
"Apa? Sayang," Felix menggetok kepala Ruby dengan ponselnya.
"Angkat dulu teleponnya," ujar Ruby.
"Tidak usah," Felix menolak.
"Tapi itu sangat mengganggu," Ruby berusaha membujuk Felix yang ponselnya terus berdering.
"Baik,tapi kau jangan ke kamarmu dulu," Felix mengangkat teleponnya di samping Ruby sambil merebahkan diri di pangkuan Ruby.
"Ruby ada disini," ujar Felix pada seseorang yang ia telepon.
Felix menoleh pada Ruby,memberi kode bahwa yang meneleponnya adalah Key. Ruby memberi isyarat agar Felix melanjutkan pembicaraan mereka.
Felix menolak dengan menggelengkan kepalanya dan menatap kearah Ruby.
"Sudah ya,aku tidur dulu," Felix mematikan sambungan teleponnya.
Felix memeluk Ruby yang sedari tadi menahan tawa mendengar percakapan kakak beradik itu.
"Ayo lanjut," ajak Felix.
"Lanjut apa?" Ruby memukul lengan Felix entah untuk yang ke berapa kalinya untuk hari itu.
"Yang tadi," Felix memeluk Ruby dengan gemas.
"Jangan!" teriak Ruby sambil tertawa. Ia memukul-mukul Felix dengan bantal sambil tertawa dengan suara tawa yang keras dan lantang.
"Sudah,aku lelah. Ayo," bujuk Felix.
"Katanya lelah,ayo tidur," Ruby kembali tertawa.
"Cukup sulit membujukmu ya," Felix merasa tertantang.
"Felix.." Ruby mematikan saklar lampunya.
Tok.. Tok..
Terdengar suara ketukan pintu. Seseorang datang ke rumah Ruby malam itu.
"YA TUHAN!" Felix kesal karena gangguan kedua yang menggagalkan aksinya itu.
"Hidupkan lampunya," Ruby meminta Felix untuk menghidupkan lampu karena saat ini posisi Felix lebih dekat dengan saklar.
"Biar aku saja yang turun," kata Felix.
"Jangan. Aku lihat dari jendela dulu siapa yang datang," Ruby mengintip dari jendela tempat ia berada saat ini.
"Mana orangnya? Sudah tidak ada," ujar Ruby setelah mengintip dari jendela.
Letak jendela kamar itu memang mengarah langsung ke pintu depan,jadi jika ada orang yang berkunjung akan terlihat dari jendela.
"Lebih baik aku cek," Felix turun dari tempat tidurnya kemudian mengecek apakah ada orang diluar.
Ruby menyusul Felix karena takut Felix menghilang lagi.
Felix perlahan membuka pintu dan memang benar,tidak ada orang disana.
"Hii hantu," Felix menakut-nakuti Ruby.
Ruby berlari menuju kamarnya yang terletak di lantai dasar.
"Hey kau berjanji menemaniku malam ini," Felix mengejar Ruby.
__ADS_1
"Di kamarku saja," jawabnya.
Felix mengikuti Ruby menuju kamarnya.
"Lampu tidurmu terlalu terang. Redupkan sedikit," pinta Felix.
Ruby meredupkan lampu tidurnya. Berbeda dengan lampu yang ada di kamar tempat Felix biasa tidur,lampu di kamar Ruby bisa diatur seberapa terang cahaya yang diinginkan.
"Sekarang apa?" tanya Ruby.
"Ya,sesuai rencana," jawab Felix sambil menahan tawanya.
"Memangnya malam ini kita ada rencana?"
"Ruby ayo,aku akanĀ memakanmu," Felix menggigit tangan Ruby. Mereka bercanda untuk beberapa saat hingga akhirnya saling terdiam.
"Chagiya," bisik Ruby di telinga Felix.
"Hm?" jawab Felix walaupun ia tidak mengerti apa yang Ruby katakan.
Kamar itu kembali hening. Hanya ada suara bisikan mereka berdua yang terdengar sangat pelan,bercanda satu sama lain untuk beberapa saat. Beberapa menit kemudian suasana kembali hening.
Tok.. Tok..
Suara ketukan pintu kembali terdengar. Felix dan Ruby yang mendengr suara ketukan itu tidak memperdulikannya. Mereka masih asik satu sama lain dengan Ruby yang duduk di pangkuan Felix.
"Aku mencintaimu," bisik Felix.
Ruby tidak peduli dengan apa yang Felix katakan. Ia hanya diam dan menutup matanya. Keringat membasahi tubuh Ruby.
"Kau takut? Atau sakit?" bisik Felix pelan.
"Hm," Ruby tidak memberikan jawaban pasti.
Tok.. Tok..
Felix juga tampak jengkel dengan banyaknya gangguan-gangguan yang muncul dari tadi. Ia memutuskan untuk menemani Ruby.
"Selamat malam," sapa orang itu ketika Ruby membuka pintu.
"Oh,hai. Selamat malam. Ada keperluan apa ya?" tanya Ruby.
"Sebelumnya maaf mengganggu waktu istirahatmu. Bolehkah aku bertanya rumah Ellen?" tanya wanita itu. Ia tidak memperkenalkan diri lebih dulu dan langsung bertanya pada Ruby.
"Rumah bibi Ellen tepat di depan rumahku ini. Kalau boleh tau,bibi ini siapa ya?" tanya Ruby.
"Aku sahabatnya yang datang dari jauh. Ellen ulang tahun hari ini jadi aku sengaja memberi kejutan. Kami sudah cukup lama tidak bertemu,dan.. Ya,terimakasih," wanita itu pergi dari rumah Ruby.
"Siapa?" Felix mendekati Ruby.
"Wanita itu menanyakan rumah bibi Ellen," jawab Ruby.
"Kau hai-hati ya," ujar Felix.
"Ada apa?" Ruby penasaran.
"Saat aku pergi tadi,aku sudah melihatnya di sekitar sini. Dan saat dia melihatku di belakangmu dia langsung pergi," terang Felix.
"Baik. Aku akan berhati-hati," jawab Ruby dan tidak menganggap perkataan Felix adalah sesuatu yang serius.
"Sekarang ayo lanjutkan yang tadi," Felix menggendong Ruby sambil tertawa.
Mereka diam sejenak di kamar sambil sibuk dengan pikirannya masing-masing. Namun keheningan terhenti ketika Felix mengeluhkan punggungnya yang terasa basah.
__ADS_1
"Astaga Ruby,punggungku basah gara-gara dirimu," Felix meraba punggungnya yang terasa sedikit basah.
"Itu keringatmu," bantah Ruby.
"Bohong. Kau mengompol ya?" Felix menggoda Ruby sambil terus tertawa.
Ruby memukul Felix dengan bantal.
Jam tangan Felix sudah menunjukan pukul 2 pagi. Mereka masih berbincang mengenai wanita itu.
"Ayo,sebelum terang," ajak Felix.
"Ah,aku mengantuk," ujar Ruby. Sebenarnya ia belum mengantuk tapi hanya ingin melihat reaksi Felix ketika ia menolaknya.
"Ya sudah kau tidur saja. Aku sendiri yang melakukannya denganmu saat kau tidur," ancam Felix namun itu hanya candaan semata.
Ruby menerima ajakan Felix dan mereka mulai melakukan apa yang mereka inginkan.
Kring..
Ponsel Felix kembali berdering. Kali ini telepon dari ayahnya.
Felix mendengus kesal padahal sebentar lagi apa yang ia inginkan dapat ia lakukan.
"Ada apa,yah?" tanya Felix pada ayahnya.
"Kapan kau pulang?" terdengar suara ayah Felix karena Felix mengaktifkan speaker.
"Minggu depan," jawabnya.
"Sekarang sedang berada dimana?"
Felix yang kesal karena ayahnya mengganggu waktu istirahatnya menjawab dengan sedikit ketus.
"Aku sedang menemani kekasihku," jawab Felix.
Terdengar suara tawa gaduh dari ponsel Felix. Rupanya ada ibu Felix juga yang mendengarkan.
"Memangnya kau punya kekasih?" orang tua Felix seakan-akan mengejeknya.
Mereka berbincang cukup lama di telepon hingga Ruby tertidur.
"Sayang,sudah," bisik Felix setelah ia mematikan ponselnya agar tidak ada lagi gangguan.
Namun Felix hanya mendapati Ruby yang sudah tertidur pulas.
"Astaga,mungkin belum waktunya kita melakukan ini," ujar Ruby.
Felix kemudian tidur di samping Ruby karena sudah diserang rasa kantuk yang teramat sangat.
***
"Bangun!" Ruby mencubit pipi Felix dengan gemas.
"Aw! Jam berapa ini? Aku masih mengantuk," Felix kembali menarik selimutnya.
"Sudah jam 10 pagi," Ruby menaruh sarapan di meja sebelah tempat tidur.
"Tadi pagi belum selesai," rengek Felix.
"Kapan-kapan kita lakukan," jawab Ruby sambil mengedipkan matanya.
Felix yang bangun dengan kurang bersemangat mendengar jawaban Ruby membuatnya makin kehilangan semangat.
__ADS_1
Ia lebih memilih tidur lagi dan melupakan keinginannya.