
"Apa sayang?" Ruby yang baru saja terlelap kini bangun kembali.
"Aku punya ide," bisik Felix.
"Ide apa? Memangnya ada apa?" Ruby kini berganti posisi yang awalnya tidur dengan posisi terlentang berubah menjadi duduk bersila.
"Aku tau tempat naik keatas," jawab Felix.
"Ruang udara?" Ruby langsung kehilangan rasa kantuknya.
Felix menganggukan kepala. Malam itu mereka memutuskan untuk melakukan hal yang sedikit beresiko.
"Kau mengajak Poppy keluar dan aku akan menyelinap kedalam kamarnya," Felix mengemukakan rencananya.
"Aku punya ide yang lebih cemerlang. Dua pekerjaan sekaligus akan selesai jika menggunakan rencanaku ini," Ruby ternyata memiliki rencana lain.
"Apa rencanamu?" tanya Felix penasaran.
"Kau pura-pura menggoda Poppy,dia otomatis akan mengajakmu ke kamarnya. Sementara aku mencari tau kemana orang-orang pergi," usulnya.
"Kau sudah kehilangan akal sehatmu? Aku tidak mau," Felix menolak usulan Ruby. Sebenarnya ia tidak takut dengan resiko yang akan dihadapinya kalau rencana mereka ketahuan,namun Felix takut hal itu akan memicu pertengkaran diantara mereka.
"Kenapa kau tidak setuju?" tanya Ruby.
"Jika kau pergi mencari tau kemana orang-orang pergi sendirian,itu terlalu beresiko. Aku tidak mau terjadi sesuatu pada dirimu," Felix mengungkapkan alasan keduanya tidak setuju.
"Ada hal lain?" Ruby mengetahui Felix menyembunyikan sesuatu namun ia tidak mau terlalu percaya diri mengungkapkan apa yang ada dalam pikirannya.
"Aku takut kau pergi," Felix menjawab sambil memainkan jari tangannya.
Beberapa lama berdebat,mereka tidak kunjung menemukan kesepakatan.
"Aku yang mengusulkan rencana ini,bagaimana mungkin aku marah?" Ruby membujuk Felix.
"Pokoknya gunakan rencanaku!" Felix tetap menolak.
"Jika kita menggunakan rencanamu,Poppy pasti akan curiga. Beberapa hari lalu kita terlibat masalah dengannya,terutama aku. Dia pasti tau aku sangat kesal padanya. Sekarang tiba-tiba aku mengajaknya pergi apa dia tidak akan curiga?" Ruby mengutarakan apa yang menyebabkan dirinya tidak menyetujui rencana Felix.
"Anggap saja kau mau meminta maaf," Felix tidak berani berbicara sambil menatap Ruby.
"Apa? Memang apa salahku sehingga aku harus meminta maaf?" nada suara Ruby meninggi. Felix yang mendengar itu terlihat cukup panik.
"Sayang,bukan begitu," Felix kebingungan melanjutkan kata-katanya.
"Ya sudah aku tidak memaksakan," Ruby pergi keluar kamar.
__ADS_1
Felix terdiam beberapa saat dan merenungkan saran Ruby. Dibandingkan sarannya,saran Ruby lebih masuk akal karena Poppy lebih tertarik mengobrol dengan lelaki.
Ia berlari keluar menyusul Ruby yang sudah ada di depan kamar Poppy.
"Baik,aku terlambat," gumam Felix dalam hati.
Poppy dan Ruby terlihat keluar berdua. Felix memperhatikan mereka dari kejauhan,setelah dirasa cukup aman Felix mengendap-endap masuk ke kamar Poppy. Ia mencari-cari sesuatu,yaitu sebuah tangga.
Beberapa hari yang lalu ketika Felix masuk ke kamar Poppy,ia melihat tangga di pojok ruangan. Karena hal itu,Felix merasa yakin bahwa jalan masuk menuju ruang udara ada di kamar Poppy.
Sementara itu,Poppy dan Ruby kini ada di depan motel. Mereka duduk di sebuah kursi taman yang ada disana.
"Apa yang ingin kau bicarakan?" tanya Poppy.
"Apa yang kau inginkan?" Ruby balik bertanya.
"Maksudmu? Aku tidak paham," Poppy mengerenyitkan dahinya.
"Apa yang kau inginkan dari kekasihku?" Ruby memperjelas pertanyaannya. Kini sudah jelas bahwa Ruby ingin menyelesaikan permasalahan beberapa hari yang lalu.
"Tidak ada yang aku inginkan," Poppy membela diri.
Felix gagal menemukan keberadaan tangga itu. Sebuah tangga dari besi yang biasa digunakan untuk proyek,seperti itulah gambaran tangga yang dilihat oleh Felix. Disana juga tidak ada sesuatu yang aneh,kecuali sebuah pakaian tidur dalam bentuk rok berwarna pink.
"Ini milik Ruby. Aku yang membelikannya. Kenapa ada disini?" Felix terkejut melihat benda itu,apalagi baju tidur itu tidak berada di tempatnya.
"Boneka voodo?! Untuk apa.."
Suara langkah kaki mendekat menuju kamar Poppy. Felix mengira Poppy telah kembali,namun Ruby belum mengirim pesan padanya. Felix segera menaruh boneka itu kembali ke bawah kasur,sementara baju tidur yang ia temukan ia sembunyikan di dalam jaketnya. Felix bersembunyi di bawah tempat tidur.
Seseorang membuka pintu,Felix mengintip dari bawah kasur,ternyata pria yang ia dan Ruby temui datang dan memanggil-manggil Poppy. Melihat kamar itu kosong,pria itu pergi.
Felix segera keluar dari kamar itu dan masuk kedalam kamarnya.
Di luar motel,Ruby dan Poppy terlibat perbincangan serius. Rubby tidak terima karena Poppy menggoda kekasihnya.
"Lalu kenapa kau menggoda Felix?" tanya Ruby dengan tegas.
"Aku minta maaf untuk itu. Aku tidak akan mengulanginya. Aku memang bersalah," Poppy mengakui kesalahannya.
"Apa kau memang suka menggoda setiap pria yang menginap disini padahal kau tau bahwa pria itu sudah memiliki pasangan?" Ruby mulai berbicara dengan frontal.
"Dari awal aku menaruh hati pada kekasihmu. Aku mengakuinya. Maaf telah mengganggu hubungan kalian tapi aku tidak akan mengganggu lagi," ujar Poppy.
"Tapi tidak benar bahwa aku menggoda setiap pria yang menginap disini," Poppy memberikan pembelaan atas tuduhan yang dilontarkan Ruby.
__ADS_1
"Lalu kenapa kau menggoda pria yang baru saja menginap disini? Pria yang datang bersamaku saat aku berusaha pergi dari sini?" Ruby merasa menang karena ia mengetahui hal itu.
Poppy yang terkejut tampak gugup saat berbicara. Ia tidak tau apa yang harus ia katakan. Poppy menangis saat itu juga.
Seseorang mendekat,pria itu. Ternyata Felix ada di belakangnya,mereka berdua mendekati Poppy dan Ruby.
"Ada apa ini?" tanya Felix.
"Tidak. Hanya sedikit kesalah pahaman," jawab Poppy
"Kenapa kau menangis?" Felix terus mencerca Poppy dengan pertanyaan-pertanyaannya.
"Aku yang salah jadi tidak apa," Poppy menjawab sambil menyeka air matanya.
Ruby terlihat tidak suka dengan apa yang dilakukan oleh Felix.
"Apa yang kau lakukan padanya,Ruby?" tanya Felix pada kekasihnya.
"Aku tidak melakukan apa-apa. Kenapa kau menuduhku?" Ruby marah karena Felix menuduhnya tiba-tiba.
"Kalau bukan ulahmu,bagaimana mungkin dia menangis?"
"Kenapa kau menyalahkanku? Kau menyukainya? Kau bahkan tidak canggung bertemu dengannya setelah kalian aku pergoki sekamar berdua? Kau juga menyukainya sehingga kau membelanya?" Ruby pergi meninggalkan mereka bertiga.
"Apa maksudnya?" Felix kebingungan.
"Aku awalnya menyukaimu," Poppy pergi bersama dengan pria itu. Kini tersisa Felix sendiri di luar motel dan dia menyadari bahwa ia kembali membuat kesalahan pada Ruby. Ia yakin perbuatannya ini akan menimbulkan masalah baru dalam hubungannya dengan Ruby.
Ruby menangis sesegukan. Ia tidak tau kenapa tiba-tiba Felix marah dan menuduhnya.
"Sayang," Felix menghampiri Ruby.
Ruby tidak menjawab panggilan Felix.
"Aku hanya terkejut melihat dia menangis. Aku kira sesuatu terjadi," Felix menjelaskan.
"Sesuatu apa? Kalian saling menyukai,kau tidak usah bersamaku lagi," kata Ruby.
"Maafkan aku. Tidak seharusnya aku menuduhmu. Aku mengerti kau marah padanya,dan dia mengaku menyukaiku. Aku tau itu membuatmu terluka apalagi sejak kejadian itu," Felix tidak tau harus berkata apa.
Ruby mengambil ponselnya dan menghubungi seseorang. Entah apa yang mereka bicarakan,Felix tidak tau karena Ruby pergi ke luar kamar.
Felix menyusul Ruby yang berjalan menuju jalan raya. Ia takut Ruby pergi tanpa dirinya.
Ternyata Ruby pergi ke area pohon tumbang yang tidak terlihat adanya upaya untuk menyingkirkannya.
__ADS_1
"Sedang apa?" Felix mengikuti Ruby.
Melihat Felix datang,Ruby menjauh dan kembali ke motel. Walaupun Felix tidak tau apa yang Ruby lakukan,ia terus mengikuti kekasihnya.