
Edsen menyetir dengan serius. Sejak kemunculan pria tadi, suasana di mobil menjadi hening. Ruby dan Felix tertidur sementara Thomas fokus dengan ponselnya, memantau berita tentang sekte itu.
"Aku khawatir dengan bi Ellen," kata Kylie yang sedari tadi hanya terdiam.
"Jangan khawatir,dia akan baik-baik saja," sahut Edsen.
"Aku penasaran siapa pria tadi? Jika dia berkeliaran di sekitar situ, seharusnya dia mengetahui keberadaan kita saat menginap," kata Thomas.
"Mungkin pria itu pemilik bengkel," Edsen berusaha menenangkan.
"Kalau memang benar katamu, kenapa kau tadi panik saat pria itu muncul?" Thomas berusaha memojokkan Edsen.
"Ya siapa yang tidak terkejut tiba-tiba ada sosok asing yang muncul di tengah derasnya hujan," Edsen protes.
"Thomas, kau aa-apaan sih?" Kylie membela Edsen.
"Kalian pacaran ya?" Thomas mengalihkan pembicaraan.
"Siapa yang pacaran sih!" kini Kylie yang protes setelah mendengar pernyataan Thomas.
"Ciee.." Thomas terus menggoda Kylie dan Edsen.
Edsen hanya tersenyum melihat kelakuan Thomas, sementara Kylie terus menerus mengomel.
"Sebentar lagi kita akan sampai di kota," ujar Edsen.
Sebelumna, mereka melewati jalan tanah berlumpur akibat hujan deras, namun kini perlahan jalan yang mereka lewati mulai bagus. Mulai terlihat remang-remang cahaya lampu jalan yang menandakan sebentar lagi mereka akan segera sampai di kota.
Hujan masih turun namun hanya sebatas gerimis. Kucing liar menyeberang sembarangan, mengejar seekor tikus yang badannya basah kuyup.
"Hey kalian, bangunlah. Kita hampir tiba di kota," Thomas membangunkan Ruby dan Felix.
"Ah, iya kah?" Felix terbangun sambil mengucek-ngucek matanya.
"Jangan bangunkan dia. Nanti saja setelah sampai," Felix melarang Thomas membangunkan Ruby.
"Kalau begitu kau sudah baca artikel terbaru yang dipublikasikan teman kita? Nih baca," Thomas menyodorkan ponselnya kepada Felix.
Felix membaca artikel itu sambil tersenyum bangga.
"Kita berhasil membuktikan bahwa kita tidak mengada-ngada," komentar Felix setelah membaca artikel itu.
"Yap, berkat kerja sama kita semua," respon Thomas.
"Tapi aku merasa ada yang kurang, entah apa," Felix mengungkapkan kegundahannya.
"Hanya perasaanmu saja mungkin. Aku sudah mengecek semuanya dan semua sudah beres," Thomas menenagkan.
"Tu.. Tunggu. Edsen, kemana kau akan membawa kami?" tanya Thomas.
"Ke tempat aman," jawabnya singkat.
"Kita tidak langsung pulang? Astaga," Kylie mengeluh.
"Kalau kau ingin mati pulanglah sendiri," Edsen merespon keluhan Kyie.
Thomas dan Felix saling berpandangan melihat respon Edsen, sementara Kylie diam terpaku.
"Kau kenapa Ed?" tanya Kylie karena ia merasa ada yang aneh dengan respon Edsen.
"Kau lelah? Mau gantian menyetir? Thomas menawarkan bantuan.
"Tidak. Lagi pula kau tidak tau tempat yang akan kita datangi," jawab Edsen.
Thomas menerima notifikasi dari bi Ellen.
"Pura-puralah tidak menerima pesan dan bersikap biasa saat membaca pesan ini," tulis pesan yang dikirimkan bi Ellen.
Felix yang juga melihat isi pesan itu langsung mengalihkan perhatian dengan obrolan-obrolan santai.
"Setelah ini kita harus sering bertemu," Felix memulai pembicaraan.
"Ya, tentu saja. Setelah semua yang kita lewati," Edsen menjawab.
"Bagaimana kalau kita liburan?" usul Kylie.
"Boleh saja. Tapi aku harus menyesuaikan dengan kesibukanku," Edsen menjawab.
"Baiklah nanti kita tinggal berkirim kabar saja untuk mengatur waktu dan tempat," Kylie bersemangat.
__ADS_1
Thomas menunjukkan raut wajah tegang saat membaca pesan.
"Kau kenapa Thomas?" tanya Edsen.
"Aku membaca artikel tentang penemuan mayat wanita," jawab Thomas.
"Kasus pembunuhan ya?" Edsen kembali bertanya.
"Iya," Thomas menjawab singkat.
"Sepertinya setelah ini aku akan menikahi Ruby," tiba-tiba Felix nyeletuk.
"Ruby masih terlalu muda untuk menikah," respon Thomas seakan-akan tidak setuju.
"Kau juga harus menikah dengan Amber," goda Felix.
"Apaan sih," respon Thomas yang tidak senang mendengar bercandaan Felix.
"Kalau kalian menikah aku juga akan menikahi Kylie," celetuk Edsen.
"A.. Apa?" Kylie tersipu malu.
"Tuh kan benar apa dugaanku. Kalian pacaran kan? Aku sudah curiga saat kalian hilang bersama," Thomas merespon celetukan Edsen.
Alh-alih khawatir Kylie dan Edsen menghilang karena ulah sekte, sebenarnya beberapa hari lalu Thomas sudah curiga ada hubungan spesial antara Edsen dan Kylie.
"Belum resmi," Edsen menjawab.
"Kapan diresmikan?" Kylie memberikan kode.
"Kalau sekarang bagaimana?" jawaban Edsen membuat perut Kylie mulas karena grogi.
"Kau mau tidak jadi pacarku?" Edsen langsung menyatakan perasaan.
"Tentu saja mau!" Kylie langsung menjawab dengan semangat.
Thomas dan Felix kembali berpandang-pandangan melihat kelakuan mereka. Bukan karena senang ataupun lucu, namun khawatir.
"Ada apa kalian berdua, kenapa diam?" tanya Kylie.
"Kita mau kemana sih? Aku ingin buang air besar," Thomas menahan mulas.
"Hah,untuk apa?" Felix tak merasa ada masalah yang mengharuskan mereka datang ke kantor polisi.
"Aku tau kalian curiga padaku," Edsen memberikan jawaban.
Thomas dan Felix kembali berpandangan.
"Aku akan antar kalian ke kantor polisi agar kalian merasa aman. Sisanya aku urus," Edsen memastikan.
"Lalu apa yang akan kita lakukan di kantor polisi? Apakah mereka mau menerima kita? Kan kita tidak memiliki apapun untuk dilaporkan," Felix bingung.
"Jika kita lewat ke rute rumah Ruby, mereka akan mencegat kita," kata Edsen menjawab kebingungan Felix.
Felix malah semakin bingung dengan perkataan Edsen.
"Siapa yang kau maksud mereka?" Felix semakin yakin feelingnya yang mengatakan ada yang tidak beres memang benar.
"Orang di balik ini semua. Bi Ellen," jawab Edsen.
"Kau bercanda ya?" Kylie shock.
"Ini bisa jadi hal terakhir yang bisa aku lakukan untuk kalian. Itu dia kantor polisi," Edsen masuk ke halaman parkir kantor polisi itu.
Mereka turun dari mobil dengan dipimpin oleh Edsen. Edsen masuk lebih dulu, dan teman-teman yang lain menunggu di luar. Setelah selesai berbincang, Edsen memanggil teman-temannya.
Felix, Thomas dan Ruby masuk kedalam kantor polisi sementara Kylie terdiam.
"Kylie," Ruby menarik tangan Kylie.
"Aku akan pergi sebentar. Ed berpamitan pada Kylie dan teman-temannya.
"Ikut," Kylie merengek.
"Berbahaya, sayang," untuk kali pertama Edsen memanggil Kylie dengan panggilan itu.
Kylie pasrah melihat Edsen pergi dengan seorang polisi.
Mereka dipersilahkan beristirahat oleh dua orang polisi yang ada disana.
__ADS_1
***
Pagi tiba, tidak terasa mereka berempat tertidur di kantor polisi itu.
Sebuah berita menunjukkan aksi penyerangan kepada seorang polisi dan warga sipil subuh tadi.
Kylie langsung teringat pada Edsen.
"Ed, dia belum kembali?" Kylie mencari kesana kemari.
Mereka berempat keluar dari kantor polisi dan melihat kerumunan. Sebua mobil polisi terlihat baru saja mengamankan penjahat.
"Itu.. Ed!" Kylie berlari menuju kearah Edsen.
"Pagi sayang," sapa Edsen.
"Romantis sekali," Ruby iri.
"Tiap hari juga kita seperti itu," Felux merespon Ruby.
"Tapi hari ini belum," Ruby protes.
"Baiklah, selamat pagi sayang," Felix mengecup kening Ruby.
"Itu Bi Ellen," Ruby melambaikan tangan kearah bi Ellen.
Namun ada yang aneh, tangan Bi Ellen terborgol.
Edsen menghampiri teman-temannya.
"Sebenarnya ada apa?" Ruby menuntut penjelasan.
"Dia dalang semua ini. Dia sudah mengatur semuanya, menentukan target siapa yang akan dijadikan korban dan kalian lah yang beruntung hahaha," tawa Edsen.
"A.. Apa?" Ruby tak percaya.
Ia shock mendengar fakta yang dikatakan Edsen.
"Bagaimana kau bisa tau?" tanya Felox.
"Dia pasti mengirimimu pesan kan untuk turun dari mobilku saat dekat dengan pertigaan area rumah Ruby? Disanalah dia akan melancarkan aksinya membawa kalian pergi. Aku hanya dimintai tolong dengan iming-iming uang, namun aku tidak bisa membahayakan keselamatan kalian," terang Edsen.
"Siapa yang mendapat pesan?" tanya Ruby.
"Aku," Thomas memberikan ponselnya pada Ruby.
Bi Ellen meminta mereka turun di pertigaan dan naik mobil yang sudah bi Ellen siapkan. Ia berkata bahwa Edsen berniat jahat.
"Apa? Dia bilang aku berniat jahat?" Edsen ta,pak kesal.
"Mungkin dia ingin mengadu domba kita," Kylie mengemukakan pendapatnya.
Semua tidak menyangka Bi Ellen dalang dibalik semua ini. Dia sudah mengatur semuanya sesuai rencana. Wartawan mulai datang berkerumun, melihat Ruby dan kawan-kawan yang tengah viral, mereka langsung mencerca Ruby dengan berbagai pertanyaan.
Ellen lah yang sebenarnya adalah pemimpin sekte itu.Ia rela mengorbankan siapapun bahkan teman dekatnya demi mencapai tujuan, yakni menumbalkan Ruby yang sudah ia incar dari awal kepindahannya ke rumah yang bersebelahan dengan rumah Ruby.
Ada hal khusus yang membuat Ruby ditargetkan, yakni tanda lahir di lengan kirinya. Ia percaya bahwa jika manusia dengan tanda lahir itu dikorbankan, maka sekte tidak perlu menumbalkan manusia dalam waktu 25 tahun.
***
Ujian akhir kenaikan semester sudah usai. Kini Ruby dan Felix kembali bertemu setelah sebelumnya Felix kembali ke kota asalnya untuk menyelesaikan pekerjaan dan kuliah.
"Lalu bagaimana tawaranku?" tanya Felix.
"Tahun depan ya," Ruby menerima lamaran Felix untuk menikahinya tahun depan.
Thomas bersama Amber yang kini telah berbaikan dengan Ruby ikut senang mendengar hal itu. Mereka tengah berada di rumah Ruby untuk merayakan kebebasan mereka.
"Kami datang membawa kabar gembira," Kylie tiba-tiba datang dengan bersemangat.
"Ada apa?" Ruby penasaran.
"Kylie hamil," Edsen menjawab.
Ruby dan Felix saling berpandangan. Ruby spontan langsung memeluk sahabatnya.
"Tunggu, kalian kan belum menikah," Ruby baru menyadari fakta penting itu.
"Ya.. Kami akan menikah bulan depan," Kylie menyerahkan undangan pernikahannya.
__ADS_1
***