
Ruby terdiam. Entah berapa kali ia sudah dibuat tercengang oleh sekte yang sedang ia selidiki. Yang membuatnya lebih ketakutan ialah orang-orang itu mengetahui keberadaannya.
"Dimana?" tanya pria tua itu.
"Ia tewas di pinggir sungai," jawab wanita berjubah putih.
"Apa? Bagaimana bisa? Sialan!" pria tua itu terlihat marah.
"Bawa kemari mayat itu!" perintah ibu Poppy.
"Mayatnya sudah membusuk," jawab wanita berjubah putih.
"Aku tidak peduli. Bawa saja,dan amankan dua orang yang sedang berada di motel," perintahnya.
"Akan ibu apakan mereka?" tanya Poppy.
***
Ruby bergegas meninggalkan tempat itu dan menyelinap pergi secara diam-diam. Ia mengambil ponsel yang sudah ia bawa dengan trik yang diajari oleh Thomas,kemudian mengabari Felix agar bersembunyi bersama Thomas sebab orang-orang itu akan segera pergi kesana.
"Semuanya berkumpulah," kata seorang wanita dengan nada lembut.
Entah berapa banyak pemimpin sekte putih,kali ini orang yang memimpin berbeda.
"Pekerjaan usai,sekarang kita semua menuju markas," ujarnya.
Ia berjalan lebih dulu dan beberapa anggota sekte putih yang baru bergabung berjalan mengikuti mereka,termasuk Ruby.
Mereka berjalan keluar dari area itu,kemudian semakin mendekat kearah motel. Ruby menyadari bahwa orang-orang terdekatnya sedang berada dalam bahaya,apalagi tadi Felix dan Thomas tidak langsung merespon pesannya. Entah pesan itu sudah terbaca atau belum,Ruby pun tak tau. Mereka semakin dekat dengan motel,dan disana sudah berdiri seorang pria. Pria yang Ruby temui ketika dirinya mencoba pergi setelah terlibat pertengkaran dengan Felix.
"Ternyata dia bagian dari sekte ini? Jangan-jangan Felix dan Thomas.." Ruby sangat khawatir,ia terus berbicara dengan dirinya sendiri sejak tadi. Kini mereka sudah ada di depan motel.
"Kalian akan menginap disini,tugas kalian adalah menangkap dua orang pria yang bernama Felix dan Thomas. Berganti pakaian lah dan lepas penutup wajah kalian,bertingkah lah seperti pengunjung biasa," kata wanita itu. Ia pergi menjauh dari motel,meninggalkan anggota baru yang mendapat tugas menangkap kekasih dan temannya.
Mereka masuk kedalam motel,memilih sendiri kamar yang ingin ditempati. Pria tadi mengantar para anggota sekte dan menunjukkan kamar yang kosong,dan terakhir,ia menunjukkan kamar Felix dan Ruby berada.
Mereka semua mengangguk tanpa mengeluarkan suara sedikit pun kemudian masuk ke kamar masing-masing. Ruby diam-diam masuk kedalam kamarnya,mendapati Felix dan Thomas tertidur pulas.
"Astaga dua pria ini. Bangun!" Ruby menjewer telinga mereka.
"Aduh!" kata Felix kesakitan.
"Apa sih!" Thomas terkejut karena tiba-tiba Ruby membangunkan mereka.
__ADS_1
"Kalian tidak membaca pesanku? Bodoh!" Ruby memukul mereka karena kesal.
"Apa sih," Felix langsung membuka ponselnya,begitu juga Thomas.
"Sekarang mereka sudah ada disini. Termasuk aku,kami ditugaskan untuk menangkap kalian. Mereka berhasil menemukan mayat wanita itu dan mengira itu adalah aku,jadi kini aku dianggap sudah mati," ujar Ruby.
"Kenapa kau jadi terlibat sejauh ini?" Felix sangat kesal dengan apa yang terjadi.
"Sekarang bantulah aku. Aku akan mengirim rekaman suara ini pada kalian,tolong sebarkan. Dan tolong panggil rekan media yang bisa menyebarkan dengan cepat berita ini," kata Ruby.
"Apa maksudmu? Bagaimana bisa media masuk kesini?" Thomas kebingungan.
"Pokoknya kalian harus mencari cara agar acara lusa kacau," jawab Ruby.
"Aku harus segera pergi,kalian juga harus segera pergi karena mereka tau kalian tinggal di kamar ini," kata Ruby.
"Kemana kami harus pergi?" Thomas putus asa.
"Bersembunyi dimana saja aduh aku tidak tau," Ruby menangis ketakutan. Ia merasa putus asa karena mengetahui rencana sekte kanibal itu.
Namun ia tidak menceritakan hal itu pada Thomas dan Felix.
"Kau menutupi sesuatu," ujar Thomas.
"Kau jangan membohongiku,ceritakan dengan detail," Thomas memaksa.
Ruby dengan terpaksa menceritakan semuanya sambil menangis terisak-isak.
"Sudah cukup. Kau tidak boleh kesana lagi. Kita akan selalu bertiga kemanapun," Felix tidak dapat membayangkan bagaimana perasaan Ruby saat berada di tengah-tengah kerumunan orang yang menganut sekte aneh berkedok menghapus dosa-dosa dari muka bumi.
"Pertama,sebarkan foto saudara ibu Poppy yang disekap. Selanjutnya sebarkan rekaman yang sudah aku kirim," Ruby mulai menjalankan rencana.
"Ah,aku berhasil mengambil gambar,tapi hanya gambar altar saja," tambahnya.
"Aku memiliki foto motel ini,akan aku sebarkan juga," foto yang Thomas miliki memperkuat bukti-bukti keberadaan sekte itu.
"Seharusnya dari awal kita pergi berjalan kaki tapi aku malah tidak mau meninggalkan mobilku disini,dan kita berakhir seperti ini," Ruby menyesal.
"Tidak,ini salahku. Bukankah dulu kau sudah pernah mengajakku pergi dari sini sebelum pohon itu tumbang? Tapi aku tidak mau," Felix menyalahkan dirinya sendiri.
"Pohon yang sengaja ditumbangkan," celetuk Thomas.
Terdengar suara langkah kaki yang begitu ramai di luar sana. Para anggota sekte berjalan keluar motel dengan menggunakan pakaian biasa. Sepertinya pakaian-pakaian itu sudah disiapkan sebelumnya di setiap kamar yang masing-masing anggota tempati karena tadi tidak ada pembagian pakaian dan orang-orang masuk begitu saja kedalam kamar.
__ADS_1
"Kenapa yang datang kesini sedikit?" tanya Felix pada Ruby.
"Menyesuaikan jumlah kamar yang ada disini. Disini ada 9 kamar,dan sudah kita pakai satu karena Thomas juga ikut pindah ke kamar ini sejak aku 'mengilang' kan.
"Mereka berkumpul,kau tidak ikut?" goda Felix.
"Sialan," gerutu Ruby dengan wajah cemberut.
"Lagi pula mereka tidak menyadari kau tidak ada," imbuh Thomas.
Entah apa yang mereka bicarakan dengan berkumpul tengah malam,tiba-tiba terdengar ketukan pintu.
"Aku saja," Thomas bangun dan membuka pintu sementara Ruby bersembunyi di dalam selimut sambil dipeluk oleh Felix.
"Ada apa tengah malam?" Thomas memasang ekspresi jengkel.
"Maaf,kami menemukan mayat wanita," kata Poppy.
Felix pura-pura tidur lelap dan seakan-akan tidak mendengar apa yang Poppy katakan. Ia memejamkan mata sambil menahan tawa.
"Mari bicara di luar. Dia kelelahan," kata Thomas.
Thomas dan Poppy keluar kamar. Mereka berbicara di depan kamar Poppy.
"Pakaian yang digunakan wanita itu mirip dengan yang kalian deskripsikan," kata Poppy.
"Mungkin mirip. Aku tidak yakin Ruby meninggal," Thomas memasang wajah seakan-akan tidak percaya.
"Bisakah aku melihat mayatnya?" ujar Thomas.
"Mayatnya tidak disini?" jawab Poppy.
"Lalu dimana? Rumah sakit? Kantor polisi? Dimana mayat itu ditemukan? Apa mobil sudah bisa lewat?" Thomas melayangkan sangat banyak pertanyaan.
"Mayatnya ada di tempat yang aman. Besok akan aku tunjukan," Poppy hanya mengatakan hal itu dan tidak menjawab pertanyaan Thomas yang lain.
"Bukan di kantor polisi atau rumah sakit? Bagaimana bisa kau menyembunyikan mayat seseorang?" Thomas terus memojokkan Poppy.
Poppy tidak menjawab dan berdalih bahwa ia hanya mendapatkan informasi dari ibunya dan tidak mengetahui dimana keberadaan mayat itu.
"Lalu bagaimana kau bisa tau mayatnya di tempat yang aman?" Thomas semakin mencerca Poppy. Sama seperti Ruby,Thomas juga suka mencerca lawan bicaranya dengan berbagai pertanyaan karena sebagai mahasiswa hukum ia sudah biasa berdebat.
"Ibuku yang memberitahu. Aku tidak tau apa-apa," jawab Poppy.
__ADS_1
Thomas menatap Poppy dengan tajam dan pergi begitu saja tanpa mengucapkan sepatah katapun.