
Dengan wajah pucat,Felix terbangun dari tidurnya. Mimpi buruk yang ia alami terasa begitu nyata,untung saja Andy yang sudah bangun sejak tadi pagi duduk di atas tubuh Felix.
"Kau kenapa?" tanya Andy dengan suara kecilnya.
"Hanya mimpi. Dimana pacarku?" Felix bertanya karena tidak melihat Ruby di sampingnya.
"Tadi kak Bubi memasak," jawab Andy.
"Siapa kak Bubi hahaha," Felix tertawa terbahak-bahak.
"Maksud Andy itu aku. Ruby menjadi Bubi," Ruby datang membawa dua mangkuk bubur.
"Makanlah dulu," Ruby menghidangkan dua mangkuk bubur itu untuk Andy dan Felix.
"Kau masih berhutang cerita padaku Bubi," goda Felix.
"Baik,baik. Nanti aku ceritakan tapi tidak di depan nya," jawab Ruby sambil melirik Andy.
Andy menyantap buburnya dengan lahap kemudian ia kembali bermain.
"Andy mandi dulu," Ruby sudah menyiapkan air hangat untuk Andy agar ia mau mandi.
"Aku akan mandi sendiri," Andy yang sudah melepas pakaiannya berlari menuju kamar mandi sementara itu Ruby menyiapkan pakaian ganti untuk Andy.
Kring.. Kring..
Telepon rumah Ruby berbunyi,karena sedang sibuk menyiapkan pakaian maka Felix yang mengangkat telepon itu.
"Halo,selamat pagi," sapa Felix.
"Halo,ini aku Kylie."
"Oh,hai. Kau dimana?" tanya Felix.
"Aku ada urusan. Kalian bisa menjaga Andy dulu kan?" Kylie khawatir.
"Tenang saja. Andy aman bersama kami," Felix memberikan jawaban yang membuat Kylie tenang.
"Kalau begitu sudah dulu ya," Kylie mematikan sambungan teleponnya.
Baru berjalan beberapa langkah,telepon rumah Ruby kembali berdering. Felix kembali mengangkat telepon itu.
"Halo Ruby,kakak titip Amy beberapa hari ya. Tolong jemput dia," orang yang berbicara dengan Felix tidak memberi kesempatan pada Felix untuk menyapa.
"Halo kak,ini aku Felix. Aku akan menjemput Amy," jawab Felix.
"Oh Felix. Baik terimakasih ya. Tolong cepat ya," kakak Ruby terdengar sedikit terburu-buru. Ia kemudian menutup teleponnya.
"Sayang,aku jemput Amy sebentar," seru Felix dari bawah. Ruby yang masih mengurus Andy sepertinya tidak mendengar. Felix meninggalkan Ruby dan Andy berdua di rumah.
Pagi itu sudah pukul 10 pagi tapi matahari bersinar redup tertutup awan mendung yang tebal.
__ADS_1
"Amy," panggil Felix.
Amy langsung muncul membawa dua buah tas besar dan sebuah tas punggung.
"Banyak sekali barang-barangmu," Felix membantu Amy membawakan barang-barangnya.
"Karena aku akan menginap lama," jawab Amy riang.
"Aku titip Amy ya karena aku akan pulang agak lama. Tolong beritahu Ruby agar tidak mencemaskan ku," pesan ibu Amy.
"Baikah. Tolong berhati-hati," pesan Felix.
Ibu Amy hanya tersenyum.
Sampai di rumah,Andy yang sudah selesai mandi sedang bermain bersama Ruby. Amy langsung bergabung dengan mereka sementara Felix membawa barang-barang Amy ke kamar atas.
"Amy,kau menginap lama ya?" tanya Andy.
"Benar. Jadi kita bisa main tiap hari," jawab Amy.
"Belajar juga," tambah Ruby.
"Sayang,anak-anak ini biar tidur bersama kita saja ya," Ruby memberitahu Felix keinginannya.
"Tidak masalah. Lagi pula kasur kits besar," jawab Felix.
"Kalian main dulu. Aku akan ngobrol dengan Felix," Ruby menutup pintu rumah dan mengunci nya dari dalam kemudian ia duduk di sofa bersama Felix sambil memantau anak-anak itu bermain.
"Kemarin saat aku pergi membicarakan naskah,aku melihat mobil sedan biru itu tapi aku biasa saja. Namun saat aku mengantar Ava pulang aku merasa sedan itu mengikuti ku. Jadi aku mengetes nya dengan pergi ke museum dan benar sedan itu mengikutiku," cerifa Ruby.
"Dan saat kita pergi bersama juga sedan itu mengikutiku. Artinya setiap aku pergi dia pasti ada," tambahnya.
"Tapi mengapa?" Felix menjadi khawatir.
"Tidak tau. Oh iya,di pantai juga dia ada. Saat itu aku hanya sendiri dan pria itu disana. Tapi dia tidak menyakitiku," ujar Ruby
"Apa tujuan dia mengikutimu?" Felix penasaran.
"Kylie memberi kabar. Dia mendapat informasi bahwa sedan biru itu milik suami Ann," jawab Ruby.
"Sekte itu? Sekarang dia memata-matai mu?" Felix tak percaya bercampur khawatir.
"Betul. Tapi bukankah aneh bahwa pimpinan sekte turun langsung," Ruby mengajak Felix untuk bermain memecahkan misteri.
"Kenapa dia bisa turun langsung hanya untuk memata-matai mu," Felix dibuat semakin penasaran.
"Tentu saja ada yang ia cari," Ruby memberikan jawaban.
"Apa yang sangat ia inginkan sampai-sampaj rela mencari tau sendiri?"
"Dia mencari seorang wanita. Makanya kemarin aku mengatakan tentang wanita tewas itu di hadapannya," Ruby memberikan jawaban yang sejak kemarin Felix tunggu-tunggu.
__ADS_1
"Lalu kenapa kau mengatakan bahwa anak wanita itu ada di rumah bi Ellen?" Felix masih penasaran.
"Hanya untuk menjebak nya. Bi Ellen pernah berkata jika sampai aku berurusan dengan pria itu maka aku harus mengatakan wanita itu telah tewas dan ternyata benar pria itu mengikuti ku. Artinya bi Ellen sudah melaksanakan tugasnya," Ruby memberikan jawaban yang menghilangkan rasa penasaran Felix.
"Tapi apa yang bi Ellen kerjakan?" kini pertanyaan baru muncul di benak Felix.
"Dia menyamar," Ruby menjawab.
"Ngomong-ngomong tentang sedan biru. Sepertinya tadi aku melihatnya ketika menjemput Amy," ujar Felix memberikan informasi.
"Aku sudah menduga tapi aku rasa dia hanya memerlukan informasi dariku. Jadi aku harus mencari cara agar aku bisa meyakinkan dia bahwa wanita yang ia cari telah tewas tanpa berbicara langsung dengannya," Ruby berbicara sambil memainkan bibirnya.
"Bagaimana kalau kita membuat drama?" ajak Felix.
"Maksudmu?"
"Aku akan menyiapkannya. Nanti aku beritahu," Felix mengambil ponselnya dan terlihat menelepon.
Sementara itu Ava menghubungi Ruby dan meminta dijemput di depan gang karena ia takut masuk sendiri setelah Ruby menceritakan tentang sedan biru. Ruby berjalan meninggalkan rumah menuju jalan raya. Ava ditemani oleh kekasihnya sudah ada disana menunggu Ruby. Dan memang benar sebuah sedan biru terparkir disana. Ini menjadi kesempatan emas bagi Ruby untuk menceritakan tentang tewasnya wanita yang sedang hamil itu.
"Aku ketakutan karena ceritamu," kata Ava setelah bertemu dengan Ruby.
"Kasihan sekali wanita itu. Dia tewas karena keguguran," Ruby merubah raut wajahnya menjadi muram.
"Hah? Keguguran?" Ava tampak terkejut karena Ruby hanya berbicara tentang wanita tewas tanpa tau apa yang menyebabkan wanita itu tewas.
Seorang pria keluar dari sedan biru dan duduk di depan mobilnya. Pria tua itu menggunakan pakaian rapi dan topi.
Ruby pura-pura tidak melihat dan sengaja tidak memberitahu Ava agar ia tidak panik.
"Wanita tewas itu ingin menggugurkan kandungannya. Aku tadi diberitahu bahwa wanita itu menggugurkan kandungan karena anak yang ia kandung hasil berhubungan intim dengan pria yang tidak ia cintai jadi ia ingin membunuh anaknya kemudian ingin melakukan bunuh diri," cerita Ruby. Ia berjalan dengan pelan sambil melihat layar ponselnya.
Dan tadi aku juga diberitahu bahwa ditemukan surat yang mengatakan ia akan membunuh anak itu dan bunuh diri. Diatas surat ada cincin dengan permata berwarna biru. Entah itu cincin pernikahan,pertunangan atau apa aku juga tidak tau. Cincinnya terlihat unik karena ada ukiran nama "Anderson".
"Bagaimana kau bisa mendapat informasi begitu detail?" tanya Ava.
Ting..
Sesuatu yang terbuat dari logam terdengar jatuh menyentuh jalan di gang itu. Sebuah benda bulat kecil menggelinding dan berhenti di kaki Ruby. Sebuah cincin dengan permata biru,Ruby berbalik badan dan pria itu kini ada di belakangnya.
"Apa cincin ini milik anda,tuan?" tanya Ruby.
"Benar. Terimakasih sudah mengambilkannya untukku gadis baik," jawab pria itu.
"Sama-sama," jawab Ruby dengan senyum manisnya.
Ruby dan Ava berjalan ke rumah Ruby dengan santai,Ava tidak menyadari kehadiran pria yang Ruby ceritakan padanya kemarin.
Ruby memasukkan ponselnya kedalam saku,bernafas lega karena informasi yang sangat berguna masuk disaat yang sangat tepat sehingga Ruby bisa secara langsung memberitahukan informasi kematian wanita itu secara detail di hadapan pria tua yang selalu mengikutinya.
Ia bertanya-tanya apakah setelah ini pria itu masih akan mengikutinya?
__ADS_1