Journeys End

Journeys End
1st article


__ADS_3

Ruby terbangun di kamarnya,Felix terlihat terlelap di samping Ruby.


"Astaga aku tertidur di teras," ujar Ruby.


Perkataan Ruby membuat Felix terbangun dari tidurnya.


"Sayang,sudah bangun ya?" Felix mengucek-ngucek matanya.


"Kau terlihat lelah. Tidurlah tidak apa," Ruby sedikit khawatir pada Felix.


"Ah,aku kemarin memikirkan cara terbaik menyelesaikan masalah dengan sekte itu. Anton menunda untuk mempublikasikan artikel nya. Aku ingin memberitahu mu tentang itu," kata Felix.


"Kenapa tidak lewat telepon saja?" tanya Ruby.


"Aku ingin melihat wajah kekasihku. Aku merindukanmu," jawab Felix.


Ruby memeluk Felix setelah hatinya merasa lebih tenang. Felix memang bersalah tapi entah kenapa setelah dirinya bertemu dengan Thomas tadi,Ruby sedikit tidak peduli dengan kesalahan yang Felix buat.


Ruby membiarkan Felix kembali tertidur di sampingnya. Ia mengambil ponsel kemudian membuka Instagram,melihat story teman-teman yang ia ikuti. Story Aster menjadi yang pertama kali Ruby lihat,terpajang jelas foto Thomas dan Aster berdua sedang makan bersama.

__ADS_1


"Sudah aku duga si brengsek ini," ujar Ruby dengan pelan. Entah Felix mendengar namun pura-pura tidak tau atau memang ia sudah kembali terlelap,Ruby tidak perduli. Ruby keluar dari kamarnya.


*


Anton menghubungi Ruby karena ingin membicarakan sesuatu yang mendesak. Tanpa basa-basi,Ruby menyetujui ajakan Anton untuk bertemu. Anton berkata ia tidak bisa menemui Ruby di rumah nya maupun rumah Ruby,jadi ia memutuskan menunggu Ruby di kedai kopi dekat kampus Ruby.


"Aku akan berangkat sekarang," Ruby mengambil tas nya di kamar. Felix masih terlelap di tempat tidur.


Mobil Ruby sudah keluar dari garasi rumah,Felix terlihat memanggil-manggil Ruby. Ruby menghentikan mobilnya.


"Aku harus segera pergi," kata Ruby.


"Kita akan bertemu Anton," ujar Ruby.


"Apakah sudah ada update kasus terbaru?" tanya Felix penasaran.


"Sejujurnya aku juga belum tau apa yang akan Anton bicarakan jadi kita lihat saja nanti," jawab Ruby.


Tidak sampai 10 menit berkendara,mereka sudah sampai di kedai kopi dekat kampus Ruby.

__ADS_1


Dari luar sudah terlihat Anton sedang duduk sambil mengetik dengan laptopnya. Ia terlihat sangat sibuk.


"Hai," sapa Ruby.


"Kau sudah datang? Silahkan duduk," Anton mempersilahkan Ruby duduk sementara Felix tetap tinggal di mobil.


"Apakah ada informasi yang kau dapatkan?" tanya Ruby.


"Begini,setelah aku menyempurnakan artikel ini aku berencana mempublikasikannya sekarang. Karena ini menyangkut nama mu,jadi aku harap kau membaca artikel yang sudah aku buat ini terlebih dahulu sebelum aku mempublikasikan artikel di website ku," terang Anton.


"Baiklah,kalau begitu izinkan aku membacanya lebih dulu," Ruby meminjam laptop Anton.


Ia membaca artikel itu dari paragraf pertama. Foto Ruby juga terpampang disana. Dalam artikel itu sudah dijelaskan bahwa Anne berpura-pura menjadi teman Ruby,ia menyusun rencana sedemikian rupa agar Ruby yang sedang terdesak mau mengikuti rencananya. Anne berpura-pura membantu Ruby dan meminta Ruby untuk memfoto dirinya yang sedang disekap di sebuah ruang rahasia kemudian mempublikasikannya. Karena postingan itu publik seolah-olah menyalahkan Ruby yang memberikan informasi palsu padahal sebenarnya ia sedang dijebak.


"Aku akan mempublikasikan ini lebih dulu. Sengaja aku tidak mempublikasikan semua informasi dalam satu artikel,aku ingin semuanya bertahap agar selesai satu per satu. Yang penting nama mu bersih dulu dari jebakan yang Anne buat," ujar Anton.


"Baik,aku setuju dengan rencana mu. Silahkan publikasikan artikel itu," Ruby memberikan izin.


Artikel pertama untuk mengklarifikasi berita miring yang beredar di media tentang Ruby sudah dipublikasikan.

__ADS_1


__ADS_2