
Bulan purnama dua hari lagi. Mereka semakin gelisah karena merasa ajal mereka sudah dekat.
"Aku sudah memposting semuanya di sosial mediaku," ujar Ruby.
"Kami juga," timpal Thomas dan Felix berbarengan.
"Semakin hari kalian semakin akrab ya," Ruby memuji kedekatan kekasihnya dan mantan kekasihnya itu.
"Bagaimana kabar kekasihmu?" tanya Ruby.
"Biasa saja," jawab Thomas.
"Bukankah kalian saling memfollow?" tanya Thomas.
"Memang,dan saling menyindir," jawab Ruby dengan frontal.
"Hahaha aku juga tau itu," Thomas tertawa mendengar jawaban Ruby.
"Bukankah kau sudah memiliki aku sekarang," Felix yang dari tadi hanya diam kini berbicara.
"Iya sayangku," Ruby memeluk Felix di hadapan Thomas,persis seperti pelukan yang biasa Ruby lakukan pada Thomas ketika masih berpacaran dulu.
"Aku mencintaimu," kata Felix pelan.
"Aku juga,sayang," mereka berciuman di depan Thomas. Thomas hanya tersenyum melihat kelakuan mereka.
Sebenarnya Ruby sekaligus ingin memperlihatkan kepada Thomas bahwa ia kini jauh lebih bahagia bersama Felix. Sebenarnya Ruby masih menyimpan dendam namun waktunya tidak tepat untuk balas dendam.
"Aku punya ide," kata Ruby.
"Apa?" tanya Thomas penasaran.
"Kita lakukan live streaming di tempat itu nanti malam," usul Ruby.
"Cukup menantang maut," respon Felix.
"Tidak ada yang bisa kita lakukan selain menyebarkan ini pada media sehingga banyak yang tau,terutama anak muda seperti kita. Mereka biasanya rela melakukan apapun demi membuat konten yang viral kan?" Ruby memanfaatkan sifat remaja masa kini yang akan melakukan apapun demi ketenaran.
"Ide yang bagus,kekasihku sangat cerdas ya," puji Felix sambil mengusap-usap kepala kekasihnya.
Tok.. Tok..
Suara pintu kamar diketuk. Ruby bersembunyi di dalam lemari sementara Felix dan Thomas bersiap-siap seakan-akan mereka akan berangkat untuk mencari Ruby.
"Ada apa?" Thomas yang membuka pintu.
"Ini sarapan kalian," Poppy membawa nampan berisi dua mangkuk bubur.
"Terimakasih," Thomas segera menutup pintu.
Ruby keluar dari lemari dan melihat mangkuk-mangkuk itu.
__ADS_1
"Jangan dimakan!" serunya.
"Kenapa? Kami lapar,kau kan sudah makan mie mentah tadi pagi," kata Felix.
"Aroma ini,seperti rempah-rempah yang kemarin aku cincang di tempat itu," ujarnya.
"Lalu? Rempah-rempah kan sama saja baunya," Felix ngotot ingin memakan bubur itu.
"Jangan!" Ruby menghalang-halangi Felix.
"Lalu apa yang harus kami makan?" Thomas jengkel karena ia sudah merasa lapar.
Mereka sedikit berdebat pagi itu. Seorang wanita melawan dua orang pria yang kelaparan di pagi hari.
"Kenapa kalian tidak mau mendengarkanku? Apa kalian tidak bisa lebih berhati-hati?" Ruby sudah sangat kesal.
"Makan saja,terserah," Ruby sangat jengkel pada mereka berdua.
Thomas dan Felix memakan bubur itu. Ruby memperhatikan mereka dengan tatapan penuh amarah,namun bagaimana lagi,Thomas dan Felix sudah sangat kelaparan.
Ruby menghela nafas panjang,ia merasa harus menyelesaikan semuanya sendiri hari itu.
"Ah,kenapa pusing?" kata Felix.
"Aku juga," Thomas baru menyadari bahwa buburnya mengandung sesuatu.
"Sialan apa ini obat bius?" Felix yang memang peka terhadap obat-obatan baru menyesali perbuatannya. Syukurnya ia baru memakan sedikit bubur itu,begitu juga Thomas yang hanya memakan dua sendok dan sudah merasakan pusing.
Ia mengambil jubahnya di lemari namun ditahan oleh Felix.
"Sayang,maaf kami tidak mendengarmu," Felix menyesal sementara Thomas ke kamar mandi untuk memuntahkan buburnya.
"Sialan gadis itu," umpatnya dari kamar mandi.
"Ruby mengambil beberapa sendok bubur dan dimasukkan kedalam zip lock tempat ia menaruh anting. Anting yang ada dalam zip lock itu ia kenakan.
"Aku tidak akan membiarkanmu," cegah Thomas.
"Apa aku bisa mengandalkan kalian?" air mata menggenang di mata Ruby. Ia sangat kesal dengan pria-pria yang mudah ditipu itu.
"Kami memang bodoh. Kami akan lebih berhati-hati," Felix berkata sambil sempoyongan.
Ruby kini tidak peduli lagi. Ia menyimpan rekaman Ruby di kartu memori nya kemudian mengirimkannya pada seorang teman.
"Halo," Ruby menelepon kawannya itu.
"Apa kabar?" mereka terdengar berbasa-basi di awal namun kemudian mulai mengobrol dengan serius.
Kawan Ruby itu merupakan rekannya sesama penulis di media online,sekaligus konten kreator yang sering membahas hal supranatural,bahkan ia sering mengunjungi rumah kosong.
Hal yang diceritakan oleh Ruby bisa menjadi ladang uang baginya,jadi mereka sama-sama saling menguntungkan. Ditambah banyaknya komentar yang masuk ke Instagram Ruby mengenai sekte itu. Ruby mengirimkan lokasinya via Instagram kepada beberapa orang yang mengirimi dirinya pesan.
__ADS_1
Ruby merencanakan untuk melakukan live streaming berdua bersama kawannya yang bernama Amber itu.
"Kau umumkan pada penggemarmu dulu tentang live streaming nanti," ujar Ruby.
"Aku pasti mengumumkannya segera," jawabnya.
Ruby membalas komentar-komentar di Instagram. Selain itu,ia juga memposting video Poppy yang membawakan bubur serta Thomas dan Felix yang mulai tertidur karena obat itu. Ia benar-benar menginginkan sekte itu hancur,karena bantuan polisi tidak bisa diandalkan saat itu. Bahkan yang menjaga lokasi yang dijadikan sebagai tempat upacara pengorbanan nanti.
Felix dan Thomas tertidur. Tentu saja ada maksud tertentu dengan memberikan mereka obat bius pada makanannya.
"Apa Felix dan Thomas akan diculik sekarang?" Ruby menduga-duga.
Ia kemudian teringat dengan Anne yang disekap diatas sana. Ruby berencana mengecek keatas dan meminta bantuan Anne.
Ketika para anggota sekte kembali ke tempat ritual akan dilakukan,Ruby menyelinap masuk ke kamar Poppy karena ia masih memegang kunci yang Anne berikan padanya.
Ia naik dari tangga yang ada di kamar Poppy,sepertinya Poppy baru saja mengecek kondisi Anne dan pergi dengan terburu-buru karena biasanya tangga tidak diletakkan begitu saja di kamarnya. Ditambah plafon atas yang merupakan jalan masuk dibiarkan terbuka begitu saja.
"Apa ini jebakan?" Ruby waspada. Tiba-tiba terdengar langkah yang mendekat ke kamar itu. Ruby segera bersembunyi dibawah kolong kasur.
"Ini adalah tangga yang bisa kita gunakan untuk naik keatas. Disana ada bibiku,dia akan memberitahumu dimana ruangan mereka. Kau bisa mengintai disana," terdengar suara Poppy berbicara dengan seseorang. Kemudian orang itu terlihat menaiki tangga.
Ruby merasakan sesuatu yang hangat di lehernya,seperti hembusan nafas. Ketika menoleh ke kanan,benar saja seorang wanita juga bersembunyi di bawah tempat tidur.
Ruby nyaris berteriak namun wanita itu segera membekap mulut Ruby.
"Ini aku,Anne," bisiknya.
Ruby merasa sedikit tenang karena ia tidak perlu naik keatas untuk menemuinya. Melihat orang itu sudah naik tangga,Anne dan Ruby pergi ke kamar Ruby.
Anne mengeluarkan sesuatu dari saku jaketnya yang lusuh,botol kecil berisi cairan kental berwarna coklat.
"Ada air minum?" tanya Anne.
Ruby memberikan Anne segelas air minum kemudian Anne meneteskan cairan itu kedalam air minum.
"Minumkan pada dua pria ini," katanya.
Ruby mengambil sendok,menyendok air yang berisi cairan itu dan menyuapi Felix lebih dulu baru kemudian Thomas.
"Obat itu akan bekerja dalam waktu 30 menit," Anne berusaha menenangkan Ruby.
"Bagaimana kau bisa tau ramuan.."
"Aku mencurinya di kamar kakakku dulu,ketika aku kabur," Anne memotong perkataan Ruby.
"Apa tidak rusak? Mengingat ramuan ini sudah lama disimpan," Ruby yang baru tau bahwa ramuan itu sudah berumur sangat lama sedikit khawatir.
"Tenang saja," jawab Anne tanpa memberi penjelasan.
Ruby menceritakan seluruh rencananya pada Anne. Anne berdecak kagum karena rencana Ruby yang terdengar sangat cerdas.
__ADS_1