
"Cepat ceritakan," Felix terus mendesak Ruby.
"Aku bingung harus bercerita dari mana," jawabnya.
"Awal kau bertemu dia tadi," ujar Thomas.
"Saat aku menunggu kalian,aku mendengar suara sesuatu di atas sana dan aku yakin disana memang benar jalan masuk menuju atas," Ruby mulai bercerita.
"Kemudian aku melihat kaki manusia,dan ternyata wanita tadi. Aku menanyai wanita itu beberapa pertanyaan dan akhirnya kami mengobrol satu sama lain," tambahnya.
"Berarti yang mengintip kita?" Felix menatap Ruby.
"Wanita itu dikurung diatas sana. Disana ada ruangan,dan yang mengintip kita bukan dia melainkan Ann" Ruby menjawab.
"Kemungkinan kemarin saat Thomas melihat Ann membawa tangga kesana,ia sedang mengecek kondisi Anne. Ann mengira Anne tidak bisa melakukan apapun dengan benar padahal diam-diam Anne bisa kabur dari sana dan naik dari tempat lain," terang Ruby.
"Dimana? Aku ingin melihat tempat itu," Thomas penasaran.
"Di kamar Poppy. Sebenarnya Poppy sering membantu Anne keluar dari tempat itu diam-diam dengan syarat tidak boleh lebih dari satu jam," imbuhnya.
"Kenapa dia dikurung?" tanya Felix.
"Karena dia berusaha mengatakan pada banyak orang mengenai ritual yang akan dan yang sudah pernah dilakukan disini," jawab Ruby.
"Kenapa harus kita?" Felix kembali bertanya.
"Eh,itu. Aku harus bagaimana mengatakannya ya," Ruby ragu untuk melanjutkan bercerita.
"Katakan saja Ruby," kata Thomas. Ia menyadari Ruby menjadi sungkan mengatakan alasan sebenarnya kenapa Ruby dan Felix yang ditargetkan dalam ritual itu karena kehadiran dirinya.
"Karena dia melihat kita saat melakukan itu hahahaha," Ruby tertawa terbahak-bahak.
Felix dan Thomas saling bertatapan. Felix terlihat sedikit malu karena Ruby mengatakan hal itu di depan Thomas.
"Tidak masalah,santai saja," kata Thomas.
"Kenapa dia mengintip? Astaga," gerutu Felix.
"Karena mereka memang menargetkan sepasang kekasih yang sudah pernah melakukan itu dengan dalih membakar dosa maka orang seperti kita yang di korbankan," terang Ruby.
"Ah,aku paham sekarang," kata Felix.
Ruby menunjukan benda yang wanita itu berikan padanya,sebuah kunci.
"Dia memberiku ini," kata Ruby.
"Kunci apa?" tanya Thomas.
"Kunci kamar Poppy," jawab Ruby.
"Maksudmu,kita harus mengecek kesana?" tanya Felix.
"Apa kita lapor polisi saja?" usul Thomas.
"Tidak semudah itu. Pimpinan polisi disini bekerja sama dengan Ann. Mereka adalah orang yang cukup berkuasa," jawab Ruby.
"Hah? Bagaiman?" Felix tak paham.
__ADS_1
"Coba kau jelaskan tanpa ada yang terlewat," pinta Thomas.
"Dari informasi yang aku dapatkan,Ann ini merupakan kaki tangan.. Ya begitulah,berhubungan dengan pemerintahan,intinya kita tidak dapat mengandalkan polisi," kata Ruby.
"Kenapa kau tidak menjelaskan dengan detail?" Felix sangat penasaran sementara Thomas hanya diam seakan-akan mengetahui sesuatu.
"Intinya begitu. Sekarang yang harus kita lakukan adalah naik ke atas. Kita kumpulkan saja bukti-bukti penyekapan Anne," kata Ruby.
"Apa maksudmu?" tanya Thomas.
"Kini Anne tidak diperbolehkan keluar lagi bahkan Poppy tidak bisa membantu. Karena sudah mendekati ritual itu dan mereka takut Anne berbuat onar jadi ia menyekap Anne. Aku tidak tau bagaimana dia bisa meloloskan diri tadi,tapi dia meminta kita naik ke atas dan memfotonya sedang disekap," terang Ruby.
"Oh baik aku paham. Artinya kita bekerja sama dengan Anne?" tanya Thomas.
"Iya,betul sekali," jawab Ruby.
"Siapa yang akan naik?" tanya Felix.
"Kalian berdua,aku yang berjaga," jawab Ruby.
Ruby menyerahkan kunci kamar Poppy pada Felix. Mereka berdua pergi ke kamar Poppy setelah membagi tugas antara siapa yang naik ke atas dan siapa yang berjaga di bawah. Sementara Ruby melakukan hal lain.
Thomas berjaga di depan kamar Poppy. Entah kemana orang-orang pergi saat itu,bahkan Poppy tidak ada di tempat biasa ia diam bersantai. Thomas menjadi was-was karena takut semua ini telah direncanakan dan mereka masuk ke perangkap yang telah dibuat. Namun,dengan segera Thomas menghilangkan pikiran negatif yang muncul dalam benaknya.
***
Ruby berjalan dengan hati-hati agar tidak ada yang mengetahui keberadaannya disana. Walaupun sesekali ia mengeluh karena kakinya digigit semut merah,ia tetap berusaha meminimalisir suara.
Benar yang wanita itu katakan,motel tempatnya menginap saat ini telah diberi penjagaan ketat. Beberapa orang pria dengan pakaian sedikit aneh berjaga-jaga di sekitaran pohon yang tumbang. Mungkin pohon itu merupakan batas atau tanda khusus yang entah apa maksudnya,maka pohon itu tidak kunjung dipindahkan.
"Sial,aku terlambat bertindak. Seandainya saja aku tidak malas berjalan kaki agak jauh pasti aku tidak akan terjebak di tempat ini. Sekarang aku harus bagaimana,tempat ini sudah dijaga dengan ketat," Ruby terus berbicara dengan dirinya sendiri.
Ia berjalan menyusuri sungai yang ada di dekat sana. Bersembunyi dari pohon satu ke pohon lainnya. Thomas dan Felix tidak mengetahui bahwa ia diam-diam pergi meninggalkan motel itu. Jika ia mengatakan hal itu pada mereka,Ruby yakin mereka tidak akan mengizinkan Ruby pergi sendirian.
Krekk..
Ruby menginjak ranting pohon.
"Sialan!" gerutunya.
Ia bergegas menjauh dari tempatnya berdiri saat ini dan menyadari bahwa para penjaga berjalan menuju ke arahnya.
"Baik,hanya ini yang bisa aku lakukan untuk menyelamatkan diri," Ruby berjalan semakin dekat ke pinggir sungai dan menenggelamkan diri dengan perlahan.
***
"Sayang," Felix berjalan menuju kamar dengan hati yang bahagia.
"Kami berhasil!" seru Thomas yang juga dengan ekspresi bahagia.
Felix membuka pintu kamar yang tidak terkunci dan mendapati Ruby tidak ada di kamar. Bahkan ponsel serta dompetnya pun masih ada di kamar.
"Ruby,kau mandi ya?" Thomas berjalan menuju kamar mandi. Ia mengetuk pintu kamar mandi namun tidak ada jawaban. Dan setelah ia buka,Ruby memang tidak ada disana.
"Sayang," Felix terus mencari-cari kekasihnya.
Karena merasa Ruby tidak ada di ruangan itu,mereka memutuskan untuk mencari Ruby ke tempat lain.
__ADS_1
"Hai," sapa Poppy yang baru saja masuk kedalam motel.
Felix dan Thomas dengan cepat merubah ekspresi menjadi riang gembira.
"Oh,hai Poppy," jawab Thomas.
"Kalian mau pergi kemana?" tanya nya.
"Mencari udara segar. Kami ingin mengobrol satu sama lain," jawab Felix.
Mereka berdua kemudian pergi ke halaman,duduk disana dan berbincang satu sama lain. Sebenarnya mereka ingin segera mencari Ruby,namun karena takut Poppy mengawasi mereka,Thomas dan Felix saling memberi kode untuk duduk sebentar.
"Apa yang membuatmu memutuskan menginap disini?" Felix menanyakan apa yang selama ini mengganjal dalam hatinya.
"Karena Ruby meminta tolong padaku,tentang pohon itu," jawab Thomas.
"Dan itu tidak berhasil kan? Kenapa kau tetap tinggal?"
"Aku ingin menjaga Ruby," jawabnya.
"Maksudmu?" Felix tak paham.
"Memang kami sudah tidak ada hubungan apa-apa dan sudah memiliki pasangan baru,namun entah kenapa aku merasa dia membutuhkanku dan itu membuatku tidak nyaman dalam menjalani hari-hariku dan untungnya Ruby mengabari dan menceritakan tentang pohon itu. Dan aku menganggap memang benar Ruby membutuhkanku disini," terangnya.
"Aku bisa menjaga kekasihku," Felix sedikit jengkel.
"Tenang saja,saat itu aku tidak tau pasti siapa yang menjadi kekasih Ruby. Aku kira orang yang masih satu kota dengan kami tapi ternyata bukan," Thomas berusaha menenangkan.
"Kekasihku sangat tidak menyukai kekasihmu," celetuk Felix.
"Iya,memang mereka berbeda," jawabnya.
"Maksudmu?" Felix semakin penasaran.
"Ketika aku berpacaran dengan Ruby,dia memperlakukan diriku dengan sangat baik. Dia tidak egois,tidak pernah marah jika aku melakukan kesalahan kecil,dia sangat dewasa dan pengertian sedangkan kekasihku sekarang,aku yang lebih banyak mengalah. Kini aku merasakan apa yang Ruby rasakan," Thomas mulai bercerita.
"Ya,begitulah dia. Orang yang baik harus mendapat yang sepadan bukan," goda Felix.
"Memang benar. Itu membuatku sedikit menyesal meninggalkannya hahaha apalagi kemampuannya di.. Ya,kau mengerti maksudku," Thomas berniat memanas-manasi Felix namun Felix tidak terpancing.
"Memang. Dia sangat pandai bermain-main," jawab Felix santai.
Melihat Felix yang santai membuat Thomas penasaran dan semakin ingin memancing Felix.
"Jaga dia dengan baik,kalau tidak aku bisa merebutnya kembali," Thomas kembali berceletuk.
"Rebut saja,dia tidak semudah itu berpindah ke lain hati. Apalagi aku memperlakukannya seperti seorang ratu dan sebaliknya. Aku tau dia wanita yang setia. Setelah ini aku juga akan menikahinya," Felix tersenyum memandangi foto Ruby di wallpaper ponselnya.
Kini Thomas menyerah memancing Felix dan memilih diam,dia memang benar menyesal telah meninggalkan Ruby.
"Apa sudah aman? Kita harus mencari Ruby," kata Thomas.
Mereka melihat ke sekitar namun terasa sepi. Mereka juga tidak merasakan ada seseorang yang sedang mengawasi.
"Kita pergi sekarang," ajak Felix.
Mereka berdua pergi mendekati pohon dengan penjagaan yang ketat.
__ADS_1