Journeys End

Journeys End
(Don't) Stop It


__ADS_3

"Lelah?" tanya Thomas.


"Sedikit," jawab Ruby.


Hujan deras masih mengguyur hingga siang hari. Kilat menyambar,pepohonan yang ada di sekitar tempat mereka dikurung hampir tumbang.


"Sepertinya kita harus tinggal lebih lama di tempat ini," kata Ruby.


"Iya sayang. Jika kita pergi sekarang cukup berisiko melihat cuaca ekstrim seperti ini," jawab Thomas.


"Kemana orang-orang itu?" Ruby penasaran dengan apa tujuan dari orang-orang yang menculik mereka namun tidak memberi penjagaan yang ketat.


"Aku tidak paham,tapi semoga saja setelah cuaca lebih baik mereka belum datang sehingga kita bisa kabur," kata Thomas.


Mereka berbaring di ranjang,kedinginan karena udara dan air hujan yang masuk lewat jendela kayu tanpa kaca.


"Sayang.."


Ruby hanya tersenyum karena sedari tadi Thomas terus memanggilnya namun setelah itu tidak mengatakan apapun.


"Sayang.."


"Apa yang kau inginkan?" Ruby menjawab.


"Jangan pura-pura tidak paham" jawab Thomas.


Ruby tertawa mendengar perkataan Thomas.


"Nanti saja," jawab Ruby malu-malu.


Ruby berbaring memunggungi Thomas. Thomas memeluknya dari belakang,meniup-niup rambut Ruby yang membuatnya tertawa geli.


"Aku mau sekarang," Thomas memeluk erat pinggang ramping Ruby yang tidak pernah melewatkan workout sekalipun.


Langit semakin gelap. Hujan deras dengan angin kencang masih menemani mereka hingga siang hari.


"Jangan," teriak Ruby sambil tertawa.


Thomas tidak menghiraukan perkataan Ruby,ia menggelitiki Ruby yang berusaha untuk tidur siang karena memang tidak ada hal yang bisa mereka lakukan disana.


"Sayang geli," Ruby menahan perasaan geli sambil tertawa.


"Sayang," Ruby memeluk erat Thomas,menempelkan wajahnya di bahu Thomas.


"Tenanglah," Thomas mencium kening Ruby sambil mengelus-elus kepalanya.


Semakin lama angin bertiup semakin kencang. Hujan masih turun dengan deras namun sudah tidak sederas tadi.


"Stop," Ruby menggenggam erat tangan Thomas.


Angin yang bertiup dari jendela cukup kencang sehingga menjatuhkan baju Ruby yang ia letakkan di meja sebelah ranjang.


"Ruby," Thomas memeluk Ruby yang basah karena keringat.

__ADS_1


Ruby membenamkan dirinya di pelukan Thomas.


"Sayang," Ruby merasakan panas di sekujur tubuhnya. Keringan bercucuran dari tubuh mereka berdua.


"Ruby,kau.." Thomas memeluk erat Ruby yang menggigiti selimutnya.


"Sayang hentikan," dengan wajah memerah,Ruby membentur-benturkan kepalanya di dada Thomas.


Ruby terdiam,keringat mengalir deras dari tubuhnya. Ia terpejam dengan masih menggenggam erat tangan kanan Thomas.


Thomas memperhatikan kekasihnya itu dengan keringat yang juga mengucur dari seluruh tubuhnya.


"Tidurlah,aku akan membersihkan tempat ini," kata Thomas.


Ruby tidak mengizinkan Thomas pergi dari pelukannya. Thomas memeluk Ruby,memindahkan posisi Ruby ke sampingnya. Mereka tertidur.


Krik.. Krikk..


Suara jangkrik terdengar di luar gubuk tempat mereka tinggal. Malam sudah tiba,hujan sudah berhenti. Namun malam yang gelap dan berbahaya tidak memungkinkan mereka untuk pergi malam itu juga.


"Sayang," Thomas mencium pipi Ruby yang masih terlelap.


Ruby tersenyum dan berbaring memunggungi Thomas.


"Oh,apa itu?" Ruby menunjuk ke arah jendela.


Sebuah tas kain hitam berisi sesuatu digantung dekat jendela.


Ruby memakai jaketnya dan mendekat namun Thomas menghentikan Ruby.


Thomas mendekat dan mengambil tas itu. Di dalamnya terdapat peralatan mandi,pakaian,mie instan dan bahan makanan serta sepucuk surat.


"Ada surat," Ruby membuka surat itu.


"Di luar gubuk ada dapur. Memasak lah disana dan mandilah di sungai. Jangan mencoba pergi karena sangat berbahaya,kalian ditempatkan disini demi kebaikan kalian. Di dapur ada power bank dan ponsel kalian."


"Ponsel? Mengapa mereka memberikan kita ponsel?" Ruby bertanya-tanya.


"Aku tidak mengerti tapi mereka sangat baik kepada kita," kata Thomas.


"Coba buka bungkus plastik itu," Ruby menunjuk sebuah plastik hitam berminyak.


"Sayang,isinya makanan," kata Thomas setelah membuka bingkisan itu.


"Kita makan saja,aku sangat lapar," Ruby membuka nasi itu dan langsung makan dengan lahap.


Thomas juga membuka bingkisan dan ikut makan bersama Ruby.


"Kita ambil ponsel kita besok saja ya," kata Thomas.


"Baiklah," jawab Ruby.


Mereka membicarakan kemungkinan-kemungkinan yang terjadi dan apa tujuan orang-orang itu menyekap mereka.

__ADS_1


"Kira-kira ini jam berapa ya?" Ruby mendekat ke jendela. Ia mengamati lingkungan di sekelilingnya dan baru menyadari suatu hal.


"Sayang,isi surat itu mengatakan kita bisa masak dan mandi di luar. Artinya gubuk ini sudah tidak dikunci?" Ruby berkata pada Thomas.


Thomas mendekat ke pintu kayu dan benar saja bahwa pintu itu sudah tidak dikunci lagi.


"Setidaknya kita bebas berjalan-jalan di area sekitar tempat ini. Semoga saja besok cerah," kata Thomas.


Thomas mendekati Ruby yang sedang melihat keadaan di luar gubuk dari jendela.


Thomas memeluk pinggang Ruby dari belakang.


"Sayang," Ruby mencubit tangan Thomas.


"Aku sangat mencintaimu" kata Thomas sambil menggenggam erat kedua tangan mungil Ruby.


Ruby berbalik menatap Thomas,mereka dalam posisi saling bertatapan. Thomas tiba-tiba berjongkok dengan masih tetap menahan kedua tangan Ruby.


"Sayang stop. Tidak,Thomas" Ruby berusaha melepaskan genggaman tangan Thomas.


"Oh sial,Thomas," Ruby memberontak.


Thomas menggendong Ruby seperti sepasang pengantin baru.


Walaupun mereka dalam keadaan yang tidak baik,mereka sangat bersyukur karena masih bisa bersama-sama. Sempat terlintas di pikiran Ruby,kalaupun nasibnya akan berakhir di tempat itu,ia bersyukur karena bisa merasakan masa-masa bahagia dengan pria yang sangat ia kagumi sejak awal masuk kuliah dan saat ini tengah menjadi kekasihnya. Ruby sangat mencintai Thomas,begitu juga Thomas. Ia sangat mencintai Ruby dan akan melindungi Ruby apapun yang terjadi. Ia tidak mau wanitanya disakiti oleh siapapun. Mereka melewati malam itu dengan bahagia.


"Oh sialan. Aku kalah," Ruby memeluk Thomas dengan erat.


Selama 20 menit mereka bermain 'game' yang membuat mereka mengeluarkan sumpah-serapah. Thomas membisikkan kata bahwa Thomas sangat mencintainya. Ruby sangat menikmati momen romantis itu,hingga tiba-tiba..


"Argh" Ruby merasakan rasa sakit yang hebat.


Thomas tolong!" Ruby meminta Thomas untuk berhenti 'menyakiti' dirinya.


Thomas tidak menghiraukan perkataan Ruby.


"Tuhan tolong aku," Ruby berteriak sangat keras. Namun apa daya,di tempat itu hanya ada mereka.


"Tolong hentikan,tolong Tho..." Ruby terus memohon kepada Thomas.


Ruby menangis menahan perasaan campur aduk yang ia rasakan.


"Sayang," Ruby membenamkan dirinya dalam pelukan Thomas.


"Tidak apa sayang," Thomas menatap Ruby sambil mengusap kepalanya.


Saat ini hanya pelukan Thomas yang bisa membuat Ruby merasa aman. Ia percaya bahwa Thomas akan selalu menjaganya,apapun yang terjadi.


"Ayo selesaikan permainan gila ini," kata Ruby setelah sempat terdiam beberapa saat.


Thomas hanya terdiam dan menuruti keinginan kekasihnya. Thomas memang tidak pernah menolak apapun keinginan Ruby asalkan hal yang Ruby inginkan masuk akal.


Kali ini Ruby ingin memenangkan permainan malam itu.

__ADS_1


"Don't stop," Ruby semakin tenggelam dalam permainan mereka.


__ADS_2