Journeys End

Journeys End
thanks for helping me back there


__ADS_3

Edsen dan Ruby asik berbincang satu sama lain,sementara anggota lainnya sibuk memakan tumbuhan yang entah apa,mungkin sejenis sayuran.


"Kau sudah lama bergabung dengan mereka?" tanya Ruby yang penasaran kenapa remaja seperti Edsen bisa bergabung dengan sekte ini.


"Mereka kakek dan nenekku," jawab Edsen.


"Kau beruntung dibesarkan oleh kakek dan nenek yang baik," puji Ruby.


"Tapi aku tidak beruntung memiliki ibu yang jahat. Seandainya ayah masih hidup," wajah Edsen berubah menjadi sedih.


"Maafkan aku,Edsen. Aku benar-benar tidak bermaksud," Ruby merasa bersalah sekarang.


"Tidak apa. Ini bukan salahmu,Ruby," Edsen berusaha terlihat ceria kembali.


"Tapi tetap saja aku merasa bersalah," Ruby merasa sungkan.


"Kalau begitu sebagai tanda permintaan maaf mu bagaimana jika kau menemaniku jalan-jalan di sekitar sini?" tawar Edsen.


Tanpa ragu Ruby menyetujui ajakan Edsen untuk pergi bersama.


Edsen mengajak Ruby berjalan-jalan ke area dimana Ruby tersesat tadi. Kandang sapi yang tadi Ruby lihat ternyata milik kakek Edsen.


"Ini sapi peliharaan kami," Edsen menunjukkan kandang sapi itu. Mereka terus berjalan hingga menemukan bangunan mirip rumah tapi semuanya dari batu,termasuk atapnya.


"Duduklah disini sambil menunggu teman-temanmu," ujar Edsen.


"Baik. Terimakasih ya," jawab Ruby.


Untuk beberapa saat,Ruby dan Edsen saling bercerita satu sama lain. Ruby bercerita bagaimana awalnya hingga ia bisa berurusan dengan sekte itu. Selanjutnya,Edsen bercerita tentang keluarganya yang membuat Ruby sangat terkejut dan tidak percaya.


"Pergi!" teriak seseorang.


Edsen bergegas mencari sumber suara dan menyuruh Ruby untuk tetap tinggal. Sementara itu dari kejauhan terlihat seseorang membawa motor Ruby.


"Ini motormu. Taruh disini saja ya. Teman-temanmu sudah datang tapi kalian diamlah dulu disini sampai suasana kembali tenang," ujar pria itu kemudian ia pergi meninggalkan Ruby.


Dari kejauhan tampak Felix dan Thomas datang.


"Apa yang kau lakukan disini bodoh?" Thomas sangat kesal pada Ruby karena Ruby membahayakan nyawanya sendiri sementara Felix hanya diam dengan wajah marah.


"Sebenarnya aku harus menyelesaikan sebuah pekerjaan rahasia," Ruby membela diri.


"Apakah kau tidak bisa meminta pacarmu ini untuk menemani? Atau kau juga bisa menghubungiku," Thomas melawan.


"Sudah aku katakan ini rahasia jadi siapapun tidak boleh tau," Ruby ikut melawan.


"Ya setidaknya ada yang menemanimu," Thomas masih tidak mau kalah.

__ADS_1


"Jika aku meminta tolong untuk ditemani oleh salah satu dari kalian,pasti kalian akan menguntitku diam-diam dan mencari tau apa yang aku lakukan," Ruby mengatakan alasan ia memilih pergi seorang diri.


"Ngomong-ngomong,dimana anak-anak?" tanya Ruby pada Felix.


"Mereka di mobil," jawab Felix.


"Kalian mengajak mereka ke tempat yang berbahaya seperti ini?" Ruby tak habis pikir Thomas dan Felix mengajak Amy serta Andy untuk menjemputnya.


"Kami panik jadi kami ajak saja anak-anak ini," Felix membela diri.


Prang..


Suara sesuatu yang pecah terdengar sangat keras.


"Sepertinya mereka berkelahi," ujar Felix.


"Mana anak-anak? Ajak mereka kemari!" seru Ruby.


Felix bergegas menjemput anak-anak itu di mobil yang terparkir tidak jauh dari motor Ruby.


Andy terlihat membawa ransel yang biasa ia gunakan jika jalan-jalan sementara Amy membawa boneka dan sebuah tas belanja yang biasa Ruby gunakan untuk ke supermarket.


Hari mulai gelap. Edsen kembali dan menghampiri Ruby beserta teman-temannya.


"Ada apa Edsen?" tanya Ruby penasaran.


"Ruby,sebenarnya ada sedikit kekacauan. Jangan sampai mereka tau kalian ada disini. Jadi sepertinya kalian harus menginap di tempat ini. Aku sedang mencari bantuan," terang Edsen.


Ruby tidak ingin banyak tanya karena ia memahami situasi yang tengah Edsen hadapi.


"Baiklah. Di mobilku ada perlengkapan tidur jadi tenang saja. Hanya saja kami belum makan," Ruby dengan malu-malu mengatakan bahwa ia memerlukan makanan untuk makan malam.


"Nenek sedang mengambil makanan untuk kalian. Kami akan berjaga di depan,di jalan masuk menuju tempat ini," Edsen berusaha meyakinkan Ruby bahwa ia dan kawan-kawannya akan tetap aman disana.


"Terimakasih Edsen," kata Ruby. Edsen kemudian pergi meninggalkan Ruby sementara Felix mengambil selimut yang ada dalam mobil.


Sejak kejadian di motel,Ruby lebih siaga menghadapi segala situasi yang mungkin saja akan menimpa dirinya. Berbagai perlengkapan ia masukkan kedalam mobil seperti selimut dan kasur angin,alat perlindungan diri,beberapa pakaian dan masih banyak barang lagi.


"Untung saja kau selalu siap dalam segala situasi," Felix bersyukur dengan Ruby yang sudah siap sedia dengan perlengkapan tidur.


"Andy,apa yang kau bawa dalam ranselmu?" Ruby berusaha mengajak anak-anak berbicara agar mereka tidak ketakutan.


"Aku membawa mainan,snack dan pakaian dalam," jawab Andy dengan polos.


Felix yang mendengar hal itu segera mengecek isi ransel Andy dan benar saja Andy membawa pakaian dalam.


"Amy,kau bawa apa?" tanya Thomas.

__ADS_1


"Aku bawa roti dan susu," Amy memperlihatkan barang bawaannya.


Nenek datang membawakan makanan untuk mereka berlima. Ayam panggang dan selada menjadi makan malam mereka di tempat itu. Nenek hanya tersenyum kemudian pergi negitu saja.


"Aku kira cuaca akan sangat dingin tapi ternyata tidak terlalu dingin," ujar Thomas.


Jam di ponsel mereka menunjukkan pukul 7 malam,Ruby menyuruh semuanya untuk tidur.


"Bi Ellen mengirim pesan menyuruh kita tidur. Tapi darimana ia tau keadaan kita?" Ruby bertanya-tanya.


"Besok kita bahas,ayo tidur," ajak Felix.


Di bangunan yang seluruhnya terbuat dari batu mereka tidur beralaskan kasur angin dengan memakai selimut tebal. Tidak membutuhkan waktu lama,mereka semua terlelap.


***


Pagi yang lembab,matahari memaksa masuk dari celah jendela yang masih tertutup rapat. Ruby terbangun dari tidurnya,Felix dan Thomas masih tertidur dengan sangat lelap,begitu juga Amy dan Andy.


"Kenapa aku bisa ada di rumah?" Ruby bertanya-tanya kebingungan.


"Sayang,bangun," Ruby mengguncang-guncangkan tubuh Felix berharap Felix memberikan jawaban dari pertanyaannya.


"Hm apa?" Felix bangun dengan terpaksa. Thomas juga ikut terbangun.


"Kenapa kita semua ada di rumah?"


Ruby terbangun di kamarnya bersama dengan Felix,Thomas,Andy dan Amy.


Entah apa yang terjadi sehingga mereka bisa kembali ke rumah Ruby.


"Selamat pagi," Edsen membawakan susu untuk mereka semua.


"Ed.. Edsen? Tolong jelaskan semuanya," Ruby merasa sangat penasaran dengan apa yang terjadi.


"Aku yang membawa kalian kembali," Edsen memberikan jawaban singkat tanpa menjelaskan semuanya secara rinci.


"Karena disana situasi sangat berbahaya," Edsen menambahkan.


"Dimana kakek dan nenek?" tanya Ruby.


"Mereka baik-baik saja,Ruby. Terimakasih atas perhatianmu. Oh iya,aku akan pamit sekarang," Edsen berpamitan pada mereka semua.


"Siapa yang akan mengantarmu? Biar aku antar," Thomas menawarkan diri.


"Aku tidak mau merepotkan teman-teman baruku," Edsen merasa sungkan.


"Tidak apa. Kami akan mengantarmu. Aku juga ingin bertemu dengan nenek dan kakek," Ruby memaksa.

__ADS_1


Dengan terpaksa,Edsen menyetujui tawaran Thomas dan Ruby untuk menumpang kembali ke tempat dekat pemakaman yang indah itu.


__ADS_2