
Ruby menggenggam tangan Thomas,meminta Thomas berdiri di hadapannya.
"Benar,aku masih mencintaimu. Tidak mudah melupakan semuanya. Kau pria pertama yang sangat aku cintai. Tapi aku tidak mau memberikan rasa sakit yang sama seperti sakit yang pernah aku rasakan ketika kau mengkhianatiku. Aku tidak mau mengkhianati Felix," Ruby memberikan jawaban.
"Aku rela mengakhiri hubunganku dengan Aster demi dirimu," Thomas berusaha meluluhkan hati Ruby.
"Sekarang aku ingin bertanya,dulu bukankah kau yang memilih dia dan meninggalkanku? Sekarang kenapa kau seperti ini?" tanya Ruby.
"Hanya emosi sesaat yang membuatku meninggalkanmu. Masalah pribadiku ditambah pertengkaran kita,aku tidak bisa mengendalikan emosiku sehingga aku mencari pelampiasan," Thomas memberikan alasan.
"Kenapa harus dengan cara berselingkuh? Kenapa tidak kau lampiaskan dengan cara lain padaku? Kenapa kau tidak memarahiku saja? Kenapa kau tidak bersikap kasar padaku saja? Kenapa kau tidak memukul..."
"Aku tidak bisa melakukan itu padamu,aku tidak bisa melihatmu menangis dihadapanku. Aku salah,dulu aku berkhianat. Aku akan membersihkan namamu di depan teman-teman secara langsung ketika kuliah sudah normal. Aku berjanji," ujar Thomas.
Ruby tidak tau harus berkata apa lagi. Ia benar-benar frustasi dengan masalah yang harus segera ia selesaikan.
"Apapun keputusanmu aku terima tapi aku sangat berharap kau menerimaku kembali," Thomas menambahkan.
"Apa kau mau menungguku? Hingga semua selesai? tanya Ruby.
Pertanyaan yang Ruby berikan memberikan seercah harapan bagi Thomas bisa kembali bersama Ruby.
"Aku akan menunggu," Thomas memberikan jawabannya.
__ADS_1
Mereka berbincang sejenak membahas masalah tugas yang dosen berikan serta mengerjakan beberapa catatan seminggu terakhir dimana mereka tertinggal pelajaran akibat harus berurusan dengan sekte itu.
Ting..
Suara ponsel Ruby namun Ruby tidak tertarik untuk mengecek ponselnya. Ia lebih memilih fokus mengerjakan tugas.
"Cek dulu," saran Thomas.
Entah kenapa Ruby menurut dengan apa yang Thomas katakan,ia langsung mengambil ponselnya dan mengecek siapakah yang mengiriminya pesan.
"Felix," ujar Ruby.
"Aku mau lihat," Thomas ikut membaca pesan Felix.
"Thomas,pulanglah," pinta Ruby.
"Kenapa? Aku belum selesai," Thomas menolak.
"Aku tidak mau berbohong. Atau kau keluar dari rumaku sebentar,setelah aku balas kau boleh masuk," Ruby panik.
"Astaga kau masih saja terlalu jujur,' Thomas pergi meninggalkan Ruby di ruang tamu.
"Sendiri," Ruby menjawab pertanyaan Felix.
__ADS_1
"Aku kesana ya?" balas Felix.
"Baiklah," Ruby mengizinkan.
"Hey,Thomas!" seru Ruby.
Thomas segera masuk kembali ke rumah Ruby sambil tertawa.
"Bisa-bisanya aku mengikuti perintahmu," Thomas tidak habis pikir dengan apa yang baru saja ia lakukan.
"Ngomong-ngomong,Felix akan datang kemari. Pulanglah dulu besok kita ngobrol lagi," ujar Ruby.
"Baiklah tuang putri ku," jawab Thomas sambil menatap Ruby yang sedang membereskan meja di ruang tamu. Thomas menarik tangan Ruby kemudian mencium bibirnya. Itu adalah ciuman kedua yang Ruby terima dari Thomas pada hari itu.
"Aku bilang jangan," Ruby memukul pundak Thomas.
Thomas pergi meninggalkan Ruby yang kini melamun di teras rumah. Perasaan campur aduk kembali Ruby rasakan. Ia tidak mengerti dengan perasaannya sendiri tapi ia tau betul bahwa dirinya masih mencintai Thomas.
Ruby berjalan kedalam rumah untuk mengambil matrasnya. Ia menggelar matras di teras rumah,membuka pakaian dan membiarkan kulitnya tersentuh langsung oleh angin sambil menunggu kekasihnya datang.
"Kemana dia lama sekali? Kekasihku itu," kata Ruby,
"Atau calon mantan kekasih?" Ruby kini sibuk dengan pikirannya sendiri kemudian ia mulai tertidur.
__ADS_1