Journeys End

Journeys End
Cupid Screwed Up


__ADS_3

Felix mendekati jendela. Seorang wanita berambut putih melambaikan tangannya dan memberi isyarat agar Ruby dan Felix mendekat kearahnya. Ruby ikut mendekat namun ia berjalan di belakang Felix.


Wanita itu adalah wanita yang tadi berteriak di halaman,Poppy mengatakan bahwa wanita itu kurang waras. Namun dalam hati Felix,ia merasa wanita itu sehat namun pakaiannya memang compang-camping.


"Pergi dari sini. Bahaya," wanita itu berbisik dari jendela.


"Ada apa,Bu? Tolong jelaskan pada kami," Felix sangat penasaran.


"Akan ada ritual. Aku takut kalian menjadi korban seperti pasangan tahun lalu," wanita itu menjawab dengan suara pelan.


Felix mengiyaratkan wanita itu untuk menunggu karena ia dan Ruby akan keluar motel untuk menemuinya. Wanita itu mengangguk,menandakan ia mau menunggu mereka. Diam-diam Ruby dan Felix pergi keluar motel agar tidak ada yang melihat mereka,terutama Poppy. Sebelum Ruby dan Felix meninggalkan rumah Poppy,ia sempat berpesan pada mereka untuk jangan pernah berbicara dengan wanita yang dikatakan kurang waras oleh Poppy itu.


"Kalian mau kemana?" Poppy tiba-tiba muncul di depan mereka.


"Ke halaman sebentar." sahut Felix.


Poppy mempersilahkan mereka lewat. Ia masuk ke sebuah kamar yang pintunya terlihat berbeda dengan pintu-pintu lain di motel itu.Felix dan Ruby bergegas keluar dengan sembunyi-sembunyi. Mereka ke arah halaman dekat parkiran,dimana itu adalah tempat wanita itu berada.


Seorang wanita terlihat berdiri memunggungi mereka.


"Permisi,Bu," sapa Felix.


Wanita itu menoleh kearah mereka sambil tersenyum. Pakaian yang digunakan oleh wanita itu telah berubah,bukan pakaian compang-camping lagi melainkan pakaian bagus dan tidak asing dimata Ruby dan Felix.


"Apa maksud ritual tadi?" tanya Felix.


Ruby segera menginjak kaki Felix setelah menyadari wanita itu bukan wanita yang sama dengan wanita yang memanggil mereka. Namun wajah wanita ini dengan wanita yang dikatakan kurang waras tadi sangat mirip.


"Tidak ada yang seperti itu disini," sahut wanita itu.


Ya,wanita yang mereka ajak bicara saat ini adalah ibu Poppy. Entah kemana wanita yang memberitahu mereka akan adanya ritual itu menghilang.


Ruby dan Felix saling bertatapan sebentar,Ruby memanfaatkan kesempatan untuk memberi kode pada Felix agar jangan bertanya lebih jauh namun Felix tidak paham.


"Kami hanya penasaran dengan wanita yang berteriak tadi," kata Ruby.


"Kenapa kalian mudah percaya dengan perkataan orang tidak waras? Bodoh," jawab wanita itu.


"Apa? Beraninya kau," sahut Ruby.


Felix berusaha menenangkan Ruby karena terikannya terdengar oleh orang lain.


"Maafkan aku," kata wanita itu namun Ruby tidak peduli. Ia pergi meninggalkan Felix dan wanita itu berdua namun Felix menyusul Ruby.


Poppy terlihat datang menghampiri mereka.


"Apa ibuku membuat masalah?" tanya Poppy.


"Kami mau pergi hari ini," jawaban Ruby melenceng dari pertanyaan Poppy.


"Apa kamarnya kurang nyaman? Aku akan menyiapkan kamar baru," jawabnya.


"Tidak. Waktu sewanya juga habis malam nanti jadi kami pergi saja karena ada pekerjaan lain," Felix menjawab.


"Baiklah. Lebih baik kalian istirahat," Poppy pergi keluar motel.


Felix dan Ruby berkemas-kemas. Mereka masih penasaran dengan peristiwa yang terjadi tahun lalu dan ritual apa yang dimaksud. Dan yang lebih membuat mereka penasaran adalah kenapa ibu Poppy dan wanita yang muncul di jendela tadi memiliki wajah yang sangat mirip.


"Sepertinya mereka kembar," ujar Ruby tiba-tiba.


"Siapa?" tanya Felix.

__ADS_1


"Wanita yang baru saja kita temui. Tapi wanita yang disebut tidak waras terlihat lebih baik dari ibu Poppy. Dari sorot matanya saja sudah terlihat," jawabnya.


Mereka selesai membereskan pakaian. Ruby pergi mendekati jendela dimana wanita tadi muncul secara tiba-tiba. Terlihat beberapa orang bertubuh besar sedang berbicara dengan Poppy dan ibunya. Mereka membawa mesin penebang pohin,kapak dan banyak perkakas lain.


"Sayang,sepertinya akan ada pembangunan atau proyek sejenisnya," kata Ruby pada Felix.


Felix menghampiri kekasihnya yang sedang berdiri di dekat jendela.


"Dimana mereka akan menebang pohon? Aku pikir tanah diluar motel ini milik pemerintah," ujar Felix.


"Hutan di sebelah motel ini memang milik negara. Mungkin di tempat lain," Ruby berjalan menuju tempat tidur dan memilih untuk beristirahat.


Setelah Ruby tertisur,Felix keluar kamar untuk melihat-lihat. Ketika melewati sebuah ruangan yang terdengar bising,ia penasaran untuk masuk namun ia mengurungkan niatnya dan memilih kembali ke kamar.


Dilihatnya Ruby masih tertidur pulas dari luar,karena Felix hanya mengintip dari pintu.


"Halo." sapa seorang pria yang tampak sebaya dengannya. Pria itu membawa dua tas besar.


"Oh,hai," Felix menjabat tangan pria itu. Setelah saling memperkenalkan diri,pria bernama Al itu berpamitan pulang.


"Mereka bilang motel ini akan tutup jadi kami disuruh untuk segera pergi," ujar Al. Felix mengiyakan dengan bingung karena tidak ada yang memberitahukan hal itu padanya.


"Aku akan pergi lebih dulu dengan istriku," kata terakhir Al sambil berlalu.


Setelah Al pergi,Felix segera menemui Poppy.


"Permisi,apa benar motel ini akan tutup?" tanya Felix pada Poppy yang sedang duduk di bagian penerimaan tamu.


"Tutup? Tidak. Jika tutup aku pasti membuat pengumuman," jawabnya.


"B.. Baik," Felix kembali ke kamarnya.


Ruby bangun dengan wajah cemberut. Ia menatap Felix dengan tajam.


Felix kemudian menceritakan apa yang sebenarnya terjadi dan apa saja yang baru saja ia lakukan. Mereka kembali tidur bersama.


***


"Astaga! Sudah malam," seru Ruby sambil mengguncang-guncangkan tubuh Felix.


Felix terbangun dan melihat kearah jendela. Langit sudah terlihat gelap.


"Apa kita masih bisa mencari rumah selarut ini?" Felix mengucek matanya.


"Maksudmu? Kita kembali menginap disini?" Ruby tampak tak suka.


"Mau bagaimana lagi,sayang? Hanya ini yang bisa lakukan sekarang," jawab Felix.


"Masa sewa sudah habis. Harus bayar dulu," Ruby mengingatkan.


"Aku akan mengurusnya," Felix pergi keluar kamar dan mengurus biaya menginap.


Cukup lama Felix pergi padahal tempat pembayaran tidak jauh dari kamar mereka.


Tiga puluh menit berlalu,Felix tak kunjung datang. Ruby memutuskan untuk menyusul Felix.


Ia berjalan menyusuri lorong yang hening namun terang. Tidak ada suara di setiap kamar yang ia lewati,berbeda dengan kemarin,meskipun sepi masih terdengar penghuni lorong bercakap-cakap. Padahal waktu baru menunjukan pukul sembilan malam.


"Sayang?" Ruby memanggil di meja tamu. Tapi disana tidak ada siapa-siapa. Bahkan Poppy pun tidak ada.


Ruby mencari-cari kemana Felix pergi karena ia disana sendiri dan merasa ketakutan.

__ADS_1


Sebuah kamar di belakang meja tunggu dengan pintu sedikit terbuka dilihatnya.


"Tidak mungkin," ujar Ruby.


Namun karena rasa penasaran menghantuinya,ia memutuskan masuk ke kamar itu. Ruby membuka perlahan pintu,dari tempat Ruby berdiri terdengar suara wanita.


"Kau akan menyukainya," ujar wanita itu.


"Kekasihku menungguku," jawab seorang pria.


Ruby menguping lebih jauh apa yang mereka lakukan karena suara itu tidak asing baginya.


"Sebentar saja," sahut si wanita.


"Tunggu! Tidak..," pria itu menjawab namun belum selesai ia berbicara suasana kembali hening.


"Felix!" teriak Ruby yang sudah memastikan bahwa suara itu adalah suara Felix.


"S.. Sayang," Felix segera menghampiri Ruby.


"Apa yang kau lakukan? Baj*ngan," Ruby pergi meninggalkan mereka.


Dengan jelas Ruby memergoki Felix sekamar dengan Poppy.


"Sayang. Ini hanya salah paham," Felix mengejar kekasihnya dengan sangat panik.


"Sayang dengarkan aku. Aku mohon," Felix berusaha mendekati Ruby yang sedang memasukan peralatan mandinya kedalam tas.


Disaat yang bersamaan,telepon masuk dari Key di ponsel Ruby. Tiap malam mereka memang biasa berbincang di telepon. Sambil menangis Ruby mengangkat telepon itu.


"Kak? Kenapa?" Key langsung menyadari ada yang tidak beres.


"Kakakmu sekamar dengan wanita lain," Ruby langsung menjawab. Biasanya jika ia sedang ada masalah,Ruby tidak pernah bercerita pada Key karena takut Key khawatir namun kali ini ia sudah tidak dapat membendung amarahnya.


Felix yang mendengar itu hanya diam sambil menggelengkan kepalanya. Setelah mendengar jawaban Ruby,Key mematikan teleponnya. Sudah dapat ditebak bahwa Key akan menelepon kakaknya.


Ruby meninggalkan Felix sendirian yang sedang berdebat dengan Key. Melihat Ruby pergi,Felix tidak peduli dengan ocehan adiknya dan mengejar Ruby.


Di depan kamar terlihat Poppy menghampirinya.


"Ruby maafkan aku. Aku yang salah," katanya.


Ruby tidak peduli dan langsung mendorong Poppy hingga jatuh terjungkal. Felix cukup kaget melihat reaksi Ruby. Poppy yang masih terduduk di lantai mengulurkan tangan pada Felix,meminta untuk dibantu bangun namun Felix mengabaikannya. Ruby melihat kejadian itu tertawa sambil menyeka air matanya.


"Wanita penggoda," ujarnya.


Ruby segera pergi meninggalkan motel itu dan berjalan kaki menuju jalan raya. Sebelum sampai di jalan raya,ia harus melewati jalan kecil yang bisa dilewati oleh mobil terlebih dulu. Berharap ada taksi yang lewat. Felix mengejar Ruby sambil memohon agar Ruby mau mendengarkannya.


"Aku tidak mau mendengar kebohonganmu lagi. Kau tidak lebih baik dari Thomas," kata Ruby yang sudah sangat terpancing emosi.


"Terserah apapun yang ingin kau katakan padaku,katakan saja. Tapi tolong jangan pergi,dengarkan penjelasan ku," Felix benar-benar memohon malam itu. Sebelumnya,ia merupakan tipe orang yang akan marah jika ada yang menjelek-jelekan dirinya sekalipun memang dirinya lah yang bersalah. Tapi malam itu ia benar-benar tidak peduli dengan semua kejelekan yang dikatakan Ruby.


"Pergi. Aku membencimu. Mulai sekarang kita sudah tidak ada hubungan apa-apa lagi," Ruby mempercepat langkahnya.


"Tidak. Aku tidak mau ini berakhir begitu saja. Aku mohon," Felix berjalan cepat di samping Ruby,menarik tangannya untuk segera kembali ke motel.


"Pergi kau! Jangan berani menyentuhku!" Ruby memberikan peringatan.


"Sayang,tolong. Akan aku jelaskan semuanya.Aku tidak berselingkuh. Demi Tuhan aku tidak.." Ruby mendorong Felix agar menjauh darinya.


"Aku membencimu!" teriak Ruby di wajah Felix.

__ADS_1


Ruby pergi meninggalkan Felix yang diam terpaku.


__ADS_2