Journeys End

Journeys End
reflections on a window


__ADS_3

"Ayo bergegas sebelum mereka datang," kata Ellen.


"Aku akan mengantar Anton menuju tempat itu," ujar Thomas.


"Kami ikut menemani," Reno menjawab.


"Kalian tidak apa-apa jika ikut?" tanya Felix pada teman-teman yang lain.


"Tidak masalah,ya kan teman-teman?" Jovi meyakinkan teman-temannya yang lain.


Selain Reno,teman kelas Ruby dan Thomas yang juga datang membantu ialah Jovi dan beberapa teman lainnya.


"Kalau begitu lebih baik semua ikut. Akan lebih aman jika kita terus bersama," usul Ruby.


Semua setuju dengan usulan Ruby dan mereka pun berangkat bersama-sama. Thomas berjalan di depan bersama Anton,disusul oleh Kylie dan Andy. Di belakangnya ada Ruby dan bi Ellen beserta Cassie dan Bella. Di barisan terakhir Felix,Jovi dan teman-teman yang lain berjalan sambil mengawasi.


Berjalan menembus gelapnya malam di tengah cuaca yang sangat dingin tidak menyurutkan semangat Anton untuk meliput tempat itu.


"Kau bekerja untuk perusahaan apa?" tanya Thomas pada Anton.


"Sebuah penerbit koran," jawabnya.


"Aku baru melihat ada media yang datang ke tempat ini. Sebelumnya hanya remaja yang memang ingin membuat konten berbahaya seperti kami yang datang," ujar Bella.


"Aku ingin membantu kalian. Sebenarnya tempatku bekerja tidak mengizinkan aku untuk mencari tau lebih dalam tentang sekte itu," jawab Anton.


"Memangnya kenapa?" Cassie penasaran.


"Sepertinya sekte itu memang membayar media untuk menutupi apa yang sebenarnya terjadi," Anton menjawab pertanyaan Cassie.


"Kita sampai. Kau lihat gerbang yang ditumbuhi oleh tumbuhan rambat itu? Itu adalah jalan masuk menuju tempat ritual," Thomas menunjukkan tempat itu pada Anton.


"Aku akan masuk," kata nya.


"Baiklah,kami akan menemanimu masuk," Thomas memberi kode pada Felix.


"Aku ikut," ujar Ruby.

__ADS_1


Mereka ber-empat kemudian masuk kedalam tempat ritual itu. Setelah memasuki gerbang,sebuah altar yang dikelilingi lilin terlihat di hadapan mereka. Namun berbeda dengan kemarin,kini beberapa obor yang siap dinyalakan juga sudah tertancap di sekitar altar.


Anton memfoto pemandangan itu,entah berapa kali jepretan ia mengambil gambar. Tempat selanjutnya yang mereka tuju adalah aula dimana para anggota sekte biasaya berkumpul.


"Aula ini adalah tempat yang digunakan oleh anggota sekte berkumpul. Kebetulan aku pernah melihatnya dengan mata kepalaku sendiri," kata Ruby.


Anton melanjutkan tugasnya memfoto aula itu. Ia dan Ruby masuk kedalam aula sementara Thomas dan Felix berjaga diluar. Di dalam aula sudah ada dua buah meja panjang beserta kursi yang cukup banyak,sepertinya akan diadakan pertemuan penting karena sebelumnya ketika mereka berkumpul,anggota sekte hanya duduk di bawah sedangkan pimpinannya berdiri memberikan arahan.


"Sudah? Ayo ke ruangan itu," ajak Felix.


Ia berjalan lebih dulu disusul oleh Anton dan Ruby. Sementara Thomas berjalan paling belakang.


"Setahu kami,ruangan ini khusus untuk pimpinan sekte karena aku pernah melihat para pimpinan berkumpul disini," Ruby menjelaskan apa yang pernah dilihatnya.


"Apa kita bisa masuk?" tanya Anton.


"Sejujurnya kamu belum pernah masuk ke tempat ini," jawab Felix.


Anton berjalan ke arah pintu dimana terdapat dua buah jendela di kiri dan kanan pintu. Perlahan Anton menyentuh gagang pintu.


"Terkunci," katanya.


Anton kembali memotret bagian luar ruangan itu.


"Aku mau melihat hasil jepretanku sebentar," ujar Anton.


Ruby,Felix,dan Thomas bersedia menunggu sebentar agar Anton juga bisa menyelesaikan pekerjaannnya dengan lancar.


"A.. Apa ini?" Anton memperlihatkan hasil fotonya pada Ruby. Thomas dan Felix ikut melihat sesuatu yang ada pada foto itu.


"Itu wanita? Bayangan wanita?" Ruby menjawab dengan ragu-ragu.


Di foto itu,jendela ruangan tempat para pimpinan berkumpul memperlihatkan sebuah bayangan wanita. Dari luar terlihat gelap karena tidak ada cahaya namun ketika Anton memotret dengan kamera beserta flash yang hidup,terlihat jelas bayangan wanita.


Ada orang disini,ayo pergi," ajak Felix.


Mereka semua berlari dan kembali menuju gerbang. Disana teman-teman mereka yang lain sedang menunggu dengan tegang,kecuali Ellen yang terlihat santai.

__ADS_1


"Ayo kembali," ajak Ellen.


"Apakah kalian aman?" Reno sedikit khawatir dengan teman-temannya.


"Tenang saja," jawab Thomas.


"Tapi kenapa di dalam sangat sepi?" Anton merasa penasaran.


"Akan aku ceritakan sambil berjalan," sahut Ellen.


Sehari sebelum bulan purnama,semua anggota sekte akan pergi berziarah ke sebuah kuburan batu di tengah hutan sana. Setiap bulan mereka akan pergi jauh ke tengah hutan untuk berziarah. Di sana para tetua terdahulu dimakamkan.


"Kapan mereka akan kembali?" tanya Ruby penasaran.


"Biasanya tengah malam," jawab Ellen.


"Sebelum tengah malam kita harus sudah pergi dari tempat ini. Tapi aku merasa cukup aneh karena tidak ada penjagaan sama sekali" tambahnya.


"Kalau gerhana bulan mereka akan tetap berziarah?" tanya Kylie.


"Iya,mereka akan tetap berziarah dan melakukan pesta kecil. Dan itu sangat amat mengerikan," jawab Ellen.


"Kenapa?" kini semua orang semakin penasaran.


"Yang dikorbankan adalah anak-anak. Dan biasanya 15 hari setelah purnama atau saat bulan mati baru dilakukan korban yang melibatkan remaja seperti kalian," jawab Ellen.


"Jadi ritual itu tidak hanya dilakukan saat purnama ya?"


"Betul sekali,jika gerhana maka mereka akan menunggu hingga bulan mati untuk melakukan ritual inti," Ellen menegaskan.


"Pantas saja mereka membiarkan kita lolos,besok ada gerhana bulan," ujar Andy.


"Apa?" Ellen menghentikan langkahnya.


"Aku melihat di ponsel kakak," jawab Andy.


 

__ADS_1


 


__ADS_2