
Sudah tiga minggu Ruby dan Felix tinggal bersama. Urusan Ruby dengan kasus yang baru-baru ini menimpanya juga mulai menemukan titik terang. Miranda berhasil ditangkap. Namun,ia juga merasa iba karena ia memiliki seorang anak kecil yang tidak lain adalah adik Kylie,sahabatnya dulu. Mulai hari itu ia sudah terbebas dari kasus tersebut karena keterangan yang ia berikan pada polisi sudah cukup.
"Waktu kita tinggal satu minggu lagi," ujar Felix pada Ruby di mobil Ruby.
Mereka sedang dalam perjalanan menuju ke pusat perbelanjaan yang terkenal di kota itu.
"Apa maksudmu?" Ruby tak paham.
"Kontrak kita hahaha," jawab Felix sambil tertawa disaat menyetir mobil.
"Kenapa kau terus-menerus membahas kontrak? Kalau kau ingin pergi sekarang silahkan saja karena Andrew sudah tidak menghubungiku lagi," ujar Ruby.
"Bukan begitu. Kuliah sebentar lagi kan,saat kontrak kita berakhir kuliah juga sudah dimulai. Jika Andrew mempertanyakan hubungan kita bagaimana?" tanya Felix.
"Aku katakan saja sudah putus," jawab Ruby.
"Kalau dia mengganggu dirimu lagi?"
"Aku tidak tau. Biarkan saja,aku sudah cukup jauh membawamu terlibat dalam masalahku," kini Ruby merasa tidak enak dengan apa yang telah ia lakukan.
"Tidak,maksudku bukan begitu. Aku senang membantumu,kau juga telah membantuku dengan selalu menemani Key. Aku mulai melihat perubahan dalam dirinya," Felix berusaha menjelaskan kesalah pahaman yang telah terjadi.
Semenjak berteman dengan Ruby,Key sedikit demi sedikit berubah dari yang awalnya malas menjadi rajin belajar. Hal itu tidak terlepas dari motivasi dan dukungan yang selalu diberikan oleh Ruby pada Key,walaupun terkadang Ruby bersikap sedikit keras pada Key kurang disiplin.
"Seminggu lagi aku harus pulang karena jadwal kuliah," kata Felix pada Ruby.
"Baik. Terimakasih ya atas semuanya," Ruby berterimakasih dengan bantuan yang selalu Felix berikan padanya.
"Akulah yang seharusnya berterimakasih. Kau sudah membantuku mengurus adikku. Maafkan aku jika banyak salah padamu," Felix membalas ucapan terimakasih Ruby dengan permohonan maaf.
Suasana di mobil saat itu hening sejenak. Terlihat jelas perubahan mood yang terjadi diantara mereka. Mungkin karena sudah terlalu sering bersama jadi mereka merasa sedih sebentar lagi akan berpisah,apalagi kontrak mereka akan segera habis sebagai sepasang kekasih.
"Haha sebentar lagi kita putus ya," Felix tertawa namun terlihat jelas kesedihan dari wajahnya.
"Iya," Ruby tersenyum sambil menundukkan kepalanya.
"Cari pria yang baik ya. Siapa saja,asalkan jangan kembali pada Thomas. Dia bukan pria yang baik," saran Felix.
"Aku akan selalu mengingat saranmu," jawab Ruby.
Felix menggenggam erat tangan kanan Ruby seakan-akan ia tidak ingin jauh dengan kekasih sementaranya itu. Begitu juga Ruby,ia yang biasanya sedikit jual mahal ketika Felix menggenggam tangannya,kini menggenggam balik tangan Felix dengan erat.
"Ya Tuhan aku tidak ingin berpisah dengan wanita ini," ujar Thomas dengan suara kencang ketika mereka sedang melintas di jalan tol.
"Aku juga,tolong," Ruby tiba-tiba menangis bahkan sampai sesegukan.
Felix yang biasanya menenangkan Ruby dikala ia menangis,pada momen itu hanya membiarkan Ruby larut dalam tangisannya. Karena hal yang sama juga dirasakan oleh Felix. Entah kenapa kesedihan yang mendalam menyerang dirinya dari beberapa hari yang lalu ketika mengingat bahwa sebentar lagi dirinya dan Ruby akan berpisah. Namun selama beberapa hari,Felix berhasil menyembunyikan kesedihannya. Berbeda dengan hari itu,ia sudah tidak tahan lagi mebendung rasa sedihnya.
"Kita perpanjang saja kontraknya," usul Felix sambil tetap menggenggam erat tangan Ruby.
"Memangnya tidak apa?" tanya Ruby sambil menyeka air matanya.
"Tidak masalah untukku," jawab Felix.
"Aku pikirkan dulu," Ruby menjawab.
Felix cukup terkejut mendengar jawaban Ruby karena ia mengira bahwa Ruby akan langsung menyetujui tawarannya.
Mereka sampai di pusat perbelanjaan yang mereka tuju. Disana mereka berbelanja barang-barang yang mereka inginkan. Mereka benar-benar memanfaatkan waktu yang tersisa untuk terus bersama.
__ADS_1
"Apa yang kau inginkan? Akan aku belikan," ujar Felix pada Ruby.
"Kalau begitu aku juga membelikanmu sesuatu agar kita saling memberi," usul Ruby.
Felix setuju dengan usulan yang diberikan oleh Ruby. Felix memilih satu barang,begitu juga Ruby,ia memilih satu barang. Felix memilih sebuah jaket sedangkan Ruby memilih sebuah dress.Mereka membayar barang yang telah mereka beli.
"Pakailah,pasti terlihat sangat cantik," Felix menyuruh Ruby memakai dress yang baru saja ia belikan.
"Kalau begitu kau juga pakai jaketnya," jawab Ruby.
Mereka memakai pakaian yang sudah mereka beli tadi di ruang ganti tempat mereka membeli pakaian itu.
"Sekarang kita kemana?" tanya Ruby.
"Kau ingin kemana? Mau makan?"
"Tentu saja mau. Aku sudah sangat kelaparan," Ruby langsung menerima ajakan Felix untuk makan.
Mereka makan di salad bar yang memang sudah sangat terkenal disana. Dengan sistem self service,Ruby dan Felix memilih sayuran yang mereka inginkan.
Setelah memilih tempat untuk duduk,mereka makan bersama-sama.
"Aaaaa," Felix menyuapi Ruby sepotong alpukat.
Mereka menghabiskan waktu bersama-sama sebagai sepasang kekasih hari itu. Banyak tempat yang mereka kunjungi bersama-sama hingga larut malam.
***
Felix memarkir mobil di halaman rumah. Ruby membuka kunci rumah dan masuk untuk menaruh barang-barang yang baru saja mereka beli tadi.
"Sayang,mandi dulu sana," seru Felix pada Ruby.
Ruby mandi dengan air hangat karena cuaca tiba-tiba berubah menjadi dingin. Terdengar suara benda terjatuh di luar,Ruby yang memiliki rasa trauma akibat kejadian penculikan yang sempat menimpanya kini kembali teringat kejadian itu.
"Felix!" teriak Ruby namun tidak ada jawaban.
Ia terus-menerus memanggil Felix dari kamar mandi namun tidak ada jawaban.
Ruby mengambil baju mandinya dan berlari keluar dari kamar mandi sambil terus memanggil Felix namun Felix tidak ada di rumah.
Ruby mengambil ponselnya dan menelepon Felix,suara ponsel terdengar di ruang tamu. Ruby segera berlari menuju ruang tamu namun hanya ada ponsel Felix di sofa.
Ia khawatir peristiwa itu terulang lagi namun menimpa Felix.Ruby berteriak memanggil Felix hingga berlari ke gang dengan menggunakan baju mandi. Tetangga Ruby mengintip dari jendela,dan ada beberapa pria yang memang biasa berkumpul di gang pada malam hari,mereka memperhatikan Ruby. Ruby yang hanya mengenakan baju mandi tanpa memakai apa-apa lagi sudah tidak peduli.
Salah seorang pria dari beberapa orang yang berkumpul itu mendekati Ruby.
"Ada apa?" tanya pria itu.
"Aku mencari pacarku," jawab Ruby.
"Oh,pria itu. Dia pergi kesana," pria itu menunjuk ke arah sebuah rumah dekat dengan tempat mereka berkumpul.
Karena panik Felix hilang begitu saja,Ruby langsung berlari ke tempat yang ditunjuk oleh pria itu.
Pria yang tadi berbicara dengan Ruby menoleh kearah kawan-kawannya seakan-akan memberi kode. Beberapa pria mendekat kearah Ruby yang dengan bodohnya percaya pada perkataan pria itu.
"Jangan mendekat!" Ruby membentak keras.
Setelah menyadari bahwa Felix tidak ada di tempat itu baru Ruby menyadari bahwa ia telah dibohongi oleh pria yang menghampirinya tadi. Salah seorang pria berusaha menyentuh lengan Ruby. Ruby berteriak kencang,dan dari kejauhan terlihat seseorang datang.
__ADS_1
"Jangan sentuh kekasihku!" Felix berteriak dari kejauhan.
Beberapa orang tetangga Ruby yang mendengar keributan itu keluar rumah dan ikut membantu Felix. Alhasil pria-pria itu lari karena banyak warga memergoki mereka.
"Mereka bukan orang-orang yang tinggal di wilayah ini namun sering membuat onar," kata seorang warga.
"Maafkan aku telah membuat keributan malam-malam," Ruby merasa tidak enak karena telah membuat keributan sehingga mengganggu kenyamanan warga disana.
Setelah mendengarkan penjelasan warga dan mengucapkan terimakasih,Ruby dan Felix kembali ke rumah.
"Bodoh! Apa yang kau lakukan dengan pakaian ini,astaga!" Felix menutup matanya karena takut melihat tubuh Ruby.
"Apa? Kan tidak terlihat," Ruby memukul lengan Felix.
"Pakai pakaianmu,aku ingin bicara," Felix meninggalkan Ruby ke kamar mandi.
"Maksudmu,kau ingin kita berbicara di kamar mandi?" tanya Ruby.
"Aku mandi dulu,nanti bicaranya," jawab Felix sambil menahan tawa.
"Sepertinya aku sedikit bodoh," ujar Ruby pada dirinya sendiri.
***
Ruby sudah duduk di ruang tamu,dengan tegang ia menunggu Felix yang sangat lama di kamar mandi.
"Lama menunggu ya?" tanya Felix pada Ruby.
"Tumben kau mandi cukup lama. Pasti.." Ruby memotong perkataan Felix.
"Kau tidak perlu tau apa yang aku lakukan," kata Felix.
"Baik,cepatlah katakan. Apa yang ingin kau katakan padaku?" tanya Ruby.
"Bagaimana dengan tawaranku tadi?" Felix balik bertanya pada Ruby.
"Aku tidak mau melibatkanmu lebih jauh lagi," jawab Ruby.
"Hm,baik," hanya itu kata yang keluar dari bibir Felix.
"Kau tadi kemana?" Ruby mempertanyakan kemana Felix menghilang tadi.
"Apapun yang kau dengar nanti tentang diriku,aku melakukan itu semua untuk menjagamu," ujar Felix. Ia meninggalkan Ruby seorang diri di ruang tamu.
Ruby yang tidak puas dengan jawaban Felix mengikutinya sampai di kamar Felix.
"Tidur," suruh Felix.
"Tidak mau," jawab Ruby.
"Ya sudah,aku mau tidur. Selamat malam," Felix merebahkan diri di kasurnya.
"Aku ingin bersamamu," Ruby merengek pada Felix.
"Sini," Felix menarik Ruby ke pelukannya.
Mereka menghabiskan waktu bersama-sama malam itu. Dering ponsel yang berbunyi mereka abaikan.
"Felix,jangan khawatirkan aku. Aku tidak apa-apa seperti ini," kata Ruby pada Felix.
__ADS_1
"Tidak," Felix menggeleng-gelengkan kepalanya.