini murni karena Thomas yang tidak mampu mengendalikan egonya. Dia juga menyadari bahwa sikapnya selama ini telah menyakiti perasaan Ruby,namun Ruby berusaha bersikap tenang. Bukan hanya Ruby,teman-teman di kelasnya juga sempat menanyakan perihal hubungan mereka pada Thomas,apakah mereka benar-benar berpacaran atau tidak.
"Kenapa aku seperti ini? Kenapa aku bersikap yang membuat Ruby sedih?" Thomas kesal pada dirinya sendiri.
Ia merenung dan menyadari kesalahannya selama ini,dan dari semua kesalahan yang ia perbuat,Ruby hanya diam dan membuat keadaan seakan-akan tidak pernah terjadi masalah.
Thomas baru menyadari kenapa teman-teman mereka sampai menanyakan perihal hubungan mereka. Mungkin karena sikap Thomas yang tidak pernah memperdulikan Ruby ketika berada di depan orang banyak dan satu hal lagi yang baru Thomas ketahui ketika membaca ponsel Ruby tadi malam. Thomas terlalu menganggap entang ketika Ruby marah. Ia berkata pada teman-temannya ketika mereka memberi Thomas saran untuk memperlakukan Ruby lebih baik. Namun Thomas berkata bahwa tidak perlu khawatir,cukup mengajak Ruby jalan-jalan saja dia tidak akan marah lagi.
Ternyata ada salah satu teman Ruby yang mendengar pembicaraan Thomas dan teman-temannya,kemudian Ruby curhat dengan temannya itu.
Thomas merasa sangat bersalah,kemudian ia mengejar Ruby.
Ruby tampak duduk di pinggir sungai,menangis sambil menciprat-cipratkan air ke arah batu.
"Sayang," Thomas mendekati Ruby.
"Tinggalkan aku sendiri," jawab Ruby.
"Ayo kita bicarakan baik-baik," Thomas berusaha membujuk Ruby agar mau berbicara dengannya.
"Bukankah kau yang tidak bisa diajak bicara baik-baik?" Ruby berbicara sambil tersenyum ketus.
Ruby tidak pernah semarah ini sebelumnya. Kemarahan Ruby membuat Thomas panik.
Ia berusaha keras meminta maaf namun Ruby tetap ingin ditinggalkan sendiri disana. Thomas mengalah,karena ia menyadari sikap keras kepalanya selama ini sudah membuat Ruby tidak nyaman. Ia meninggalkan Ruby dan duduk di gubuk terbuka tempat mereka memasak tadi.
Berjam-jam Ruby duduk di pinggir sungai. Cuaca mendung yang menandakan akan hujan lagi. Ruby berjalan menuju tempat ia memasak tadi dan segera memasak makan siang.
Thomas berusaha membantu Ruby namun Ruby menyuruh Thomas menjauh darinya.
"Jangan dekati aku dulu. Aku ingin sendiri,biarkan aku menenangkan diriku," kata Ruby.
Dengan perasaan yang sangat sedih Thomas masuk ke gubuk. Aroma masakan Ruby tercium hingga kedalam gubuk. Sampai akhirnya Thomas tertidur.
Angin bertiup kencang ditengah langit yang gelap karena mendung. Di samping meja tempat Thomas tidur terlihat piring berisi nasi dan sayuran yang sudah Ruby masak,namun Ruby tidak terlihat. Thomas bergegas menghabiskan makanannya kemudian kembali ke tempat Ruby memasak tadi. Disana Ruby tidak ada,begitupun di tepi sungai. Ruby tidak terlihat dimanapun. Thomas mulai kalut melihat kekasihnya menghilang. Ia berteriak memanggil Ruby namun Ruby tidak ada. Ponselnya sudah menunjukkan pukul 4 sore,sebentar lagi malam dan Ruby masih belum terlihat.
Ting...
Suara notifikasi di ponsel Thomas. Ia segera mengecek ponselnya,ternyata pesan itu dari Ruby.
"Just leave me alone,Thomas. Nanti aku akan kembali," isi pesan itu.
__ADS_1