
Untuk sesaat suasana hening,Ruby dan Felix sibuk berdua sementara Edsen membawa makanan yang sudah nenek dan kakek masak.
Nenek dan kakek kemudian menyusul Edsen,membawa semangkuk sup daging dan daging panggang dengan bentuk yang aneh. Tangan mereka berdua bergetar,mungkin karena sudah tua renta dimakan usia.
"Silahkan dinikmati masakan nenek dan kakekku," Edsen mempersilahkan Ruby dan Felix makan.
Tanpa ragu mereka berdua melahap makanan yang telah dihidangkan untuk mereka karena memang mereka sangat kelaparan. Suasana yang sedikit tegang kembali mencair.
"Sayang,lukamu," Ruby menunjuk leher Felix dengan sendok yang ia pegang.
"Tidak apa," Felix melanjutkan makannya.
"Darahnya apa tidak menodai bajumu?" Ruby memastikan karena ia tidak ingin repot mencuci noda darah.
"Baju ku berwarna hitam jadi kalaupun ada noda tidak akan terlalu jelas terlihat," Felix masih meneruskan makannya.
Ruby menyeruput kuah sup daging buatan nenek.
"Lezat sekali,yang jelas ini bukan daging ayam. Nenek menggunakan daging apa? Sangat empuk dan gurih," ujar Ruby.
"Daging yang kami gunakan adalah daging yang sangat istimewa. Kami memang menyiapkan ini untuk kalian," jawab Edsen.
Sedikit aneh karena Edsen tidak membiarkan nenek dan kakek berbicara sejak Ruby datang dari kamar mandi tadi.
"Baju hitam," gumam Edsen.
__ADS_1
Felix yang tengah menikmati makanannya diam sejenak kemudian kembali makan. Kaki kanannya menyenggol kaki Ruby.
Ruby menangkap bahwa itu adalah sebuah isyarat namun Ruby tak paham isyarat apa yang Felix berikan untuknya.
"Apa boleh aku membeli makanan ini untuk dibawa pulang?" tanya Felix.
"Sebenarnya boleh tapi sayangnya daging yang kami gunakan sedang habis stok nya. Daging baru akan segera datang,semoga bisa hari ini," jawab Edsen.
"Yah,aku sangat kecewa," respon Ruby.
"Nanti akan aku bawakan ke rumahmu sup daging dan daging panggang seperti ini," Edsen berjanji pada Ruby.
"Terimakasih Edsen. Terimakasih untuk nenek dan kakek karena telah menghidangkan makanan selezat ini," Ruby berterimakasoh pada mereka.
"Tentu saja,nak," jawab kakek.
"Kami sedang dalam proses mencari bahan,seperti yang aku bilang jika tidak ada kendala semoga hari ini kami mendapatkan daging. Walaupun aku tau itu akan sangat sulit," Edsen menjawab.
"Apakah sesulit itu mendapatkan daging yang sangat spesial ini? Aku jadi penasaran dengan daging hewan apa yang kau gunakan," Ruby berusaha mencari tau.
"Bukan daging hewan seperti yang ada di dalam pikiranmu," Edsen tidak memberikan jawaban yang ingin Ruby dengar. Sementara itu Felix kini menggenggam tangan Ruby. Ruby menyadari ada yang tidak beres dari kekasihnya,setelah suasana cair sejenak kini Ruby kembali tegang menunggu Thomas datang.
Ruby masih berusaha agar terlihat santai di depan orang-orang. Ia terus memikirkan topik pembicaraan.
Sambil mengotak-atik piring makannya,Ruby yang saat itu tiba-tiba tidak sekreatif biasanya kembali membahas mengenai daging.
__ADS_1
"Aku benar-benar ingin memakan daging panggang seperti ini lagi," ujar Ruby.
"Tunggu. Aku akan segera kembali," Edsen tiba-tiba pergi meninggalkan Ruby,Felix,nenek,dan kakek begitu saja.
"Daging yang kami gunakan adalah daging burung ortolan," kakek memberitahu Ruby.
"Burung apa itu? Terdengar asing," Ruby menjawab sementara Felix hanya diam mengamati Edsen.
"Burung ortolan adalah burung asal Perancis yang langka," kakek memberikan penjelasan.
"Langka? Apakah hewan langka boleh dimasak seperti ini?" Ruby tidak menyangka bahwa apa yang ia makan terbuat dari hewan yang langka.
"Burung ortolan memiliki suara kicauan yang merdu dan termasuk burung malam. Sebelum dimasak,burung ini dikurung dalam ruangan tanpa cahaya lebih dulu sehingga burung ortolan tidak dapat membedakan siang dan malam alhasil jam makan burung ini akan kacau. Burung ortolan akan makan terus-menerus hingga mengalami obesitas. Dan itu adalah tujuan dari penempatan burung ini di tempat gelap," terang kakek.
"Lalu apa yang selanjutnya harus dilakukan?" Ruby penasaran.
"Burung akan ditenggelamkan dalam minuman keras hingga mati,lalu dipanggang," kini giliran nenek yang menjawab.
"Kami masih mempunyai bahan lain yang bisa kami hidangkan untuk kalian. Akan kami bawakan," nenek dan kakek meninggalkan Ruby dan Felix.
Ruby memanfaatkan kesempatan itu untuk bertanya pada Felix tentang apa maksud isyarat yang ia berikan pada Ruby.
"Sayang,kau kenapa?" tanya Ruby.
"Aku kira daging yang mereka gunakan adalah daging manusia," jawab Felix dengan asal.
__ADS_1
"Astaga yang benar saja," Ruby memutar matanya setelah mendengar jawaban Felix.