Journeys End

Journeys End
Please Come Home. I Miss You.


__ADS_3

"Kenapa disini sangat ramai? Berbahaya,ayo kembali!" Felix memaksa Thomas untuk kembali.


"Bagaimana dengan Ruby? Bisa-bisanya kau seperti ini," Thomas tetap ingin melanjutkan pencarian di area itu.


"Kekasihku bukan wanita bodoh. Dia tidak akan tertangkap," Felix yakin Ruby baik-baik saja.


"Aku akan menemukannya. Kau pulang saja sendiri," Thomas menyusup melewati pohon-pohon.


Karena suasana gelap,semakin mudah untuk mereka melewati para penjaga sambil mengintai.


Felix menatap Thomas sambil menunjuk sesuatu. Sepasang jejak kaki terlihat disana.


"Ruby. Ini sandal yang digunakan Ruby," bisik Thomas.


"Ah,iya. Sandal dengan jejak aneh itu," Felix ingat karena ia yang menemani Ruby membeli sandal itu. Sandal yang menghasilkan jejak kaki dengan motif yang aneh.


"Tapi mengarah ke sungai," bisik Thomas.


"Ikuti alur sungai ini. Kita harus melawan arah," kata Felix.


"Melawan arah?" Thomas tidak paham. Dia terserang rasa panik yang luar biasa,sama persis seperti perasaan yang ia rasakan ketika diculik bersama Ruby.

__ADS_1


"Kau menangis? Kau takut?" Felix meremehkan Thomas.


"Aku tidak mau sampai terjadi sesuatu padanya. Dulu aku yang selalu menjaganya,sekarang siapa? Kau bahkan tidak mengkhawatirkannya," Thomas sedikit kesal dengan Felix.


"Dia kekasihku. Aku yang lebih mengetahui tentang dirinya," sahut Felix.


"Dia mantan kekasihku dan aku berpacaran dengannya jauh lebih lama. Dia memang pintar namun dia sangat memerlukan perlindungan apalagi saat dia putus asa,dia akan melakukan hal diluar akal sehat," Thomas pergi meninggalkan Felix.


Kini ia paham maksud Felix untuk mengikuti sungai dengan berlawanan arah,jika Ruby terdesak dan menenggelamkan diri dia pasti berenang melawan arah untuk menjauh dari tempat dengan penjagaan ketat itu.


Felix yang juga marah mengikuti Thomas di belakang. Dia sebenarnya khawatir,namun karena ada Thomas ia awalnya bersikap santai agar tidak terlihat terlalu bucin. Hal itu karena ia merasa gengsi sebagai seorang pria,namun melihat kepanikan Thomas ia merasa bersalah pada kekasihnya itu karena seakan-akan ia tidak memperhatikan Ruby.


"Aku sangat mencintainya. Kau jangan berani mengganggu hubungan kami," celetuk Thomas.


"Apa maksudmu perasaannya lebih besar padaku dibandingkan padamu? Dia jelas-jelas kekasihku,jelas perasaannya terhadapku lebih besar," kata Felix protes.


"Aku masih merasakan perasaan itu. Saat dia menatapku,matanya yang berbinar dan bahagia ketika aku membalas senyumannya. Perasaan itu,hanya kami yang bisa merasakan," Thomas menjawab tanpa menatap Felix.


Felix yang kesal dengan jawaban Thomas menarik kerah baju nya dari belakang kemudian menghajarnya.


"Apa-apaan kau?" Thomas terkejut dengan sikap Felix.

__ADS_1


"Sampai kapanpun. Aku yang akan mendampinginya," Felix kini meninggalkan Thomas di belakang.


Mereka sudah cukup jauh dari kerumunan orang dan terus mengikuti kemana arah sungai itu. Ternyata melewati belakang motel namun jarak dari motel sampai di pinggir sungai itu cukup jauh dan dibatasi oleh pepohonan besar. Dari celah-celah pohon terlihat motel dengan pencahayaan yang sangat terang di bagian luarnya,namun di dalam redup.


"Maafkan aku jika kau tersinggung. Aku hanya ingin kita fokus pada Ruby. Setelah Ruby kita temukan,kita lanjutkan lagi urusan kita," kata Thomas setelah beberapa saat terdiam.


"Baik," Felix yang merasa tertantang mengiyakan ajakan Thomas.


"Apa itu? Ada rumah!! Thomas menunjuk sebuah pintu gerbang yang sudah ditumbuhi semak belukar.


"Apa Ruby kesana?" Felix ragu di tempat itu Ruby berada.


"Kita pelan-pelan mengintai disana," jawab Thomas.


Perlahan-lahan mereka berjalan mendekati gerbang itu. Setelah sangat dekat,mereka mengintip ke dalam. Hanya terlihat taman yang cukup bagus. Dari luar tidak tampak apa-apa lagi selain taman yang sangat amat luas dengan dua buah altar di tengah-tengah halaman. Di sekeliling altar terdapat lilin yang disusun rapi mengitari altar,beberapa bunga mawar merah juga diletakkan disana.


Di pinggir altar,tepat di bawah pohon-pohon besar terdapat tiga buah mangkuk besi dengan simbol aneh,sepertinya simbol dari sekte itu.


"Tidak mungkin Ruby masuk kedalam," bisik Felix.


"Aku juga merasa demikian. Tapi,dimana dia sekarang?" Thomas merasa khawatir.

__ADS_1


"Kita kembali dulu,mungkin Ruby sudah di kamar," ajak Felix.


Mereka berdua kembali ke motel dengan tangan kosong.


__ADS_2