Journeys End

Journeys End
Scream! Say Anything!


__ADS_3

Ruby menyewa asisten untuk membersihkan rumahnya. Sebanyak 5 orang ia sewa agar proses pembersihan rumah Ruby selesai dalam sehari. Sementara itu,ia pergi menemui Key yang sudah sampai di Belanda. Jarak antara rumah Ruby dan tempat mereka akan bertemu tidak memakan waktu banyak untuk mencapainya. Ruby mengendarai taksi untuk pergi ke tempat tersebut.


Ting..


Suara notifikasi masuk di ponsel Ruby.


"Kak,kau dimana?" tanya Key.


"Sedang dalam perjalanan," balas Ruby.


"Aku di tepi danau bersama Felix," Key memberitahu agar Ruby lebih mudah menemukan dirinya.


"Felix kakakmu itu?" Ruby cukup terkejut karena mengira Key akan datang sendirian.


"Iya. Tidak usah khawatir. Aku menyuruhnya diam di mobil nanti," balas Key.


Sekitar 15 menit Ruby sampai di tepi danau yang dipenuhi bunga tulip berwarna-warni.


Ruby menghubungi Key dan mengatakan bahwa ia sudah sampai di tempat yang sudah mereka tentukan.


"Aku melihatmu," seru Key di telepon.


"Kau dimana?" Ruby mencari-cari keberadaan Key.


Ternyata Key ada di sebelah mobil yang terparkir di pinggir danau.


Ruby menghampiri Key dengan sedikit ragu padahal awalnya ia merasa biasa saja.


"Hai," sapa Ruby dengan gugup.


"Wah ternyata temanmu cantik," kata seseorang di dalam mobil.


"Tolong jangan mengganggu," Key sedikit jengkel dengan kakaknya.


Laki-laki itu turun dari mobil dan langsung mengulurkan tangan pada Ruby.


"Aku Felix,kakak Key," katanya memperkenalkan diri.


"Aku Ruby. Senang bertemu denganmu," jawab Ruby.


"Aku tidak akan mengganggu waktu kalian. Silahkan mengobrol di dalam mobil," Felix pergi meninggalkan mereka berdua.


Key mengajak Ruby masuk kedalam mobilnya.


"Kenapa harus di dalam mobil?" tanya Kylie.


"Sebenarnya aku cukup sensitif dengan debu jalanan," jawab Key.


"Oh,maaf. Aku tidak tahu," Ruby merasa tidak enak pada Key.


"Tidak apa," jawab Key.


"Di Belanda,kau tinggal dimana? Mungkin sesekali aku bisa berkunjung," tanya Ruby.


"Tentu saja aku sangat senang jika kakak mau berkunjung untuk menemui ku. Tapi aku tidak terlalu ingat nama tempatku tinggal. Sulit ku ingat tempat-tempat di sekitar sini jadi nanti aku akan mengirim alamat lengkap lewat chat saja," kata Key.

__ADS_1


"Baik," Ruby agak canggung karena merasa lancang menanyakan alamat orang yang baru saja ia kenal.


"Sepertinya kakak wanita yang pemalu," ungkap Key.


"Aku memang seperti ini ketika baru pertama kali bertemu. Namun setelah akrab,orang-orang mengatakan aku sedikit gila," Ruby mentertawakan dirinya sendiri.


"Jadi,kakak ke Belanda ada urusan apa?" Key mulai mengulik kehidupan pribadi Ruby.


"Hanya ingin berlibur. Sudah cukup lama aku tidak mengunjungi rumahku disini," jawab Ruby.


"Kakak tinggal dimana?"


"Aku di Ankerstraat," jawab Ruby.


"Itu dimana sih?" Key memang tidak mengetahui jalan-jalan yang ada disana.


"Tidak jauh dari tempat ini. Jika kau naik taksi pasti sopir taksi nya tau," kata Ruby.


"Aku tidak butuh taksi. Ada kakakku yang sudah cukup lama tinggal disini," ujar Key.


"Kakakmu tinggal disini?"


"Maksudku,ketika ia libur kuliah biasanya dia memilih menetap disini," terang Key.


"Aku ingin tau lebih banyak tentangmu," Ruby mulai mencari tau latar belakang Key. Ia memang tidak pernah asal dalam memilih teman,apalagi teman yang baru saja ia kenal.


Key mulai menceritakan tentang dirinya dan keluarganya.


"Lalu kau tidak apa berpergian terlalu jauh?" Ruby prihatin dengan penyakit yang Key derita.


"Tidak apa," jawab Key.


"Mengganggu saja," Key belum puas bercerita karena masih banyak hal yang ingin ia ceritakan. Bahkan Ruby belum menceritakan tentang dirinya.


"Kami harus ke gereja jadi tidak bisa terlalu lama," ujar Felix.


"Oh. Maafkan aku," Ruby kembali merasa tidak enak.


"Santai saja. Kau tidak melakukan kesalahan apa-apa," jawab Felix.


"Kakak tidak ke gereja? Ayo pergi bersama," ajak Key.


"Maaf Key. Aku bukan..."


Ucapan Ruby terputus.


"Maaf Ruby. Adikku memang suka asal bicara," Felix tidak enak karena Key sudah memasuki ranah privasi Ruby. Sebenarnya Felix mengetahui bahwa Ruby seorang Hinduism dari kalung yang Ruby kenakan.


"Aku hanya menawarkan," Key tidak terima karena kakaknya mengatakan bahwa dirinya asal bicara.


Disini Ruby baru melihat sifat kekanakan Key,yang memang umum ditemui pada anak remaja seumuran Key.


Ruby keluar dari mobil dan berpisah dengan kakak beradik itu. Saat akan naik taksi,mobil Felix muncul di belakangnya.


"Ruby biar aku antar," Felix menyuruh Ruby masuk ke mobilnya.

__ADS_1


Karena tidak enak menolak sekaligus mendapatkan tumpangan gratis,Ruby naik ke mobil Felix.


Felix menyetir ke jalan yang mengarah ke rumah Ruby. Ruby heran kenapa ia bisa tau rumah Ruby.


"Bagaimana kau tau arah jalan menuju rumahku?" tanya Ruby.


"Rumahku tepat di sebelah rumahmu," jawab Felix.


"Sebenarnya aku dan kakak tinggal di rumah yang berbeda. Kakak tinggal di rumah yang dulu ditinggali nenek sementara aku bersama ayah dan ibu," Key menjelaskan hal yang membuat Ruby penasaran.


"Tapi bagaimana kau tau..." Felix memotong perkataan Ruby.


"Aku sudah memperhatikanmu sejak aku sampai disini. Aku mengenali dirimu karena foto yang diperlihatkan oleh Key padaku," Felix menjelaskan.


"Setelah ini aku akan mengantar Key pulang dan menemui keluargaku sebentar," ujar Felix.


Ruby yang tidak menanyakan kemana Felix akan pergi setelah itu hanya mengiyakan perkataan Felix.


Mereka akhirnya sampai. Ruby sangat berterimakasih kepada Felix dan Key karena telah mengantarnya pulang. Felix kemudian memacu kencang mobilnya dan mengantar Key menuju rumah orang tua mereka.


Sementara itu,Key memeriksa kedalam rumah. Rumah sudah bersih. Barang-barang yang masih bagus namun sudah tidak terpakai ia berikan kepada petugas kebersihan yang ia sewa tadi secara cuma-cuma. Ternyata salah satu dari lima orang petugas kebersihan itu sedang hamil.


Ruby membelikan mereka makan siang dan mereka makan siang bersama-sama. Setelah makan siang,para petugas itu menerima bayaran kemudian pergi meninggalkan rumah Ruby.


Kini Ruby menata ulang kamarnya,menyusun rak untuk menyimpan naskah serta menambahkan dekorasi.


Ia merasa cukup lelah setelah menyelesaikan semua pekerjaannya. Ia terduduk dan kembali mengingat Thomas. Hari itu tangisnya pecah. Ia benar-benar kehilangan seseorang yang sangat ia cintai. Bahkan ia sudah berusaha mengingat-ingat hal jahat yang Thomas lakukan pada dirinya namun tetap tidak berhasil. Ruby tidak dapat menyangkal lagi bahwa ia sangat merindukan Thomas.


"Kenapa semua terjadi padaku?" Ruby memukul-mukul bantal guling.


"Kenapa aku harus mengenal Thomas," Ruby berlari ke kamar mandi.


Ia menangis sesegukan dibawah air yang mengalir dari shower.


Setelah cukup lama menangis,Ruby memutuskan berendam di bathtub.


Ia memejamkan mata dan tertidur beberapa saat.


"Aaaaaaaaa," teriak Ruby.


"Berteriak lah yang keras. Tidak akan ada yang mendengar mu," Kylie berusaha membenamkan wajah Ruby ke air yang ada di bathtub.


Ruby berusaha melawan. Tanpa busana ia berusaha bangun dan mendorong Kylie. Ia berteriak sekencang-kencangnya namun tidak seorang pun mendengar. Ruby menendang Kylie hingga terjatuh namun Kylie berusaha memegang kaki Ruby. Ruby ia seret kembali ke bathtub dan kepala Ruby ia benturkan ke ujung bathtub.


"Ruby! Ruby!!"


Ruby membuka mata. Felix di depan matanya melihat Ruby yang berada di bathtub berteriak sangat keras.


"Ada apa?" Felix sangat panik.


"Oh,Felix. Tidak. Aku hanya bermimpi buruk," jawab Ruby.


"Kenakan pakaianmu," Felix keluar dari kamar mandi dan menunggu di luar.


Ruby merasa sangat malu karena Felix melihat matanya yang bengkak sehabis menangis. Ditambah ia mendengar suara teriakan Ruby yang cukup keras dalam keadaan telanjang di bathtub. Namun ia bersyukur. itu semua hanyalah mimpi.

__ADS_1


__ADS_2