
Ruby masih sibuk dengan laptopnya,membaca komentar orang-orang yang sudah membaca artikel ketiga Anton mengenai sekte itu. Sebenarnya Ruby sangat penasaran siapa pihak yang membantu Anton namun masih ia rahasiakan hingga saat ini.
"Bagaimana?" tanya Felix sambil membawa dua botol cola.
"Responnya cukup bagus bagiku. Mereka mulai percaya bahwa sekte itu berbahaya," jawab Ruby.
Beberapa orang berkomentar bahwa keluarganya juga pernah menjadi anggota sekte itu dan ritual membakar manusia hidup-hidup dilakukan di sana. Hal itu membuat mantan penganut sekte mengalami gangguan kejiwaan.
Ruby tidak tau apakah hal itu benar atau hanya karangan belaka,tapi ia sangat tertarik dengan cerita itu.
"Apa aku harus menghubungi orang ini?" tanya Felix pada Ruby setelah ia ikut membaca komentar disana.
"Nanti saja,sekarang kita fokus dengan teman-teman yang sudah kita libatkan terlebih dahulu," jawab Ruby.
"Sepertinya memang benar ada sekte seperti itu. Untuk apa dia berbohong? Aku melihat dia gadis yang berpendidikan dan kurasa janggal dia akan mencari sensasi dengan cara seperti itu," komentar seorang anonim.
"Artikel ini masuk akal. Dari motel nya saja sudah cukup mengerikan dan apa altar-altar itu untuk melakukan pemujaan setan atau mengorbankan manusia?" komentar anonim yang lain.
"Gadis ini jujur,aku yakin ada yang tidak beres dengan tempat itu," seseorang dengan nama Max berkomentar.
"Wah respon yang baik. Tapi aku yakin mereka tidak akan tinggal diam. Apa artikel ini belum sampai pada mereka?" Ruby merasa sedikit heran.
"Atau jangan-jangan mereka sudah tau dan sedang menyiapkan sesuatu?" Ruby kembali menerka-nerka.
"Kita fokus untuk rencana selanjutnya saja,kau jangan terlalu khawatir. Aku akan menyiapkan rencana cadangan," ujar Felix.
"Rencana seperti apa?" Ruby merasa orang-orang merahasiakan sesuatu darinya
"Sudahlah,baca saja komentar-komentar itu," Felix tidak mau memberitahu Ruby.
"Sayang,followers Instagram ku meningkat gara-gara kasus ini," bisik Ruby.
"Lalu?"
"Aku akan memprivate akun ku agar orang-orang tidak berpikir aku sengaja mencari sensasi untuk menaikkan jumlah followers," jawabnya.
"Astaga sayang,jangan dengarkan kata orang. Bagaimana orang-orang akan melihat informasi tentang sekte itu sementara kau memprivate akun mu?"
Ruby berpikir lebih lanjut mengenai akun Instagram nya yang sebenarnya tidak terlalu penting.
__ADS_1
"Apa-apaan dia? Astaga aku kesal sekali," ujar Ruby setelah membaca salah satu komentar di artikel itu.
"Dia sengaja mencari popularitas agar novel nya laku karena dia seorang penulis. Akan lebih banyak orang yang mengunjungi akun sosial medianya sekarang," komentar anonim itu membuat Ruby kesal.
"Bahkan aku belum menyelesaikan naskah novel ku bagaimana mungkin aku.."
"Biar aku yang urus. Kau tidur siang saja," suruh Felix.
Entah apa yang Felix maksud dengan dia yang akan mengurus semuanya namun Ruby memilih untuk menurut dan tidur siang.
Sementara itu,Felix mulai membuka laptopnya.
*
Hari semakin sore,Ellen datang berkunjung ke rumah Ruby.
"Bibi?!" Ruby yang baru bangun dan sedang bersantai di teras segera menyambut kedatangan Ellen. Ellen langsung memeluk Ruby dengan erat.
"Bibi kemana saja?" tanya Ruby.
"Mulai sekarang masalahmu sudah selesai. Tidak akan ada yang mengusikmu lagi," jawab Ellen. Namun jawaban yang Ellen berikan melenceng dari pertanyaan Ruby.
"Aku ingin memberikan hadiah yang berkesan untukmu. Sebentar lagi kau berulang tahun kan?" jawab Ellen.
"Tapi bibi menghilang tiba-tiba.."
"Aku hanya sedang mengurus sesuatu. Aku membaca artikel itu dan komentarnya aku rasa cukup baik. Semua akan segera berakhir," Ellen menguatkan Ruby.
"Sebentar lagi bulan mati dan mereka akan mengadakan ritual. Kau harus berhati-hati karena kita tidak tau apakah mereka akan mengincarmu lagi atau orang lain," sambungnya.
"Kalaupun bukan aku,apakah kita tidak akan pergi untuk menyelamatkan orang itu?" Ruby merasa khawatir.
"Tentu saja. Tenang," Ellen menenangkan.
"Dan untuk beberapa hari,bibi akan pergi dari sini jadi kau jaga diri. Kylie dan Andy akan tinggal di rumahku untuk sementara," Ellen mengatakan tujuan utamanya mendatangi Ruby yaitu untuk berpamitan.
**
Malam mulai larut dan Ruby kembali teringat oleh cerita Felix. Dengan sangat mudah ia dibuat nyaman oleh wanita lain sampai-sampai berani diam-diam berkomunikasi di belakangnya. Ruby sangat amat kecewa seakan-akan hubungannya dengan Felix sudah tidak bisa seperti dulu lagi. Ruby terlihat murung dan Felix menyadari akan hal itu,namun ia tidak tau apa yang menyebabkan Ruby murung karena sedari pagi Ruby sudah tampak baik-baim saja. Bahkan ia tidak membahas masalah hubungan mereka lagi.
__ADS_1
"Kau tidak mau masuk ke kamar saja? Dingin," kata Felix sambil menghampiri Ruby yang sedang duduk di teras.
"Aku ingin bicara," jawab Ruby.
Mimik wajah Felix berubah. Ia sekarang mengerti apa yang membuat Ruby murung.
"Ada apa sayang?" tanya Felix dengan lembut. Meskipun tangannya berkeringat dingin Felix berusaha tetap santai di hadapan Ruby.
"Kita sudahi saja semuanya," Ruby langsung berbicara tanpa basa-basi lagi.
"Tapi kenapa? Aku memang salah mau meresponnya. Seharusnya aku lebih cuek padanya dan merespon seperlunya tapi aku terlalu asik dan berbohong. Aku mengakui kesalahanku tapi kenapa semuanya harus kita akhiri?" tanya Felix.
"Aku sudah memikirkannya. Aku tidak bisa menerima mu lagi. Sungguh,aku sudah berusaha.."
"Aku tidak meminta mu dengan cepat memaafkan ku dan melupakan hal itu. Tidak,aku akan memberimu waktu. Sebanyak apapun waktu yang kau perlukan untuk menenangkan diri akan aku berikan tapi aku tidak ingin kita berpisah," Felix memohon.
"Sebaiknya kau kembali ke rumahmu," saran Ruby.
"Tapi kenapa? Kalau kau marah dan tidak ingin melihatku untuk sementara waktu aku bisa menyewa tempat tinggal," ujar Felix.
"Aku tidak mau bersama mu lagi. Baik serumah maupun menjalin hubungan. Aku tidak bisa mentoleransi kesalahan seperti ini," Ruby kini dengan tegas sudah yakin dengan keputusannya.
"Aku tidak mau. Kau tidak bisa memutuskan hubungan secara sepihak," Felix menolak.
"Aku tau,makanya aku berbicara denganmu sekarang. Aku sudah menahannya dari kemarin agar semua terlihat baik-baik saja tapi aku tidak bisa. Aku sudah tidak memiliki rasa percaya sedikitpun untukmu," Ruby berusaha menjelaskan.
"Aku mencintaimu,sungguh," Felix tidak mau menyerah.
"Aku pasti akan mau berjuang bersamamu,meyakinkan orang tuamu atau apapun itu. Tapi karena jalan yang kau ambil seperti itu aku menganggap mu sudah mengkhianatiku," jawabnya.
"Setelah semua yang kau lakukan aku pasti akan terus-menerus mencurigai mu. Aku akan lelah sendiri menjalani hubungan seperti itu," tambahnya.
"Aku tidak akan berbuat sesuatu yang mengharuskanmu mencurigai ku," Felix memutar otak untuk mempertahankan hubungannya dengan Ruby.
"Aku sudah tidak nyaman dengan hubungan ini," Ruby masih tetap pada pendiriannya.
"Aku akan melakukan apapun demi membuatmu merasa nyama bersamaku. Apapun akan aku lakukan untukmu sayang,aku berjanji. Aku sudah memblokir nomor wanita yang aku ajak chatting itu."
"Kau tidak harus melakukan hal itu. Aku lebih senang jika kau membiarkannya begitu saja dan aku akan melakukan sesuatu karena ia berani mencoba mengambil apa yang seharusnya menjadi milikku," Ruby pergi dari teras menuju garasi mobil nya.
__ADS_1