
Thomas mengantarkan tiga wanita itu ke panti asuhan. Mereka akan tinggal disana untuk sementara.
Di panti asuhan sudah ada Kylie dan kawan-kawan. Mereka akan menjaga tiga wanita itu. Tidak lupa Felix mengirim rekaman suara hasil interogasi wanita-wanita tadi. Tapi sebelum dipublikasikan,Kylie bertugas untuk meyakinkan ketiga wanita itu agar memberi izin untuk mereka mempublikasikan rekaman suara.
"Sekarang apa yang akan kita lakukan?" tanya Ruby.
"Istirahat untuk hari ini. Kita sudah mendapatkan sesuatu yang bisa kita publikasikan. Tinggal pintar-pintarnya Kylie saja meyakinkan tiga orang itu," jawab Thomas.
"Lalu video yang ku rekam?"
"Simpan saja. Kita gunakan untuk sedikit 'mengancam' kalau mereka menolak untuk bekerja sama," sahut Felix.
"Bukankah agak jahat kalau kita melakukan hal itu?" Ruby ragu.
"Bukan kau yang melakukannya. Aku saja," Felix menjawab dengan santai.
"Maksudku, kita juga satu kesatuan. Kau jangan bertindak sendiri-sendiri," Ruby tidak setuju kekasihnya melakukan hal seperti itu.
"Tenang saja Ruby. Semua akan baik-baik saja," kata Thomas sembari merebahkan badannya di sofa.
"Hey kalian bertiga,kemari!" panggil Kylie.
"Apa?" tanya Felix.
"Mereka dengan mudah setuju untuk bekerja sama tapi ada satu hal," ungkap Kylie.
"Hal apa yang mengganggu?" Ruby bergabung.
"Seandainya sekte itu tau mereka mengungkap apa yang terjadi dalam internal sekte itu, aku rasa mereka tidak akan aman," Kylie mengungkapkan kekhawatirannya.
"Kita akan melindungi mereka. Ada polisi juga,jadi tenang saja. Tidak akan terjadi sesuatu," Thomas meyakinkan.
"Lalu masalah tempat tinggal? Mereka berkata tempat tinggal yang mereka tempati saat ini adalah pemberian dari sekte itu," tanya Kylie.
"Tenang saja, sudah ada rusun yang tersedia untuk mereka di dekat sini," Ruby menjawab.
"Rusun? Dimana di tempat seperti ini ada rusun?" Thomas tidak tau bahwa di tempat terpencil itu ada rusun.
"Bi Ellen yang mengurusnya," jawab Ruby.
"Oh, Bi Ellen. Dimana dia sekarang? Aku sangat merindukannya," Kylie merubah topik pembicaraan karena merasa masalah sudah selesai.
"Nanti dia akan kemari. Sedang ada urusan," jawab Ruby.
"Baik kalau begitu publikasikan sekarang rekaman suara pengakuan mereka. Jika mereka mau, mereka juga bisa membuat video sendiri siapa tau viral dan menjadi selebriti dadakan heheh," kata Thomas.
"Baik akan aku posting di Instagram. Kalian tau Instagramku mengalami kenaikan followers yang sangat pesat?" Kylie bangga.
"Karena orang-orang penasaran dengan kasus ini. Bukan karena kau populer," ledek Felix.
"Terserah kau," Kylie mempublikasikan rekaman suara yang dikirimkan tadi.
__ADS_1
"Dimana teman-teman yang lain?" Ruby melihat di sekitar dan hanya ada Kylie disana.
"Mereka ada urusan masing-masing tapi akan tetap membantu kita dari jauh. Ada yang kuliah dan ikut orang tuanya ke luar daerah," terang Kylie.
"Kuliah! Astaga sudah berapa lama aku bolos?" Ruby baru teringat akan kewajibannya sebagai mahasiswa.
"Bukankah kau sudah absen tiap pagi?" tanya Thomas.
"Tapi aku tidak ikut menjawab quiz," jawab Ruby.
"Astaga tenang saja. Aku pun tidak pernah," Thomas menenangkan.
"Tapi nilaimu memang selalu jelek," ejek Ruby.
"Wanita sialan kau ini," umpat Thomas.
***
Langit mulai gelap. Seperti biasa,suasana sunyi. Namun karena kali ini mereka berkumpul di panti asuhan, fasilitas yang didapat lebih baik. Setidaknya ada lampu yang menyala terang.
"Sayang, bangun. Aku lapar," kata Felix pada Ruby yang masih tertidur sejak siang tadi.
"Lalu kau suruh aku memasak?" tanya Ruby.
"Tidak. Maksudku, ayo kita cari makan. Untuk yang lain juga," jawab Felix.
"Bahan makanan kita di rumah. Sudah malam seperti ini kita cari makan dimana ya?" Ruby kebingungan.
"Kau darimana?" tanya Ruby.
"Mengambil makanan," jawabnya.
"Mengambil? Makanan siapa kau ambil?" tanya Felix tak paham.
"Mereka menawariku makanan di tempat sekte itu," jawab Thomas.
"Kau kesana dengan mereka bertiga? Kenapa tidak membangunkan aku?" tanya Felix.
"Kenapa aku harus membangunkanmu?" Thomas balik bertanya.
"Berbahaya," Felix menjawab singkat namun jelas.
"Sekarang kau mengkhawatirkan ku ya haha," Thomas menaruh makanan di meja.
"Kalau terjadi sesuatu aku juga yang repot," Felix mengelak bahwa ia mengkhawatirkan Thomas.
"Lalu dimana mereka?" Ruby tidak melihat kehadiran tiga wanita itu.
"Tadi bi Ellen kemari. Sekalian aku antar ke rusun itu. Ternyata bukan rusun," Thomas menjawab.
"Memang. Hanya disenut rusun padahal rumah biasa," Ruby juga mengetahui mengenai rusun itu.
__ADS_1
"Perasaan kau selalu bersamaku kenapa kau bisa tau tempat itu? Felix heran.
"Sayang, saat ini ada yang namanya ponsel.
Bi Ellen mengirim foto," Ruby menunjukan foto rumah yang dimaksud.
"Bukannya itu tempat sewa motor yang kemarin?" respon Felix setelah melihat foto yang Ruby tunjukan.
"Ya memang. Ternyata bukan sembarang tempat. Meskipun di depan tampak kumuh tapi kau akan terkejut saat masuk kedalam," Thomas ikut menjawab.
"Jadi hanya aku yang tidak tau apa-apa disini? Baik," Felix malah ngambek.
"Astaga sayang. Besok juga kita akan kesana," Ruby membujuk.
"Hm okay. Janji ya," Felix sebenarnya sudah sangat penasaran.
"Janji," jawab Ruby.
"Ya sudah ayo makan sekarang. Aku lapar sekali," Thomas membuka bungkusan yang ia bawa
Mereka bertiga makan bersama sementara Kylie masih tidur. Ruby menyisakan makanan untuk Kylie.
"Ngomong-ngomong bagaimana dengan postingan Kylie. Apakah berpengaruh?" Thomas baru teringat dengan misi mereka.
"Dia masih tidur. Kita bahas besok saja," Ruby nampak agak lelah.
"Coba aku cek dulu Instagram Kylie," ujar Thomas.
"Ah boleh juga. Aku tidak memfollow nya," kata Felix.
Ruby masih terus menyantap makanannya sambil menahan kantuk.
Thomas membuka Instagram dan mengecek komentar orang-orang atas postingan rekaman suara yang tadi siang mereka dapatkan.
"Wah 12.000 komentar," Thomas terkejut.
"Kylie pasti akan sangat syok notifikasi Instagramnya ramai," respon Ruby tapi ia tampak tak tertarik dengan apa yang netizen katakan.
Ruby merasa lelah dengan sosial media karena banyak orang menuduhnya hal yang tidak-tidak padahal mereka memang sedang berusaha mengungkap sekte.
"Kenapa kau tidak semangat?" tanya Thomas.
"Aku senang kalau orang-orang itu percaya dengan apa yang Kylie posting. Jadi tidak sia-sia waktu kita," jawab Ruby.
"Tidak akan ada yang sia-sia sayang Semuanya akan berakhir sebentar lagi. Percaya padaku," Felix meyakinkan Ruby yang sepertinya sudah lelah hari ini.
"Semoga saja semua cepat berakhir. Aku merindukan kehidupan normalku," Ruby merespon apa yang Felix katakan.
"Tentunya. Kita tinggal mengurus anak buahnya saja. Bukankah bos nya sudah tertangkap," Thomas menambahkan.
"Tapi kita juga harus ingat, pria itu tertangkap bukan karena sekte tapu urusan perselingkuhan. Kalau tiba-tiba istrinya mau berdamai ya dia akan kembali dan kita tidak tau apa yang akan pria itu lakukan untuk membalas kita. Tidak mungkin dia hanya diam," Ruby menjelaskan isi pikirannya.
__ADS_1
"Memang benar yang kau katakan. Tali hari ini kita bersantai dulu. Kita pikirkan hal itu besok," Felix menyuap nasi terakhirnya.