Journeys End

Journeys End
Moonlight


__ADS_3

"Apa kini kau sudah menyerah?" tanya Ruby pada Thomas.


"Menyerah tentang apa?" Thomas bertanya balik.


"Ah,lupakan saja," Ruby mengurungkan niatnya untuk bertanya.


"Aku paham. Kau ingin aku terus memperjuangkan cintaku padamu kan?"


"Sebaiknya jangan dilanjutkan," Ruby menjawab dengan gugup.


"Kau pikir setelah mendengar perkataan ku tadi,aku akan menyerah begitu saja? Tidak semudah itu," Thomas memberikan jawaban atas pertanyaan yang urung Ruby tanyakan.


"Kenapa kau tidak berhenti?"


"Masih sangat terbuka peluang untuk kita kembali bersama," Thomas menjawab.


"Jelas-jelas aku sudah memiliki Felix," Ruby tidak mengerti dengan peluang apa yang Thomas maksud.


"Kita lihat saja nanti. Ini urusan para lelaki," jawabnya.


Setelah mengobrol untuk beberapa saat,Thomas pamit pulang. Ruby yang mengalami pegal-pegal di sekujur tubuhnya memilih berbaring di sofa sambil bermain ponsel.


"Sudah selesai saling melepas kerinduannya?" tanya Felix pada Ruby.


"Apa sih?" Ruby tidak menjawab pertanyaan Felix.


"Bajingan itu tidak tau malu," umpat Felix.


"Kenapa kau tiba-tiba marah?" Ruby yang sedang merebahkan diri memilih untuk bangkit dari sofa nya.


"Jelas-jelas dia secara terbuka menantang ku. Dia ingin bersaing rupanya," ujar Felix.


"Kapan dia menantang mu?" Ruby menggaruk-garuk kepalanya bukan karena gatal melainkan karena tidak paham apa maksud Felix.


"Urusan lelaki," Felix tidak memberikan jawaban yang Ruby inginkan.


"Apanya yang urusan lelaki. Semuanya sama saja," gerutu Ruby.


**


Semakin banyak orang yang tertarik dengan artikel yang berhubungan dengan sekte misterius itu. Bahkan banyak berita-berita palsu yang dibuat oleh oknum tidak bertanggung jawab mengenai sekte itu.

__ADS_1


"Semakin banyak yang penasaran dengan sekte itu. Aku yakin sebentar lagi banyak yang akan berkunjung ke sana," ujar Felix.


"Kalau begitu mereka pasti sudah bersiap-siap agar tidak ketahuan begitu saja," jawab Ruby.


"Tempat persembunyian rahasianya juga sudah kita ketahui. Kita akan publikasikan disaat yang tepat."


Anton memberikan kabar bahwa ia dipanggil kembali ke motel itu untuk membicarakan artikel yang tengah beredar di masyarakat. Karena Anton masih berpura-pura menjadi bagian dari sekte itu,maka Anton mendapat tugas membuat artikel untuk menutupi kejahatan yang sekte itu lakukan.


"Sayang,aku ingin menceritakan sesuatu tentang Anton," kata Felix setelah Ruby menerima kabar dari Anton.


"Ada apa?" Ruby terlihat tidak berminat.


"Kau tau kan Anton dibantu oleh temannya yang entah siapa. Sebenarnya.." Felix mulai bercerita.


Anton dan temannya itu bekerja di Matrix News yang merupakan perusahaan kaki tangan sekte yang melibatkan Ruby di dalamnya.


Ketika Anton menolak membuat artikel bohong untuk menutupi kejahatan sekte itu,Anton mengundurkan diri dari perusahaan. Sementara itu tugas Anton untuk membuat artikel mengenai sekte dilimpahkan kepada teman misterius Anton. Disini Anton memanfaatkan kesempatan itu dengan cara berpura-pura menjadi temannya,intinya mereka bertukar identitas. Teman Anton menerbitkan artikel untuk membela Ruby sementara Anton yang mengambil pekerjaan berisiko dengan membuat artikel guna melindungi sekte itu. Dan artikel yang mereka buat juga harus sesuai dengan apa yang pimpinan sekte itu inginkan,alhasil Anton sering diundang ke motel itu untuk membicarakan tentang sekte. Kesimpulannya,Anton sendiri juga membuat artikel untuk menjatuhkan Ruby,namun tetap saja artikel yang ia buat tidak memuat informasi yang bisa membuat banyak orang yakin bahwa Ruby tidak bersalah. Ia menulis artikel yang terlihat kurang meyakinkan,dan hari ini Anton pergi ke motel untuk membicarakan mengenai artikel,sekaligus mencari informasi tambahan tentang sekte itu.


"Apa dia mengambil risiko seperti itu hanya untuk menolong kita?" tanya Ruby.


"Sebenarnya demi pekerjaannya juga," jawab Felix.


"Masalahnya,aku sudah menawarkan diri untuk menemani tapi dia melarang dengan keras. Sepertinya ada sesuatu tapi aku tidak tau apa itu," terang Felix.


"Dia jelas-jelas dalam bahaya. Setelah artikel yang dia tulis untuk sekte itu tidak berhasil memuaskan pimpinan sekte apa kau yakin dia akan kembali hidup-hidup? Kau tau sendiri kejamnya mereka," Ruby menjadi semakin khawatir.


"Tenang sayang. Kita harus menyusun rencana dengan teman-teman yang lain," Felix meminta persetujuan Ruby untuk memberitahu teman-temannya.


"Aku merasa kita tidak harus melibatkan teman-teman lagi kedalam situasi yang cukup berbahaya ini," Ruby tidak setuju jika Felix memberitahukan teman-teman yang lain.


"Ah,beri tau Thomas saja," Ruby sedikit berubah pikiran.


"Kenapa harus dia?" kini Felix yang tak setuju.


"Kita bertiga terjebak di sana dan terlibat secara langsung bukan? Jadi kita harus selesaikan bertiga," jawaban Ruby.


"Baik,aku yang akan memberitahunya," Felix pergi ke kamar untuk mengambil ponselnya.


Felix menghubungi Thomas untuk mengajaknya pergi ke motel itu nanti malam karena ia dan Ruby khawatir jika Anton dalam bahaya. Thomas langsung setuju dan berkata akan segera berangkat ke rumah Ruby setelah selesai berkemas.


"Aku sudah menghubungi Thomas. Dia akan segera datang," Felix memberikan kabar mengenai Thomas.

__ADS_1


"Baiklah. Kau juga harus bersiap-siap. Aku akan bersiap-siap sekarang," Ruby meninggalkan Felix menuju kamarnya.


**


Ruby,Felix dan Thomas sedang dalam perjalanan menuju motel itu. Mereka berencana untuk menginap sehari di perkemahan kemudian berjalan ke motel melalui jalan rahasia.


"Aku sangat deg-degan," ujar Felix.


"Aku biasa saja," sahut Ruby.


Karena jalanan lengang,tidak membutuhkan waktu yang terlalu lama untuk mereka sampai di tempat berkemah.


"Turunlah. Aku akan memarkir mobil," kata Thomas.


Ruby dan Felix turun dari mobil dengan membawa ransel mereka.


Mereka berdua menunggu Thomas dibawah sebuah pohon besar. Sore itu hanya ada dua buah tenda di sana,tidak seramai biasanya.


"Ayo. Aku sudah parkir," Thomas datang menghampiri mereka.


Melalui sebuah jalan kecil,mereka menuju motel dengan persiapan yang sudah sangat matang. Lampu senter,beberapa makanan seandainya mereka terjebak di sana dan peralatan untuk membela diri jika terjadi sesuatu yang tidak mereka inginkan.


"Tunggu. Sembunyi," Thomas menarik tangan Ruby dan Felix.


Dari kejauhan terlihat bayangan hitam mendekat dengan cepat kearah mereka. Seseorang sedang berlari dari arah yang berlawanan dengan Thomas,Ruby,serta Felix.


Di semak-semak mereka bertiga bertiarap agar orang itu tidak melihat mereka.


Seorang wanita menggunakan gaun tidur panjang berlari menuju area perkemahan. Ia terlihat menangis dengan tubuh berkeringat.


"Apa itu tadi?" tanya Ruby setelah wanita itu lewat.


"Seorang wanita mungkin. Aku tidak melihat wajahnya. Terlalu gelap di tempat ini," jawab Felix.


Maghrib sudah menghampiri mereka. Langit berwarna biru gelap menjadi saksi perjalanan tiga remaja itu untuk pergi ke motel yang sangat berbahaya.


"Apa rencana kita ini tidak akan membahayakan Anton?" Ruby kini menjadi ragu.


"Kita hanya akan memantau dari jauh untuk melihat apakah dia baik-baik saja. Tentu jangan sampai Anton tau," sahut Thomas.


Meskipun pergi bertiga,Thomas merasa senang karena untuk sesaat ia bisa dekat dengan Ruby. Diam-diam ia menatap Ruby yang terus menyibak semak-semak agar bisa lewat dengan mudah. Cahaya bulan menjadi saksi perjalanan rahasia mereka bertiga.

__ADS_1


__ADS_2