
Masih sangat pagi,bahkan matahari belum terbit namun Felix dan Ruby sudah bangun. Kylie dan Andy akan pergi ke rumah neneknya di luar kota. Ruby mengantarkan mereka ke bandara bersama dengan Felix. Sementara itu,kakak Ruby sudah menyelesaikan urusannya dengan suaminya dan Amy juga akan segera kembali ke rumah.
"Rumah ini akan terasa sepi lagi," ujar Ruby.
"Tentu saja. Tidak ada anak-anak ini lagi yang bermain sambil berteriak di dalam rumah," jawab Felix.
"Aku akan segera kembali," Andy menyahut.
Kylie dan Andy tidak akan lama di luar kota jadi mereka akan segera bertemu.
Amy terlihat murung ketika Andy masuk kedalam mobil,ia tidak ikut mengantar karena ibunya sebentar lagi datang menjemput.
"Selamat tinggal Amy," Andy melambaikan tangan dari dalam mobil.
Amy hanya diam tertunduk lesu.
"Kasian sekali anak itu," Ruby duduk bersama Amy sambil menunggu ibunya datang. Sementara Kylie dan Andy diam di dalam mobil.
"Amy,ibu datang," kakak Ruby masih menggunakan heels dan kemeja ketika datang menjemput Amy.
"Kau baru pulang?" tanya Ruby.
"Sangat banyak yang harus aku kerjakan. Terimakasih sudah membantuku untuk menjaga Amy. Aku dan suamiku akan pergi ke rumah ibu hingga akhir pekan nanti," katanya.
"Ah,baiklah. Sekarang aku harus segera pergi," jawab Ruby.
Mereka berpisah di rumah Ruby. Felix menyetir menuju bandara mengantar Kylie dan Andy untuk berangkat.
**
"Selamat tinggal," adalah kata terakhir yang Andy dan Kylie ucapkan pada Ruby dan Felix sebelum penerbangan mereka. Ruby merasa sedikit "kosong" karena kehilangan tiga orang sekaligus yang biasa menemaninya di rumah.
"Hari ini aku akan mengajakmu jalan-jalan," ujar Felix.
"Kemana?" tanya Ruby.
"Ya,lihat saja," Felix merahasiakan tempat yang akan ia kunjungi bersama Ruby.
"Memangnya kau tau tempat-tempat di sekitar sini?" Ruby merasa ragu.
"Tenang saja," Felix meyakinkan Ruby.
Sebuah rumah makan terlihat di hadapan Ruby.
"Rumah makan sudah buka sepagi ini?" Ruby memandangi jam tangannya. Baru pukul 7 pagi,tidak biasanya rumah makan di daerah itu buka sangat pagi.
"Aku sudah memesannya khusus untukmu," Felix menjawab rasa penasaran Ruby.
"Menyewa? T.." Ruby menghentikan perkataannya. Ia takut jika terus melanjutkan komentarnya atas rencana Felix,kekasihnya itu merasa tidak dihargai.
"Terimakasih sayang," Ruby memeluk Felix.
Mereka berdua turun dari mobil dan bergegas masuk kedalam rumah makan. Felix terkesan sembunyi-sembunyi ketika masuk kedalam rumah makan itu.
Seorang nenek menyambut kedatangan mereka.
"Nenek? Kenapa disini?" Ruby terkejut melihat nenek Edsen ada di rumah makan itu.
__ADS_1
"Pagi Ruby," sapa seseorang.
"Ed.. Edsen? Kenapa semuanya ada disini?" Ruby bertanya pada Felix.
"Ada yang haru kita bicarakan dengan mereka," Felix menjawab.
"Sayang? Kau terlihat berbeda," ujar Ruby tiba-tiba.
"Apa maksudmu?" Felix tidak paham.
"Ah lupakan saja. Apa yang harus kita bicarakan?" Ruby sangat tidak sabar.
"Tentang sekte itu,kau tenang saja karena mereka sedang sibuk bertengkar satu sama lain antar anggotanya," nenek mengawali pembicaraan.
"Bagaimana bisa nenek tau?" tanya Ruby.
"Karena anggota kami memata-matai mereka," jawab nenek.
"Aku penasaran bagaimana bisa kami tiba-tiba ada di rumah tadi?" Ruby mencoba mencari tau.
"Kami sengaja membawa kalian pergi menjauh dari tempat itu karena cukup berbahaya," jawab Edsen.
"Lalu kau menggendong kami satu per satu? Hahahaha," Ruby tertawa membayangkan Edsen menggendong Ruby,Thomas,dan Felix secara bergantian.
Di tengah pembicaraan yang semakin seru,ponsel Ruby menyala,notifikasi telepon masuk dari Thomas. Telepon itu dari Thomas,namun nomor yang Thomas gunakan ialah nomor yang berbeda. Ruby dan Thomas mempunyai kesepakatan rahasia mengenai hal itu. Orang-orang tidak menyadari,Ruby diam-diam memasukkan ponselnya ke saku dan menaruh ponsel satunya diatas meja.
"Nek,dimana toilet? Aku ingin buang air," ujar Ruby sambil meletakkan ponsel diatas meja.
"Disana. Ayo aku antar," Edsen mengantar Ruby.
Sebuah kamar mandi kecil dan terlihat kuno namun bersih dan wangi. Ruby masuk kedalam kamar mandi. Sebelum menutup pintu,Ruby meminta Edsen pergi.
Karena merasa aneh,Ruby tidak berani mengangkat telepon. Ia mengirim pesan.
"Ada apa? Kenapa pakai nomor ini?" tanya Ruby melalui chat.
Belum sempat Ruby mengklik tombol kirim,Thomas mengirim pesan lebih dulu.
"Dimana kau? Kirim lokasi,aku akan ceritakan semua nanti. Kau dalam bahaya,Felix yang kau ajak adalah palsu," isi pesan Thomas.
Ruby segera mengirimkan lokasinya saat ini. Kini wajahnya yang ceria berubah menjadi pucat. Ia ketakutan,sambil berpikir apa yang Thomas maksud Felix palsu?
Tok.. Tok..
Terdengar suara ketukan pintu.
"Sayang?" seseorang diluar memanggil Ruby.
"Aku belum selesai mengeluarkan seluruh isi perutku," jawab Ruby dari dalam kamar mandi. Sementara itu Ruby terus berkomunikasi dengan Thomas. Reno juga ikut menjemput Ruby.
"Sudah dimana?" Ruby bertanya pada Thomas.
"Tunggulah. Tidak sampai 30 menit. Sambil menunggu kami,bersikap biasa saja dengan mereka. Kau benar-benar sendiri disana," balas Thomas. Itu adalah komunikasi terakhirnya dengan Thomas sebelum Ruby keluar dari kamar mandi. Ia menyiram closet agar orang-orang percaya bahwa dirinya habis buang air.
"Sudah?" tanya Felix.
"Astaga sayang,kau menungguku dari tadi?" Ruby tersipu malu walaupun itu hanyalah acting.
__ADS_1
"Mana mungkin aku meninggalkan kekasihku sendirian," Felix menjawab.
Ruby dan Felix kembali ke meja makan.
"Biasanya rumah makan ini buka pukul berapa nek?" tanya Ruby sambil mengulur-ulur waktu hingga Thomas datang.
"Nenek buka jam 10 pagi," jawab nenek dengan gugup.
Sementara itu Ruby baru menyadari bahwa ponsel di meja yang tadi ia letakkan menghilang namun Ruby pura-pura tidak menyadarinya.
"Apa sekarang sudah ada makanan? Aku ingin membeli makanan buatan nenek," ujar Ruby.
"Mau nenek masakan dulu? Tapi kau harus menunggu," jawab nenek.
"Tentu saja,aku akan menunggu dengan sabar demi masakan nenek," Ruby menjawab sambil tersenyum.
Nenek dan kakek yang dari tadi ceria tiba-tiba berubah murung dan seperti ketakutan. Entah apa yang terjadi selama Ruby berada di kamar mandi tadi.
"Sayang,kita ada kelas hari ini. Presentasi. Kita lakukan disini saja ya," ajak Ruby.
"Ah,baiklah. Kau bawa laptop?" tanya Felix.
"Ada di mobil. Aku akan mengambilnya," Ruby bangun dari tempat duduknya.
"Tidak. Aku sendiri yang akan mengambil laptopnya," Felix bangun dan berjalan menuju mobil sementara Ruby kembali duduk di kursinya. Ia mengeluarkan binder dan kotak pensil,bersiap untuk memulai kelas.
Edsen datang menghampiri Ruby.
"Aku akan kuliah daring disini ya," Ruby meminta izin pada Edsen.
"Tentu saja," jawab Edsen.
Edsen mendekati Ruby dan kini berdiri persis di belakang Ruby. Ia seakan-akan sedang diawasi oleh Edsen hingga Felix datang kembali membawa laptop.
Edsen kini berpindah ke dapur,tempat nenek dan kakek memasak.
"Baiklah mari kita mulai. Tapi,disini tidak ada wifi?" Ruby bertanya pada seluruh orang yang ada di ruangan itu.
"Eh,tidak ada nak," jawab nenek dari dapur.
"Kalau begitu aku akan menggunakan hotspot pribadiku saja," Ruby pura-pura mencari ponsel di tasnya.
"Dimana aku meletakkan ponselku tadi? Tidak ada di tas," ujar Ruby sambil berpura-pura meraba saku celana dan jaketnya. Namun ia tidak menemukan apapun. Tentu saja,karena ponsel itu sudah disembunyikan oleh seseorang yang ada di rumah makan itu.
"Sayang. Ponselku," Ruby merengek pada Felix.
"Dimana? Tidak ada," Felix ikut mencari-cari.
Baiklah kita bolos saja,sudah terlambat untuk masuk kelas. Aku malas diomeli dosen," Ruby memutuskan untuk bolos kuliah.
Sebuah pintu kayu terlihat ada di sebelah kompor dapur nenek. Dari meja makan,dapur itu terlihat jelas karena merupakan dapur terbuka.
Ruby memperhatikan Felix,awalnya ia melihat Felix berbeda namun sekarang ia meyakini yang berdiri di hadapannya adalah Felix asli. Ruby dan Felix duduk bersebelahan saling bercanda satu sama lain. Sebuah luka terlihat di leher Felix,diam-diam kaki Felix menyenggol kaki Ruby. Felix memberikan ponsel Ruby yang hilang secara diam-diam.
Bekas luka dan baju kaos hitam. Tadi pagi Felix pergi dengan baju kaos hijau. Namun jaket yang dikenakan sama dengan apa yang Felix kenakan tadi pagi.
"Sayang,cium," Ruby merengek.
__ADS_1
"Lihatlah gadis ini. Tidak tau tempat," Felix memeluk Ruby,mendekatkan bibirnya ke pipi Ruby.
"Bantuan akan datang,bertahanlah bersamaku," Felix kemudian mengecup pipi Ruby.