
Suara keributan membangunkan Ruby dan Felix. Jam di ponsel Ruby baru menunjukkan pukul 6 pagi,dan terlihat beberapa panggilan tak terjawab dari Thomas.
"Astaga Thomas!" Ruby langsung menengok kearah jendela.
Ternyata apa yang ia curigai memang benar,Thomas kini ada disana. Felix mendekat kearah jendela,menatap kumpulan beberapa orang yang sedang berdiri disana.
"Apa yang mereka lakukan? Itu mantan kekasihmu kan?" tanya Felix.
"Iya," Ruby langsung pergi keluar kamar.
"Aku ingin bicara," Felix mengejar Ruby yang kini sudah ada di luar kamar.
"Katakan,"jawab Ruby.
"Kenapa kau menyuruhnya kemari?" tanya Felix.
"Aku meminta tolong padanya untuk membawa orang yang dapat menyingkirkan pohon itu,agar aku bisa segera pulang," Ruby menjawab sambil menyenderkan badannya ke tembok.
"Jika semudah itu,dari beberapa waktu lalu aku sudah mencari bantuan," Felix merasa Ruby tidak mempercayainya. Harga dirinya sebagai seorang laki-laki seakan-akan jatuh setelah mengetahui Ruby meminta bantuan pada pria lain,apalagi itu adalah mantan kekasihnya.
"Apa maksudmu?"
"Tanah dan isinya di area itu milik pribadi,milik keluarga Poppy dan bukan milik pemerintah jadi kita tidak bisa sembarangan tanpa meminta izin mereka," Felix menerangkan.
"Lalu?" Ruby tidak menanggapi penjelasan Felix dengan serius.
"Sayang,aku sudah berbicara dengan Poppy namun katanya,ibunya tidak mengizinkan pohon itu dipindahkan," Felix menjawab.
Ruby merasa heran kenapa pohon besar yang menghalangi jalan tidak boleh dipindahkan. Menurutnya,bukankan akan lebih banyak pengunjung yang menginap di motel itu jika akses jalan terbuka tanpa gangguan pohon tumbang. Dan yang membuat Ruby semakin heran,kapan Felix sempat berbicara dengan Poppy.
"Memangnya kapan kau sempat berbicara dengan Poppy?" tanya Ruby.
"Saat kau memergoki diriku," jawab Felix dengan jujur.
"Aku memanfaatkan kesempatan itu untuk mencari informasi," imbuhnya.
__ADS_1
"Sudahlah. Aku akan menemui Thomas," Ruby pergi meninggalkan Felix begitu saja.
Felix tentu saja menyusul Ruby,ia jelas tidak mau kalau sampai kekasihnya itu kembali jatuh ke pelukan Thomas. Tanpa alasan yang jelas,kini Felix menganggap Thomas adalah musuhnya.
"Hai Thomas," sapa Ruby.
Semua mata tertuju pada Ruby. Ibu Poppy,Poppy,Thomas dan empat orang pria yang Thomas ajak bersamanya.
"Ruby,akhirnya," kata Thomas.
"Kenapa kau menyuruh orang-orang ini datang?" tanya ibu Poppy.
"Aku hanya ingin cepat pulang,dengan pohon seperti itu membuatku tidak bisa pulang," jawab Ruby sinis. Ia memang tidak menyukai ibu Poppy.
"Bukankah sudah aku jelaskan semuanya?" Poppy berkata pada Felix.
"Aku terlambat memberitahu kekasihku,aku kira Ruby tidak akan bertindak sejauh ini karena ia cukup menyukai tempat ini," jawab Felix.
"Memang benar aku menyukai tempatnya,tapi tidak dengan orang-orangnya," Ruby berbicara ditengah-tengah obrolan Felix dan Poppy.
Felix memaklumi sikap Ruby tersebut karena yang membuatnya seperti ini juga adalah dirinya sendiri. Begitu juga dengan Poppy.
"Kau memarkir mobil dimana?" Ruby mengalihkan pembicaraan.
"Tepat di depan pohon itu. Disini sangat sepi," ujar Thomas.
"Oh,berarti jalan masuk kemari lancar hanya terhalang pohon itu. Aku bisa berjalan kaki mencari bantuan untuk mengeluarkan mobilku dari tempat ini," ujar Ruby.
"Dan tanah di area itu milikku jadi kalian tidak bisa berbuat sesuka hati," ibu Poppy terlihat tidak senang dengan kehadiran mereka.
Thomas mengisyaratkan agar keempat orang itu membatalkan rencana awal mereka dan tinggal di mobil sebentar,sementara dirinya tetap tinggal di motel itu.
Melihat hal itu,Felix sedikit tidak suka dan agak cemas karena khawatir Ruby kembali dekat dengannya. Ruby mendekati Thomas dan membisikan sesuatu yang hanya mereka berdua ketahui.
"Sayang,mau sarapan apa?" Felix memecah kesunyian.
__ADS_1
"Nanti aku masak sendiri," jawab Ruby.
"Oh,kau kekasih baru Ruby? Kenalkan,aku mantan kekasihnya," Thomas berjabat tangan dengan Felix.
"Halo,aku Felix," Felix membalas Thomas yang menjabat tangannya lebih dulu.
"Kau beruntung memilikinya hahaha," Thomas tertawa sambil menatap Ruby.
Dalam hati,Felix merasa kesal namun ia harus bisa menahan emosinya.
"Tentu saja,dia wanita idamanku. Baik,cerdas,mandiri,mapan,jujur,cantik dengan tipe tubuh idamanku. Tentu aku tidak akan pernah meninggalkannya," kata Felix. Apa yang dikakan Felix adalah hal yang jujur,namun dibalik kejujuran itu ia juga menyindir Thomas yang meninggalkan Ruby dan Poppy yang menyukainya. Ia ingin orang-orang tau apapun yang terjadi,Felix dan Ruby akan terus bersama.
Mendengar jawaban Felix,Thomas langsung menyadari bahwa Felix mengajaknya berperang dingin. Di depan semua orang mereka baik-baik saja,namun di belakang tidak ada yang tau.
"Kalau jodoh bisa saja kembali. Tidak ada yang tau takdir Tuhan," jawab Thomas santai.
Felix semakin sebal dengan tingkah Thomas,Ruby melihat hal itu langsung mengajak Felix masuk.
"Kau ini kenapa?" Ruby menahan tawa.
"Aku tidak suka. Kenapa dia tidak ikut kembali?" tanya Felix.
"Teman-temannya masih di mobil,mungkin dia akan kembali nanti," Ruby menjawab.
Entah mengapa rasa marah Ruby pada Felix sedikit berkurang setelah melihat kepanikan Felix mengetahui mantan kekasih Ruby ada di tempat yang sama dengan mereka.
"Aku tidak akan meninggalkanmu," Ruby mengusap-usap punggung Felix.
"Benar?" Felix meyakinkan.
"Tentu saja,asal kau tidak melakukan hal seperti kemarin lagi," jawab Ruby.
Mereka pergi ke kamar. Memasak mie instan bersama kemudian sarapan.
"Jika pohon itu tidak diperbolehkan untuk dipindahkan,bagaimana kita pulang? Memang bisa saja dengan berjalan kaki sampai di depan,namun mobilku? Apa aku harus berjalan kaki dengan jarak yang jauh seperti itu untuk mencari bantuan" Ruby heran padahal jika ibu Poppy menyetujui mereka akan sama-sama untung karena Ruby yang membayar tukang itu.
__ADS_1
"Nanti siang kita pergi ke rumahnya. Aku akan bicara," kata Felix.
Kini ia juga merasa tidak betah berada di motel itu karena kehadiran Thomas yang cukup membuatnya khawatir.