
Mereka semua menunggu kedatangan Bi Ellen, untuk memastikan kapan mereka bisa kembali.
"Aku pikir semua ini akan segera berakhir. Kau sudah cek Instagram?" tanya Felix pada Ruby.
"Hm.. Instagram? Belum," jawab Ruby.
"Sudah ramai berita penangkapan itu. Kita tinggal menunggu Bi Ellen," Felix menjelaskan.
"Aku sangat ingn segera pulang," kata Ruby.
"Akupun begitu. Tapi kita sudah terlalu jauh terlibat. Kalau kita menyerah sekarang, kia tidak bisa membuktikan apa yang kita katakan adalah benar. Kau tidak mau kan di cap pembohong oleh publik seumur hidup? Apalagi nama kita sudah viral dimana-mana," Thomas menjelaskan panjang lebar.
"Aku pasti bia melewati semua ini," Ruby menyemangati dirinya sendiri.
"Tentu. Kita semua pasti bisa," Kylie menimpali.
"Itu dia yang kita tunggu," Edsen terbangun dari kursinya ketika melihat Bi Ellen datang.
"Bi Ellen!" seru Ruby.
"Kau kemana saja bi?" tanya Edsen.
"Sudah beres. Polisi sudah menangkap beberapa anggota sekte, termasuk polisi itu," Ellen datang membawa kabar gembira.
"Benarkah? Ah aku sangat senang," Ruby merasa lega karena semua ini hampir berakhir.
"Lalu apa yang selanjutnya harus kita lakukan?" tanya Felix.
Sama seperti yang lain, ia ingin segera menyudahi apa yang telah mereka mulai. Terlebih lagi, ujian akhir semester sudah di depan mata. Mereka semua harus kembali ke kehidupan normal sebagai seorang mahasiswa.
"Kalau kalian mau, hari ini juga kalian bisa pulang," jawab bi Ellen.
"Hari ini? Artinya aku harus berjalan kaki lagi untuk mengambil mobil," Edsen mengeluh.
Masih tersisa rasa lelah yang dirasakan Edsen setibanyak di tempat itu dari tempat persembunyian mobil mereka.
"Kita tidak perlu takut lagi, kau bisa bawa motor untuk pergi ke parkiran," Ellen menenangkan.
"Motor? Darimana bibi mendapatkan mo.."
Belum selesai Edsen berbicara, Bi Ellen melemparkan kunci motor kearah Edsen. Dengan sigap Edsen menangkapnya.
"Besok saja kita pulang. Mari nikmati waktu santai di tempat mewah ini," ujar Thomas.
"Aku setuju," sahut Felix.
"Hm baiklah kalau begitu," Ruby menimpali.
"Omong-omong, dimana tiga wanita itu?" tanya Kylie.
__ADS_1
"Mereka sudah aman, berada di tempat yang seharusnya," jawab Thomas.
"Memangnya mereka dimana?" Ruby ternyata tidak mengetahui keberadaan mereka.
"Sudah diserahkan ke pihak berwajib," Thomas menjawab.
"Baiklah kalau begitu, aku akan menghabiskan waktu dengan princess ku," Felix menarik tangan Ruby menuju kamarnya.
"Huh dasar mesum," ledek Thomas.
***
Malam semakin larut, hujan semakin deras. Bi Ellen kembali menghilang tanpa pamit, namun tidak membuat mereka khawatir.
"Apa Bi Ellen tidak menitipkan pesan sebelum pergi?" tanya Ruby.
"Tidak. Tapi aku yakin dia akan baik-baik saja. Tenanglah," jawab Thomas.
Baru saja dibicarakan, Bi Ellen tiba-tiba datang dalam keadaan basah kuyup.
"Mobil sudah di depan. Kalian pergilah sekarang," kata Elen.
"Sekarang? Malam ini?" Kylie tak yakin.
"Bukankah kita sepakat akan pergi bersama besok bi?" tanya Felix.
"Ba.. Baik bi," Edsen segera mengajak mereka semua pergi.
Untungnya, mereka sudah berkemas karena sebelumnya berencana pulang besok pagi.
"Baru juga aku sampai," gerutu Edsen.
"Memang tadi kau kemana?" tanya Kylie.
"Kau pikir siapa yang tadi mengambil mobil itu hm?" Edsen malah balik bertanya.
"Oh, itu kau ya hehe," Kylie malah cengengesan.
"Aneh sekali bi Elen hari ini," Ruby merasa heran.
"Jangan-jangan ada sesuatu yang belum beres," Thomas curiga.
"Aku tak yakin meninggalkan bi Ellen sendiri disini, takut terjadi sesuatu," Ruby khawatir.
"Sayang, bukankah kau sudah sangat ingin pulang kemarin? Ayo pulang saja," Felix mendesak Ruby agar mau pulang.
"Apa aman malan-malam begini, ditambah badai," Ruby semakin ragu setelah meliha kondisi di sekitar.
"Aman karena aku yang menyetir," Edsen menjawab dengan percaya diri.
__ADS_1
"Baiklah ayo," Kylie berlari kearah mobil dari gudang tempat mereka masuk ke rumah mewah itu. Yang lain ikut menyusul satu per satu.
Edsen menyalakan mobilnya dan mereka perlahan mulai pergi meninggalkan area yang sangat sepi itu menuju kota yang jaraknya aga jauh.
Semua orang yang berada di dalam mobil tegang karena medan ekstrim yang harus mereka lewati, ditambah dengan cuaca yang tidak bersahabat membuat suasana terasa mencekam. Apalagi mereka tidak tau apa yang membuat bi Ellen meminta mereka segera pergi, tidak mungkin begitu jika tidak ada masalah. Mereka menjadi lebih waspada.
"Blukk," sesuatu jatuh tepat di kaca mobil mereka.
Edsen seketika mengerem mendadak.
"Apa itu?" Kylie yang duduk di depan bersama Edsen terbangun dan mengintip apakah benda yang menimpa mobil mereka.
"Jalan saja. Bahaya kalau keluar," saran Ruby.
"Benar kata Ruby. Jangan-jangan itu jebakan agar kita keluar mobil. Jangan tertipu," Thomas menimpali.
"Kalau kita menabrak orang bagaimana?" Kylie khawatir.
"Astaga Kylie. Itu jelas-jelas jatuh dari atas bukan kita yang menabrak. Jalan saja," Thomas kesal.
Tanpa pikir panjang Edsen tancap gas meninggalkan area itu. Mereka memang belum menemui jalan yang terjal namun karena hujan jalan yang mereka lalui menjadi berlumpur dan licin. Agak sulit bagi Edsen melewati jalan yang licin dengan mobil tua itu.
"Hey ada orang di belakang!" Ruby berseru ketika melihat seseorang dengan mantel berdiri mengamati mereka ditenga hujan deras, sambil membawa lampu minyak persis di tempat mereka berhenti tadi.
Edsen semakin tancap gas karena ketakutan.
"Sayang,coba hubungi bi Ellen," kata Felix.
"Ruby mengambil ponselnya kemudian menelepon bi Ellen.
"Halo," bi Ellen menjawab.
"Bi, kami sedang dalam perjalanan pulang. Apa kau baik-baik saja?" tanya Ruby.
"Tenanglah nak, aku baik-baik saja," Ellen menjawab dengan tenang dan santai.
"Tadi kami melihat seseorang. Dia mengamati kami," Ruby memberitahu apa yang baru saja terjadi.
"Apapun yang terjadi jangan berhenti. Jangan turun dari mobil sebelum sampai di kota. Aku ada urusan," bi Ellen memutus sambungan teleponnya.
"Apa-apaan," ujar Thomas.
"Aku merasa bi Ellen menyembunyikan sesuatum," Kylie curiga.
"Memang," jawab Edsen sambil tersenyum.
Ruby dan Felix bertatapan, Thomas mengerenyitkan dahi dan Kylie diam terpaku setelah melirik Edsen.
"A.. Apa yang kau lakukan?" Kylie berbicara dengan gugup.
__ADS_1