Journeys End

Journeys End
1989


__ADS_3

Ruby mengambil minuman untuk Ava.


"Kau tidak sadar ya?" tanya Ruby.


"Apa?" Ava tak paham.


"Sedan biru,cincin biru," Ruby tidak menjelaskan secara gamblang.


"Tidak paham," sahut Ava.


"Pria tadi.."


"Dia pria yang kau ceritakan? Pimpinan sekte?" tanya Ava.


Ruby mengangguk menandakan apa yang Ava katakan benar.


Ava terlihat pucat ketakutan. Felix melihat dua wanita itu dengan heran.


"Apa yang kalian bicarakan? Aku ingin tau," ujar Felix penasaran.


"Kau benar. Sedan biru itu ada di sana," jawab Felix.


"Lalu apa dia melakukan sesuatu?" tanya Felix.


"Tadi dia menjatuhkan cincin nya dan cincin itu aku ambilkan untuknya," jawabnya.


"Sayang. Cincin yang kita temukan di perkemahan sama seperti itu hanya saja permatanya lebih kecil," Ruby memberikan informasi.


Felix bergegas ke kamar dan mengambil cincin yang mereka temukan di perkemahan. Untuk kembali memastikan,Ruby menatap cincin itu dengan teliti. Memang benar,cincin dengan ukiran Anderson,dan memiliki permata berwarna biru yang sama persis. Aku rasa bukan hanya kebetulan," pendapat Ruby.


"Berarti wanita yang kita lihat itu berhubungan dengan pria itu?" tanya Felix.


"Itu sangat mungkin. Aku harus menghubungi bi Ellen," Ruby memotret cincin itu dan mengirimnya pada Ellen.


Ketika Ruby mengambilkan cincin yang sedang terjatuh tadi,disaat yang bersamaan Ellen mengirim pesan dan mengatakan jika melihat pria itu tadi maka Ruby harus mengatakan tentang cincin itu di hadapan pria tua yang ia temui. Untung saja Ruby sigap dan segera berakting bahwa ia mengetahui informasi kematian wanita itu.


"Berarti wanita yang bibi maksud tewas itu adalah pemilik cincin ini. Dan pemilik cincin ini adalah wanita yang kita lihat di perkemahan," Ruby menghubung-hubungkan fakta yang ia ketahui.

__ADS_1


"Mungkin saja benar bahwa wanita itu kabur dari motel. Tapi siapa dia? Aku menyesal tidak melihat wajahnya," kini Felix dihantui rasa penasaran yang mendalam.


Baru saja Ruby menaruh ponselnya diatas meja,sebuah panggilan masuk muncul di ponsel Ruby. Panggilan itu berasal dari Ellen.


Ruby langsung mengangkat telepon itu.


"Halo bi," sapa Ruby.


"Bagaimana? Apakah rencananya berhasil?" tanya Ellen.


"Tentu saja. Aku sudah mengatakan semua yang kau suruh tadi di hadapan pria itu. Ava saksinya," jawab Ruby.


"Aku yakin sekarang kau penasaran dengan wanita itu," Ellen menduga-duga.


"Memang benar. Aku sangat penasaran. Sebenarnya siapa yang tewas?" Ruby mulai mencari informasi.


"Tidak. Dia baik-baik saja sekarang," jawab Ellen.


"Aku tidak bisa memberitahu tentang wanita itu sekarang. Aku akan menjelaskan dengan pesan teks," Ellen mematikan teleponnya.


"Baiklah semua ini membuatku gila," ujar Ruby.


"Silahkan nikmati waktu kalian para gadis,aku akan pergi ke rumah Thomas," Felix berjalan keluar rumah.


"Bawa mobilku saja astaga," Ruby yang melihat kekasihnya berjalan menuju gang segera mengambil kunci mobil untuk diserahkan kepada Felix.


**


Sebuah pesan masuk dari Ellen. Ruby membuka pesan yang sangat panjang itu. Matanya terkantuk-kantuk di samping Ava yang sudah lebih dulu tertidur sambil menonton film.


"Astaga panjang sekali. Nanti saja aku baca," Ruby menaruh ponselnya kembali.


"Kakak," suara anak kecil di luar kamar Ruby.


"Astaga gangguan apa lagi ini," Ruby sangat malas menyahut.


Dua orang anak kecil masuk ke kamar Ruby. Mereka tidak lain adalah Amy dan Andy.

__ADS_1


"Kak ayo main," ajak Andy.


"Kalian main berdua saja ya. Aku mengantuk," Ruby menolak ajakan bermain kedua anak itu.


"Kalau begitu kami akan menonton kartun," Andy memindahkan saluran televisi yang awalnya film menjadi kartun.


Ruby yang sudah menyerah membiarkan dua anak itu melakukan apapun yang mereka inginkan,termasuk mengacak-acak kamar Ruby.


Belum ada 20 menit mereka menonton,kini Andy dan Amy sudah berlari-lari di dalam kamar Ruby. Mereka kemudian diam di dekat sebuah meja di pojok ruangan. Kertas yang ada disana mereka coret-coret dengan gambaran khas anak kecil. Batu-batu kristal koleksi Ruby juga mereka pakai sebagai mainan. Ruby yang sudah sangat mengantuk membiarkan mereka berdua bermain dengan benda-benda kecil di meja itu.


***


Malam yang gelap mencekam,badai terjadi lagi. Bahkan beberapa saat yang lalu sebuah angin ****** beliung memporak-porandakan rumah Ruby dan tetangganya. Kini listrik padam,Andy dan Amy sudah tertidur lelap di bawah. Mereka bermain kemah-kemahan dan membuat tempat tidur mereka sendiri,sementara Ruby dan Felix masih terjaga.


"Oh iya,sayang. Tadi bi Ellen sudah mengirim pesan padaku tapi belum aku baca karena sangat panjang," Ruby memberitahu Felix tentang pesan yang bi Ellen kirimkan.


"Kalau begitu ayo kita baca sekarang saja," ajak Felix.


Ruby mengambil ponselnya,membuka pesan yang Ellen kirimkan bersama dengan Felix.


Tahun itu,1989. Aku mengajak seseorang yang sangat dekat denganku untuk pergi ke tempat ritual diadakan. Kami menderita di sana,seperti yang dulu aku ceritakan kau sudah tau apa yang menyebabkan aku datang menghadap sekte itu. Aku berhasil kabur,Puji Tuhan. Namun dia tidak,pria itu mencintainya meskipun ia sudah memiliki seorang istri. Dengan menggunakan ritual sekte sebagai alasan,pria itu menjadikan wanita yang aku ajak budak sex nya. Istrinya mengetahui namun hanya bisa diam karena itu adalah bagian dari ritual. Namun aku mendapatkan fakta baru,istrinya mulai memberontak secara diam-diam. Tetap saja,meskipun dengan alasan ritual,istri mana yang senang melihat suaminya berhubungan dengan wanita lain. Aku akan mempersingkat ceritaku,wanita itu terus menerus diperkosa,ia sudah pernah hamil sebanyak tiga kali. Dan setiap dia ketahuan hamil maka dia akan menyiksa dirinya sendiri,bagaimanapun caranya dia akan membuat bayi yang ia kandung terbunuh meskipun harus menyakiti dirinya sendiri. Dan sebanyak 3x itu juga ia berhasil membunuh bayi yang ia kandung. Aku tidak tau kenapa,dia berhasil lolos beberapa waktu yang lalu dan kembali berkumpul bersama suami dan anak-anaknya. Karena suatu hal,suaminya dipenjara. Aku rasa hal itu yang membuat ia kembali kepada sekte itu,memohon agar suaminya dibebaskan. Namun kejadian seperti dulu kembali terulang. Semenjak perencanaan ritual yang mengorbankan dirimu dan kekasihmu,wanita itu kembali diperkosa dan kali ini berbeda. Seluruh anggota sekte menyaksikan pria brengsek itu berhubungan dengan wanita ini di depan istrinya sendiri. Dan aku memutuskan ke tempat ini untuk menyelamatkan dia. Sejak aku berada disini,setiap hari aku menyaksikan penderitaannya. Di lorong rahasia itu,pria yang tidak memiliki hati nurani terus memaksanya untuk berhubungan. Tapi,aku berhasil menyelamatkannya namun kondisinya buruk. Aku baru tau bahwa dia hamil lagi,dia sudah pergi dari sini tapi aku tidak tau dia pergi kemana. Aku takut dia akan menyakiti dirinya sendiri,kini anaknya sedang bersamaku. Kami bersama-sama mencari wanita itu sambil mengumpulkan bukti terkait sekte ini. Dan pria itu sedang berkeliaran di luar sana sekarang,ia seakan-akan mengabaikan sekte ini.


Pria itu mencintai dia. Selamatkan dia,jangan sampai pria yang kejam itu menemukannya. Aku meminta bantuan mu,Ruby.


Ruby dan Felix membaca pesan itu dengan emosional. Bahkan Ruby meneteskan air mata.


" Aku tau sekte itu jahat tapi aku mendukung istri pria kejam itu untuk memberontak. Bisa-bisanya pria itu," Ruby merasa sangat kesal dan mood nya menjadi buruk.


"Tapi siapa wanita yang dia maksud? Bahkan kita tidak tau wajah wanita itu," Felix tidak tau harus memulai darimana untuk menyelamatkan wanita itu.


Ting..


Pesan chat masuk dari Ellen.


"Kau sudah membacanya? Ini foto wanita yang aku maksud," isi pesan itu.


Ruby segera mendownload gambar yang Ellen kirimkan.

__ADS_1


"Apa? Dia? Tidak mungkin."


Listrik kembali hidup,lampu-lampu menyala terang memperlihatkan wajah terkejut Ruby setelah melihat foto wanita yang Ellen maksud.


__ADS_2