Journeys End

Journeys End
Jejak dari Hotel Marriott


__ADS_3

"Kau aneh. Mana ada seperti itu," respon Ruby setelah mendengar jawaban dari Felix yang membuatnya penasaran sedari tadi.


"Sebenarnya saat di hotel,kita tertidur. Aku sempat bermimpi bahwa Edsen menyukaimu bahkan sejak pertama bertemu dengan mu di tempat dekat pemakaman itu," Felix menjawab.


"Tapi itu hanya mimpi," Ruby menjawab.


"Mimpi yang konyol," Thomas ikut menanggapi.


"Kau tidak ingat saat aku bermimpi di motel itu tentang kau yang pergi ke rumah wanita itu untuk memberitahu mereka agar segera memindahkan pohon? Dan besoknya langsung terjadi hal yang aku impikan meskipun secara persis tidak sama detailnya," Felix protes ketika mimpinya dikatai konyol oleh Thomas,tapi ia tetap menjelaskan pada Ruby.


"Jadi maksudmu kau bisa melihat masa depan melalui mimpimu?" Ruby menanggapi Felix meskipun hal itu tidak masuk akan bagi Ruby.


"Tidak semua mimpi,hanya mimpi-mimpi tertentu," Felix sampai saat ini masih yakin bahwa ia bisa melihat sesuatu melalui mimpinya.


"Lalu apa yang membedakan mimpi yang kau anggap adalah masa depan yang akan terjadi dengan mimpi biasa?" Ruby berusaha memikirkan pertanyaan-pertanyaan lain agar Felix tidak ngambek karena perkataan Thomas tadi. Akhir-akhir ini Felix sedikit lebih sensitif.


"Kalau mimpi biasa,perasaan yang aku rasakan berbeda. Dan jika mimpi yang seperti kemarin,ketika aku terbangun aku merasa sangat lelah seakan-akan habis berlari dengan jarak yang jauh dan untuk waktu yang lama," Felix menjelaskan perbedaan antara mimpi biasa dengan mimpi yang menurutnya adalah hal yang bisa saja terjadi di masa depan.


"Tapi aku percaya memang ada beberapa mimpi yang merupakan petunjuk akan terjadinya sesuatu," Ruby berkata sambil mengangguk-anggukan kepalanya.

__ADS_1


"Kau berkata seperti itu tidak untuk menyenangkan perasaannya saja kan?" Thomas mulai memancing Felix lagi.


Felix hanya diam dan menatap Thomas dari belakang.


"Tentu saja tidak. Dari dulu aku memang percaya bahwa ada mimpi biasa dan mimpi yang merupakan sign dari universe," Ruby menjawab.


Mendengar jawaban Ruby,Felix merasa memang dan tidak memasang wajah cemberut lagi.


**


Mereka sampai di sebuah rumah yang terlihat seperti rumah biasa pada umumnya. Memiliki pagar berwarna putih dengan tumbuhan yang tidak terawat,sepertinya rumah itu lama tidak ditempati.


Ia kemudian berjalan memasuki halaman rumah hingga akhirnya menginjakkan kaki di teras rumah itu.


Thomas kembali membuka pintu,kali ini pintu rumah. Dan dengan sangat mudah,pintu itu terbuka.


"Baik,silahkan pengantin baru," Thomas mempersilahkan Ruby dan Felix masuk lebih dulu namun keduanya menolak.


"Bukankah kau yang lebih mengetahui tentang tempat ini? Kau saja yang masuk lebih dulu," Fix menahan Ruby.

__ADS_1


"Baiklah aku akan masuk," Thomas kemudian masuk kedalam rumah disusul oleh Ruby dan Felix.


"Semuanya sudah bersih. Seperti baru habis dibersihkan," komentar Ruby setelah melihat kedalam rumah itu.


"Sepertinya sudah disiapkan karena kita akan menempati rumah ini ," jawab Thomas.


"Aku tidur denganmu. Takut gelap," kata Ruby pada Felix.


"Tentu saja kau harus tidur denganku," jawab Felix.


"Hey apa maksud kalian? Disini hanya ada satu kamar jadi kita tidur bertiga," Thomas menyahut dari dalam sebuah ruangan yang sepertinya adalah kamar satu-satunya di rumah itu.


Ruby dan Felix menyusul kesana dan mendapati sebuah tempat tidur besar.


"Setidaknya tempat tidur ini cukup besar," Ruby merasa lega karena tidak harus tidur berdesak-desakan.


"Tapi tetap berbahaya," komentar Felix sambil melihat Thomas.


Thomas hanya tersenyum sinis karena mengetahui apa yang ada di dalam otak Felix.

__ADS_1


__ADS_2