Journeys End

Journeys End
New Facts


__ADS_3

Edsen memarkir mobil sementara Kylie hanya terbengong-bengong.


"Disini?" tanya Kylie.


"Ya, disinilah tempat parkirnya," jawab Edsen.


"Ehh, agak kurang meyakinkan," Kylie menanggapi tempat parkir yang ia kira garase modern.


"Kita harus menyembunyikan mobil ini agar tidak ada yang tau. Karena penduduk sekitar sini tidak ada yang punya mobil," ujar Edsen.


Sebuah bangunan terbuka terbuat dari anyaman daun kelapa di dindingnya serta daun kelapa utuh untuk atap. Itu yang mereka sebut garase.


"Hm baiklah lalu bagaimana cara kita kembali?" Kylie merasa ingin segera ke tempat mewah tadi.


"Jalan kaki," Edsen menjawab.


"A.. Apa?!" kini Kylie agak menyesal ikut dengan Edsen ke tempat itu.


"Sudah aku peringatkan bukan untuk jangan mengikutiku?" Edsen mengingatkan.


"Tapi kau tidak bilang tempatnya sejauh ini dan kita harus kembali dengan berjalan kaki," Kylie membela diri.


"Sudah terjadi mau bagaimana," Edsen pasrah.


"Lagi pula kau bisa lebih lama menghabiskan waktu denganku kan," tambahnya.


"Apa maksudmu menghabiskan waktu denganmu?" Kylie kembali protes.


"Aku tau dalam hatimu kau sangat senang karena akan melakukan perjalanan jauh bersamaku," Edsen menggoda Kylie.


"Edsen, kenapa kau tiba-tiba jadi terlalu percaya diri?" Kylie mengelak jika dirinya senang menghabiskan waktu dengan Edsen.


"Nanti juga kau gembira. Lihat saja nanti," Edsen mulai berjalan menjauhi tempatnya memarkir mobil.


"Kita jalan sekarang? Tidak istirahat dulu?" Kylie merasa tidak enak entah karena apa.


"Takut kemalaman," Edsen menjawab sambil berjalan.


"Baiklah, aku ikut saja kalau begitu," Kylie mengikuti Edsen dari belakang.


"Kau mau aku ajak ke suatu tempat? Kalau kau memang ingin beristirahat," Edsen menawarkan.


"Hm, tempat macam apa? Apakah tempat seperti parkiran tadi?" Kylie mengantisipasi.


"Bukan. Kali ini tempat yang bagus. Aku yakin kau suka," Edsen percaya diri.


"Boleh. Tapi awas saja kalau kau mengerjaiku," Kylie mengancam.


"Oke, tapi apa yang akan kau lakukan jika aku mengerjaimu?" tanya Edsen penasaran.


"Akan ku bunuh kau," jawab Kylie.


"Hahaha apa itu mungkin," Edsen meremehkan.

__ADS_1


"Beraninya kau meremehkanku," Kylie protes untuk yang ketiga kalinya.


"Ayo cepat jalan, ikuti aku," Edsen mempercepat langkahnya.


***


Felix, Thomas dan Ruby sudah selesai berkeliling tempat itu. Tempatnya tidak begitu besar tapi sangat mewah.


Bahkan, hiasan berupa guci-guci mahal ada disana.


"Nah, aku sudah menepati janji mengajak kalian kesini," ujar Kylie.


"Oke, lalu apa yang harus kita lakukan?" tanya Thomas.


"Bi Ellen, kau kemarin berkata ingin membicarakan sesuatu dengan kami," Ruby mengingatkan Ellen.


"Baik. Ayo ke kamarku," Ellen berjalan diikuti oleh Ruby dan teman-teman.


Sebuah kamar dengan desain vintage menyedot perhatian Ruby.


Itu adalah desain kamar yang sangat ia idam-idamkan.


"Bagus sekali kamarmu, Bi," puji Ruby.


"Tapi aku lebih suka kamar di rumahku," Ellen merindukan rumahnya.


"Ah, benar juga. Aku rindu rumah," Ruby merasakan apa yang Ellen rasakan.


"Sebelumnya aku berterimakasih dengan semua bantuan kalian dan keterlibatan kalian mengungkap sekte ini. Aku tau kalian sudah mengalami masa sulit hingga kuliah kalian terganggu dan mendapat banyak cibiran dari banyak orang," Ellen mengawali.


Thomas, Felix dan Ruby hanya mengangguk.


"Sekarang semuanya akan selesai. Dia sudah menolak untuk berdamai dan pria itu masih di kantor polisi. Sementara Jennifer tengah hamil. Ternyata mereka sudah sering melakukannya," terang Ellen.


"Sebenarnya dia sempat ingin memaafkan suaminya tapi mengetahui Jenn hamil dia mengurungkan niatnya. Sekarang kita harus mengungkap sekte ini mumpung pria itu tidak bisa melakukan apa-apa. Kita harus membagi tugas karena anggota sekte yang lain juga tidak tau bahwa pemimpin mereka kini ada di kantor polisi," Ellen menjelaskan.


"Lalu dimana wanita itu sekarang Bi?" Ruby penasaran.


"Ada di rumahnya. Dia memang punya rumah dekat kantor polisi sana jadi jangan khawatir," Ellen menjawab.


"Lalu, apa langkah selanjutnya dan bagaimana pembagian tugasnya?" Thomas sudah ingin segera mengakhiri hal ini.


"Rekaman suara yang kalian sebarkan sudah cukup membuat publik mulai yakin akan keberadaan sekte itu. Dan, tiga wanita yang kalian temui disana sudah setuju untuk mengungkap identitas mereka ke publik. Dan ternyata mereka punya keluarga. Mereka adalah anak-anak yang diculik sejak kecil, bukan anak yatim piatu," Ellen mengungkap fakta baru.


"Darimana kau tau bahwa mereka diculik?" Felix penasaran.


"Aku pergi ke tempat sekte itu kemarin dan menemukan dokumen-dokumen itu," Ellen menunjuk tumpukan dokumen di meja.


"Ternyata mereka diculik oleh sekte itu dari orang tuanya kemudian dicuci otak dan mereka juga diperlakukan sangat baik oleh sekte itu," kata Ellen.


"Dan mereka percaya?" Felix penasaran.


"Ya,makanya mereka ada disini sekarang," Ellen menjawab.

__ADS_1


"Ada sejenis pil yang sekte itu berikan pada anak-anak disana hingga mereka berhasil dikendalikan. Istri pria itu yang mengatakannya sendiri bahkan ia memberikan pil itu," Ellen kembali membuat tiga remaja itu terkejut.


"Secara tidak langsung dia mengakui kejahatannya?" tanya Ruby.


"Iya, dia pasrah dan ingin ini segera berakhir," Ellen menjawab pertanyaan Ruby.


"Pil itu bisa kita jadikan bukti, akan aku urus hal itu," katanya.


"Lalu yang harus kami lakukan?"


"Kalian tinggal mempengaruhi publik tentang sekte itu agar semakin banyak yang datang ke tempat sekte itu biasa berkumpul. Dan nanti tiga wanita kemarin akan aku munculkan di publik. Masalah wanita itu biar aku yang urus," Ellen memberi tugas.


"Baiklah kami tinggal bermain dengan sosial media saja berarti," Felix menanggapi.


"Kalau begitu bisakah kita pulang sekarang?" tanya Ruby pada teman-temannya.


"Kalian menginap disini saja," ajak Ellen.


"Omong-omong kawanmu itu belum kembali," Felix teringan dengan Edsen dan Kylie.


"Oh iya,Kylie! Aku hampir melupakannya," Ruby mengurungkan niatnya pulang karena Kylie belum datang.


"Kenapa parkir mobil lama sekali," keluh Thomas.


"Parkirannya agak jauh," sahut Ellen.


"Lalu kalau kami ingin pulang dia harus berjalan ke parkiran yang jauh? Lebih baik tidak usah dipindahkan mobilnya," Thomas kembali mengeluh.


"Sudahlah kau ini,pasti semua ada alasannya," Felix menenangkan.


"Lalu sekarang kita ngapain?" tanya Thomas.


"Aku sih mau kuliah," Ruby menjawab.


"Oh iya aku belum mengabsen sejak pagi," Thomas segera mengambil ponselnya untuk melakukan absensi.


"Aku yakin nilaimu semester ini akan lebih buruk dari semester lalu Thomas," ejek Ruby.


"Terserah yang penting aku lulus dan segera mendaftar polisi," sahut Thomas.


"Daftar sekarang saja agar kau berhenti kuliah," suruh Ruby.


"Kenapa kau ini," Thomas selesai melakukan absensi.


"Kau tidak menjawab postest?"


"Pastinya menjawab,tunggu kau selesai dulu," Thomas menyenderkan punggungnya tembok.


"Enak saja,kau tidak boleh menyontek. Tidak akan aku izinkan," Ruby protes.


"Fokus kerjakan saja,sayang. Kalau kau meladeninya tugasmu tidak akan selesai," Felix menengahi.


"Huh untung ada Felix," Ruby menggerutu.

__ADS_1


__ADS_2