Journeys End

Journeys End
Game Over?


__ADS_3

Sudah dua hari mereka tinggal di motel itu sejak perpanjangan sewa dan pertengkaran yang membuat hubungan Felix dan Ruby kian memburuk. Felix mulai lelah dengan sikap Ruby yang dingin dan ia lebih banyak diam agar bisa berpikir tenang. Ia tau ini semua terjadi karena kesalahan fatal yang ia buat,ia tidak masalah dengan Ruby yang mendiaminya. Ia hanya tidak mau Ruby pergi meninggalkannya.


"Aku mohon maafkan aku," ujar Felix pada Ruby yang sejak saat itu tidak sekalipun pernah menatap Felix. Permohonan maaf adalah kata yang Felix ucapkan setiap pagi,siang hingga malam. Ia benar-benar kapok membuat kekasihnya marah.


"Baik,saatnya kita bicara," hari itu Ruby mulai luluh dengan kegigihan Felix meminta maaf. Ini menjadi cahaya dalam kegelapan yang dihadapi Felix. Ia bahagia karena akhirnya ada kesempatan untuk berbaikan dengan wanita yang sangat ia cintai.


"Aku memaafkanmu," ujar Ruby dengan wajahnya yang flat tanpa senyuman. Mendengar itu Felix sangat amat bahagia. Ia langsung memeluk kekasihnya itu.


"Jangan sentuh aku mulai hari ini," Ruby mendorong Felix dengan pelan agar tidak memeluknya.


"Kenapa sayang?" Felix kembali khawatir.


"Aku memaafkanmu,tapi aku tidak bisa melanjutkan hubungan ini," jawab Ruby.


"Sayang.." kini Felix tidak bisa lagi menahan kesedihannya. Ia benar-benar tidak bisa membendung tangisannya. Biasanya ia hanya berkaca-kaca namun hari itu ia benar-benar menangis.


"Aku yang salah. Kita meresmikan hubungan terlalu cepat," Ruby menepuk pundak Felix.


"Kau boleh marah,kau tidak usah memaafkanku. Aku tidak masalah sikapmu sama seperti tadi sebelum kita bicara,kau boleh mengacuhkanku,aku tidak akan menyentuhmu,kau tidak usah menatapku atau bicara padaku. Tapi aku tidak mau hubungan kita berakhir. Aku mohon," Felix menggenggam kedua tangan Ruby sambil membungkuk memohon agar Ruby merubah pikirannya.


Di pintu ternyata Poppy melihat kejadian itu. Ia awalnya berniat membawakan Ruby makan siang karena Felix memesan untuk dibawakan makanan ke kamar sebab mulai saat itu ia memutuskan tidak akan meninggalkan kamar tanpa Ruby.


Poppy masuk dan menaruh makanan di meja kecil karena meja yang lebih tinggi masih penuh berisi makanan. Ruby tidak menyentuh makanan itu sama sekali karena ia tau makanan itu dibuat oleh Poppy.


"Ruby,aku yang salah," Poppy mendekati Ruby dan Felix.


"Pergi kau dari sini!" seru Ruby.


"Aku yang menggodanya. Maafkan aku," Poppy masih tidak mau pergi.


Hal itu membuat Ruby semakin marah.

__ADS_1


"Jangan lancang kau masuk ke kamar yang sudah aku sewa," jawab Ruby.


Felix hanya diam membiarkan Ruby melampiaskan amarahnya pada Poppy karena selama ini baru amarahnya terhadap Felix yang berhasil Ruby keluarkan.


"Aku akan melakukan apapun,tapi aku tidak mau hubungan kalian berakhir karena kesalahanku," terang Poppy.


"Kau memang bersalah tapi pria ini juga menerima godaanmu begitu saja. Dia jelas lebih menyakitiku," kata Ruby sambil menunjuk Felix.


Amarah Ruby kembali memuncak. Bahkan kini Ruby sudah tidak sudi menyebut nama Felix dan Poppy. Mendengar keributan yang terjadi,seorang pria bertubuh gempal masuk ke kamar Ruby. Ia berusaha mengajak Poppy keluar kamar.


Felix hanya tertunduk diam. Ia sadar telah menghancurkan hati kekasihnya. Ruby yang sangat marah mengambil ponselnya dan terlihat menghubungi seseorang.


"Hai,apa kabar?" suara pria di telepon Ruby. Ruby seakan-akan tidak peduli dengan perasaan kekasihnya yang mendengar Ruby menelepon pria lebih dulu. Biasanya Ruby tidak pernah melakukan hal seperti itu,jika ada keperluan menelepon pria biasanya Ruby meminta izin lebih dulu pada Felix padahal Felix tidak pernah menyuruh Ruby melakukan hal itu. Ruby memang sangat menghargai pasangannya,namun jika sekali saja pasangannya membuat kesalahan fatal maka sangat lama bagi Ruby untuk bisa memaafkan.


"Aku sedang tidak berada di rumah untuk waktu yang lama," Ruby mengawali pembicaraan.


"Memangnya kau dimana?" tanya pria itu.


"Mau aku jemput? Tapi,kami? Kau dengan siapa?" tanya teman Ruby.


"Aku dengan teman. Kau tidak usah menjemputku,Thomas," kata Ruby.


"Sudah dulu ya,besok kita sambung lagi," Ruby mematikan teleponnya sebelum Thomas menjawab.


Perasaan Felix campur aduk saat itu. Pertama,karena Ruby mengatakan bersama teman,bukan kekasihnya. Felix merasa benar-benar tidak dianggap lagi. Kedua,karena Ruby menelepon mantan kekasihnya yang sudah menyakitinya disaat seperti ini. Felix hanya diam,ia tau ini semua terjadi karena kesalahan yang ia perbuat. Ia tau Ruby sengaja agar Felix marah dan setuju untuk mengakhiri hubungan ini. Setidaknya itu yang saat ini ada di kepala Felix.


"Terserah apa yang akan kau lakukan. Aku tetap tidak mau hubungan ini berakhir," Felix berbaring di samping Ruby yang kini sudah terlentang di tempat tidur.


"Terserah kau saja," jawab Ruby.


Ada secercah harapan bagi Felix,karena Ruby sudah tidak memaksa lagi untuk mengakhiri hubungan.

__ADS_1


***


Hari berlalu begitu cepat. Langit mulai gelap karena hari sudah sore. Langit mendung diselimuti awan hitam yang pekat. Kilat menyambar dan suara gemuruh langit terdengar keras,namun titik-titik air hujan belum turun. Suhu terasa sangat dingin,padahal motel itu tidak menyediakan AC.


"Sepertinya hari ini kita harus berbagi selimut," kata Felix yang kedinginan karena Ruby sendirian menggunakan selimut yang ada di kamar itu.


"Minta saja sana," jawab Ruby.


"Tidak mau!" Felix masuk kedalam selimut yang sedang dipakai Ruby. Kini posisi Felix menghadap kearah Ruby sedangkan Ruby berbalik badan memunggunginya.


"Kau belum makan dari pagi. Aku yang akan memasak,kau makan ya?" bujuk Felix.


"Tidak lapar," jawab Ruby.


"Marahnya sambung nanti sayang," Felix bangun dan berjalan kearah pintu. Namun ia berhenti.


"Kau ikut saja denganku,agar tidak ada salah paham," ajak Felix.


"Malas," Ruby menjawab pertanyaan Felix dengan singkat.


Felix keluar kamar dan kembali dengan cepat. Ia tidak terlihat seperti orang yang baru saja selesai masak.


"Aku sudah meminta dibawakan kompor dan bahan kesini. Aku akan memasak di kamar," kata Felix.


"Kau bayar saja sendiri semuanya. Aku tidak mau makan," Ruby memejamkan matanya dan tertidur sebentar.


Felix mulai memasak. Ia memanaskan minyak dan menumis bawang serta cabai. Aroma bawang dan cabai yang ditumis menusuk hidung Ruby. Ia terbangun dari tidurnya.


"Kau benar-benar memasak disini?" Ruby bangkit dari tempat tidurnya.


"Yang penting kau makan. Aku memasak sebisaku," Felix menjawab sambil mengadul bahan yang ada di wajan. Entah apa yang Felix masak,Ruby tidak peduli. Namun sedikit demi sedikit ia mulai luluh,namun ia memegang prinsip tidak ada maaf bagi orang yang mengkhianatinya.

__ADS_1


"Mungkin ini hari terakhir kita bersama," kata Ruby.


__ADS_2