
Sejak pagi Felix fokus dengan ponselnya. Ruby menduga Felix sedang menghubungi keluarganya entah untuk urusan apa. Sementara itu Andy sudah datang pagi-pagi sekali ke rumah Ruby untuk bermain bersama Amy. Sejak pindah ke rumah Ellen,dua anak itu setia hari bermain bersama bahkan menginap di kamar Ruby.
"Kak,kemarin kemana malam-malam? Ibu melihatmu," tanya Amy ambil memberitahukan bahwa kakak sepupu Ruby melihatnya pergi pada malam hari.
"Aku harus bertemu dengan seseorang kemarin," jawab Ruby.
"Siapa? Thomas?" Felix tiba-tiba datang dan memotong pembicaraan Ruby dengan Amy.
"Kenapa kau sangat ingin tau siapa yang aku temui?" Ruby tidak mengelak tapi juga tidak membenarkan dugaan Felix bahwa Ruby menemui Thomas.
"Kalau kau sudah begini berarti memang benar dia orangnya," tuduh Felix.
"Yang aku temui wanita bukan pria. Kau tenang saja,aku tidak sepertimu," Ruby memberikan jawaban menohok.
"Baiklah. Syukur kalau begitu," Felix berusaha tetap tenang.
Melihat suasana yang semakin memanas Amy mengajak Andy bermain di rumah Ellen. Setelah meminta izin Ruby,mereka bermain bersama.
"Bagaimana dengan keluargamu?" tanya Ruby pada Felix.
"Tadi kami berdebat kecil di grup keluarga. Tapi tidak ada masalah serius," Felix seakan-akan menyembunyikan sesuatu dari Ruby.
"Kalau aku membebanimu lebih baik.."
"Kau bisa tidak untuk berhenti membicarakan tentang putus? Aku lelah," Felix meninggalkan Ruby sendirian. Ia masuk ke kamar atas dan mengunci pintu kamarnya.
Ruby merasa sedikit bersalah meskipun ia masih sangat kesal dengan Felix. Ruby memutuskan untuk menyusul Felix ke kamarnya.
"Sayang,maafkan aku ya," ujar Ruby dari luar kamar namun Felix tidak menjawab.
"Sayang,jawablah. Aku mohon," bujuk Ruby. Felix masih belum menjawab.
Biasanya jika lelaki seperti itu ia membutuhkan waktu untuk sendiri,namun kali ini Ruby tidak ingin mengulang kejadian seperti dulu saat dirinya berpacaran dengan Thomas. Setelah diberi waktu untuk menenangkan diri Thomas malah memilih untuk meninggalkannya demi wanita lain. Meskipun Ruby meminta putus dari Felix namun ia tidak mau sampai terulang kembali kekasihnya meninggalkan Ruby pergi dan memilih wanita lain.
Ruby berhenti memanggil-manggil Felix,kini ia hanya berdiri di depan pintu.
"Tunggu," seru Felix dari dalam kamar kemudian ia segera membuka pintu kamarnya. Ruby masih berdiri disana tanpa berbicara sepatah kata pun,kemudian ia memeluk Felix dengan erat,sekuat yang ia bisa.
Felix sudah menduga bahwa Ruby sebenarnya tidak mau berpisah dari Felix.
"Semua akan baik-baik saja," bisik Felix.
**
"Kak,ada kak Thomas!" Amy berteriak dari gang seakan-akan hanya dirinya dan keluarganya yang tinggal di lingkungan itu.
"Amy,jangan berteriak seperti itu," sahut Ruby dari dalam.
Mendengar Thomas datang,Felix langsung keluar dari kamar dan berdiri di teras.
__ADS_1
"Jangan seperti itu," saran Ruby.
Thomas masuk kedalam rumah Ruby setelah Ruby mempersilahkannya masuk.
"Ada apa?" tanya Ruby.
"Hanya mengecek kabrmu," jawab Thomas.
"Kan bisa lewat chat saja," sahut Ruby.
"Aku ingin melihatmu secara langsung," Thomas sengaja memanas-manasi Felix.
"Sudahlah jangan sengaja seperti itu," Ruby pergi ke dapur untuk mengambilkan Thomas minum.
"Biar aku saja," Felix mengikuti Ruby.
Ruby menolak bantuan Felix karena takut Felix malah akan mengerjai Thomas dengan kejahilannya.
"Sebenarnya ada informasi penting yang aku dapatkan tentang sekte itu," kata Thomas setelah Ruby kembali dari dapur.
"Apa itu?" Ruby penasaran.
"Aku tidak bisa memberitahu orang lain selain dirimu," Thomas memberi kode sambil melirik Felix.
"Apa maksudmu? Aku harus tau semua yang berkaitan dengan Ruby," Felix ngotot ingin tau apa yang ingin Thomas bicarakan.
"Ada apa dengannya?" Felix bertanya sambil membuka kembali artikel yang sudah Anton publikasikan dengan bantuan temannya.
"Dia itu adalah seseorang yang kita kenal," jawab Thomas.
"Siapa dia? Dia juga membela ku kan," Ruby sangat penasaran.
"Ya,ada lah pokoknya. Aku tidak mau memberitahu mu," Thomas sengaja memancing Ruby agar penasaran karena Thomas tau bahwa apapun yang Ruby ingin tau harus segera ia dapatkan jawabannya dengan cara apapun.
"Katakan," rengek Ruby.
"Kalau aku katakan,aku akan dapat hadiah apa?" Thomas terang-terangan menggoda Ruby di depan Felix.
Biasanya jika Thomas menggoda seperti itu,ketika dulu masih berpacaran dengan Ruby maka ia akan mendapat kecupan di kening,pipi,dan bibirnya.
"Aku akan mencari tau untukmu," sela Felix.
Wajah Ruby tampak sumringah mendengar apa yang Felix katakan.
"Kau dengar? Dia akan mencari tau siapa pria itu," Ruby menjulurkan lidahnya pada Thomas.
"Memangnya orang itu benar-benar pria?" tanya Thomas.
"Maksudmu,dia wanita?" Thomas berhasil memancing rasa penasaran Ruby.
__ADS_1
"Memangnya aku mengatakan dia wanita?" Thomas menjebak Ruby.
"Sudahlah,Felix akan mencari tau untukku," Ruby pura-pura tidak tertarik.
Melihat respon Ruby,Thomas merasa rencananya gagal.
"Baik,akan aku beri tau," bisik Thomas.
"Bagaimana?" Ruby ikut berbisik.
"Dia adalah Cassie," jawab Thomas.
"Hah? Bagaimana kau bisa tau? Kau berhubungan dengannya?" tanya Ruby dengan mata terbelalak.
"Kenapa kau memelototi ku? Kau cemburu ya?" tanya Thomas sambil melirik kearah Felix.
"Jelaskan!" seru Ruby.
Tadi malam,Thomas pergi ke sekolah Tim,adiknya.
Disana ia bertemu dengan Cassie namun Cassie tidak melihat Thomas. Thomas hendak menyapa Cassie yang duduk di kantin SD dengan cara mengejutinya. Namun Cassie sedang sibuk dengan laptop nya kemudian Thomas sedikit mengintip Cassie. Dan yang Thomas lihat adalah ia sedang mengirimkan komentar di artikel yang baru dipublikasikan kemarin dengan nama samaran Max.
"Sebenarnya tidak terlalu penting," komentar Felix setelah mendengar penjelasan Thomas.
"Menurutku dia memberikan komentar positif agar orang-orang lebih yakin kita berada di pihak yang benar," pendapat Ruby.
"Aku juga berpendapat seperti itu," sahut Thomas.
"Tapi ada sesuatu yang aneh," tambah Thomas.
"Apa itu?" pernyataan Thomas mengulik rasa penasaran Ruby.
"Setelah dia mengirim komentar,dia sepertinya berbicara dengan seseorang di telepon. Dia berkata bahwa dia sudah mengirimkan komentar. Apa artinya ia disuruh oleh seseorang bukan?"
"Paling-paling Bella yang sangat terobsesi dengan Ruby," Felix menjawab.
"Hey," Ruby merasa sedikit jijik mengingat kejadian itu.
"Berhati-hati lah Ruby. Aku tidak ingin terjadi sesuatu.."
"Tenang. Aku selalu di samping nya. Aku akan menjaganya," sela Felix.
"Baik. Tolong jaga gadis ini. Jangan pergi layaknya seorang pengecut,seperti yang pernah aku lakukan dulu padanya," Thomas menatap Ruby dengan wajah datar sambil meneguk teh yang sudah Ruby siapkan untuknya.
"Kau kenapa?" tanya Ruby.
"Tidak. Tidak apa," kini Thomas memalingkan wajahnya seakan-akan menatap Ruby adalah sesuatu yang sangat sulit untuk ia lakukan.
"Aku tidak melarang mu memiliki perasaan pada gadis ini. Jangan siksa dirimu seperti itu. Sekuat apapun kau berusaha,dia tetap akan jadi milikku karena aku tau bagaimana setianya dia kepada lelakinya," Felix meninggalkan Ruby berdua dengan mantan kekasihnya.
__ADS_1