Journeys End

Journeys End
No Touchy Please


__ADS_3

Jarak Ruby dan Felix hanya beberapa meter. Ruby berjalan dengan lambat,merasa bersalah karena bersikap kasar pada Felix. Ia sesekali menoleh ke belakang,Felix masih berdiri menatapnya.


"Tidak Ruby! Dia pantas diperlakukan seperti itu,jangan kembali!" Ruby memukul kepalanya sendiri.


Seorang pria bertubuh gempal datang dari kejauhan,ia membawa ransel besar di punggungnya.


Felix berjalan mendekati Ruby,takut sesuatu terjadi pada kekasihnya.


"Nona,apa yang kau lakukan malam begini sendirian?" tanya pria itu.


Ruby tanpa rasa takut dan curiga menjawab, "Aku sedang mencari taksi,Pak."


"Aku juga begitu tapi di depan sana ada pohon besar tumbang. Tidak ada akses masuk ke jalan ini kecuali dari jalan yang tertutup pohon itu. Dari tadi tidak ada kendaraan yang bisa masuk ke jalan ini," pria itu menerangkan.


"Kendaraan akan memutar di persimpangan jalan yang jaraknya tiga kilometer dari sini jadi sampai pohon itu tumbang disini tidak akan ada kendaraan yang lewat," tambahnya.


"Terimakasih pak atas informasinya. Apa kau sedang mencari tempat menginap? Kebetulan saya tau motel dekat sini," Ruby menawarkan bantuan.


"Terimakasih atas bantuanmu. Aku memang sedang mencari motel yang kata rekan kerjaku ada di sekitar sini tapi dari tadi aku belum berhasil menemukannya," jawabnya atas bantuan yang Ruby tawarkan.


Ruby berbalik arah kembali menuju motel itu. Felix yang kini sudah ada di dekat Ruby hanya berjalan mengikutinya tanpa berbicara sepatah katapun.


Sampai di motel,pria itu memesan kamar pada Poppy. Ruby menunggu di belakang pria itu.


"Terimakasih atas bantuanmu," kata si pria.


"Sama-sama. Aku juga akan memesan," jawab Ruby.


"Apa maksudmu? Kau akan tetap bersamaku!" ujar Felix setelah mendengar perkataan Ruby.


"Siapa kau berani memaksaku?"


"Aku kekasihmu!"


"Aku tidak akan pernah mau berbagi kamar denganmu lagi," Ruby menjauh dari Felix.


Pertengkaran terjadi di depan pria itu. Pria itu hanya diam setelah menyelesaikan pembayaran dan menunggu Ruby dan Felix pergi terlebih dahulu.

__ADS_1


Ruby yang merasa tidak enak dengan teman barunya langsung meminta maaf dan pergi menjauh setelah Felix menarik Ruby secara paksa.


"Aku akan menjelaskan semuanya," kata Felix.


Ruby tidak peduli dengan apa yang Felix katakan,ia mengambil ponsel dan membuka media sosialnya tanpa peduli dengan apa yang Felix jelaskan.


"Selesai aku membayar,wanita itu menggodaku. Ia memaksaku masuk ke kamar itu. Awalnya ia mengatakan meminta tolong jadi aku mau saja," Felix mulai menjelaskan.


"Minta tolong apa?" Ruby bertanya dan menaruh ponselnya.


"Tidak tau. Tapi.."


"Tidak tau? Bodoh!" jawab Ruby.


"Iya,benar. Aku memang pria bodoh. Aku tau dia menggodaku tapi aku mau saja masuk ke kamarnya bahkan saat aku tidak tau bantuan apa yang ia butuhkan. Kau boleh menghinaku,kau boleh mengatakan hal buruk apapun tentangku tapi tolong. Aku tidak pernah mengkhianatimu," Felix menjelaskan dengan mata berkaca-kaca. Ia benar-benar takut kehilangan kekasihnya.


"Kau pikir aku dengan mudah bisa kau bodoh-bodohi?" Ruby tidak percaya dengan apa yang telah dijelaskan Felix.


Felix berusaha meyakinkan Ruby,namun Ruby tetap tidak percaya. Mungkin karena ia sudah pernah disakiti oleh pria yang menyebabkan ia merasa sakit hati teramat dalam,kini ia sulit percaya pada perkataan pria. Apalagi alasan yang diutarakan Felix kurang meyakinkan bagi Ruby.


"Aku awalnya memang tergoda jadi aku masuk. Tapi aku tidak berniat melakukan itu. Aku hanya penasaran seberani apa wanita itu. Aku selalu ingat bahwa aku memiliki kekasih,aku tidak akan pernah mengkhianatimu. Aku sudah berjanji pada diriku sendiri,aku sudah berjanji pada Key," terangnya.


Ruby segera mengirim pesan pada Key bahwa ia di motel bersama Felix. Ruby menjelaskan bahwa semuanya baik-baik saja.


Key segera membalas pesan itu,namun Ruby menyuruhnya tidur.


"Sayang,aku sudah jujur. Intinya aku penasaran saja,aku tau,aku salah. Saat menyadari dia menggodaku harusnya aku pergi tapi aku malah penasaran seberani apa dia setelah itu. Aku salah,tapi aku benar-benar tidak pernah berniat menyentuhnya. Terlintas di pikiranku saja tidak," Felix menjelaskan.


"Oke," Ruby menjawab lalu kembali bermain ponsel.


Felix mengerti bahwa Ruby perlu waktu untuk menerima penjelasannya. Felix mengakui bahwa ia bersalah karena rasa penasarannya.


"Kau yang telah mencoreng hubungan kita untuk pertama kali. Jangan salahkan aku jika aku melakukan hal yang sama," ujar Ruby.


"Aku menerima apapun yang akan kau lakukan. Kau mau berkata kasar padaku silahkan. Aku tidak melarang,asalkan kau jangan pergi apalagi dengan pria lain," jawab Felix.


"Memang kau saja yang bisa berbuat seperti itu?" Ruby menyahut sambil tetap memunggungi Ruby.

__ADS_1


"Aku tau kekasihku wanita yang baik dan smart," Felix menjawab. Ia tau bahwa Ruby tidak mungkin melakukan hal aneh seperti itu apalagi sampai berselingkuh. Ia menyadari Ruby hanya mengalami emosi sesaat.


"Jangan dekat-dekat denganku," Ruby semakin menjauh dari Felix kearah pinggir tempat tidur,padahal disana sudah diberi sekat menggunakan bantal guling.


"Sayang,nanti jatuh," kata Felix yang melihat posisi tidur Ruby terlalu ke pinggir.


"Tidak usah sok peduli," Ruby menjawab dengan ketus.


"Kalau kau tidak mau dekat denganku. Tidak apa aku tidur di bawah. Asalkan kita masih satu ruangan," Felix mengambil bantal dan tidur di bawah,tepat di samping kanan Ruby dengan beralaskan karpet bulu.


Ruby langsung berbalik badan karena tidak ingin melihat Felix.


***


Jam di ponsel Felix telah menunjukan pukul dua pagi,namun ia masih tidak dapat memejamkan matanya. Merasa sangat bersalah pada kekasihnya dan adiknya karena ia telah berjanji pada Key bahwa ia tidak akan menyakiti Ruby.


Key mengirimkan banyak pesan yang semuanya berisi amarah Key pada Felix. Ia membalas dengan permintaan maaf,kemudian mengirim voice note untuk menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi. Ternyata Key juga belum tidur,akhirnya mereka mengobrol sampai pagi.


***


"Ah aku kesiangan," Ruby baru bangun pukul 11 siang.


Di kamar sudah ada makanan dan minuman yang dihidangkan diatas meja lipat kecil.


"Sayang,sudah bangun? Ini makanan,Poppy membawakannya," ujar Felix.


Ruby menatap Felix dengan sinis dan mengabaikan makanan itu.


"Kau belum lapar ya? Ya sudah,makan nanti saja. Aku letakkan di meja yang lebih tinggi," Felix memindahkan makanan itu ke sebuah meja yang sebenarnya adalah meja kerja. Ruby tidak peduli dengan apa yang Felix lakukan. Ia pergi mandi karena merasa suasana hatinya sangat buruk. Mandi memang menjadi salah satu cara Ruby mengatasi mood yang sedang tidak terlalu baik.


Selesai mandi,ia diam di dekat jendela. Melihat halaman yang biasanya sangat ramai hari itu menjadi sangat sepi. Sebenarnya dari kemarin malam Ruby sudah merasakan ada yang berbeda di motel itu karena suasana benar-benar sepi,dan hingga siang itu suasana masih sama sepinya. Ia ingin bertanya pada Felix tapi melihat wajahnya saja sudah membuat Ruby kembali mengalami mood yang buruk. Ia memutuskan untuk menghabiskan waktu seharian di tempat tidur.


"Sayang,makanlah sedikit," Felix memberanikan diri berbicara kepada kekasihnya.


Sejak baru bangun,Ruby menatap Felix dengan sinis. Setelah itu,Ruby tidak mau melihat wajah Felix lagi.


Felix merasa semakin panik karena kini ia benar-benar merasakan amarah Ruby yang sesungguhnya.

__ADS_1


Biasanya ketika Ruby marah,keesokan harinya suasana akan membaik walaupun mereka belum berbaikan. Tapi berbeda dengan hari itu,Ruby terlihat semakin membenci Felix.


__ADS_2