
"Bukan,kan sudah aku jelaskan bahwa dia mengajakku berselingkuh," Ruby menjelaskan kepada Felix.
"Dan dia malah bercanda seperti itu," tambah Ruby.
"Bercanda? Wah sangat lucu," respon Felix sambil bertepuk tangan.
"Lalu kau sekarang ngambek?" tanya Ruby.
"Tidak," jawab Felix singkat.
"Maafkan aku," Ruby merengek.
Tingkah-polah Ruby di depan Felix membuat rasa kesalnya hilang seketika.
"Jadi bagaimana kelanjutannya dengan dia?" Felix ingin memperjelas.
"Tidak ada kelanjutan apa-apa," jawab Ruby.
"Tapi aku masih belum bisa memaafkanmu," kini Ruby kembali serius.
"Aku mengerti kau butuh waktu untuk kembali menerimaku," jawab Felix.
"Sebenarnya,bagaimana aku harus mengatakannya. Aku tidak bisa mempercayaimu," Ruby jujur dengan perasaannya.
"Aku tidak memaksamu untuk percaya sekarang karena aku juga salah membiarkan keluargaku terlalu banyak ikut campur tapi.."
"Aku tidak sepenuhnya menyalahkan keluargamu. Tapi kau sendiri yang dengan sukarela menerima wanita itu masuk kedalam hubungan kita," Ruby memotong pembicaraan.
"Aku tidak berselingkuh," Felix mengelak.
"Tetap saja kau sudah mengkhianatiku. Kau diam-diam berhubungan di belakangku dengan wanita itu. Saling berkirim kabar satu sama lain tanpa sepengetahuanku. Kenapa kau sepertinya terlihat sangat welcome dengan dia?" tanya Ruby setelah menjelaskan pendapatnya.
"Aku salah,sudah ku jelaskan karena jenuh. Tapi,aku tidak akan mengulangi hal seperti itu," Felix berusaha membuat Ruby yakin.
"Tadi kau bilang kan kau tidak memaksaku mempercayaimu sekarang? Tapi apa gunanya hubungan tanpa kepercayaan? Aku tidak bisa menjalani hubungan seperti itu," ujar Ruby.
__ADS_1
"Aku pikir kau sudah tidak marah," Felix mengalihkan perhatian Ruby dari pembicaraan untuk mengakhiri hubungan.
"Aku.. Aku tidak mengerti setiap pria yang menjadi kekasihku kenapa mereka begitu jahat," Ruby merasa sedikit tertekan.
"Aku tidak akan membiarkan siapapun mencampuri hubungan kita lagi," Felix terus-menerus berusaha meyakinkan.
Namun usaha Felix saat itu sedikit sia-sia karena respon yang Ruby berikan tidak seperti apa yang Felix harapkan. Ruby hanya mengatakan untuk menunggu waktu yang tepat namun ia juga tidak mengatakan bahwa hubungannya dengan Felix sudah berakhir.
"Intinya aku tidak mau berpisah. Terserah kau mau berbuat apa," ujar Felix yang kemudian pergi keluar dari rumah Ruby. Entah kemana Felix akan pergi,Ruby juga tidak tau.
**
Hingga petang Ruby masih berkomunikasi dengan Anton untuk membahas artikel kedua yang akan Anton terbitkan.
Mereka berencana untuk mengadakan pertemuan di rumah Ruby,bersama Reno,Thomas,Felix,Bella,Cassie,Kylie dan Ellen.
Malam itu Ruby langsung pergi ke rumah Ellen untuk mengundangnya dalam pertemuan besok.
Pintu gerbang rumah Ellen tidak terkunci,lampu juga masih menyala. Ruby masuk ke halaman rumah Ellen yang tampak sedikit menyeramkan di malam hari karena di sana ada sebuah pohon besar yang terlihat sedikit angker.
"Bibi,ini aku Ruby," seru Ruby dari halaman namun tidak terdengar jawaban dari Ellen.
Tok.. Tok.. Tok..
Ruby mengetuk pintu namun tidak ada jawaban. TV masih menyala bahkan kompor di dapur Ellen terlihat menyala dari luar,sebuah ketel berisi air mengeluarkan suara menandakan air di dalamnya sudah panas.
"Bi aku masuk ya?" seru Ruby tapi tidak ada jawaban.
Ruby membuka pintu yang tidak terkunci itu dan ia menemukan sesuatu di lantai,sebuah kertas bekas struk belanja.
Ruby yang panik karena tidak mendengar respon dari Ellen ketika ia memanggil-manggil namanya menerobos masuk ke dapur. Ruby mematikan kompor kemudian menuju kamar namun tidak ada siapa-siapa di sana.
Ruby mengirim pesan ke grup yang telah ia buat bersama dengan teman-teman yang terlibat dalam sekte itu. Ruby mengatakan bahwa ia tidak menemukan Ellen di dalam rumah.
Sambil menunggu respon teman-temannya,Ruby menelepon Ellen. Terdengar suara ponsel berdering di kamar mandi dan Ruby segera mengecek kedalam kamar mandi. Kamar mandi kosong namun ponsel Ellen terlihat ada di depan kamar mandi. Sangat janggal jika Ellen meletakkan ponsel di lantai apalagi di depan kamar mandi. Ruby semakin panik karena mengira sesuatu yang tidak beres sedang terjadi menimpa Ellen.
__ADS_1
Beberapa kali notifikasi masuk ke ponsel Ruby namun Ruby tidak membacanya. Ia pergi ke halaman belakang tempat Ellen biasa menanam sayur namun tetap saja Ellen tidak ada disana.
Ruby menyerah dan membuka kembali ponselnya. Felix mengatakan bahwa ia akan segera datang bersama Thomas. Felix menyuruh Ruby menunggu di rumah Ellen.
Kemudian Ruby membuka grup,teman-teman ramai menyuruh Ruby mencari ke tempat-tempat yang mungkin Ellen datangi di rumahnya.
"Mungkin di kebun," kata Cassie. Namun Ruby sudah mencarinya di kebun dan hasilnya nihil.
"Bisa saja dia keluar rumah,ke toko untuk membeli sesuatu mungkin," pendapat Bella.
Ruby memutuskan untuk menunggu dengan harapan Ellen memang benar keluar rumah sebentar kemudian akan kembali lagi.
*
Tiga puluh menit menunggu namun Ellen belum pulang. Felix dan Thomas sudah sampai di sana dengan wajah babak belur.
"Ada apa dengan wajah kalian?" tanya Ruby.
"Urusan lelaki," jawab Felix.
Ruby mengerenyitkan dahi karena curiga mereka bertengkar karena dirinya.
"Aku menemukan ponselnya di depan kamar mandi. Tidak mungkin ia meletakan nya begitu saja di sana,atau mungkin terjatuh?" Ruby menduga-duga.
"Tunggu saja hingga pukul 11," saran Thomas.
"Kau pulanglah,aku akan menunggu bersama Felix," ujar Ruby.
"Kau pulang saja,Ruby ingin berduaan denganku," Felix ikut-ikutan menyuruh Thomas pulang.
"Tidak akan aku biarkan," jawab Thomas.
"Apa?" Ruby tidak percaya dengan apa yang di dengar nya.
"Aku juga ingin membantu," Thomas memperbaiki kata-katanya.
__ADS_1
Grup masih terus membicarakan keberadaan Ellen. Jam di ponsel Ruby sudah menunjukkan pukul 23.30,Ellen belum juga kembali.
"Teman-teman,sepertinya bi Ellen menghilang," kata Ruby di grup chat nya.