
"Itu.. Bukankah itu teman-teman Thomas?" Ruby berusaha menelepon Thomas yang tidak terlihat ada di halaman.
Ruby segera menelepon Thomas yang tadi pergi untuk mengecek jalan dan memasang ban serep pada mobil mereka yang mengalami ban kempes.
"Kenapa lama sekali?" Ruby merasa sangat khawatir karena Thomas tidak mengangkat teleponnya.
"Kami sedang bersembunyi," Thomas menjawab dan langsung mematikan teleponnya.
Sementara itu,Cassie dan Bella malah pergi keluar kamar untuk merekam peristiwa itu. Jerit kesakitan Ruby dengar sampai-sampai ia tidak berani melihat keluar kamar.
"Apa yang mereka lakukan kepada teman-teman Thomas?" tanya Ruby pada Anne.
"Sepertinya mereka akan menyerang secara terang-terangan," jawab Anne yang sudah Ruby anggap sebagai ibunya sendiri.
"Apa maksud perkataanmu?"
Anne tidak menjawab pertanyaan Ruby. Ia pergi keluar kamar untuk mendekati teman-teman Thomas yang tengah menjerit kesakitan. Ruby memberanikan diri untuk mengintip apa yang anggota sekte itu lakukan pada teman-teman Thomas. Ruby menyaksikan pemandangan mengerikan dimana teman-teman Thomas dalam keadaan terikat tangan serta kakinya,ditambah mereka menggunakan penutup mata,diikat di tengah halaman. Dua orang wanita dan dua orang pria berjubah hitam menjaga teman-teman Thomas. Terlihat bekas sayatan yang masih basah di kulit teman-teman Thomas.
Ruby segera keluar dan mencari Cassie serta Bella karena takut terjadi sesuatu pada mereka.
"Sssstt," Bella menarik tangan Ruby. Mereka bersembunyi dibawah meja yang biasa menjadi tempat Poppy menerima tamu karena dari tempat itu terlihat cukup jelas pemandangan mengerikan yang terjadi di halaman motel.
Ruby mengintip dan mencari-cari keberadaan Anne namun ia tidak melihat Anne ada di halaman.
"Kalian melihat bibi Anne?" tanya Ruby pada Cassie dan Bella.
Mereka menjawab dengan memberi isyarat menunjuk kamar Poppy yang ada di hadapan mereka. Ruby merasa sedikit lega karena Anne tidak mendekati orang-orang itu. Ruby mengira bahwa Anne kembali ke tempat ia disekap sebelumnya.
"Kami akan merekam dari sini," Cassie mengarahkan kamera ponselnya kearah teman-teman Thomas.
"Rekam saja,jangan melakukan live," kata Bella.
Mereka merekam peristiwa itu dimana empat orang pria dengan tangan dan kaki terikat serta mata tertutup kain merah tengah terduduk di halaman motel,ditengah teriknya cahaya matahari yang menyengat kulit mereka yang terluka akibat disayat dengan sengaja oleh anggota sekte itu.
__ADS_1
Suara langkah kaki terdengar jelas,sangat dekat dengan mereka. Cassie yang tegah merekam berhenti sejenak karena merasa ia akan ketahuan merekam.
"Bersembunyilah,aku akan mengurus mereka," kata wanita berjubah putih itu.
Rubby,Cassie,dan Bella mendongak keatas,melihat Anne telah berganti pakaian dan memakai jubah yang sama dengan jubah yang digunakan oleh anggota sekte itu.
Cassie kembali merekam sementara Ruby mengirim pesan pada Felix dan Thomas.
"Kami bersembunyi di dalam mobil," Felix membalas pesan Ruby.
Anne terlihat mendekat kearah mereka. Keempat anggota sekte itu langsung membungkuk ketika Anne datang.
"Ayo lebih dekat," ajak Cassie.
"Ayo," Bella menjawab.
Mereka melangkah semakin dekat dan kini bersembunyi dibalik dua buah gentong air yang ada di samping kanan pintu motel.
"Bu.. Bukan kami yang membunuhnya," teriak salah seorang pria sambil mengangkat tangan seakan-akan menghindari sesuatu.
Anne terdiam mendengar hal itu,ia segera menyuruh keempat anggota sekte untuk kembali ke aula.
"Kembali lah ke aula. Mereka biar aku yang urus," ujarnya.
Keempat orang yang terlihat masih muda itu meninggalkan Anne dan empat orang teman-teman Thomas.
"Apa-apaan ini? Dia juga anggota sekte?" tanya Cassie pada Ruby.
"Setahuku tidak," Ruby menjawab. Ia yakin Anne sedang menyamar untuk membantu mereka.
"Hahaha ini dia yang aku tunggu. Kakak ipar ku," seorang pria dengan jubah yang sama seperti Anne muncul dan menepuk pundak Anne.
"Ayah Poppy," kata Ruby.
__ADS_1
Cassie dan Bella hanya terdiam,mereka cukup bingung dengan situasi yang tengah mereka alami.
"Mereka membunuh siapa?" tanya Anne.
"Gadis yang kita temukan di pinggir sungai," jawab pria itu.
"Kenapa kalian membunuhnya?" bentak Anne.
"Wah,akting yang bagus," Ruby memuji Anne yang ia yakini sedang berakting.
"Sepertinya bukan akting," celetuk Cassie.
Bella dan Ruby memandang Cassie yang masih merekam apa yang ada di hadapan mereka.
"Aaaaa," terdengar suara teriakan lagi. Kali ini seorang pria yang duduk di sebelah teman Thomas yang terluka berteriak.
"Kenapa kau membunuhnya?" tanya Anne dengan pisau berlumuran darah di tangannya.
"Itu yang kau katakan akting,Ruby?" Cassie kini mulai ketakutan.
"Ada tiga orang wanita di bawah meja. Tangkap mereka," perintah Anne pada ke empat pria itu. Ia melepaskan ikatan di tangan dan kaki mereka serta membuka penutup matanya.
"Apa yang wanita gila itu lakukan?" Cassie bangun dan berlari menuju kamar Ruby. Bella dan Ruby mengikuti dengan panik.
"Kalau kalian tidak ingin mati maka tangkap ketiga wanita itu hidup-hidup!" seru Anne dengan suara keras.
"Hah? Bagaimana?" Ruby yang kebingungan segera mengunci pintu kamar mereka.
Empat pria itu menggedor pintu kamar Ruby.
"Kami tidak mau mati,tolong keluar," kata salah seorang pria.
"Kau gila? Aku juga tidak mau mati dengan cara seperti ini," bentak Bella dari dalam kamar.
__ADS_1