
"Hey kalian semua. Bangun!!!" Kylie berteriak membangunkan Ruby, Thomas dan Felix.
"Apa sih?!" Thomas terperanjat kaget.
"Lihatlah ini. Banyak sekali yang berkomentar di postingan yang aku post kemarin," Kylie berjingkrak-jingkrak.
"Berapa orang yang berkomentar?" Thomas pura-pura tidak tau.
"Sekitar 14.000," jawab Kylie
"Wah. Bagaimana reaksi mereka? Apakah percaya atau menuduh kita lagi?" Ruby penasaran dengan reaksi netizen.
"Aku baca banyak yang percaya dengan rekaman yang kita publikasikan. Lagi pula kita tidak mungkin memanipulasi rekaman kan," jawab Kylie.
"Syukurlah mereka percaya. Oh iya,aku akan mengajak kalian pergi ke 'rumah susun' itu hari ini," ujar Ruby.
"Akhirnya rasa penasaranku akan segera terjawab," Felix bangun dari sofa dan mengambil segelas air putih di meja kecil samping sofa nya.
"Kalau begitu bersiap-siaplah," Ruby merapikan kain yang ia gunakan sebagai selimut.
"Aku mandi duluan," Kylie bergegas ke kamar mandi sambil tetap memegang ponselnya.
"Terserah," sahut Ruby.
*
Mereka berempat sudah selesai siap-siap. Di depan panti asuhan, ada sebuah mobil pick up terparkir.
"Edsen?!" Ruby tidak menyangka Edsen yang akan datang menjemput. Bi Ellen memang mengatakan bahwa ada yang akan menjemput mereka tapi tidak memberitahukan siapa orang itu.
"Maaf aku baru muncul," kata Edsen.
"Tidak apa. Aku tau kau sibuk," jawab Ruby.
"Akan aku antar kalian ke rumah susun," Edsen masuk kedalam mobil sementara Kylie ikut duduk di depan. Ruby, Thomas dan Felix naik di belakang,pada bagian terbuka pick up
"Kau kapan kembali Edsen?" Kylie yang merasa suasana di dalam mobil sedikit membosankam mulai bertanya-tanya.
"Aku tidak jadi pergi," jawab Edsen.
"Kenapa?" Kylie penasaran.
Awalnya Edsen berencana untuk mengurus sesuatu di luar negeri.
"Ya karena yang seharusnya aku urus sekarang sudah bukan urusanku," Edsen memberikan jawaban penuh teka-teki.
Kylie terdiam sejenak mencerna perkataan Edsen. Setelah beberapa detik, ia masih belum mengerti.
"Ahh, sebenarnya aku tidak mengerti," jawab Kylie.
"Ya, sebaiknya kau lupakan saja perkataanku tadi," Edsen lebih memilih untuk tidak menjelaskan.
"Memangnya urusan apa yang ingin kau urus sampai-sampai harus ke luar negeri?" tanya Kylie yang dibuat semakin penasaran dengan jawaban Edsen.
"Kau yakin ingin tau?" Edsen sengaja membuat Kylie semakin penasaran.
"Tentu saja yakin," Kylie menjawab dengan tegas.
"Ada sesuatu yang harus aku bicarakan dengan pacarku. Tapi kemarin kami putus," Edsen memberitahukan masalahnya.
__ADS_1
"Lalu?" Kylie masih belum paham.
"Ya karena putus aku tidak jadi bertemu. Begitu saja kau tidak paham," ledek Edsen.
"Kenapa putus?" Kylie masih berusaha mengulik lebih dalam.
"Kenapa kau sangat ingin tau?" Edsen balik bertanya.
"Aku hanya penasaran aku kira dirimu mash sendiri," Kylie beralasan.
"Ya, sebenarnya aku selalu merasa sendiri dan tidak memiliki pacar. Padahal aku punya sampai kemarin," jawabnya.
"Kenapa putus?" tanya Kylie lagi.
"Kenapa tanya itu lagi?" Edsen kembali bertanya balik.
"Edsen!! Berhenti bercanda denganku," Kylie mulai emosi.
"Hahaha okay okay akan aku beritahu. Tapi aku curiga padamu," Edsen kembali membuat Kylie penasaran.
"Apa maksudmu?" Kylie semakin kebingungan.
"Jangan-jangan kau menyukai diriku sampai-sampai ingin tau tentang hubunganku," tutur Edsen.
"Apa sih?! Ya sudah tidak jadi bertanya," Kylie malah ngambek.
"Astaga kau ngambek hahaha," Edsen malah tertawa.
Tidak terasa mereka sudah sampai di rumah susun itu. Ternyata adalah tempat penyewaan motor yang sempat Ruby kunjungi.
"Aku tidak mengerti kenapa ini disebut rumah susun," ujar Kylie.
"Apa yang spesial dari tempat ini?"
"Turunlah maka kau akan segera tau," Edsen turun dari mobil disusul oleh Kylie.
Felix, Thomas dan Ruby juga sudah turun dari mobil.
"Ayo masuk," ajak Edsen seakan-akan ia adalah tuan rumah disana.
"Kau tampak sudah tidak asing ya dengan tempat ini," kata Felix.
"Hehehe karena sudah dijelaskan oleh bi Ellen," jawab Edsen.
Mereka masuk ke tempat penyewaan motor yang berdindingkan seng. Masuk ke sebuah ruangan berpintu kayu reot dan hanya ada ruangan kosong.
"Hah apa ini?" Kylie bingung.
Edsen membuka penutup kayu di lantai dan ada sebuah ruang rahasia disana.
"Ruang bawah tanah?" tanya Ruby.
Edsen hanya mengangguk.
Sebenarnya bi Ellen sudah menunjukan rupa bangunan rumah susun itu tapi hanya bagian dalam. Akses menuju kesana belum Ruby ketahui.
"Hm ruang bawah tanah ya," Thomas mengamati sekitar.
"Kau tidak usah berlagak seperti detektif Conan, Thomas," kata Kylie.
__ADS_1
Mereka menuruni tangga kayu yang kokoh kemudian berjalan dan menemukan sebuah pintu besi.
Edsen memasukan sandi di papan tombol yang ada disana.
"Ayo masuk," Edsen menarik gagang pintu dan mempersilahkan teman-temannya masuk.
Suasana terasa sangat jauh berbeda dari depan saat mereka masuk. Keglamoran dan kemewahan terlihat jelas sejak pertama mereka menginjakan kaki disana.
"Wah bagaimana bisa ada tempat semewah ini di lokasi terpencil," Kylie kagum.
"Bukankah harta karun biasanya tersembunyi di tempat terpencil? Tempat yang tidak dipikirkan manusia ada kehidupan disana, orang-orang tertentu akan memanfaatkannya untuk menyembunyikan harta mereka," respon Ruby.
"Ah benar juga. Otakmu memang selalu encer ya," puji Kylie.
"Tidak seperti kau otak udang," ledek Thomas.
"Diam kau Thomas. Kau juga sama," balas Kylie.
"Sudahlah kalian ini," Felix menengahi perdebatan tidak penting yang sedang terjadi.
Di kejauhan terlihat tempat makan mewah. Bi Ellen sudah duduk disana bersama tiga wanita kemarin.
"Kalian pergilah. Aku ada urusan," kata Edsen.
"Kau kemana? Bahaya," Kylie menahan Edsen agar tidak pergi.
"Mobil kita di depan. Jika ada yang lihat orang akan curiga," Edsen tetap ingin pergi.
"Ya sudah aku ikut," Kylie membuntuti Edsen.
"Biarkan saja Edsen. Dia sepertinya menyukaimu," kini giliran Felix yang meledek Kylie.
"Terserah," Edsen pasrah dengan Kylie yang membuntutinya.
"Omong-omong, dimana orang yang menjaga tempat sewa motor itu? Berarti dia tau keberadaan tempat ini?" Kylie penasaran.
"Nanti akan aku jelaskan. Kau janji tidak syok ya," Edsen kembali ingin bermain-main dengan Kylie.
"Sejak tadi kau mempermainkan ku," Kylie protes.
"Orang itu telah tiada," jawab Edsen singkat.
"Kenapa? Apa dia sakit?" Kylie turut prihatin sekaligus penasaran.
"Dia dibunuh Kylie. Dibunuh," Edsen menjawab dengan wajah datar.
"A.. Apa?! Oleh siapa?" Kylie ketakutan.
"Tenang saja kau jangan takut. Selama bersamaku kau aman," ujar Edsen.
"Aku bisa menjaga diri," Kylie pura-pura berani.
"Aku tau wajah ketakutanmu itu," Edsen tidak bisa Kylie bohongi.
"Kemana kita akan membawa mobil?" tanya Kylie.
"Garase. Disini juga ada garase rahasia," Edsen memberitahu Kylie lebih dulu dibanding teman-teman yang lain.
"Wah aku penasaran," Kylie excited sekaligus ketakutan.
__ADS_1
"Ayo kalau begitu," Edsen naik ke mobil bersama Kylie.