
Makanan kembali dihidangkan di atas meja. Kali ini makanan dengan sentuhan Jepang tersaji untuk Ruby dan Felix. Sementara itu,Edsen tak kunjung kembali kedalam rumah makan.
"Silahkan dinikmati," nenek mempersilahkan mereka untuk menyantap makanan yang sudah disajikan di meja makan. Tanpa ragu,Ruby dan Felix langsung mengambil sashimi yang tampak segar dan lezat. Beberapa potong sashimi mereka makan,hingga akhirnya Edsen kembali.
"Bagaimana? Kalian menyukai sashimi lumba-lumba ini?" tanya Edsen.
"Lu.. Lumba-lumba?" Ruby berhenti mengunyah.
"Bukankah lumba-lumba tidak boleh.."
"Memang,dan rumah makan kami menyediakan makanan dari hewan-hewan langka," terang Edsen.
Nenek dan kakek hanya terdiam mendengar Edsen memberi penjelasan pada Ruby dan Felix.
"Berarti ini semua ilegal?" celetuk Felix.
"Bisa dikatakan begitu," Edsen menjawab dengan santai.
"Ah baik,aku paham sekarang," jawab Felix.
Orang-orang dalam rumah makan terdiam untuk beberapa saat. Ruby masih menanti kedatangan Thomas yang ia rasa terlalu lama.
Ruby mengambil ponselnya kemudian mengirimkan pesan pada Thomas.
"Dengan siapa kau berkirim pesan?" tanya Edsen pada Ruby.
Felix dan Ruby sedikit terkejut mendengar pertanyaan Edsen karena mereka merasa Edsen terlalu ikut campur.
"Temanku. Aku mau meminta materi kuliah hari ini karena aku bolos," jawab Ruby.
__ADS_1
Felix terus memperhatikan Edsen dengan tatapan aneh. Ruby malah terus mengamati Felix yang bertingkah waspada.
"Ada apa dengan celanamu?" tanya Felix pada Edsen.
"Hanya kotor," Edsen menutupi bagian yang terkena noda dengan tangannya.
"Bukankah itu noda darah? Kau terluka?" Felix menduga-duga.
"Tidak apa-apa. Jangan khawatir," jawab Edsen.
Ia kembali pergi meninggalkan orang-orang yang tengah duduk di meja makan.
"Kalian pergilah," bisik nenek.
"Memangnya kenapa,nek?" tanya Ruby.
"Berbahaya. Dia berbahaya," sahut kakek.
"Benar,tapi dia berubah," kakek menjawab.
"Cepat pergi sebelum dia kembali," nenek kembali menyuruh Ruby dan Felix untuk pergi.
"Lalu bagaimana dengan kalian?" Felix ragu untuk meninggalkan kakek dan nenek berdua disana.
Wajah tegang mereka berubah menjadi ceria. Mereka tersenyum pada Ruby dan Felix.
"Tidak apa,kami nenek dan kakeknya. Dia tidak akan menyakiti kami," sahut nenek.
Tepat setelah nenek selesai berbicara,terdengar suara mobil diluar rumah makan.
__ADS_1
Ruby yakin bahwa itu adalah Thomas dan teman-teman yang lain. Ruby mengecek dari jendela,mobil yang datang tidak Ruby kenali.
"Siapa itu?" Ruby bertanya-tanya.
Nenek segera menghampiri Ruby yang tengah berdiri di dekat jendela.
"Kek,mereka datang!" seru nenek panik.
"Cepat pergi!" kini kakek membentak Ruby dan Felix.
Mereka berdua mengambil tas nya masing-masing kemudian berlari meninggalkan rumah makan itu.
"Kalian pikir kemana kalian bisa pergi?" Edsen muncul dengan tangan dan wajah berlumuran darah.
"Ed.. Edsen? Kenapa kau berlumuran darah?" tanya Ruby.
Namun Felix tak peduli,ia menarik tangan Ruby dan segera keluar dari rumah makan itu. Ruby masuk kedalam mobil bersama Felix. Mereka bergerak menjauh dari rumah makan,sementara Ruby menghubungi Thomas untuk mengatakan mereka telah keluar dari rumah makan itu.
"Aaaaaaa," teriakan terdengar dari dalam rumah makan. Teriakan itu sangat keras dengan suara serak.
"Nenek? Apa yang dia lakukan pada nenek?" Ruby terus melihat kearah belakang.
"Yang penting kita selamat dulu. Nanti kita laporkan pada polisi," jawab Felix yang masih konsentrasi menyetir.
Dari kejauhan terlihat sebuah mobil silver yang tidak asing. Thomas baru saja sampai di tempat itu.
Felix membunyikan klakson mobilnya dan Thomas menyadari telah berpapasan dengan Felix. Thomas memutar balik dan mengendarai mobilnya di belakang Ruby dan Felix.
Dari spion mobil,sebuah mobil yang tadi terparkir di halaman rumah makan mengikuti mereka.
__ADS_1
"Apa yang mereka lakukan? Kenapa mereka mengikuti kita? Atau hanya perasaanku saja?" Ruby bertanya-tanya.