
"Kau ini kenapa? Dari tadi tampak gelisah," tanya Ruby pada kekasihnya.
"Sudah ku bilang ayo kita pindah sampai keluargamu kembali," jawab Felix.
"Kau pikir saat keluargaku kembali kita akan diizinkan tinggal bersama," Ruby tetap menolak ajakan Felix untuk pindah sementara.
"Setidaknya sampai semua aman kita tetap tinggal bersama," jawabnya.
"Apa yang kau khawatirkan? Katakan padaku," Ruby menuntut kejelasan dari Felix.
"Keselamatanmu. Itu saja," Felix menjawab dengan tegas.
"Aku baik-baik saja sayang," perdebatan kecil terjadi sore itu dimana Felix bersikeras untuk pindah sedangkan Ruby menolak.
Tidak jelas apa yang Felix khawatirkan sehingga sangat ingin untuk mencari tempat sewa yang bisa mereka tinggali untuk sementara. Ruby merasa situasi tidak terlalu buruk disana,hanya ada seorang wanita yang menanyakan alamat dan itu adalah hal yang wajar bagi Ruby.
"Aku tau kenapa kau menolak," kata Felix sembari meninggalkan Ruby yang sedang membalas chat di ponselnya.
"Apa maksudmu? Karena kita tidak perlu pindah makanya aku memutuskan tinggal disini," Ruby mengikuti Felix ke kamarnya.
"Gara-gara pria itu kan," Felix berkata sambil menatap Ruby dengan marah.
"P.. Pria apa?" Ruby menjawab dengan gugup karena ia belum pernah melihat Felix menuduhnya seperti itu.
"Tentu saja. Kau masih sangat mencintainya," Felix mengambil kopernya.
"Sayang. Tidak," Ruby menghalang-halangi Felix.
"Aku mau pulang," Felix melepaskan genggaman tangan Ruby pada bahunya.
"Kau kenapa? Aku milikmu," Ruby berusaha meyakinkan Felix bahwa kini ia sudah tidak memiliki perasaan apapun terhadap Thomas.
Felix tidak memperdulikan perkataan Ruby. Ia mengemasi pakaiannya.
"Baik ayo kita pergi bersama," Ruby berlari menuju kamarnya.
Felix hanya memperhatikan tingkah Ruby sambil tersenyum. Ia senang karena trik yang ia gunakan berhasil membujuk Ruby untuk pindah.
Ruby datang ke kamar Felix dengan membawa koper kosong.
"Untuk apa kau bawa koper ini kemari?" tanya Felix.
"Pakaianku ada disana," jawab Ruby sambil menunjuk sebuah lemari di dekat lemari kayu tempat Felix menyimpan barang-barangnya.
Mereka berkemas-kemas bersama. Sebenarnya Ruby tidak paham apa yang dikhawatirkan oleh Felix namun ia hanya mengikuti kekasihnya itu. Ia menganggap ajakan Felix untuk pindah sementara adalah rencana liburan bersama.
"Sekarang kemana? Bahkan kita tidak tau akan menyewa rumah dimana," ujar Ruby.
"Kita keliling saja dulu. Jika belum ketemu hari ini,nanti kita menginap di motel," jawab Felix dengan santai.
Ruby pergi dan mengecek apakah sudah semua barang yang ia perlukan sudah dikemas. Felix memasukkan barang-barang mereka kedalam mobil.
"Kita berpamitan dulu," ajak Ruby.
"Berbahaya jika kita kembali kesana," Felix langsung menyuruh Ruby masuk kedalam mobil setelah memastikan rumah terkunci.
Mereka pergi sore itu untuk mencari rumah yang dapat mereka sewa.
"Aku merasa seperti tidak memiliki keluarga," ujar Ruby ditengah perjalanan.
__ADS_1
"Kenapa?" Felix penasaran.
"Aku merasa sangat bebas. Sejak kuliah aku baru merasakan kebebasan seperti ini," jawab Ruby.
Felix yang sudah terbiasa hidup tanpa pengawasan orang tua sejak SMP hanya terdiam mendengar jawaban Ruby.
"Kau princess di keluargamu ya," goda Felix.
"Apa maksudmu? Karena di tempatku tinggal tidak ada tempat seru maka aku lebih banyak diam di rumah sedangkan disini banyak tempat yang bisa aku kunjungi," Ruby membela diri.
"Tidak apa,aku akan menjadikanmu ratu hahaha," tawa Felix ditengah kemacetan kota.
Langit mulai gelap. Ruby dan Thomas sudah menemukan rumah sewa namun ternyata di dalamnya kurang membuat mereka nyaman. Dan beberapa rumah nyaman namun harga yang ditawarkan kurang cocok bagi mereka. Malam itu mereka memutuskan menginap di motel pinggir kota.
"Aku tau sebuah motel di pinggiran kota. Kau mau menginap disana?" Felix menawarkan sambil menyerahkan ponselnya pada Ruby. Terlihat gambar motel yang dimaksud oleh Felix,dengan pemandangan yang asri untuk sebuah motel di kota. Ruby baru mengetahui ada motel seperti itu di daerah tempatnya tinggal.
"Kau suka tempat seperti ini kan?" tanya Felix pada kekasihnya.
"Tentu saja," Ruby bersemangat memasuki motel itu.
Motel yang tidak terlalu mewah dan terletak di pinggi kota dekat hutan memang menjadi tempat favorit Ruby. Ia yang sangat menyukai misteri juga ikut menyukai tempat dengan suasana sedikit mencekam dan misterius.
Waktu yang dibutuhkan untuk mencapai motel itu sekitar satu jam dari tempat mereka berada saat ini. Walaupun dilanda rasa lelah namun mereka tetap bersemangat karena tempat itu sangat menarik bagi mereka. Setelah singgah ke sebuah restoran yang ada di dekat sana kemudian mengisi bensin mobil Ruby,akhirnya mereka sampai di tempat tujuan.
"Selamat malam," sapa seorang wanita.
"Malam. Kami ingin menginap sehari," kata Felix.
"Baik. Kamarnya ada disana," jawab wanita itu sambil memberikan kunci.
"Barang-barang kita tidak dibawakan?" bisik Ruby.
"Barangnya taruh di mobil saja," usul Ruby.
"Tidak,takut hilang," Felix kembali keluar dan mengambil beberapa koper mereka.
Beberapa saat mereka keluar masuk motel untuk memindahkan barang-barang merea yang jumlahnya cukup banyak. Wanita yang tadi memberikan kunci hanya terduduk sambil meminum teh melihat Ruby dan Felix memindahkan barang mereka.
"Wanita yang kejam," bisik Ruby.
"Bisa diam tidak?" Felix mencubit pinggang Ruby.
"Aku mau mandi," Ruby pergi menuju kamar mandi yang ada di kamar tempat mereka menginap. Setelah memindahkan barang-barang berat itu tubuh Ruby terasa sangat kotor dan lengket.
"Aku juga," Felix mengikuti Ruby.
"Aku duluan ya," Ruby menutup pintu kamar mandi dan meninggalkan Felix diluar.
"Aku akan menjagamu," jawab Felix.
Ruby yang mengintip dari ventilasi yang ada di pintu kamar mandi hanya tertawa melihat tingkah Felix. Ia senang karena kekasihnya berusaha menjaganya dengan sangat keras,namun di sisi lain Ruby kebingungan sebenarnya apa yang membuat Felix begitu ketakuan.
Tengah malam tiba. Mereka berdua tidak bisa tidur dengan lelap. Baru memejamkan mata selama 10 menit lalu terbangun. Hal itu terjadi berulang-ulang.
"Sayang. Aku merasa ada yang mengawasi kita," Felix berbisik pada Ruby yang sedang memunggunginya. Ia berpura-pura memeluk Ruby agar tidak terlihat sedang berbisik sedangkan Ruby tetap pura-pura tidur. Ia menggenggam tangan Felix tanpa menjawab bisikan Felix,mereka kemudian berhasil tertidur.
***
"Sayang,kita tinggal disini saja untuk sementara," saran Ruby tiba-tiba.
__ADS_1
Felix yang masih diselimuti rasa kantuk hanya diam dan kembali menarik selimutnya. Pagi itu cuaca begitu cerah,udara sangat sejuk karena motel terletak di pinggiran kota dengan lingkungan yang masih asri. Ruby menengok ke luar dari jendela kaca yang tidak bisa dibuka. Diluar ternyata ramai para pengunjung motel berjalan keluar dan masuk halaman motel kecil itu.
"Ternyata ramai yang menginap disini. Tadi malam aku merasa hanya aku dan Felix saja karena suasana sangat sepi. Mungkin karena sudah malam," ujarnya dalam hati.
"Sayangku," Felix menarik rok Ruby.
"Apa yang kau lakukan? Lepaskan," pinta Ruby.
Felix tentu saja menolak melepaskan kekasihnya itu begitu saja.
"Hari ini kita makan apa?" tanya Felix.
Tok.. Tok..
Terdengar suara ketukan pintu kamar.
"Aku saja yang buka," Felix dengan siaga membuka pintu dengan hati-hati.
"Selamat pagi," sapa wanita itu.
Ia adalah Poppy,wanita yang bertugas menerima tamu di motel itu.
"Hai. Selamat pagi," Felix menyapa kembali wanita itu.
"Ibu ingin mengajak kalian sarapan bersama. Mari ikut denganku," kata Poppy.
Felix melirik Ruby dan mereka berjalan mengikuti Poppy.
"Ibu dan aku memang biasa mengajak tamu yang baru pertama kali menginap di motel kami untuk makan bersama," terang Poppy saat perjalanan menuju rumahnya. Rumah Poppy hanya berjarak sekitar 200 meter dari motel itu. Motel milik keluarga Poppy memang sudah cukup lama berdiri di pinggiran kota dan sangat banyak orang yang berminat menginap disana.
Sampai di depan rumah,mereka telah ditunggu oleh wanita tua beruban yang tersenyum memperlihatkan giginya yang putih. Ruby membalas senyuman wanita yang terlihat masih muda namun berambut putih itu sedangkan Felix malah bergidik ngeri.
"Silahkan masuk," ibu itu mempersilahkan mereka masuk.
"Kalian dari kota?" tanya Poppy pada Ruby.
"Iya. Sebenarnya kami sedang mencari rumah untuk disewa namun karena kemalaman di jalan jadi kami menginap disini," jawab Ruby.
"Menginaplah lebih lama disini. Kami tidak mematok harga mahal karena akhir-akhir ini pengunjung sepi akibat penyakit yang mewabah," kata ibu itu.
"Ide yang bagus," Ruby memberi isyarat pada Felix untuk tinggal lebih lama disana.
Felix tidak menanggapi dan menghabiskan sarapannya dengan cepat. Ia merasa cukup aneh karena wanita itu tidak memperkenalkan diri sama sekali. Yang kini mereka ketahui hanyalah wanita itu merupakan ibu dari Poppy.
"Hey pergi dari sini! Ritual! Ritual!" teriak seseorang dari luar rumah.
Para pengunjung yang menginap di motel itu berlari ketakutan dan masuk kedalam motel. Poppy segera keluar dan mengusir wanita itu. Wanita yang tampak sebaya dengan ibu Poppy namun karena ia menggunakan penutup wajah maka Ruby tidak dapat melihat wajahnya.
"Maaf,wanita itu memang sering membuat keributan," Poppy merasa tidak enak pada tamu-tamunya.
Ruby dan Felix yang juga ketakutan memilih untuk kembali ke motel.
***
"Sayang,ayo pergi sekarang," ajak Ruby. Ia yang awalnya ingin menginap lebih lama kini berubah pikiran.
"Ayo!" Felix dengan semangat juga setuju dengan rencana Ruby.
"Tunggu!" seseorang berteriak dan mengintip dari jendela.
__ADS_1