Journeys End

Journeys End
Gimme a second


__ADS_3

Lilin telah dinyalakan oleh Thomas. Beberapa lilin dipasang di setiap sudut kamar,sementara di ruang tamu Thomas biarkan gelap begitu saja.


"Hari yang melelahkan bagimu,kan? Tidurlah Ruby!" seru Thomas pada Ruby.


"Kau juga tidurlah," jawab Ruby.


Felix tidak mengatakan satu patah kata pun sejak mereka kembali ke rumah. Ia merasa sangat bersalah pada kekasihnya ditambah rasa malu di hadapan Thomas karena kini Felix merasa lebih buruk dari Thomas. Berkali-kali ia menyakiti Ruby dan sepertinya Thomas tidak sebanyak itu melukai Ruby ketika mereka masih menjalin hubungan.


Ruby membaringkan tubuhnya dan menghindari Felix. Ia menjauh dari Felix yang tadi membaringkan tubuh di sampingnya. Melihat hal itu,Thomas tidak tinggal diam. Bisa dikatakan dia memanfaatkan situasi yang ada untuk bisa kembali dekat dengan Ruby.


"Daripada kalian berdua tidak tidur lebih baik aku saja yang tidur di tengah-tengah," Thomas menyelip diantara Ruby dan Felix. Ruby tidak memberikan respon,begitu juga Felix. Mereka seakan-akan tidak peduli dengan keberadaan Thomas di tengah-tengah mereka.


"Kalau begini kalian bisa sama-sama tidur," Thomas masih terus berbicara.


"Apa yang kau temukan setelah aku tinggal pergi tadi?" Ruby bertanya pada Thomas.


"Kami memeriksa ruang dokumen tapi tidak menemukan sesuatu yang mencurigakan. Sepertinya Jennifer baru saja beres-beres di ruangan itu," Thomas menjawab.


"Apa hanya ruang itu yang kau periksa?" Ruby kembali bertanya.


"Kami memeriksa seluruh ruangan. Bahkan hinGga kebun di belakang panti asuhan. Ada kebun jeruk," Thomas memberitahukan penemuannya.


"Aku bahkan tidak tau ada kebun jeruk disana. Tidurlah," Ruby yang sejak tadi berbicara sambil memunggungi Thomas kini memilih untuk tidur.


***


"Lihatlah apa yang aku baca," Thomas menyerahkan ponselnya pada Ruby yang masih berbaring di tempa tidur.


"Aku ingin tidur sebentar lagi saja," Ruby mengabaikan Thomas.


"Ini sangat penting. Kau harus memeriksanya," Thomas memaksa.


Dengan rasa kantuk yang masih Ruby rasakan,dengan berat hati ia membaca apa yang ada di ponsel Thomas.


"Wah? Aku tidak percaya ini. Tempat perkumpulan sekte itu kini tidak terlihat semengerikan dulu karena ramai orang yang berkunjung kesana," komentar Ruby.

__ADS_1


Sebuah artikel memperlihatkan kondisi tempat perkumpulan sekte yang ramai didatangi pengunjung,terutama konten kreator. Namun tidak satu pun anggota sekte terlihat disana,hanya orang-orang biasa yang berkunjung.


"Aku tidak tau apakah ini kabar baik atau kabar buruk," Ruby merasa sedikit bingung.


"Apa maksudmu?" Thomas tidak paham.


"Jika seramai itu mereka datang dan tidak menemukan apapun bisa jadi mereka tidak percaya dengan apa yang kita katakan bahwa sekte itu berbahaya. Buktinya tidak terjadi sesuatu dengan orang-orang yang pergi kesana. Aku takut mereka menganggap apa yang kita katakan adalah omong kosong," Ruby mengatakan kekhawatirannya.


"Mungkin ada sebagian yang akan berpikir seperti itu tapi aku yakin tidak semua. Secara logika,mana mungkin sekte berani muncul atau melakukan sesuatu yang beresiko di hadapan publik. Apalagi sekte itu sedang mendapatkan banyak sorotan akhir-akhir ini," Thomas berusaha meredam kekhawatiran Ruby.


"Aku ingin melihat opini publik tentang hal ini," kata Ruby.


"Tunggu,aku akan membuka kolom komentarnya," Thomas menjawab sembari menscrolling ponselnya.


"Ah ini dia," Thomas kemudian memberikan ponselnya lagi pada Ruby.


Memang benar apa yang Ruby khawatirkan terjadi,namun tidak separah seperti yang Ruby bayangkan. Hanya sedikit yang meragukan cerita Ruby dan kawan-kawan. Sisanya mempercayai bahwa sekte itu memang berbahaya dan mungkin saja sedang melakukan sesuatu karena nama mereka tengah disorot oleh publik.


"Aku masih tetap yakin dengan keberadaan sekte itu. Mereka tidak akan tinggal diam!" komentar seorang pembaca artikel.


"Tenang saja. Teman-teman kita sudah mengurusnya jadi kita hanya perlu fokus menyelesaikan misi kita di tempat ini. Terutama membawa Zoe pergi," Thomas memotong perkataan Ruby.


"Kita perlu mengurus dokumen adopsinya. Tapi Jennifer belum menghubungiku kapan aku bisa bertemu dengan pemilik panti asuhan," Ruby mengecek ponselnya menunggu pemberitahuan lebih lanjut dari Jennifer.


"Bukankah hari ini kita akan pergi ke panti asuhan? Untuk apa menunggu teleponnya?" Thomas menjawab.


"Kau dan Felix saja yang pergi. Aku ingin istirahat hari ini," Ruby menolak untuk pergi ke panti asuhan.


"Tapi,apa karena masalah kemarin? Aku tau kau sangat marah padanya hanya saja kau menahan diri agar Jennifer mau diajak bekerja sama dalam masalah ini kan? Kau tidak bisa menipuku," ledek Thomas.


"Aku juga tidak tertarik untuk menipumu. Sana bersiap-siap lah. Aku akan menunggumu di rumah," Ruby kembali merebahkan diri di kasur.


"Apa aku tidak salah dengar? Menunggumu? Kau hanya menungguku saja? Bagaimana dengan Felix hahaha."


"Maksudku,menunggu kalian. Aku salah bicara jadi kau jangan terlalu senang," kini Ruby menutupi wajahnya dengan selimut.

__ADS_1


"Baiklah aku akan mandi. Entah dimana kekasihmu itu," Thomas mengambil handuk kemudian berjalan menuju kamar mandi.


"Tunggu. Biarkan aku mandi lebih dulu. Aku sakit perut," Felix menyerobot dan masuk lebih dulu ke kamar mandi.


"Ya sudah. Cepat!" seru Thomas.


Ruby tidak peduli dengan apa yang dua pria itu lakukan. Ia terus-menerus mencari cara untuk membuktikan bahwa sekte itu melakukan perdagangan anak.


"Aku yakin sekte ini bukan hanya memiliki misi pemujaan setan tapi ada uang dan kekuasaan dibalik itu semua. Ya,perdagangan anak salah satunya. Aku sangat yakin anggota sekte mengambil anak dari panti asuhan itu. Apa mungkin Jennifer tidak mengetahui sesuatu? Sangat mustahil,bahkan anak sekecil Zoe saja tau ada yang aneh disana," Ruby terus berbicara dengan dirinya sendiri.


Masih terus berpikir keras,Ruby kembali terserang rasa kantuk. Ia masih sedikit lelah karena perjalanan kemarin.


Sesuatu yang hangat Ruby rasakan di leher bagian belakangnya. Nafas berat itu sangat tidak asing.


"Apa.."


"Diam," Thomas menutup mulut Ruby dengan telapak tangannya.


"Sudah lama aku tidak sedekat ini denganmu," Thomas menambahkan.


"Dasar pria gila," Ruby menghempaskan tangan Thomas dari bibirnya namun Thomas masih di posisi yang sama. Bibirnya menyentuh leher belakang Ruby.


Tangan kanannya memeluk erat pinggang Ruby,sementara tangan kirinya menggenggam tangan kiri Ruby.


"Thomas,kau gila?" Ruby tidak berkelit ketika Thomas memeluknya. Ruby malah teringat memori di masa lalu,Thomas sering melakukan hal itu padanya saat Ruby akan tidur. Kemudian Ruby akan tertidur pulas di pelukan Thomas.


"Kau jangan membuatku terluka lagi," Ruby ingin mengubur dalam-dalam kenangannya bersama Thomas tapi ia tidak bisa. Thomas seperti sengaja melakukan hal-hal yang biasa mereka lakukan semasa berpacaran dulu.


"Sebenarnya apa yang kau inginka dariku?" Ruby berbalik badan dan menatap Thomas. Thomas terlihat salah tingkah karena tidak menyangka Ruby akan meresponnya seperti itu.


"Aku ingin kau kembali padaku. Hanya itu," jawab Thomas.


"Aku masih bersamanya," Ruby kembali menjawab.


"Aku akan menunggu," Thomas berbisik di telinga Ruby. Berlanjut dengan ciuman pada telinganya.

__ADS_1


"Pria gila," Ruby bangkit dari tempat tidur dan meninggalkan Thomas di kasur.


__ADS_2