Journeys End

Journeys End
Time to be serious


__ADS_3

"Aku akan melakukan apapun," Felix masih berusaha terus memohon.


"Bukannya banyak wanita yang menginginkanmu? Kau tinggal pilih saja salah satu dari mereka," kali ini Ruby menjawab sambil tersenyum.


Mereka berpelukan. Ruby memutuskan untuk memaafkan Felix karena ia memang tidak melakukan apa-apa.


"Ya sudah,lanjutkan masakanmu," Ruby berbaring di tempat tidur.


"Kau tampak kurang sehat," ujar Felix.


"Sepertinya karena terlalu dingin,aku kurang enak badan," Ruby menjawab.


Felix terus mengaduk sesuatu di wajannya. Dengan serius ia mencicipi rasa dari masakan yang ia buat.


"Sayang,hampir jadi," Felix mengarahkan sendok ke mulutnya.


Ia memasak sayuran dengan udang dan cumi-cumi yang sangat Ruby sukai.


Ruby bangkit dari tempat tidurnya dan mendekati Felix karena merasa penasaran dengan makanan yang Felix masak.


"Aku juga mau mencoba," Ruby mencoba rasa masakan itu.


***


Malam tiba. Suasana masih terasa sepi. Karena sudah berbaikan dengan Felix,kini ia tidak sungkan lagi bertanya.


"Kenapa terasa sepi? Kemana orang-orang?" tanya Ruby.


"Aku juga merasakan hal yang sama. Biasanya walaupun orang-orang berada di kamar,suasana tidak terasa sepi seperti saat ini," jawab Felix.


"Tapi,aku baru ingat!" tambahnya.


"Ingat apa?" tanya Ruby.


"Saat aku berjalan-jalan di motel ini,aku bertemu seorang pria bernama Al. Dia mengatakan bahwa Poppy memberitahu orang-orang agar mengosongkan motel ini karena akan segera ditutup. Namun aku tidak diberitahu info seperti itu oleh Poppy. Apa kau diberitahu?"


"Tidak. Aku tidak pernah berbicara dengannya," jawab Ruby.


"Setelah aku tanya Poppy,tidak benar informasi yang mengatakan motel akan ditutup," pungkas Felix.


"Apa semua pengunjung motel ini pergi dan hanya kita yang menginap disini?" Ruby merasa khawatir.


Ruby dan Felix berusaha mencari tau kemana perginya orang-orang. Mereka keluar kamar dan berjalan mengelilingi bagian dalam motel. Tidak terdengar suara seorang pun di kamar yang melewati. Ketika Ruby dan Felix sampai di meja tamu,pintu kamar Poppy terlihat sedikit terbuka. Sama persis seperti saat Ruby memergoki Felix di dalam kamar Poppy.


"Aku akan cek," kata Ruby.


"Sayang,jangan," Felix melarang.


"Aku hanya ingin bertanya," Ruby tidak mendengarkan larangan Felix.

__ADS_1


Ruby membuka pintu dan melihat Poppy dengan pria yang kemarin Ruby temui di jalan. Mereka tidak menyadari kehadiran Ruby,Ruby langsung keluar dan menutup pintu kamar.


"Sepertinya jika aku tidak memergokimu,nasibmu akan sama seperti pria itu," Ruby berjalan menuju pintu keluar motel.


"Ada apa sayang?" Felix menggandeng tangan Ruby.


"Mereka sedang.. Ya,kau pasti mengerti. Aku harap pria itu belum memiliki istri atau tidak terikat hubungan dengan wanita manapun," Ruby berjalan menuju jendela kamar mereka.


Felix hanya diam dan mengikuti kemana Ruby pergi. Ia menyadari perkataan Ruby itu sebenarnya ditujukan untuknya. Namun ia heran kenapa Poppy selalu menggoda setiap pria yang ia temui.


"Aku harap wanita kemarin datang lagi. Aku masih sangat penasaran dengan ritual apa yang dimaksud," kata Ruby sambil terus berjalan di halaman itu.


Namun,langkahnya terhenti karena merasa ada seseorang yang sedang mengawasi mereka. Ia menoleh ke kanan dan ke kiri namun tidak menemukan siapapun disana.


"Kenapa?" tanya Felix.


"Kau tidak merasa diawasi?" bisik Ruby.


"Sayang,bersikap biasa saja. Nanti aku jelaskan," Felix mencium kening Ruby seakan-akan tidak ada sesuatu yang aneh disana.


Hari mulai gelap,wanita yang mereka tunggu ternyata tidak datang.


"Kembali ke kamar saja,berbahaya," Felix menarik tangan Ruby untuk mengajaknya masuk kedalam motel.


"Apa pohon tumbang itu tidak kunjung dipindahkan?" Ruby lupa mengecek apakah pohon yang menjadi penghalang mereka untuk pulang masih berada disana.


"Sayang,cek mobil kita dulu," Ruby menunjuk ke arah mobilnya yang masih terparkir di tempat yang sama.


"Kuncinya di kamar," jawab Felix.


"Cek dari luar saja," Ruby menjawab sambil berjalan menuju mobil kesayangannya.


"Apa-apaan ini?!" Ruby mendapati kedua ban belakang mobilnya kempes.


"Saat kita pergi aku sudah cek,semuanya aman," ujar Felix.


"Memang ada yang tidak beres disini," jawab Ruby.


"Ehem. Ada apa?" ibu Poppy menghampiri mereka.


"Ban mobil kami kempes," jawab Felix.


Ruby masih marah dengan sikap ibu Poppy yang sangat kasar beberapa waktu lalu jadi ia tidak menjawab pertanyaan ibu Poppy.


"Besok akan ku carikan bengkel," kata ibu itu.


"Terimakasih," jawab Felix.


Mereka pamit untuk kembali ke motel.

__ADS_1


"Bukannya kita membawa ban serep?" tanya Ruby.


"Iya,ban nya aku sembunyikan di dalam mobil. Aku sengaja berpura-pura tidak membawa ban. Aku takut mereka mencuri ban serep kita," Felix berbisik.


"Apa maksudmu?" Ruby ikut berbisik.


"Dari awal aku sudah merasa ada yang aneh disini. Kita harus berhati-hati," Felix menjawab sambil bermain ponsel agar tidak terlihat terlalu serius.


Felix mengirim pesan pada Ruby yang ada di depannya. Ruby membaca isi pesan itu.


"Sayang,tadi saat kita berjalan di halaman ,ibu Poppy mengawasi kita dari rumahnya. Aku tidak melihat jelas tapi aku yakin itu dia. Bahkan sampai malam kita diluar,dia juga tetap mengawasi kita. Lebih berhati-hati dengan tempat ini," isi pesan yang Felix kirim.


Ruby pura-pura tertawa terbahak-bahak membaca pesan itu karena ia menyadari ada sesuatu di kamar mereka.


"Hahaha Wooseok Oppa!" Ruby kembali tertawa terpingkal-pingkal.


"Apa yang kau tonton sampai membuatmu tertawa kencang seperti itu?" Felix bertanya.


"Aku sedang menonton K-POP. Kau jangan mengganggu," jawab Ruby.


Padahal sebenarnya ia sedang mengirim pesan pada Felix.


"Sayang,ventilasi diatas kita," kata Ruby pada pesan itu.


Felix pura-pura mengantuk dan merebahkan dirinya di kasur dengan terlentang menghadap keatas. Ia menatap ventilasi itu,yang tadi sore terbuka sekarang sudah tertutup.


"Aku yakin ada yang mengintip kita," Ruby kembali mengirim pesan.


Felix menarik tangan Ruby,ia memeluk kekasihnya dengan erat.


"Aku sudah lama menyadarinya dan kau baru tau sekarang," bisik Felix ketika Ruby memunggunginya.


Ruby langsung berbalik arah dan menatap Felix. Ia membenamkan wajahnya di pelukan Felix sambil berbisik.


"Kenapa kau baru memberitahu?" tanya Ruby.


"Aku pikir hanya perasaanku saja. Tapi memang benar ventilasi ini adalah tempat untuk mengintip," Felix menggigit kening Ruby.


Ruby seketika memukul Felix,mereka berdua tertawa terbahak-bahak.


"Ayo tidur. Matikan ponselmu," kata Felix.


Mereka memutuskan untuk berpura-pura tidur. Felix meletakan ponselnya dalam keadaan terbalik,bagian belakang menghadap keatas sedangkan bagian layar menghadap kebawah. Dengan kamera video yang aktif merekam. Felix dan Ruby berpura-pura tidur selama 45 menit,berusaha menahan tawa ternyata cukup menguras tenaga mereka.


Felix meletakan ponselnya di meja dengan posisi ponsel yang masih sama seperti tadi.


Ia membangunkan Ruby.


"Sudah cukup. Kita perlu mulai menyelidiki," Felix menggoncang-goncangkan tubuh Ruby yang tak kunjung membuka mata.

__ADS_1


__ADS_2