Journeys End

Journeys End
i want your midnight


__ADS_3

Tok.. Tok..


Suara ketukan pintu terdengar di kamar Ruby. Ruby langsung terbangun karena ia memang sedikit sensitif terhadap suara.


"Siapa malam-malam begini berkunjung," Ruby menggerutu sambil menahan rasa kantuk yang teramat sangat.


Ia berjalan menuju pintu dan membuka pintu untuk tamunya.


"Ruby? Apa yang kau lakukan?" Thomas berdiri di depan pintu.


"Thomas? Aku yang seharusnya bertanya begitu," Ruby bertanya balik.


"Aku mendapatkan pesan dan aku mengikuti perintah pesan misterius itu," Thomas menjelaskan apa yang terjadi hingga ia sampai di tempat itu.


"Aku juga. Apa mungkin kita mendapat pesan dari nomor yang sama?" Ruby bertanya-tanya.


Thomas masuk kedalam kamar dan mereka berdua mencocokan nomor misterius yang memberikan perintah pada mereka. Benar saja,nomor yang menghubungi mereka adalah nomor yang sama.


"Apa maksud orang ini mempertemukan kita disini?" Thomas bertanya-tanya.


"Aku juga tidak paham tapi kita ikuti saja. Dia mengatakan dengan mengikuti perintahnya kita akan mendapatkan sesuatu yang bisa membantu kita menghadapi sekte itu," ujar Ruby.


"Ah baiklah. Ngomong-ngomong,kau tampak seksi dengan lingerie itu," puji Thomas.

__ADS_1


"Astaga aku baru menyadari aku masih menggunakan lingerie," Ruby panik dan menutupi tubuhnya dengan tangan. Kemudian ia bangun untuk mengambil baju tidur.


Thomas menarik tangan Ruby dengan kencang,membuatnya jatuh ke pelukan Thomas. Thomas mendekap Ruby dengan erat,seakan-akan tidak ingin melepas Ruby lagi.


"Aku sangat merindukanmu," bisik Thomas.


"Kita tidak bisa begini," Ruby melepaskan diri dari pelukan Thomas.


"Kau tidak,tapi aku bisa," Thomas kembali berbisik di telinga Ruby.


Perlahan-lahan Thomas menyentuh paha Ruby dan terus menjalankan tangannya semakin keatas. Ruby yang hanya berbalut dengan lingerie berusaha menolak sentuhan Thomas namun di sisi lain ia juga sangat menikmatinya.


"Sudah lama kita tidak melakukan hubungan," Thomas merebahkan Ruby di kasur.


"Tapi malam ini bisa,hanya kita berdua yan ada disini," Thomas memaksa ingin memiliki Ruby malam itu.


"Aku tidak mau," Ruby menolak dengan tegas dan mendorong Thomas.


"Aku memaksa," Thomas kembali meniban Ruby dengan badannya,tangannya bergerak bebas menyentuh tubuh Ruby.


Bagian yang sangat privasi bagi Ruby pun berhasil Thomas sentuh.


"Tidak,jangan itu," Ruby tidak mampu menahan diri dan ia juga gagal menghentikan Thomas memain-mainkan tempat itu.

__ADS_1


"Aku tau kau akan menikmati ini," Thomas mencium leher Ruby.


Kini Ruby hanya diam dan memejamkan mata,menikmati setiap sentuhan Thomas ada tubuhnya.


Tangan Ruby kini melingkar di leher Thomas,itu membuat Thomas semakin bergairah. Mereka berciuman untuk beberapa saat.


"Aku tau kau masih sangat mencintaiku,Ruby. Malam ini kau milikku,dan aku akan berusaha untuk seterusnya agar kau terus menjadi milikku," Thomas merobek lingerie Ruby pada bagian atas. Ia mulai melakukan apa yang biasa ia lakukan pada Ruby dulu ketika masih berpacaran.


"Kau memang pandai melakukannya," Ruby menggoda Thomas.


"Kau juga pandai,itu salah satu penyebab aku sangat sulit melupakanmu," puji Thomas.


Resleting ya ada pada bagian bawah lingerie Ruby dibuka oleh Thomas.


Jari-jarinya tidak tahan lagi memainkan itu,Ruby menggigit kemeja Thomas sambil menjambak rambutnya.


"Thomas tidak,aku tidak ingin sejauh ini," Ruby mulai tersadar dan berusaha melepaskan diri dari Thomas yang sudah terbakar nafsu.


"Aku tidak tahan lagi,aku akan memasukannya sekarang," Thomas memaksa Ruby membuka kakinya.


"Oh,Thomas!"


Mereka berdua hanyut dalam permainan seperti apa yang dulu sering mereka lakukan ketika masih berpacaran. Rasa cinta Ruby pada Thomas memang belum sepenuhnya hilang,begitu juga Thomas. Bahkan Thomas rela meninggalkan Aster demi menunggu Ruby yang masih memiliki Felix sebagai kekasihnya.

__ADS_1


__ADS_2