
Thomas dan Felix telah tiba di panti asuhan. Suasana terlihat normal seperti biasa,hanya saja Felix lebih banyak diam hari itu. Dia juga tidak menjawab pertanyaan yang Jennifer ajukan. Felix hanya sibuk bermain dengan anak-anak yang ada di panti asuhan itu.
"Felix,kau kenapa?" Thomas pura-pura bertanya.
"Tolong jangan ganggu kekasihku," jawab Felix.
"Kapan aku mengganggunya?" Thomas menjawab dengan tenang.
"Apa yang kau katakan tadi pagi saat aku mandi?" Felix mengintrogasi.
"Apa? Aku hanya mengobrol," Thomas mengelak.
"Baiklah," Felix kembali terlihat tenang.
Thomas kemudian berbicara empat mata dengan Jennifer. Mereka membicarakan masalah adopsi Zoe namun tetap saja belum ada kepastian. Jennifer beralasan bahwa pemilik panti asuhan sangat sulit untuk dihubungi.
"Baiklah kalau begitu. Jika ada informasi tolong lansung hubungi aku,Ruby atau Felix. Kami tidak akan lama lagi di tempat ini," Thomas mengakhiri pembicaraan.
__ADS_1
"Ngomong-ngomong,aku ada urusan jadi tidak bisa membantumu. Felix saja yang akan membantumu hari ini," Thomas menoleh Felix yang masih bermain dengan anak-anak sembari mendengarkan pembicaraan mereka.
"Kenapa hanya aku sendiri? Kau tidak mendiskusikannya denganku lebih dulu. Aku harus menemani Ruby di rumah," Felix menolak mentah-mentah untuk membantu Jennifer seorang diri.
Sebenarnya tidak masalah bagi Felix membantu Jennifer tanpa Thomas,namun karena situasi Ruby dan Felix sedang tidak baik-baik saja jadi Felix lebih memilih untuk mencari aman.
"Aku ada urusan.Lalu siapa yang akan membantunya?" Thomas membujuk sembari memberi kode agar Felix mau membantu.
"Aku tidak mau. Kenapa kau memaksa?" Felix merasa sangat jengkel.
"Lalu bagaimana?" Thomas tidak memiliki opsi lain.
Sementara itu,Felix menelepon Ruby dan mengatakan apa yang terjadi di perusahaan. Namun karena masih jengkel,Ruby menolak datang dan memilih membiarkan Felix untuk bekerja berdua dengan Jennifer. Thomas tampak kegirangan melihat kejadian itu.
"Sebenarnya kau ada pekerjaan apa sampai tidak bisa membantu?" tanya Felix setelah memutus sambungan teleponnya.
"Aku mengerjakan sesuatu yang membuat misi kita cepat selesai," Thomas tidak menjawab dengan jelas apa yang sebenarnya ia kerjakan. Tentu saja Thomas akan diam karena jika dia mengakui apa yang akan ia kerjakan sama dengan melakukan bunuh diri.
__ADS_1
"Maaf Jenn,kami tidak bisa membantu hari ini. Aku khawatir Ruby di rumah sendiri jadi aku akan pulang sekarang," Felix berpamitan tanpa peduli Thomas akan ikut pulang bersamanya atau tidak. Dan ternyata Thomas ikut pergi bersama Felix.
"Aku merasa tidak enak karena tidak bisa membantunya hari ini," ujar Thomas.
"Kenapa tidak kau saja yang bantu? Malah menyuruhku. Sangat menyebalkan," gerutu Felix.
"Baiklah maafkan aku tuan muda," Thomas sedikit bergurau agar Felix tidak larut dalam suasana hati yang buruk.
"Lalu apa yang akan kita kerjakan?" Felix mengalihkan pembicaraan.
"Ssstt.. Ada yang datang. Ke panti asuhan," langkah Thomas terhenti setelah mendengar suara deru mobil di halaman panti asuhan.
"Apa kita harus kembali?" tanya Felix.
"Tidak usah. Itu terlalu mecurigakan kalau kita kembali setelah melihat kedatangan tamu itu. Lebih baik kita mengintip," usul Thomas.
"Baiklah. Aku setuju," Felix kemudian berjalan menuju sebuah pohon. Dari sana mereka berdua mengintip.
__ADS_1
"Tunggu. Itu mobil biru milik ketua sekte. Tidak salah lagi," Felix sangat yakin.
Mobil itu terasa tidak asing juga bagi Thomas namun ia tidak ingat dimana pernah melihat mobil itu. Setelah mendengar pernyataan Felix,Thomas menjadi yakin bahwa apa yang Felix katakan ialah benar. Mobil itu milik ketua pemimpin sekte.